Lie Part 3

Dapi tersentak. Indra keenamnya membangunkan tubuhnya dari tidur lelap. Intuisinya berbisik, ada bahaya yang akan menyerang malam ini. Ia menoleh ke arah jam dinding di kamarnya. Jarum jam menunjukkan pukul 02.47 WITA. Tanpa membuang waktu, ia segera mengganti piyama yang melekat di tubuhnya.
Ia berlari ke arah lemari pakaian dan mengenakan celana serta baju hitam berlengan panjang. Gerakannya cepat dan terlatih. Setelah berpakaian, ia membuka pintu kamar dan melangkah keluar dari Bale Dauh. Tubuh rampingnya langsung melesat ke atas atap bangunan dengan lincah. Tangannya meraba bagian belakang telinga, mencari sesuatu. Jari-jarinya menemukan benda kecil yang tersembunyi di balik rambut. Seketika, benda itu membesar di tangan kanannya—Tongkat sakti crystal snow kini berada dalam genggamannya, dalam ukuran normal.
Dapi mengarahkan tongkat ke langit dan menembakkan cahaya putih lurus ke atas. Cahaya itu meluas dan membentuk payung cahaya berdiameter empat kilometer. Ia baru saja menciptakan Invisible Circle, teknik pelindung yang ia pelajari secara kilat dari Om Bagas.
Cahaya itu bukan sekadar Teknik pelindung, tapi sinyal. Dapi sengaja menampakkannya. Instingnya mengatakan bahwa malam ini, serangan yang datang tidak akan main-main.
Masih berdiri di atas atap Bale Dauh, Dapi menengadah dan bersiul panjang, melengking tajam memanggil Kinnara. Beberapa menit kemudian, sosok bersayap menyerupai burung besar muncul di langit. Kinnara, makhluk setengah manusia setengah burung itu, terbang melingkari area sekitar, lalu perlahan mendarat di samping Dapi.
Begitu kakinya menyentuh atap, sayapnya melipat cepat ke belakang. Nafasnya terengah.
“Ada apa, Yang Mulia?” tanya Kinnara dengan suara berat.
“Intuisiku berkata akan ada serangan dari musuh malam ini,” jawab Dapi, menatap ke sekeliling, waspada.
Tiba-tiba terdengar decitan makhluk malam dari kejauhan. Suaranya melengking, memekakkan telinga. Kinnara refleks menengadah, lalu melompat dan terbang, mengepakkan sayap untuk naik lebih tinggi.
“Yang Mulia... ratusan Rangda sedang terbang ke arah kita! Ternyata musuh kita selama ini adalah Calonarang! Ia akan mengirim kutukan ke seluruh penduduk Amlapura!” teriak Kinnara dari udara.
“Calonarang....” Dapi bergumam lirih, wajahnya menegang.
“Dan... dia ternyata sekutu Big Boss untuk menghancurkanmu, Yang Mulia!”
Suara-suara mencicit itu makin mendekat, semakin tajam dan ganas. Kinnara melesat ke depan, mengepakkan sayap dengan kecepatan tinggi. Ia melayang vertikal di udara dan tiba-tiba memetik dawai kecapi yang entah dari mana muncul di tangannya. Suara petikan itu menghasilkan kilatan cahaya berbentuk dawai, puluhan jumlahnya, melesat menghantam makhluk-makhluk menyeramkan yang disebut Rangda.
Dapi tak tinggal diam. Dengan jari telunjuk kirinya, ia melukis di udara. Seketika terbentuk hewan imajinasi. Seekor angsa berwarna biru laut. Ia melompat ke punggung angsa itu dan terbang, mensejajarkan posisi dengan Kinnara. Dari tangan kirinya, Dapi melepaskan jarum-jarum kristal yang menembus tubuh-tubuh Rangda sebesar kelelawar itu.
Serangan dari Kinnara pun tak kalah dahsyat. Dawai-dawai cahaya membelah tubuh makhluk malam itu menjadi dua. Tapi jumlah mereka tak kunjung berkurang. Justru semakin banyak yang datang, suara decitannya menggetarkan langit malam.
Dapi memutar tombaknya, mengeluarkan ribuan jarum dari poros senjata itu. Hujan jarum menghantam para Rangda yang terbang acak. Suara decitan berubah menjadi jeritan kesakitan.
Sementara itu, Kinnara memetik kecapinya dua kali lebih cepat. Gelombang serangan cahaya pun semakin padat. Beberapa Rangda berguguran, jatuh ke tanah. Tapi suara mencicit dari kejauhan menandakan masih banyak lagi yang datang.
Dapi lalu mengangkat tombaknya tinggi-tinggi. Dari batu Larimar yang tertanam di tengah-tengah tombak, menyembur sinar biru menyilaukan. Cahaya itu membutakan Rangda, membuat mereka terbang berputar tak menentu. Namun sinar itu tidak mematikan mereka, hanya mengacaukan formasi.
Saat para Rangda dalam keadaan terhuyung, Dapi bersiap melancarkan serangan baru. Tapi, tiba-tiba matanya menangkap cahaya putih bergerak cepat seperti kilat, mengelilingi kerumunan Rangda.
“Kinnara, kau melihat cahaya putih itu?” serunya.
Kinnara memicingkan mata, mencoba menangkap sesuatu. Tapi ia tak melihat apapun.
Dapi tak menunggu jawaban. Dalam waktu sekejap, pemandangan di hadapannya berubah drastis. Ratusan Rangda jatuh berserakan ke tanah, mati seketika. Wajah Dapi menunjukkan keterkejutan yang sama dengan Kinnara. Tak lama, tubuh-tubuh makhluk itu berubah menjadi asap hitam dan menguap.
Dapi mengarahkan angsa imajinasi yang ditungganginya untuk terbang lebih dekat. Kinnara menyusul dari belakang. Dari ketinggian sepuluh meter, mereka melihat bekas medan perang dipenuhi bangkai Rangda yang tak bernyawa. Tapi yang menarik perhatian mereka bukan hanya itu.
“Wangi ini....” Kinnara mengendus, hidungnya naik-turun.
“Bunga Kasna.” Dapi berbisik, menajamkan indra keenam. Ia mencari-cari sosok yang barangkali menjadi penyebab kematian para Rangda. Tapi tak ada satu pun jejak makhluk yang tertangkap olehnya.
***
“Anak laki-laki, Yang Mulia. Tapi tinggi badannya hampir setara dengan Anda. Mungkin usianya hanya terpaut dua tahun. Usia Yang Mulia saat ini, maksud saya,” jelas Kinnara.
Dapi terdiam. Wajahnya serius. Ia memikirkan siapa sosok yang diceritakan oleh sahabat bersayapnya itu.
Baru hari ini Kinnara memberitahukan tentang pertempuran tiga hari lalu. Saat itu, ia diserang oleh utusan Calonarang. Ia mengenali sosok Ratna, salah satu pengikut Calonarang. Tapi yang menarik, dalam pertempuran itu, seorang anak laki-laki datang menolong. Ia menusukkan Bunga Kasna ke leher lawan dengan cara yang belum pernah dilihat Kinnara sebelumnya.
Kinnara juga mengungkapkan bahwa anak itu menanyakan banyak hal tentang Dapi—tentang siapa dia, dan mengapa ia disebut sebagai titisan Raja Pertama Karangasem. Sebagai balas jasa, Kinnara menjelaskan semuanya kepada si anak.
Namun, Dapi justru semakin bingung. Indra keenamnya tak mampu membaca apa pun. Intuisinya pun tak memberi petunjuk. Ia hanya teringat akan cahaya putih tadi malam yang mengitari kumpulan Rangda. Cahaya itu hanya muncul sekejap, lalu hilang tak bersisa. Setelah itu, semua Rangda tewas.
Dan yang lebih aneh, di tanah tempat mereka bertempur, banyak Bunga Kasna berserakan. Dapi tahu, Bunga Kasna adalah bunga suci yang mampu menetralkan aura mistis. Ia menduga, sosok misterius itu pasti berasal dari Bali. Tapi siapa?
“Aneh... sungguh aneh,” gumamnya.
Malam hampir menyentuh subuh. Langit bertabur bintang. Dapi dan Kinnara duduk bersila di atas Bale Dauh, menatap langit yang mulai memudar.
Mereka telah menggagalkan rencana Calonarang untuk mengutuk seluruh penduduk Amlapura. Namun mereka tahu, keberhasilan ini bukan semata-mata karena kekuatan mereka.
Ada kekuatan lain. Seseorang... atau sesuatu... yang jauh lebih kuat, dan masih menjadi misteri.
Bersambung…

Komentar Buku (25)

  • avatar
    Bunga Dwi R.3A_072_

    ceritanya seru bangettt

    23/10

      0
  • avatar
    NufrilasariLintang

    ceritanya seru dan bagus

    23/09/2025

      0
  • avatar
    A Apa

    👍 sip

    09/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru