POV Tania. "Bagaimana, Pa? Apa perusahaan, Papa bisa diselamatkan?" tanyaku setelah Mas Adrian merebahkan tubuhnya di sofa. Mas Adrian menarik nafas panjang lalu menghembuskan-nya. "Tidak bisa, Ma. Papa jual pada sahabat Ronald. Dia sanggup membayarnya. Jadi setidaknya, Papa tidak mengalami kerugian yang lebih besar lagi," jawabnya. Aku mengangguk dan mendengus lega. "Syukurlah, Pa," ucapku. Terlihat dari wajahnya, suamiku itu sangat kelelahan. "Ya sudah, Papa masuk ke kamar ayo. Terus langsung mandi," ucapku. Meskipun waktu sudah hampir pukul 11 malam, tetap saja, suamiku bau keringat dan harus tetap mandi. "Iya, Mama, Sayang," ucap Mas Adrian. Membuat hatiku seakan ingin terbang ke atas awan. "Dila, sudah pulang, Ma?" tanyanya sambil merangkul pundakku berjalan menuju kamar. "Sudah dari tadi, Pa. Habis perawatan dari salon. Katanya penasaran dengan pria yang mau dijodohkan dengannya." "Aku yakin akan jatuh cinta pada pandangan pertama," ucap Mas Adrian. Aku pun mengangguk lega. "Oh iya, mereka datang jam berapa, Pa?" "Besok malam pukul 19.00. Sekalian makan malam bersama, Ma." "Papa sudah melihat postingan, Dila yang terbaru? Dia posting foto yang sangat indah, kenangan saat liburan bareng di Swiss. Mama kira hilang foto itu, ternyata ada di ponsel, Dila," ucapku. "Foto bertiga yang, Papa tanya tempo hari ya?" "Iya. Betul banget. Ya sudah, Papa mandi sana! Mama tunggu di tempat tidur. Mama jadi kangen masa dulu sama, Papa. Masa-masa yang penuh ketegangan!" godaku. Mas Adrian hanya terdiam kemudian menutup pintu kamar mandi. Sementara aku, sambil menunggu suamiku selesai mandi, menyibukkan diri untuk memakai wewangian agar dapat menarik perhatiannya. Siapa sangka, meski sudah memiliki putri yang hampir menginjak usia 20 tahun, aku dan Mas Adrian masih terlihat muda. Tentu karena kami memiliki uang. Berbeda dengan Lirna yang terlihat kusam dan lusuh. Aku kira setelah pergi cukup lama, dia seperti perempuan dalam cerita, ketika muncul kembali, berpenampilan rapi, cantik, dan sukses hingga mampu membuat suami menyesali perbuatannya. Ternyata itu hanya ada dalam sebuah cerita. Faktanya, Lirna justru sebaliknya. Mas Adrian juga tidak pernah membahas tentangnya. Mana sumpah serapah, Mbak Lirna dulu? Tidak ada yang benar tuh! "Dan untuk kamu, Tania, aku berdoa sesuatu hal yang baik untukmu. Percayalah, segala sesuatu yang kau tanam akan mendapatkan balasan. Tidak sekarang, tapi bisa di masa yang akan datang. Kalian bersenang-senanglah dan nikmati hidup bahagia di atas penderitaanku!" Masih terngiang di benakku, doanya saat itu. Ternyata, balasan untukku adalah semakin membuat kami sukses. Tiba-tiba saja aku kembali mengingat kejadian 20 tahun yang lalu. Dimana, Mas Adrian mengatakan, kalau dia mencintaiku, dan lebih memilihku. Pasti saat itu sangat menyakitkan bagi Mbak Lirna. Sudi sekali kalau aku harus mengalah pada Mbak Lirna. Memang dia siapa? Dia hanya orang lain yang tidak ada hubungan darah denganku. Kebetulan saja Ayahnya menikahi Ibuku. Kasian, Ibu dan anak harus bernasib sama. Jangan-jangan, Rara akan merasakan hal yang sama seperti Nenek dan Ibunya. "Wah, Mama sudah siap saja," ucap Mas Adrian sambil menepuk pundakku. Aku tersentak karena tengah sibuk memikirkan mantan istri sekaligus orang yang menganggap diri sebagai Kakakku dulu. "Iya, dong. Kalau untuk Papa, Mama selalu siap," balasku sambil menggandeng tangannya, dan membawanya ke tempat tidur. Kumatikan lampu, lalu membuatnya larut ke dalam kegelapan. Kubuat dirinya merasa nyaman dan hangat, supaya tidak ada celah sedikitpun untuk dirinya memikirkan, Lirna. Pokoknya, Mas Adrian akan kubuat melupakan anak dan mantan istrinya. Dengan apa? Dengan kasih sayang tentunya. Kusibukkan pikirannya agar dia tidak memiliki waktu untuk memikirkan Lirna dan putrinya. "Hah ….!" Terdengar suara yang menunjukkan suatu kepuasan dari mulutnya. Aku pun tersenyum dan mengecup keningnya. Selepas itu, tidak terdengar suara apapun lagi. Mungkin Mas Adrian telah tertidur. Sebab suasana kamar sangat gelap. Sehingga, membuatku tidak dapat lagi melihatnya. Mataku mulai mengantuk, lalu kulingkarkan tangan di atas perutnya. Hingga tak sadar, aku pun mulai terlelap sedikit demi sedikit. * Pagi ini masuk hari libur, kami pun bangun lebih siang karena tidak ada rutinitas ke kantor. Meski begitu, aku tetap bangun lebih awal dari mereka untuk menyiapkan sarapan. Biarpun ada pembantu di rumah ini, untuk urusan masak memasak tidak kuserahkan pada siapapun. Aku hanya ingin mereka memakan makanan yang sehat. Aroma nasi goreng seafood buatanku begitu menggoda. Sudah pasti sebentar lagi suami dan anakku akan datang ke meja makan. "Selamat pagi, Mama," sapa Dila sambil mencium pipiku. Tak lama, Mas Adrian pun datang dan melakukan hal yang sama. Bahagia sekali bukan? Keduanya langsung menarik kursi dan duduk. Mengambil piring dan sendok, lalu menyendok dengan semangat nasi goreng buatanku. "Hemmm … wanginya bikin perut, Dila keroncongan," ucap Dila sambil memasukan sesuap nasi goreng ke mulutnya. Papanya hanya tersenyum sambil mengacak lembut rambut putriku. Bahagianya aku memiliki kalian. Meski ada sedikit rasa bersalah dalam diriku pada seseorang. Iya, aku merasa bersalah pada Mbak Lirna, tapi kusimpan rapat perasaan bersalah itu di dalam hatiku, dan menggantinya dengan perasaan sangat membencinya. Kuterapkan dalam pikiran kalau aku tidak bersalah. Tapi salah dia sendiri kenapa memilih untuk meninggalkan Mas Adrian, bukankah aku sudah menawarkan diri sebagai istri keduanya? Tetap saja dia bersikeras memberi pilihan. Untung saja Mas Adrian memilihku. Sekarang, Mas Adrian hanya milik aku dan Dila. Lirna dan anaknya sudah tidak memiliki hak apapun, mereka juga tidak boleh mengganggu kebahagiaan rumah tanggaku. "Dil, selesai makan, kita seharian ini perawatan salon di rumah. Mama sudah panggil Dokter Adam dan asistennya ke rumah ini. Termasuk, Papa juga perawatan," ucapku melirik pada keduanya. "Dokter Adam masih menduda, Ma?" tanya Suamiku. "Kenapa? Mau dijodohkan sama, Dila?" godaku. "Ih, Mama apaan sih! Masa aku sama orang yang pantasnya jadi, Papaku," balas Dila. "Dokter Adam tampan lo, Sayang," godaku lagi. Mas Adrian melirik ke arahku. Sepertinya dia cemburu. "Iya ganteng bagi, Mama. Kalau untuk aku, ya kaya Om-om!" sungutnya tak terima. Aku dan Mas Adrian hanya tertawa. Selesai sarapan kami malah asyik bergurau. Jarang-jarang terjadi, dan hanya terjadi jika hari wekend. "Ma!" panggil Dila. "Hum!" "Ganteng siapa Dokter Adam sama, Papa?" tanyanya membuat mataku terbelalak. "Ganteng, Papa dong!" jawabku semangat. Meskipun sebenarnya masih tampan Dokter Adam. Tidak apa-apa lah memuji suami, toh pahala juga yang kita dapat. "Jelas Papa ganteng. Orang Papa suka jadi rebutan para gadis," sahut Mas Adrian bangga. Kami pun melempar senyum bersama. Sambil menunggu Dokter Adam dan asistennya datang, kami pun memutuskan bersantai di ruang keluarga sambil menonton acara liburan di tivi, atau memutar acara tentang resep memasak. Aku paling suka itu, karena bisa mempraktekkannya. Begitupun dengan Mas Adrian dan Dila, mereka akan segera memintaku untuk membuatkan masakan yang sama, jika mereka menyukai dan penasaran rasanya. * Tepat pukul 13.00, Dokter Adam dan asistennya tiba. Kami pun mulai melakukan serangkaian khusus perawatan kulit wajah dan tubuh hari ini. Untuk wajah menjadi urusan Dokter Adam, sementara untuk lulur, dan yang lain dilakukan oleh kedua asistennya. Entah asisten atau pengawal aku tidak tahu, yang jelas mereka perempuan, dan sangat lihai. Mas Adrian terlihat memejamkan mata ketika asisten Dokter Adam memijat-mijat kepalanya. Mungkin ia mencoba merilexkan pikiran yang membuat kepala penat. Kami menikmati secara santai seluruh perawatan ini, sebab untuk makanan yang akan disajikan kepada calon besan, aku telah memesannya di restoran berbintang yang terkenal memiliki masakan paling enak. Terkecuali puding, aku telah membuatkannya sepesial untuk menyambut kedatangan mereka malam nanti. Pokoknya, Dila harus terlihat seperti seorang putri atau bidadari. 🌟 POV LINGGA "Ini bukan lagi musim perjodohan seperti jaman Siti Nurbaya dan Datuk maringgih kan, Pa?" tanyaku pada Papa yang terus memaksa untuk menikah dengan gadis pilihannya. "Dia itu pintar! Cantik! Masih muda! Tahu kamu? Dia juga memimpin perusahaan Ayahnya! Gadis seperti itulah yang seimbang dan cocok dengan kamu! Dia bisa mengimbangi kamu! Atau bahkan menjadi sekretarismu nanti! Diberi pasangan yang cocok malah menolak!" kesal Papa. Bagaimana mungkin aku dapat menerima perjodohan ini, kalau aku pun tertarik pada seorang gadis sederhana penjual pecel ayam itu. Selama 28 tahun usiaku, Tidak pernah sedikitpun aku memiliki ketertarikan pada gadis lain. Baru kali ini, dan itu pada seorang gadis penjual pecel ayam. "Kamu itu laki-laki normal kan, Lingga? Belum pernah Papa melihatmu berhubungan dengan seorang gadis manapun!" Sembarangan memang Papa. Jelas aku normal. Buktinya aku mengagumi Si Gadis penjual pecel ayam itu. "Tahu kamu? Belum saja kamu melihatnya! Kalau sudah melihat, Papa yakin kamu akan langsung jatuh hati padanya. Gadis itu, selain pintar juga sangat manis. Kamu mau lihat potonya?" tanya Papa. "Mau, Pa," jawabku yang memang penasaran seperti apa rupa gadis itu. Sehingga membuat Papa terus memujinya. "Ini!" Papa menunjukkan Poto gadis itu di ponselnya. Mataku membulat tak percaya. Dia perempuan yang mampu menarik perhatianku. Ya, Si Gadis pecel ayam itu ternyata yang mau dijodohkan denganku? Lalu untuk apa dia berjualan pecel ayam kalau dia itu pemimpin perusahaan? Aneh. "Lingga! Jangan banyak berpikir mau atau tidak?" tanya Papa dengan nada yang meninggi. "Dia pemimpin perusahaan? Tapi kenapa jualan pecel ayam di depan kantor, Lingga, Pa?" "Jangan sembarangan kamu! Mana ada anak Pak Adrian berjualan pecel ayam!" sentak Papa. "Emang ngaco, Lingga. Konslet kayaknya, Pa!" sambar Kak Adi yang baru saja muncul dengan Mama. "Lingga! Tidak ada penolakan ya! Kamu harus menerima perjodohan dengan anak Pak Adrian! Kami sudah memutuskan kalau kamu pasti mau menerima anaknya! Jangan buat Malu mama dan Papa di depan Pak Adrian! Karena Mama dan Papa yang meminta perjodohan ini!" imbuh Mama tegas. Aku juga tidak ingin menolak perjodohan ini, sebab gadis yang ada di foto itu memang gadis yang aku inginkan. 🌟 Malam pun tiba, kami sekeluarga pun bersama-sama datang ke rumah Pak Adrian. Penampilan kami begitu rapi seperti hendak bertamu untuk acara lamaran. Tapi memang ini lamaran, buktinya Papa sudah memberiku sepasang cincin berlian yang sangat indah. Aku, Kak Adi dan Papa menggunakan jas, sementara Mama gaun berwarna hitam yang nampak indah dikenakannya. "Pa, Adi aja yang bawa mobil," pintanya. Papa pun memberikan kuncinya pada Kak Adi. Mama dan Papa duduk di belakang, aku dan Kak Adi di depan. Sepanjang perjalanan, aku hanya terdiam memikirkan gadis pecel ayam yang akan dijodohkan denganku. Masalahnya yang membuatku berpikir, baru kemaren aku melihatnya berjualan pecel ayam, tapi kenapa tiba-tiba dia pemimpin perusahaan? Setengah jam berlalu, kami pun tiba di rumah besar milik keluarga Adrian. Di depan pintu, bahkan sudah berdiri 3 orang yang datang dan gadis bergaun merah itu, sangat cantik. Iya, betul. Gadis yang memakai gaun merah itu Si gadis pecel ayam. Apa jangan-jangan memiliki usaha pecel ayam juga? Jadi kebetulan pas dia berada disitu? Ah … tapi entahlah. Setelah ketiga orang itu menyambut kedatangan kami, kami pun dipersilahkan untuk masuk. Di meja ruang tamu, sudah tersedia aneka minuman dan juga irisan kue bolu. Mungkin mereka memang sudah mempersiapkan penyambutan kedatangan keluarga kami. Gadis bergaun merah itu malu-malu menatap wajahku. Setelah berjabat tangan kami pun duduk dan mulai berbincang. Para orang tua asyik berbincang, sementara aku dan gadis itu masih terdiam. "Kalian belum kenalan kan?" tanya Mama gadis itu yang menyebut dirinya bernama Tania saat berjabat tangan tadi. Aku pun segera mengulurkan tangan. "Lingga," ucapku. "Dila," balasnya sambil menyambut uluran tanganku. Lama kami berbincang hingga selesai makan malam, akhirnya sebuah pertanyaan dilontarkan oleh orang tuaku dan orang tua Dila. "Bagaimana, Nak Lingga? Apa kamu mau dijodohkan dengan, Dila anak kami?" tanya Pak Adrian. "Kamu jangan sampai menolak perjodohan ini! Awas kalau kamu sampai menolaknya." Aku teringat akan ancaman Mama selepas makan malam tadi. Siapa yang akan menolaknya? Memang aku juga menyukai gadis itu. "Jangan bengong, kalau kamu nggak mau, buat, Kakak," bisik Kak Adi. "Saya bersedia," jawabku mantap. Semua orang pun mengulas tersenyum. "Alhamdulillah," ucap Tante Tania. "Dan kamu, Dila, apa kamu mau dijodohkan dengan anak kami, Lingga?" tanya Papa. "Saya bersedia, Om," jawab Dila mantap sambil menatap tajam mataku dan mengulas senyum manisnya. Akhirnya, cincin yang aku bawa pun kupasangkan di jari manis Dila, begitupun dengannya, ia juga memakaikan cincin di jari manisku. Mama dan Papa serta orang tua Dila mengabadikan moment ini dengan mengambil gambar kami di ponsel. "Kalau begitu, percepat saja acara pernikahannya. Supaya mereka juga cepat menjadi pasangan halal. Jangan terlalu lama, takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," ujar Tante Tania. "Bulan depan saja, pas awal bulan kita adakan pernikahan mereka. Bagaimana?" tanya Mama. "Sebab, kita harus mempersiapkan semuanya juga. Cetak undangan, gedung pernikahan dan persiapan lainnya. Mereka juga harus mencari baju pernikahan, bukan?" ujar Mama melanjutkan. "Setuju. Kalau begitu acara pernikahan Dila dan Lingga, dilaksanakan awal bulan depan. Ini harus menjadi pesta pernikahan termewah di kota ini," lanjut Pak Adrian. Aku dan Dila pun saling memandang kemudian tersenyum. Gadis pecel ayam … akhirnya kita akan bersatu. Itulah jodoh, tidak ada yang tahu. Setelah tanggal pernikahan ditentukan, kami pun berpamitan untuk pulang. Tak sabar rasanya untuk segera hidup bersamanya. 🌟 "Lingga!" panggil Papa saat kami sudah sampai di rumah. "Ya, Pa," jawabku. "Persiapan pernikahan, biar kami yang siapkan. Kamu tetap fokus temui klien sebulan ke depan. Karena perusahaanmu masih terbilang baru, dan ini sangat penting," ujar Papa. Aku pun mengangguk kemudian berlalu ke kamar. Aku sendiri tipe pria yang malas mengurusi hal seperti itu. Biar saja mereka yang menyiapkan semuanya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (453)
purwantoeko
ceritanya bagus bikin yang membaca ada sedikit rasa takutnya
ceritanya bagus bikin yang membaca ada sedikit rasa takutnya
20/06/2022
0bagus banget 👍👍👍👍🥰
7d
0Bagus, menarik sekali,ikut sedih merasakan
23d
0Lihat Semua