logo text

39. Mengetahui Siasat Musuh 2.

“Bukankah ini?” lirih Jack yang segera mengehentikan laju kendaraan yang ia kemudikan sesuai intruksi dari GPS yang ia terima dari Kiev.
Disinilah Sammuel, Wilson dan Jack berada, setelah menempuh perjalanan hampir satu jam lamanya. Di pelabuhan LA Waterfront yang terletak di pesisir San Pedro, California.
Salah satu pelabuhan di Los Angeles yang terlihat biasa namun disini merupakan basis dan salah satu pusat transaksi ilegal terpenting di Los Angeles.
Waterfront mempunyai hukum sendiri yang mengatur tentang transaksi ilegal di area pelabuhan, bahkan Klan sebesar Collins Brothers pun tak dapat dengan leluasa berbuat seenaknya di tempat ini. Oleh karena itu transaksi ilegal di Waterfront begitu sangat terjaga kerahasiaannya dan keamanannya, karena sedikit saja berbuat onar di Waterfront, sama saja mereka menggali lubang kematian untuk dirinya sendiri. Sekali saja ada pertikaian fisik atau perkelahian, baik yang bias atau pun melibatkan gencatan senjata di area Steril Waterfront maka dapat di pastikan mereka akan keluar dari area Waterfront dalam keadaan tak bernyawa, jikalaupun mereka dapat lolos keluar dari Waterfront hidup-hidup, pasti pembunuh bayaran di seluruh dunia dapat dipastikan akan memburu mereka sampai kapanpun, karena imbalan yang di berikan Waterfront bisanya tak main-main jika ada yang berbuat onar dan menyinggung peraturan Waterfront, itu Prinsip transaksi di Waterfront yang harus diketahui semua orang yang bertransaksi menggunakan jasa dan pelabuhan di Waterfront.
“Tuan?” lirih Wilson di samping Sammuel yang sedang menyalakan satu buah batang rokok dengan bersandar di mobil yang tadi ia tumpangi, sedangkan Jack mengedarkan pandangan keseluruh arah untuk berjaga-jaga.
“Bukankah, merupakan suatu pelanggaran berat jika melakukan kontak senjata di daerah ini?” lirih Wilson yang begitu cemas terhadap Sammuel, sedangkan Sammuel hanya tersenyum lirih memandang Wilson.
“Aku tak bilang jika kita harus berperang disini, tapi yang aku bilang hanya ingin berpesta saja bukan?” jawab santai Sammuel yang kemudian berjalan kearah bangunan yang sangat mirip dengan gudang yang terletak tak jauh dari tempat ia berada.
Ketika akan memasuki pintu gerbang, ada lima orang berbadan besar serta berperawakan sangar menghadang Sammuel dengan senjata sudah di todongkan ke arah Sammuel. Wilson dan Jack segera mengambil ancang-ancang dengan memegang senjata yang mereka selipkan di pinggang belakang tubuhnya kala tau Sammuel sedang dalam posisi terancam, Sammuel mengangkat satu tangannya guna memberi kode kearah Wilson dan Jack untuk tak melawan.
Sammuel memberikan satu buah kartu emas Eye Of Horus ke salah satu orang yang menghadangnya, sedangkan salah satu orang yang menghadangnya segera maju kedepan dan mengeluarkan alat yang mirip dengan mesin EDC kartu ATM dan memasukkan kartu emas dari Sammuel, dan tak berapa lama pria yang menerima kartu emas Sammuel menundukkan badan dan memberikan ruang untuk dilewati Sammuel, Wilson dan Jack.
Wilson dan Jack hanya bisa membulatkan matanya kemudian saling pandang kala Sammuel mengeluarkan Kartu Eye Of Horus dari dalam saku jasnya. Ini bukan sekedar penyergapan atau berpesta biasa, Wilson dan Jack yang saling pandang lantas sama-sama menganggukkan kepala guna memberi semangat pada partner mereka masing-masing. Hanya ingin masuk kedalam bangunan ini saja Sammuel harus menggunakan kartu sakti milik Klan Collins Brothers, padahal kartu itu sangat sulit sekali dimiliki oleh orang biasa bahkan setara Jack dan Wilson saja hanya mempunyai tak lebih dari dua saja kastu emas Eye Of Horus yang tadi di berikan Sammuel.
Sesampainya di dalam gudang yang ternyata merupakan sebuah dermaga serta bengkel kapal itu dengan pemandangan beberapa pekerja yang sedang sibuk memperbaiki kapal dengan perlengkapan dan alat berat yang sangat canggih, Sammuel di bimbing menuju ke salah satu lift yang berada di pojok ruangan. Dua orang berperawakan sangar yang mengantar Sammuel segera masuk kedalam lift barang yang luas itu diikuti oleh Sammuel, Wilson dan Jack.
Pria yang menemani Sammuel lantas memasukkan kode yang diikuti dengan menempelkan kartu Eye Of Horus pemberian Sammuel di atas tombol lift yang membuat lift tertutup dan berjalan sesuai instruksi.
Wilson dan Jack saling pandang kala merasakan bahwa lift yang mereka naiki ternyata melaju bukan ke arah atas gedung melainkan turun bukan ke atas.
“Tuan,” lirih Wilson di samping Sammuel yang langsung menatap Wilson dengan menganggukkan kepala pelan memberi kode Wilson untuk tenang serta memberi isyarat bahwa ini akan baik-baik saja.
“Selamat datang, Tuan. Kita sudah sampai, mohon maaf, mungkin alat komunikasi selular atau alat elektronik apapun tidak akan berfungsi di area ini,” ucap salah satu pria yang mengantar Sammuel sambil membungkukkan badan ke arah Sammuel.
Sammuel hanya memberi isyarat anggukan kepala pelan kemudian berjalan keluar dari lift sesuai dengan petunjuk yang di berikan.
Sammuel di bimbing oleh beberapa orang dengan setelan jas hitam yang telah menyambutnya kedatangan mereka bertiga ketika keluar dari lift, mereka menuju ke arah suatu ruangan setelah melewati beberapa lorong, yang setiap beberapa meter di jaga dua orang bertubuh kelar dengan senjata laras panjang otomatis atau sering disebut senapan serbu.
Wilson dan Jack sedikit mengerutkan kening kala melihat senjata yang di bawa oleh beberapa penjaga yang jenisnya campuran, ada senapan serbu berjenis M16 atau MA41 yang biasa digunakan oleh tentara Amerika, adapula yang membawa senapan serbu berjenis ZH-O5 yang biasa digunakan oleh tentara China, bahkan beberapa juga menggunakan senapan serbu berjenis Heckler & Koch G46 yang biasa di gunakan oleh tentara Arab Saudi. Jack menoleh kearah Wilson yang juga sama-sama menoleh kearahnya, mereka tau betul nama dan jenis apa senjata yang di bawa para penjaga. Bahkan di markas utama Collin Brothers juga banyak terdapat berbagai macam jenis senjata, akan tetapi biasanya setiap Klan itu mempunyai senjata andalan yang menjadi ciri khas dari suatu Klan tersebut.
Seperti Klan Kult yang lebih senang memakai senjata berjenis senapan serbu yang sering di pakai oleh tentara Vietnam yaitu Galil ACE 31/32, sedangkan Klan Hargov biasanya lebih sering menggunakan senjata FAMAS (Fusil d’Assaut de la Manufacture d’Armes de St-Etienne), yakni senapan serbu yang sering digunakan oleh tentara Perancis.
Sedangkan untuk Klan Collins Brothers biasanya menggunakan senapan serbu hasil rakitan sendiri, walaupun model dan bentuknya mirip tapi komponen di dalamnya terkadang sangat berbeda. Jika dilihat kasat mata senjata dari Klan Collins Brothers hampir mirip dengan senjata yang sudah beredar luas dan banyak dikenali orang tetapi jika di teliti lebih lanjut, akan banyak perbedaan yang sangat mencolok dan sangat signifikan jika di telisik lebih detail.
Tak berapa lama tibalah mereka bertiga di suatu ruangan yang sangat luas dengan meja oval di tengah yang di kelilingi oleh kursi di pinggirnya. Tak jauh dari pintu masuk juga sudah duduk beberapa orang begitu di kenal oleh Sammuel, yakni dari Klan Hargov yang sudah ada Lergo Hargov pimpinan dari Klan Hargov di temani oleh Luke Hargov dan Leksian Hargov yakni anak dari Lergo Hargov yang akan mewarisi tanduk kepemimpinan dari Ayahnya kelak.
Sedangkan dari Klan Kult sudah ada Warren Kult yang selalu di dampingi oleh pengawal setianya Dikdon Arwen ayah dari Donion Arwen, dan juga sudah ada Darren Kult anak tunggal dari Warren Kult.
“Sepertinya Klan Collins Brothers saat ini tak menunjukkan kekompakan yang selalu menjadi ciri khasnya, apakah kalian ada masalah? Seharusnya jika tak datang berdua sebaiknya hilangkan nama ‘Brothers’ di belakang nama Klan kalian, karena sejujurnya sungguh tak cocok untuk di dengar jika melihat kenyataannya kalian tak datang bersama,” pekik sinis Lergo Hargov dari arah sisi ujung meja, yang mendapat tawa mencemooh dari semua orang yang berada di ruangan itu.
“Jangan khawatir, Pak Tua. Walaupun ada atau tidak adanya Kakakku, Klan Collins Brothers masih tetap unggul jauh diatas Klan Hargov, itu adalah fakta yang seharusnya kamu yakini kebenarannya,” pekik Sammuel yang membuat Leksian Hargov langsung bangkit dari duduknya dengan bersungut amarah.
“Uhh, jaga Anj*ng peliharaanmu, Hargov! Bukankan peraturan di Waterfront sudah sangat jelas tertulis bahwa tak ada kontak fisik dan kontak senjata jika masih ingin hidup tenang ketika keluar dari sini?" sambung Sammuel dengan senyum sinisnya, sambil menatap tajam ke atah Lergo Hargov dan Leksian Hargov bergantian.
Napas Leksian begitu memburu, sepertinya amarahnya begitu tersulut kala mendengar kata-kata sindiran dari Sammuel. “Lancang sekali ucapanmu, bukankah Klanmu yang memulai pertikaian ini?” pekik Leksian, anak bungsu dari Lergo Hargov yang terkenal bengis dan bertempramen buruk dengan emosi yang meledak-ledak.
“Yakin? Seharusnya ada seseorang yang dapat menjelaskan semua kesalah pahaman ini,” jawab Sammuel sambil melirik kearah Dikdon Arwen, tangan Kanan dan orang kepercayaan dari Klan Kult yang berdiri di samping Warren Kult. “Bukankah begitu?”
Seketika semua orang di seluruh ruangan menoleh ke arah pandangan Sammuel tertuju.
“Klan Collins Brothers tak akan bertindak jika tak ada yang menyulut dan mencari gara-gara, betul begitu?” sela Sammuel yang langsung mengalihkan pandangan memandang Luke Hargov yang duduk di sebelah Lergo Hargov.
Sammuel mengeluarkan beberapa lembar foto dan melempar ke tengah meja yang membuat foto itu berserakan tercerai-berai hampir memenuhi meja yang berada di depannya.
Beberapa orang di sana mengambil foto itu satu persatu dan kemudia membulatkan matanya hampir bersamaan ketika melihat foto yang mereka pegang masing-masing.
“Bukankah ini?” lirih Warren Kult sambil memandang Sammuel dengan mata membeliak, yang terkejut dengan foto yang di lempar Sammuel.
by. Augusta.R

Komentar Buku (149)

  • avatar
    AminataAlex

    Bagus susunan bahasanya

    22/08

      0
  • avatar
    sheren jacquelcath

    inii plotwist bgt sii kalo kejadian di real life😭😭 overall baguss bgtt

    12/06

      0
  • avatar
    MuhammadMuzakir

    banyK

    14/05

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru