logo text

Bab 44 Kembali Utuh

Finn bersama Kimi akhirnya tiba kembali di rumah Gibson.
Gibson sudah tak mampu melarang Finn, itu karena Kevia sangat membutuhkan mereka. Nyatanya pengorbanannya menahan ego tidaklah sia-sia, Kevia terlihat jauh lebih baik saat Finn dan Kimi datang.
“Maukah Paman dan Kakak tinggal di sini?” tanya Kevia polos yang rebahan di atas ranjangnya. Sementara Finn dan Kimi, masing-masingnya duduk pada dua tepi ranjang itu.
Sebetulnya Finn merasa sesak mendengar pertanyaan Kevia. Jika saja Kevia tahu bahwa dulu mereka pernah tinggal bersama. Akan tetapi Finn berusaha menyembunyikannya.
“Paman tidak bisa, Via. Kak Kimi juga.” Finn melirik Kimi. “Jika dia tinggal di sini, Ibu dan Nenek akan sedih.”
“Kalau begitu ajak sekalian saja mereka juga di sini.” Kevia ternyata sangat menginginkannya. Membuat Finn jadi sulit beralasan lagi.
“Via, jika kami semua pindah ke rumah ini, sayang sekali, rumah kami akan rusak. Sementara rumah itu sangat berarti untuk kami, di sana menyimpan banyak kenangan,” sahut Kimi akhirnya. Pasrah apakah nantinya Kevia menerima atau tidak.
“Hum ... begitu, ya. Tapi ... aku tetap boleh kan, Kak? Sering-sering menginap di rumah Kakak?”
Kimi tersenyum lega. “Tentu. Jika saja kakekmu tidak melarang.”
Pertemuan juga pecakapan itu betul-betul membawa ketenangan bagi Kevia. Dia akhirnya bisa kembali tertidur lelap di saat Finn dan Kimi menjaga di sampingnya. Sampai-sampai bahkan, Finn ikut tertidur di sebelahnya. Kimi yang melihat Finn begitu menjaga sang putri jadi senyum-senyum sendiri. Ia terlihat jauh lebih dewasa jika seperti itu.
Entah bagaimana ketulusan itu datang, Kimi berharap suatu hari nanti Finn dapat berkumpul lagi bersama dengan putri yang ia cinta.
Karena merasa haus, sedetik kemudian Kimi bangun dari ranjang Kevia. Ia keluar dari kamar gadis kecil itu, dan mencoba menemukan seorang pelayan untuk dimintai tolong menunjukkan di mana ia dapat memperoleh air mineral. Sayang Kimi tidak menemukan siapapun. Mungkin karena malam telah larut, jadi para pelayan di rumah keluarga Gibson sudah terlelap semua.
“Kau mecari sesuatu?” pertanyaan itu sungguh mengejutkan Kimi. Tak ia sangka Gibson berada tak jauh darinya.
“Oh, Pa-Paman. Maaf, aku hanya berniat mencari pelayan untuk meminta segelas air.”
Gibson hening. Membiarkan Kimi canggung dengan sikapnya yang terkesan kaku.
“Ikut aku, Kimi.” Begitulah pinta Gibson yang kemudian dituruti Kimi.
Gibson rupanya membawa Kimi ke dapur. Di sana ia memberikan Kimi segelas air putih yang ia ambil dari dispenser dengan tangannya sendiri. Sesungguhnya kebaikan Gibson membuat Kimi jadi tak enak hati karena merasa sudah merepotkan.
“Te-terima kasih, Paman. Maaf merepotkan, Paman.”
“Tidak masalah. Duduklah, aku ingin sedikit mengobrol denganmu. Sudah lama kan, kita tidak bertemu.”
Kimi mengangguk, lagi-lagi ia menuruti keinginan seseorang yang pernah ia anggap ayah dahulu kala. Sebuah meja dilengkapi dengan kursi menjadi tempat perbincangan mereka di sana.
“Kimi,” mula Gibson. “Maaf, jika selama ini Finn selalu merepotkanmu.”
Kimi terkejut oleh pengakuan Gibson. Pria itu memohon maaf untuk anaknya lagi setelah bertahun-tahun berlalu. Hei, itu membuat Kimi curiga, apakah selama ini Gibson tahu kalau Finn tinggal di rumahnya?
“Aku tahu anakku menyewa salah satu kamar di rumahmu.”
Ah, belum juga Kimi bertanya, rupanya Gibson sudah menceritakannya lebih dulu. seakan-akan ia mengerti apa yang arti di balik ekspresi wajah Kimi.
“Jadi Paman mengetahuinya. Lantas, kenapa Paman tidak pernah mengunjungi Finn di rumahku?”
Pertanyaan Kimi justru membuat Gibson kesulitan menjawab.
“Paman masih ingin menghukum Finn?”
Terkejut Gibson mendengar pertanyaan Kimi selanjutnya. “Sepertinya kau sudah mendengar banyak hal tentangnya.”
“Ya, Paman benar. Bahkan aku sempat bingung, kenapa aku bisa terlibat lagi dengan Finn dan mengetahui apa yang terjadi padanya. Dia kan sangat menyebalkan dan memang masih menyebalkan. Jadi selama ini kukira selamanya aku tidak akan pernah bertemu Finn lagi. Rupanya takdir berkata lain.”
Seketika tawa Gibson memecah hening. Ia seakan menikmati kepolosan Kimi.
“Kau tahu Kimi. Rumahmu adalah tempat kedua yang tidak aku usik untuk Finn. Biasanya di manapun dia tinggal, aku akan menyuruh pemiliknya untuk mengusir Finn dengan segala cara.”
“Benarkah? Lalu di mana tempat pertama yang tidak Paman usik?”
“Penampungan tuna wisma milik pemerintah.”
“Astaga ..., Paman keras sekali terhadap anak sendiri. Tapi aku rasa itu pendidikan yang baik untuk membunuh kesombongan Finn.”
“Ha ha ha. Baru sekarang aku menemukan seseorang yang berpihak kepadaku.”
“Em …, tapi Paman. Sampai kapan Paman mau memiliki hubungan keluarga yang seperti ini? Sungguhkan ini membawa kebahagiaan untuk Paman?”
Tersentak batin Gibson. Entah mengapa pertanyaan Kimi mampu memukul hatinya. Itu pertanyaan biasa sebetulnya bagi Gibson, dia sering mendengar pertanyaan yang mirip dari istri dan anak keduanya, tentang sampai kapan dia akan bertindak keras seperti itu terhadap Finn?
Akan tetapi, entah mengapa bagi Gibson ketika Kimi yang mengajukannya terasa berbeda? Apakah itu karena Kimi bertanya jauh lebih dalam menggali hatinya? Tentang kebahagiaan. Ya, apakah yang ia lakukan terhadap putra kandungnya membuat ia merasa bahagia? Gibson berani mengakui bahwa itu tidak sama sekali.
“Apa yang harus Paman lakukan, Kimi?”
“Hum? Apa maksud Paman?”
“Apa yang harus Paman lakukan, jika itu tidak membuat Paman bahagia?”
Kimi paham sekarang. Ternyata apa yang Gibson lakukan tidak saja melukai Finn, akan tetapi juga melukai hatinya sendiri. Sungguh malang nasib pria tua di depannya. Kimi yakin, dia sangat ingin memiliki keluarga yang harmonis. Hanya saja ia belum menemukan visi yang sama terhadap anak-anaknya.
Di sisi lain, Finn tersadar dari lelapnya. Matanya menangkap Kevia yang tertidur pulas. Lega sekali Finn melihat sang putri, akan tetapi sebegitu cepat ia dibuat bingung karena Kimi tak ada lagi di sampingnya.
Dengan langkah berhati-hati Finn keluar dari kamar Kevia. Ia tak mau sampai membangunkan tidur nyenyak putrinya. Ia ingin mencari Kimi, takut kalau perempuan itu meninggalkannya pulang lebih dulu.
Lihatlah, Finn merasa nyaman bersama Kimi. Di dekatnya ia merasa tak asing. Bahkan Finn jauh lebih merasa asing di rumah yang berisi keluarganya sendiri dibanding dengan Kimi.
“Ya ampun, di mana dia?” keluh Finn, yang tampak seperti anak ayam yang kehilangan induknya. “Ck! Di mana sih dia? Mana aku haus ; lebih baik aku cari minum dulu.” Melangkahlah Finn menuju pada apa yang dicarinya. Bertahun-tahun ia meninggalkan rumah itu, sekalipun tak pernah menengok, tentu itu tak membuat Finn lupa.
“Sungguhkah keluarga ini bisa utuh kembali, Kim?” seketika langkah Finn terhenti setelah mendengar sekaligus melihat Gibson sedang bicara dengan Kimi di dapur.
Obrolan dua orang itu membuat Finn enggan mencapai tujuannya lagi untuk menghilangkan rasa haus dari tenggorokan. Ia memilih untuk menguping pembicaraan mereka.
“Paman tidak akan tau, jika Paman tidak pernah mencoba untuk mempersatukannya."

Komentar Buku (140)

  • avatar
    Radius Cirebon

    video bagus dan bisa buat pelajaran bagi yang menonton

    01/05

      0
  • avatar
    SazaBoi

    nice

    15/10

      0
  • avatar
    Nurul Huda

    seruuu

    25/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru