(Malam itu, di pasar malam) “Lakuin apa?” tanyaku. “Kamu sebarin kalau kamu akan dijodohkan dan kemungkinan akan menikah dengan orang itu,” ungkapnya. “Orang itu?” tanyaku. Kenapa dia tidak mengatakan dirinya? “Ya. Lalu, aku akan datang dan bilang kalau aku adalah calonnya.” “Lalu, apa hubungannya dengan Valdi?” tanyaku. “Valdi yang tahu dari gosip-gosip pasti akan langsung mendatangi kamu. Kamu bilang saja yang terjadi sekarang karena kejadian malam ini.” “Lalu?” tanyaku lagi. “Setelahnya minta dia untuk memperjuangkan hubungan kalian. Minta dia untuk memberikan kamu kejelasan. Aku yakin dia akan bimbang dan saat dia sudah gelisah kita ikuti kemana dia akan pergi,” jelasnya. Kenapa dia minta aku melakukan itu? Bukankah jika Valdi memperjuangkan hubungan kami, dia jadi tidak punya kesempatan? Hah! Apa yang aku pikirkan. Aku memang tidak memberinya kesempatan untuk merubah hubungan denganku. “Bagaimana caranya? Kamu kan tidak selalu ada di dekat aku.” “Aku kan mulai besok akan jadi dosen di kampus kamu. Kamu juga bisa menghubungi aku.” “Menghubungi? Bagaimana caranya?” tanyaku. “Begini.” Dia mengambil ponselku dan mencatat nomor teleponnya. “Kamu gak usah khawatir. Aku sudah lebih dulu menyimpan nomor telepon kamu. Sekarang, yang perlu kamu khawatirkan adalah bagaimana membuat gosip itu menyebar.” “Aku tahu caranya tapi sepertinya agak susah,” ucapku. “Apa harus aku yang menyebarkannya?” “Tidak! Biar aku saja.” “Kalau begitu kita pulang, lukamu juga sudah selesai diobati.” Karena itulah aku harus berjuang keras untuk menyebarkan rumor ini. Aku harus membuat Reza tampak sempurna di mata teman-temanku. “Baru kali ini aku dengar kamu bicara seperti itu tentang calon yang akan dijodohkan dengan kamu. Hm, aku mulai curiga. Jangan-jangan…” Apa aku sudah ketahuan? Aku memang tidak jago berbohong tapi secepat ini kah? “Jangan-jangan kamu sudah jatuh cinta dengan dia, ya?” lanjut Sinta bertanya. “Gak! Gak mungkin. Aku kan sudah punya pacar!” dalihku. Jatuh cinta? Ha ha ha, aku hanya pura-pura memujinya saja di depan kalian agar kalian bisa memanas-manasi Valdi. "Lah terus kenapa? Dia oke juga sepertinya. Kalau kamu memang gak suka kan tinggal keluarin jurus-jurus aja, mereka pasti langsung kabur, tuh,” ucap Banyu. "Gini guys, ternyata selama ini Ayah Putri dipermalukan sama orang tua yang anaknya mau dijodohkan sama Putri. Kalian tahu lah bagaimana sikap Putri dan apa saja yang sudah dia lakukan. Mungkin ada orang tua yang tersinggung,” ucap Ilda lanjut menjelaskan. Asikk! Ekspresi mereka langsung berubah. Kalau begitu sepertinya rumor ini akan cepat menyebar. "Kenapa?" tanya Banyu. "Karena selama pertemuan Putri pura-pura gak normal, dan mereka semua ngira Putri memang begitu. Jadi, Ayah Putri belain. Nah, si bocah ini gak enak mau nolak permintaan Ayahnya untuk perjodohan kali ini, tapi dia juga bimbang dengan Valdi, takut diputusin,” tambah Ilda. "Jangan sampe Valdi tahu lah. Sekedar makan aja kan kemungkinan tahunya kecil,” imbuh Sinta mendukungku. "Iya tenang aja, kalau lo lagi keluar sama si dia kita yang bakal jagain Valdi,” sahut Banyu. "Gak perlu gitu juga, lagian aku pasti ketemunya di rumah kok. Gak mungkin di tempat lain,” ucapku. Bisa repot kalau mereka mengintili aku dan Reza nanti. “Tapi, sepertinya aku akan benar-benar menikah dengan dia,” timpalku. Wajahku memelas. “Kalian lebih dukung aku dengan Valdi atau dengan lelaki ini?” tanyaku lagi. “Kita gak tahu. Kita juga belum lihat orangnya seperti apa,” ucap Deri. Semua ikut mengangguk tanda setuju. Umpan ketiga berhasil ditangkap. Tiba-tiba seorang laki-laki tinggi, rapi, tampan, dan mempesona duduk disebelahku. Mataku terbelalak melihat siapa itu. Sebenarnya ini juga hanya acting. Aku harus pura-pura terkejut. Reza mengedipkan mata sembunyi-sembunyi. Degan gesitnya Banyu dan Deri menghalangi orang itu dan bertanya, "Siapa lo, tiba-tiba duduk deket temen kita?" Dia tersenyum ke arahku sembari mengatakan " Saya calon suami teman kalian." Dia mengatakan itu tanpa sedikitpun rasa malu, sekarang aku bahkan tidak bisa menatap matanya. Aku pun tanpa sadar ikut tersenyum. Dia benar-benar jago acting. Teman-temanku terdiam untuk waktu yang cukup lama sebelum kembali heboh. "Siapa?" tanya Sinta. "Calon suami?" tanya Ilda. "Jadi ini yang akan dijodohkan sama Putri?” tanya Banyu. "Gila, daebak. Aku lebih setuju sama yang ini,” tambah Sinta. “Tunggu dulu! Kita gak bisa sembarangan nyerahin sahabat kita gitu aja, dong. Kita harus seleksi dia dulu!” tegas Deri. Lagi-lagi semua mengangguk lalu menatap Reza dengan sinis. Mereka benar-benar membuatku gila. Aku berdiri dan hendak pergi meninggalkan mereka serta membawa Reza ikut bersama. “Nama saya Reza, umur 27 tahun. Saya bekerja di sini sebagai dosen mulai hari ini tapi tenang saja saya tidak akan mengajar kalian. Lalu, saya tinggal di perumahan melati. Saya punya usaha di bidang property dan kuliner. Saya dengan tulus menyukai sahabat kalian,” ucapnya tiba-tiba. Sahabat-sahabatku tampak terpukau dan kagum. “Do-dosen?” tanya Ilda. “Pengusaha?” tanya Sinta. “Ya," jawab Reza. “Oke, lampu hijau dari aku,” ucap Ilda. “Aku juga,” tambah Sinta. “Hei, kita juga harus lihat kepribadiannya seperti apa,” ucap Banyu lirih. “Ah, benar juga. Kalau begitu lampu kuning,” sahut Deri.
“Bagaimana kalau setelah ini kita nongkrong dulu di caffe dekat sini? Saya yang traktir.” “Boleh.” Ajakan itu langsung diiyakan oleh sahabat-sahabatku. “Aku ikut!” sahutku. “Loh, kamu kan ada jadwal kuliah. Nanti ya kita cari waktu lagi untuk nongkrong sama-sama. Sekarang kuliah dulu.” Dia mengeluarkan jurus mematikan dengan mengelus kepalaku di depan sahabat-sahabatku bahkan ada beberapa mahasiswa lain yang melihat. “Kamu harus di cap milik dulu. Dari tadi banyak yang ngelirik kamu karna kamu begitu cantik,” goda Reza. Aku menahan malu dan langsung melangkahkan kaki dengan cepat menuju ke kelas. Aku penasaran apa yang mereka lakukan sekarang. Akankah obrolan mereka menjadi canggung? “Hei, apa yang kalian lakukan?” tanyaku. Aku mengirim pesan pada Reza karena sangat penasaran. “Aku hanya meminta mereka membuat kamu dan Valdi putus,” jawab Reza. What? Apa yang dia katakan? Aku ingin membalas pesan itu tapi dosenku sudah datang. Dr. Ilzan memasuki kelas dan mengucapkan salam. "Assalamu'alaikum. Selamat pagi semuanya,” sapanya dengan ceria mengubah suasana hatiku. "Wa'alaikumsalam. Selamat pagi, Pak,” jawab kami bersamaan. "Untuk hari ini mungkin kita tidak membahas mata kuliah, karena hari ini khusus untuk hari perpisahan." "Perpisahan apa, Pak?" tanya salah satu mahasiswa di kelas. "Bapak mendapat tugas baru untuk mengajar di kampus lain. Karena jadwal Bapak di sini sudah sangat padat jadi tidak mungkin Bapak bisa mengajar semuanya. Untuk kelas kalian mungkin akan diganti dengan dosen lain. Keluarga Bapak juga akan segera pindah ke sana. Bapak tidak mungkin bolak-balik dengan tubuh yang sudah renta ini, anak-anak,” jelas Dr. Ilzan. "Bapak gak sayang kelas kami lagi,” rengek seorang mahasiswi "He he he, bukan gak sayang tapi karena sayang jadi kalian harus diajar oleh dosen yang siap. Tenang aja dosen nya ganteng kok, mata kalian seger terus nanti. Daripada kalian ngeliat Bapak-Bapak tua ini kan mending liat yang lebih muda, lebih seger,” ledek Dr. Ilzan. Aku bisa memaklumi alasannya. Keluarga Dr. Ilzan akan pindah dan kami tahu jaraknya cukup jauh dari sini. Aku saja tidak akan saggup untuk bolak-balik. Begitulah Dr. Ilzan meninggalkan kelas kami setelah berbicara dan menjelaskan situasinya. Aku cukup sedih karena Dr. Ilzan termasuk dosen favorit ku dan juga dosen pembimbing akademikku. Kini, akan semakin sulit untuk bertemu dengan beliau, selain dosen yang diganti ternyata mahasiswa yang dosen PA Dr. Ilzan juga diganti. “Akan lebih menyenangkan jika Reza yang menggantikan Pak Ilzan,” batinku. Astaga, apa yang aku pikirkan! Bersambung...
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (185)
ChaniagoKachi
sangatbagus
03/05
0
Bubllegumverosa
Aku suka cerita kak, alur cerita serta karakternya, semangat kak, kalo berkenan mampir ke ceritaku ya kak, Rasa Sakit Gina-Seluas Laut, terima kasih 🫶🏻✨💗💃🏻
sangatbagus
03/05
0Aku suka cerita kak, alur cerita serta karakternya, semangat kak, kalo berkenan mampir ke ceritaku ya kak, Rasa Sakit Gina-Seluas Laut, terima kasih 🫶🏻✨💗💃🏻
15/02
1lanjut dong kak kaya berasa kurang cerita 🥰
13/05/2025
0Lihat Semua