Pukul 19.00 WIB, Naufal baru saja tiba di rumah setelah seharian berkutat dengan pekerjaan yang seolah tak ada habisnya. Sorot matanya yang lelah langsung tertuju pada sebuah mobil yang terparkir di depan rumah. Sebuah senyum tipis menghiasi wajahnya. Mobil itu milik Adelia, ibunya. Kehadiran ibunya selalu membawa kehangatan tersendiri di hatinya, seperti oase di tengah gurun pasir. Ia bergegas turun dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam rumah, tak sabar ingin segera bertemu. "Assalamualaikum," ucap Naufal, memberi salam saat membuka pintu. Suara riang adik-adiknya, Akhzam dan Raisa, menyambutnya dari ruang tamu. Ia melihat kedua adiknya itu sedang asyik bermain dengan mainan mereka. Akhzam dengan mobil-mobilannya yang selalu menjadi favoritnya, dan Raisa dengan boneka beruangnya yang tampak lusuh namun tetap setia menemani. "Mama mana, dek?" tanya Naufal, menghampiri mereka. Akhzam menoleh, matanya berbinar melihat kedatangan kakaknya. "Abang sudah pulang!" ucapnya riang, disusul oleh Raisa yang menimpali dengan nada yang sama, "Abang sudah pulang!" Naufal tersenyum mendengar sapaan kedua adiknya. Ia mengusap rambut mereka dengan sayang. "Mama di dapur sama kak Sinta dan Mami," jawab Akhzam, menunjuk ke arah dapur dengan tangan kecilnya. Tanpa menunggu lebih lama, Naufal bergegas menuju dapur. Dari ambang pintu, ia bisa melihat tiga wanita yang sedang duduk mengelilingi meja makan. Adelia, ibunya; Sinta, istrinya yang sedang mengandung; dan Rinda, ibunda Sinta, tampak asyik bercerita dengan penuh keceriaan. Aroma masakan yang menggoda langsung menyerbu indra penciumannya, membuatnya semakin lapar. "Eh, sudah pulang?" sapa Sinta, yang pertama kali menyadari kehadirannya. "Aku pikir bakal pulang tengah malam lagi." Naufal tersenyum tipis. "Kebetulan pekerjaan sudah selesai," jawabnya, sambil mengalihkan pandangannya pada Adelia. "Ma.." "Sudah makan, Nak?" tanya Adelia, perhatiannya begitu lembut dan tulus. "Sudah dengan tim, Ma," jawab Naufal, berusaha terdengar santai. Ia tidak ingin ibunya khawatir tentang dirinya yang seringkali lupa waktu jika sudah berurusan dengan pekerjaan. Adelia mengangguk. "Ya sudah, duduk dulu. Mami tadi bawain banyak makanan, pasti kamu lapar." Naufal menarik kursi dan duduk di samping Sinta. Aroma masakan yang menggoda langsung menyerbu indra penciumannya. Rinda memang selalu tahu cara memanjakan menantunya. Masakan buatannya selalu berhasil membuatnya merasa nyaman dan bahagia, seperti masakan ibu sendiri. "Gimana kerjaan hari ini, Fal?" tanya Rinda, perhatiannya tak kalah besar pada Naufal. "Lumayan padat, Mi. Tapi sudah selesai semua," jawab Naufal, berusaha terdengar santai. Ia tidak ingin membuat suasana menjadi tegang dengan menceritakan masalah pekerjaannya yang kadang membuatnya frustrasi. "Syukurlah kalau begitu. Jangan terlalu diforsir, kesehatan itu penting," nasihat Rinda dengan nada lembut. Naufal mengangguk setuju. "Iya, Mi. Aku usahakan. Aku mandi dulu ya," pamit Naufal. Ia merasa tubuhnya lengket dan butuh kesegaran setelah seharian beraktivitas. "Aku siapkan pakaian Naufal," Sinta bergegas menyusul Naufal. Ia selalu sigap dalam mengurus segala keperluan suaminya, menunjukkan betapa besar cintanya pada Naufal. Di dalam kamar, Naufal duduk di tepi tempat tidur. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba meredakan penat yang mendera. Pikirannya masih dipenuhi dengan berbagai macam pekerjaan yang harus diselesaikan. "Capek banget ya?" Naufal membuka matanya dan melihat Sinta berdiri di depannya sambil membawa pakaian ganti. Sinta menghampiri Naufal, memijat bahunya dengan lembut. Naufal tersenyum. "Terima kasih, sayang." "Kasihan sayangku ini.. Aku jadi kepikiran, kalau nanti aku, Mami, dan Raisa pulang ke Jakarta, siapa yang akan menghilangkan lelahmu?" ucap Sinta dengan nada khawatir. Naufal kembali tersenyum. Ia meraih tangan Sinta dan menggenggamnya erat. "Bisa mendengar suaramu saja, lelahku sudah hilang," jawab Naufal. Sinta tersenyum mendengar ucapan Naufal. Ia tahu bahwa suaminya itu sedang berusaha menghiburnya. Ia merasa terharu dengan perhatian dan kasih sayang yang diberikan Naufal padanya. "Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Kamu juga jangan terlalu memikirkan aku. Jaga diri baik-baik di Jakarta," ucap Naufal, menenangkan Sinta. "Iya, aku tahu. Tapi aku tetap saja khawatir," jawab Sinta. Naufal menarik Sinta ke dalam pelukannya. Ia memeluk istrinya itu dengan erat. "Aku janji akan selalu menjaga diriku baik-baik, biar bisa berjuang untuk kamu dan calon bayi ya?" bisik Naufal di telinga Sinta. Sinta membalas pelukan Naufal. Ia merasa nyaman dan aman berada di dalam pelukan suaminya. Ia tahu bahwa Naufal adalah orang yang tepat untuknya. "Aku mandi dulu ya," ucap Naufal, melepaskan pelukannya. "Iya, aku siapkan air hangat," jawab Sinta. Naufal mengangguk dan berjalan menuju kamar mandi. Ia merasa lebih segar setelah mandi air hangat. Ia mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih nyaman. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Naufal kembali ke dapur. Ia melihat semua orang masih berada di sana. Mereka masih asyik bercerita dan tertawa. "Sudah selesai mandinya, Nak?" tanya Adelia. "Sudah, Ma," jawab Naufal. "Sini, duduk. Mami sudah siapkan makanan untukmu," ucap Rinda. Naufal duduk di samping Sinta dan mulai makan. Meski mengaku sudah makan, ia tak ingin melewatkan masakan ibu mertuanya itu, terasa sangat lezat di lidahnya. "Enak sekali masakannya, Mi," puji Naufal. "Masakan Mama, Mami, dan Sinta semuanya juara." "Terima kasih, Nak," jawab Rinda dengan senyum bahagia. Tiba-tiba, Raisa berlari kecil menghampiri Naufal. "Abang..." panggilnya. "Ada Bu Alika di depan." Naufal mengerutkan keningnya. "Bu Alika? Malam-malam begini?" "Lanjutkan makannya, biar aku yang temui Bu Alika," Sinta bergegas berjalan keluar. Di teras, Sinta menghampiri Alika dengan senyum ramah. "Bu Alika?" sapanya. "Maaf, malam-malam mengganggu. Ipda Naufal ada kan? Saya mau bicara," jawab Alika dengan nada sopan. "Sedang makan, Bu.. Masuk dulu," ucap Sinta, mempersilakan Alika masuk ke dalam rumah. "Sedang rame?" tanya Alika, sedikit ragu. "Mamanya Naufal sedang di sini. Ibu saya juga kan masih di sini," jelas Sinta. "O iya, katanya mau ke Jakarta?" "Iya, tadinya Naufal yang mau mengantar, tapi kata Mami, biar sama Mami aja nanti berangkatnya, kasihan Naufal, kan dia kerja," jawab Sinta. "Tidak apa-apa, namanya juga istri sedang hamil muda," timpal Alika dengan senyum mengerti. Mereka tiba di dapur, di mana Naufal masih menikmati makan malamnya. "Eh, Brigadir Alika?" sapa Naufal, sedikit terkejut. "Makan yuk.." "Terima kasih, Ipda Naufal. Saya mau memberikan berkas ini," jawab Alika, menolak tawaran makan dengan halus. Ia meletakkan sebuah map di atas meja. Adelia, yang merasa tidak enak dengan kehadiran Alika, segera mengambil inisiatif. "Kami ke ruang tamu dulu ya," ucapnya sambil menggandeng lengan Rinda keluar dari dapur, disusul oleh Sinta. "Maaf.." ucap Naufal, merasa bersalah karena harus menerima tamu di tengah waktu makan malam keluarganya. Ia mencuci tangannya sebelum membuka map yang diberikan Alika. Kertas-kertas di dalam map itu berisikan data tentang Safira yang sudah dikembangkan lebih banyak. Naufal membaca dengan seksama setiap detail yang tertera. "Belum terlihat aktivitas mencurigakan selain uang masuk rekeningnya yang bisa dikatakan fantastis," Alika menjelaskan. "Kami masih terus menyelidiki sumber dana tersebut dan kemungkinan keterlibatannya dalam jaringan yang lebih besar." Naufal mengangguk-angguk, memahami penjelasan Alika. "Terima kasih atas informasinya, Alika. Ini sangat membantu," ucapnya. "Sama-sama, Ipda. Saya permisi dulu," pamit Alika. "Hati-hati di jalan," balas Naufal. Setelah Alika pergi, Naufal kembali duduk di meja makan. Pikirannya kembali dipenuhi dengan kasus Safira. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh wanita itu, dan ia bertekad untuk mengungkapnya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
nice
11/05
0Ceritanya bagus 👍
25/04
0keren ih ceritanya ♥️♥️♥️
27/03
0Lihat Semua