bab IV

"ayo, kita harus bergegas mengumpulkan anggota..!" Ucap Moe-yoel. Setelah menatap damai bayi kecil laki laki Burhan dan Nana. Ruangan rumah sakit terasa sedikit mencekam. Anggota ? Bukankah harusnya ia masih memeluk putra pertamanya untuk beberapa minggu kedepan ? Ah, andaikata waktu memberi izin untuk terus mendampingi putra pertama tumbuh dewasa.
"Kau hendak kemana suamiku ?" Selidik Nana. Mengrenyitkan alis. Baru saja tiba. Lima belas menit kemudian terlontar kata pergi.
"Istriku.. maaf.. Negara sedang benar benar...___" ucap Burhan. Menatap wajah Nana meyakinkan.
"BURHAN...!!!!" Moe-Yoel membentak. Mengingat bahwa harusnya ini menjadi misi yang amat rahasia.
"Tidak..tidak... Aku harus menjelaskan kepada istriku. Aku akan pergi kesuatu tempat. Negara amat membutuhkanku saat ini.. " ujar Burhan. Moe-Yoel diam. Setidaknya untuk urusan berbahaya ini ,istrinya berhak tahu.
"Akan lama kah kau pergi.?"
"Tidak tahu... Yang jelas, aku akan berusaha pulang secepat mungkin. Aku akan kembali untukmu. Juga anak kita."
"Harus..!!!! Kau harus pulang untuk kami berdua..." Nana menatap lamat lamat mata suaminya. Benar benar pemandangan yang mengharukan jika kau bisa melihatnya secara langsung. Moe-Yoel menepuk pundak Burhan sekali.
"Aku tunggu dimobil." Singkatnya.
*****
"Arrrggghhhhh.....!!!!" Ruangan berdinding kayu jati, dengan cahaya penerangan seadanya. Moe-Yoel mengerang kesakitan. Berteriak mengaduh,
"Aaarrrgghhh....!!!!!"
"Ayah... Bertahanlah ayah...!!!" Jaka berteriak cemas. Menangis tersedu. Sementara dokter pribadi Moe-Yoel berisik meminta mengambilkan ini itu, tolong pegang ini itu, bersik. Amputasi. Beruntung nyawa Moe-Yoel selamat dari ranjau darat yang ia pijak. Menggantikan putra semata wayangnya. Dan keselamatannya harus dibayar mahal. Kaki kanan Moe-Yoel hancur hingga lutut. Proses amputasi dengan alat seadanya. Juga pengetahuan dokter seadanya. Seadanya ? Tidak. Salah seorang mantan tim medis yang pernah mendampingi tim Moe-Yoel beroprasi. Hingga dalam situasi seperti ini, kedua tangannya sigap mengatasi masalah yang diterima Moe-Yoel.
Tiga jam berkutat untuk urusan pendarahan hebat, memotong bagian kaki yang tak dapat digunakan kembali, juga menjahit untuk menghentikan pendarahan. Selama tiga jam ruangan kecil berdinding kayu tersebut berisik akibat erangan kesakitan Moe-Yoel, juga tangis Jaka. Serta kalimat semangat dari bawahan Moe-Yoel. Hingga setengah jam lalu, Moe-Yoel benar benar kehabisan tenaga untuk berteriak. Mengaduh dengan hebat. Sebuah oprasi tanpa obat bius. Membuat Moe-Yoel harus merasakan apa itu neraka. Dua setengah jam ia benar benar kesakitan hebat. Hingga setengah jam lalu kesadarannya harus benar benar menyerah atas rasa sakit yang ia derita.
"Ayah...ayah...bangun ayah..." Jaka menatap lamat lamat tubuh ayahnya yang tiba tiba berhenti berteriak.
"Tenanglah tuan muda. Komandan hanya sedang pingsan. Untuk sementara, tolong..!!! Biarkan saja seperti ini. Ini akan memudahkan untuk proses berikutnya." Pinta Dokter pribadi dengan ketus. Panik, cemas. Entahlah.
Semburat jingga menelisik disela-sela pepohonan. Membuat mentari benar benar terlihat seperti tertelan belantara. Cuit burung burung yang beraneka ragam suara, seoalah memanggil keluarganya untuk segera kembali kesarang. Sebelum petang benar benar tiba. Jaka menatap langit senja yang semakin gelap. Seiring mentari yang benar benar termakan belantara. Berharap ayahnya segera sadar. Terbangun dari pingsannya. Oprasinya selesai sejak satu jam lalu. Peluh dokter pribadi mengucur hebat. Wajahnya benar benar badah seperti selesai mandi. Juga beberapa asisten dan bawahan Moe-Yoel yang turut membantu proses amputasi kaki kanan Moe-Yoel. Hanya Jaka seorang yang wajahnya sempurna basah berkat air mata. Ia benar benar menyesali atas kecerobohonnya siang ini. Andaisaja pelatih tidak memanggil ayah, biarlah kaki ini yang hancur. Percuma. Itu sudah benar benar terjadi.
"Jak...Jaka..." Terdengar suara amat lirih dari dalam ruangan. Lamunan Jaka terbangun berkat suata lemah tersebut.
"A...ayah...." Sontak Jaka menghampiri sumber suara. Didalam tidak ada siapa siapa. Hanya Moe Yoel seorang. Sedang yang lain sudah keluar sejak operasi selesai. Menyisakan dokter yang memastikan semua telah berjalan lancar. Sebelum akhirnya keluar ruangan lima menit lalu.
"Jaka disini ayah...!"
"Kemarilah.. ada hal yang harusnya kau tahu tentang ibumu...." Ujar Moe-Yoel. Bersuara serak. Tak bertenaga. Ibu ? Ah iya, sejak kecil Moe-Yoel tidak pernah menceritakan sosok Ibu kandung Jaka. Yang Moe-Yoel tanamkan hanya latihan militer, juga pengetahuan umum serta pelajaran sekolah sekolah lainnya. Ibu ? Bahkan ia tidak pernah melihat sosok wanita diwilayah tinggalnya. Ibu ? Ah ya, ia sama sekali belum pernah bertemu dengan sosok wanita selama tinggal dibelantara.
"Nana..." Ucap Moe-Yoel. Menatap langit langit ruangan. Berkedip sekali dua kali. Menghela nafas amat panjang sebelum melanjutkan cerita.
"Nama ibumu Nana. Ia wanita yang amat cantik. Kalem. Serta baik hati. Sayang.. sungguh seribu sayang. Ibu meninggalkanmu disaat kau masih berusia dua bulan. Bukan karena tidak menyayangimu. Bukan karena membuangmu.." membuangku ? Bukankah kalimat itu sama halnya dengan membuang kita berdua ? Jaka tidak perduli, yang matanya sedang lihatlah yang saat ini benar benar ia perdulikan. Sosok pria keras ,kasar, dan rela bertukar nyawa dengannya yang sedang Jaka perhatikan.
"Tentara Vietnam tak sengaja melintasi kediamanmu , mereka mengerti betul tempat tinggal ayahmu berada didalam belantara. Dan ayahmu telah berhasil menumbangkan salah satu petinggi musuh. Hingga membuatnya menjadi incaran utama." Ayahmu ? Jaka menatap kagum wajah Garang Moe-Yoel , ia benar benar sosok ayah yang hebat bukan ? Menjadi target utama musuh ,berarti ia benar benar sangat lihai dalam urusan perang.
"Dan saat itu, ayahmu sedang tidak berada didalam rumah. Hanya kau dan Ibu. Menjadi sasaran empuk. Benar saja. Ketika ayahmu tiba dirumah selesai rapat strategi. Ia mendapati dada Nana telah berlubang akibat peluru. Mendengar suara tangisanmu yang amat kencang. Penembak itu hanya meninggalkan selongsong peluru yang tertancap didada Nana. Jelas. Itu adalah peluru yang digunakan tentara Vietnam. peluru yang saat ini tergantung sebagai liontin dilehermu.. itu adalah peluru yang membunuh ibumu.." Moe-Yoel berhenti berkalimat untuk sejenak. Sesekali terbatuk. Wajahnya amat pucat. Bibirnya kering membiru.  Jaka masih terdiam. Masih ingin mendengar cerita tentang perjuangan ayahnya dulu. Ah tidak juga, ia lebih penasaran terhadap sosok ibu.
"Biar ku tebak.." sahut Jaka antusias.
"Ayah langsung menghampiri markas musuh seotang diri untuk membalaskan dendam kematian ibu bukan ? Ah sial, ternyata kau begitu hebat ayah..." Imbuh jaka. Tersenyum bangga sembari menatap wajah pucat yang berbaring diatas dipan.
"Tidak tidak. Bukan aku. Bahkan aku tidak ada disana waktu itu.." jawab Moe-Yoel. Sedikit tersenyum dengan segala penyesalan.
"Lantas ? Apa yang kau lakukan saat itu ?"
"Aku tidak ada dalam cerita itu Jaka. Karena aku bukan ayah kandungmu..." Lima detik, sepuluh detik. Ruangan gelap dengan penerangan seadanya itu lengang dan hening.
"Apa maksud ayah berkata seperti itu ? Apa karena aku tidak hebat ? Apa karena aku tidak jago ? Apa karena aku ceroboh..? Hingga kata itu terucap dari bibir ayah ?" Sahut Jaka. Kedua matanya merah. Terasa panas.
"Apa maksudmu  ayah...?!!!"  Imbuh Jaka. Sedikit bersuara keras.
"Sungguh kau bukan anak kandungku...!!!"

Komentar Buku (11)

  • avatar
    PusShipo

    akhirnya lanjut juga setelah vakum yang lama.. 😌😌

    07/02

      0
  • avatar
    Gabimaru

    Ingin top up FF

    26/06/2025

      0
  • avatar
    Suka maen epepWan

    bagus

    25/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru