Anak Vs Ayah

Naufal berdiri mematung di tengah parkiran klinik, matanya terpaku pada sosok yang berdiri di hadapannya. Fathar. Ayahnya. Sosok yang selama enam tahun terakhir hanya menjadi bayangan kelam dalam ingatannya. Seluruh memori tentang Fathar berputar di otaknya bagai sebuah video yang diputar dengan kecepatan tinggi.
Fathar, sang ayah yang tega mengkhianati ibunya. Ayah yang dengan tanpa ampun melarikan seluruh hasil penjualan rumah yang seharusnya menjadi hak ibunya. Ayah yang menguras habis tabungan pendidikan yang telah susah payah dikumpulkan Naufal sejak kecil. Dan yang lebih menyakitkan, ayah yang masih sanggup menghabisi isi tabungan harian Adelia, ibunya, hanya untuk memenuhi hasrat duniawinya.
Naufal masih ingat dengan jelas bagaimana ibunya menangis tersedu-sedu saat mengetahui tabungannya ludes tak bersisa. Bagaimana ibunya berusaha tegar di depan Naufal dan adiknya Azam, namun Naufal tahu betul betapa hancurnya hati ibunya saat itu.
Dan Fathar, dengan tanpa rasa bersalah, melarikan diri bersama Chintya. Sahabat ibunya sendiri. Wanita yang telah ditolong dan dibebaskan Adelia dari kekerasan rumah tangga yang dialaminya. Pengkhianatan yang begitu sempurna.
Naufal menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan gejolak emosi yang membakar dadanya. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan ayahnya lagi, apalagi dalam situasi seperti ini. Pertemuan yang tidak direncanakan, di tempat yang tidak terduga.
"Apa kabar, Nak?" sapa Fathar, suaranya terdengar datar tanpa ekspresi.
Naufal menatap ayahnya dengan tatapan dingin. "Kau ingin aku menjawab apa? Baik? Setelah kau hancurkan hidup Mama dan membuat Azam tak lagi punya sosok ayah yang bisa ia banggakan di depan temannya? Dan kau masih menambah dosamu dengan menelantarkan Raisya, anakmu bersama Tante Chintya?? Kau boleh lupa padaku, tapi bagaimana kau bisa lupa pada Adik-adikku??"
Fathar terdiam sejenak, tampak mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Naufal. "Naufal, dengarkan Papa..."
"Dengar apa? Dengar kebohonganmu lagi? Cukup, Pa. Aku sudah muak dengan semua omong kosongmu," potong Naufal dengan nada suara yang meninggi. "Ku kira setelah meninggalkan Mama, aku dan Azam kau akan berubah. Tapi aku ulangi slahmu! Kauntinggalkan Tante Chintya dan membiarkan dia berjuang mengobati Raisya yang sakit! Kau tahu kalau Raisya menderita Leukimia?? Otakmu dimana?"
Clara, yang sedari tadi berdiri di samping Naufal, memegang lengan lelaki itu dengan erat. Ia bisa merasakan amarah yang membara dalam diri sahabatnya itu. Clara tahu betul betapa Naufal sangat menyayangi ibunya dan kedua adiknya. Ia juga tahu betapa sakitnya Naufal saat mengetahui ayahnya mengkhianati mereka semua.
"Naufal," bisik Clara, berusaha menenangkan Naufal. "Kita pergi dari sini. Pertengkaran di parkiran klinik bukanlah hal yang baik."
Naufal menoleh ke arah Clara, menatapnya dengan tatapan penuh amarah dan kekecewaan. "Kau tidak mengerti, Ra. Aku sudah lama memendam semua ini. Aku ingin dia tahu betapa sakitnya kami semua karena perbuatannya."
"Aku mengerti, Naufal. Tapi bukan di sini tempatnya. Kita bisa bicarakan ini di tempat lain," balas Clara dengan lembut.
Fathar menatap Naufal dan Clara bergantian. "Naufal, Papa tahu Papa salah. Papa sudah mengecewakan kalian semua. Tapi Papa mohon, beri Papa kesempatan untuk memperbaiki semuanya."
Naufal tertawa sinis mendengar perkataan ayahnya. "Memperbaiki semuanya? Setelah apa yang kau lakukan? Kau pikir semudah itu? Kau pikir dengan kata maaf semua akan kembali seperti semula?"
"Papa tahu tidak akan mudah, Naufal. Tapi Papa akan berusaha. Papa ingin menebus semua kesalahan Papa," jawab Fathar dengan nada memelas.
"Terlambat! Semuanya sudah terlambat. Kau sudah menghancurkan keluarga kita. Kau sudah menghancurkan kebahagiaan Mama. Dan kau tidak akan pernah bisa mengganti semua itu," tegas Naufal.
"Naufal, Papa mohon..."
"Cukup! Aku tidak ingin mendengar apa pun lagi darimu. Aku hanya ingin kau pergi dari hadapanku dan jangan pernah muncul lagi dalam hidup kami," potong Naufal dengan nada suara yang penuh dengan kebencian.
Naufal menarik napas dalam-dalam, berusaha meredakan emosinya yang kembali memuncak. Ia menatap Fathar dengan tatapan dingin dan penuh dengan kekecewaan. "Aku malu mengakui kau sebagai ayahku."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Naufal menarik tangan Clara dan berjalan meninggalkan Fathar yang masih berdiri mematung di parkiran klinik. Clara mengikuti langkah Naufal dengan perasaan khawatir. Ia tahu betul betapa berat beban yang harus dipikul Naufal selama ini.
Saat mereka sudah berada di dalam mobil, Naufal menyandarkan tubuhnya di kursi dan memejamkan matanya. Clara menatap Naufal dengan tatapan penuh kasih sayang. Ia tahu Naufal sedang berusaha menenangkan dirinya.
"Kau tidak apa-apa, Naufal?" tanya Clara dengan lembut.
Naufal membuka matanya dan menoleh ke arah Clara. Ia tersenyum tipis, berusaha meyakinkan Clara bahwa dirinya baik-baik saja. "Aku tidak apa-apa, Ra. Hanya sedikit terkejut saja."
"Aku tahu ini berat untukmu, Naufal. Tapi kau harus kuat. Kau harus tetap tegar demi Mama dan adik-adikmu," ucap Clara dengan penuh semangat.
Naufal mengangguk pelan. "Aku tahu, Ra. Aku akan berusaha. Aku tidak akan membiarkan dia menghancurkan hidup kami lagi."
Clara menggenggam tangan Naufal dengan erat, memberikan dukungan dan kekuatan kepada sahabatnya itu. Lelaki yang ia cintai sepenuh hati dari dalam lubuk hatinya. Ia tahu Naufal adalah sosok yang kuat dan tegar. Ia yakin Naufal akan mampu melewati semua ini.
"Aku akan selalu ada untukmu, Naufal. Kau tidak perlu merasa sendirian," ucap Clara dengan tulus.
Naufal tersenyum tulus mendengar perkataan Clara. Ia merasa beruntung memiliki sahabat seperti Clara yang selalu ada untuknya dalam suka maupun duka.
"Terima kasih, Ra. Aku tidak tahu apa jadinya aku tanpa dirimu," balas Naufal dengan penuh rasa terima kasih.
Clara tersenyum manis. "Sama-sama, Naufal. Kita kan sahabat.
Setelah beberapa saat terdiam, Naufal menyalakan mesin mobil dan mulai melajukannya meninggalkan parkiran klinik. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, namun ia bertekad untuk melindungi keluarganya dan memastikan mereka bahagia. Ia tidak akan membiarkan Fathar kembali menghancurkan hidup mereka.
Di parkiran klinik, Fathar masih berdiri mematung menatap mobil Naufal yang semakin menjauh. Ia mengeluarkan ponselnya. Mencoba menghubungi nomor Rangga.
"Ya, Pak.." jawab Rangga.
"Coba cari tahu data lengkap Dokter Clara, aku akan mengirimkan lokasi Klinik tempat ia bekerja. Seluruh datanya harus sudah kau berikan besok pagi. Juga kau cari hubungannya dengan Naufal. Siapa dia hingga Naufal datang ke klinik untuk menjemputnya. Tidak mungkin jika hubungan mereka hanya pertemanan biasa. Dan kau cari juga semua tentang Naufal. Ipda. Naufal Hasbi. cari tahu semua tentang hidupnya, apa yang sudah ia lakukan selama menjadi anggota satresnarkoba di Polres. Berapa banyak sudah ia mengungkap kasus dan membuat kerugian pada jaringan kita."

Komentar Buku (59)

  • avatar
    fmkhryt rd wyn

    nice

    11/05

      0
  • avatar
    HasbiFajrin

    Ceritanya bagus 👍

    25/04

      0
  • avatar
    SilviaKarina

    keren ih ceritanya ♥️♥️♥️

    27/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru