Cowok Itu Lagi

Sepulang kerja Resta mengajak Nayla jalan-jalan.
"Nay, bete nih... Ke mana yuk!!"
"Hmmm mau ke mana??"
"Oh ya, makan bakso Bang Udin yuk! udah lama kan kita nggak ke sana," ajak Resta
"Yee.. Lo kayak orang lagi ngidam aja, Res. Tapi boleh juga sih. Yuk!!"
Merekapun berboncengan menuju warung bakso Bang Udin.
Sampai di sana mereka langsung menuju spot favorit mereka, meja paling pojok.
"Bang bakso dua ya, minumnya es teh manis." Resta memesan.
"Oke Neng, kayak biasa ya?" kata Bang Udin.
"Iya Bang."
"Siap Neng, tunggu bentar ya."
Dua sahabat itu ngobrol ngalor ngidul sambil ketawa ketiwi.
"Eh Nay, by the way cowok itu siapa ya? Gue jadi penasaran. Berarti lo udah ketemu dua kali ya? Hmm, kalau sampai ketemu lagi nih ya, fix dia jodoh lo," kata Resta ngasal.
"Hahaha dasar lo, sok-sokan ngeramal jodoh orang. Emang lo dukun?! No no no, kriteria calon suami gue tuh harus yang baik, sopan, punya etika, syukur-syukur sih ganteng dan tajir. Hahaha."
Keduanya lalu ngakak bersama.
Pulang dari makan bakso Nayla mengantar Resta terlebih dahulu, karena rutenya memang searah dengan rumah Nayla.
Sehabis mengantar Resta, Naylapun melanjutkan perjalanan pulang sendiri.
Di tengah jalan tiba-tiba turun hujan, saat itu pukul 19.45 dan keadaan jalan lumayan sepi. Hanya terlihat satu dua kendaraan yang melintas.
Nayla mencoba untuk berteduh di sebuah halte, menunggu hujan reda.
Bip bip! Ponsel Nayla berbunyi. Dibacanya pesan masuk dari ibunya.
[Nay, sudah sampai mana? Di luar hujan, hati-hati ya.]
Nayla mengetik,
[Iya Bu, ini lagi neduh di halte, sebentar lagi sampai.]
Nayla memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
Tiba-tiba entah dari mana datangnya muncul dua pria menghampiri Nayla. Yang satu berperawakan tinggi besar dan berkepala plontos, satu lagi agak kurus dan bertatto.
Ada perasaan resah menyeruak di hati Nayla, namun ia berusaha untuk tetap tenang. Dalam hati ia berdoa memohon perlindungan Allah SWT.
"Sendirian aja Neng?" tanya pria bertatto.
Nayla hanya tersenyum tipis dan mengangguk. Jantungnya sudah tak karuan. Dia ketakutan, entah apa maksud dan tujuan orang-orang itu.
Nayla ingin segera kabur dari tempat itu. Seketika ia berlari menuju motornya, namun tiba-tiba si kepala plontos memegangi lengannya.
"Mau ke mana, Neng? Sini dulu," kata pria plontos.
Nayla semakin ketakutan, ia berusaha melepaskan lengannya dari pria itu.
"Lepaskan!!! Toloooonngggg!!!" Nayla meronta dan berteriak sekencang-kencangnya.
Seketika sebuah mobil menepi. Dari dalam muncullah seorang cowok berjaket coklat. Cowok itu langsung menyeret dan mendaratkan pukulan ke arah si plontos. Naylapun berhasil terlepas dari pria itu.
Setelah dua kali pukulan dan tendangan, si plontospun jatuh tersungkur. Pria bertatto kemudian maju melawan cowok berjaket coklat, namun satu kali pukulan dia sudah jatuh.
Pria bertatto lalu menyeret temannya mengajak pergi dari tempat itu. Dan merekapun lari tunggang langgang.
Nayla mengamati cowok yang menolongnya itu dari belakang, merasa tidak asing. Dan benar, ketika cowok itu berbalik ternyata dia.
Nayla melongo dan terpaku, cowok itu menghampirinya. Ya, cowok itu lagi, cowok nyebelin yang dibencinya, kali ini dia menolongnya. Pikiran Nayla campur aduk.
"Kamu nggak papa, Nayla?" tanya cowok itu bernada cemas.
"Kamu tau namaku?" Nayla terkejut dari mana cowok itu tau namanya.
"Mmm, ID card kamu, saya tau dari sana." Cowok itu berusaha menjelaskan.
"Ohh," Nayla berusaha percaya.
"Oya terimakasih sudah nolongin saya," ucap Nayla kikuk. Nayla menundukkan pandangannya.
"It's ok," jawab cowok itu singkat.
"Prasta." Cowok itu mengulurkan tangannya.
"Nayla," jawab Nayla masih kaku seraya menjabat tangan Prasta.
Seketika waktu seperti berhenti, dua orang itu saling diam membisu.
"Eh hujannya udah reda, saya harus pulang sekarang. Sekali lagi terimakasih." Nayla berpamitan ingin cepat-cepat mengakhiri kekakuan itu.
"Ya, hati-hati," ucap Prasta.
Nayla menyetarter motornya dan melanjutkan perjalanan pulang. Dalam hatinya masih tak menyangka dengan kejadian yang baru saja dialaminya. Terlebih hari ini ada dua kejadian yang melibatkan cowok itu. Prasta.
Tanpa ia sadari Prasta mengikutinya dari kejauhan. Memastikan Nayla selamat sampai tujuan.
*****
Nayla memarkirnya motornya di halaman rumah. Bu Sari sudah menunggu di depan pintu dengan raut muka yang cemas.
"Assalamu'alaikum, Bu," ucap Nayla memberi salam sambil mencium tangan ibunya.
"Wa'alaikumussalam. Alhamdulillah kamu sudah pulang, dari tadi Ibu sama Ayah khawatir." Bu Sari mengusap rambut Nayla.
Merekapun masuk ke dalam rumah, Nadia sedang membaca buku di ruang tengah.
"Uhuk uhuk.. Nay.." Suara Pak Surya memanggil dari dalam kamar seraya terbatuk-batuk.
"Iya, Yah.." Nayla menyahut dan bergegas menghampiri ayahnya. Disusul Bu Sari di belakang.
Nayla duduk di tepi tempat tidur ayahnya.
"Ayah kok belum tidur? Sudah minum obatnya, Yah?"
"Sudah, Nak," sahut Pak Surya lirih.
"Kamu dari mana? Apa terjadi sesuatu?" lanjut Pak Surya.
"Mmm tidak apa-apa kok, Yah. Tadi sepulang kerja Resta ngajak makan bakso. Terus pas pulang tiba-tiba hujan, dan Nayla neduh." Nayla tidak menceritakan kejadian tadi takut ayah ibunya kepikiran.
"Baiklah. Selalu hati-hati ya, Nak. Ayah tidak mau terjadi sesuatu sama kamu," ucap Pak Surya penuh harap.
"Iya, Yah. Ayah jangan khawatir ya.. Insya Allah Nay bisa jaga diri."
"Ya sudah Ayah sekarang istirahat ya.." Nayla membetulkan letak bantal ayahnya lalu memeluknya.
"Selamat malam, Yah."
" Ya, selamat malam."
Nayla keluar dan menutup pintu kamar orangtuanya. Iapun menuju kamarnya untuk bersih-bersih dan istirahat. Dia merasa kecapean sekali, karena hari ini sungguh menguras emosinya.
Beberapa saat kemudian..
"Tok tok tok! Kak, boleh masuk?" suara Nadia mengetuk pintu kamarnya.
"Masuk aja, Dek, nggak dikunci kok."
Nadia masuk dan menjatuhkan dirinya di atas kasur.
"Aku tidur di sini ya, Kak. Boleh kan?" pinta Nadia.
"Hmm.. Ada apa nih?" selidik Nayla.
Nayla paham betul sifat Nadia, pasti ada sasuatu yang ingin dibicarakan adiknya itu.
"Kak, aku pengen kerja dong.." Kata Nadia mengejutkan kakaknya. Nayla yang sedang membersihkan wajah seketika menoleh ke arah Nadia.
"Buat apa, Dek? Memangnya uang jajan yang Kakak kasih selama ini kurang?"
Nayla masih tak mengerti apa yang Nadia pikirkan.
"Bukan begitu Kak. Aku kasihan sama Kakak, kerja sendirian untuk mencukupi kebutuhan keluarga kita. Aku pengen bantuin Kakak cari uang. Kan aku bisa kerja sepulang sekolah, Kak," papar Nadia panjang lebar, membuat Nayla terharu atas keinginan adiknya itu.
"Dek, kamu nggak usah pikirin itu ya. Kamu kan masih sekolah, tugas kamu adalah belajar yang rajin, biar lulus dapat nilai bagus, dan bisa lanjut kuliah di kampus idaman kamu. Katanya mau jadi dokter..?!" Nayla memberi pengertian kepada Nadia.
Bagaimanapun ia tidak akan membiarkan adiknya ikut mencari nafkah. Nayla ingin masa depan adiknya lebih baik dari dirinya. Nayla ingin adiknya bisa kuliah dan menggapai cita-citanya.
"Udah malam, tidur yuk!" ajak Nayla, dibalas dengan senyuman setuju Nadia. Merekapun menarik selimut masing-masing dan mulai memejamkan mata.
*****
Pagi hari Nayla sedang sarapan, dan ponselnya berdering. Ternyata pesan dari Resta.
[Nay, hari ini berangkat lebih awal ya, jangan lupa. Katanya ada kunjungan dari kantor pusat. Sorry kemarin lupa kasih tahu kamu.]
Begitu isi pesan dari Resta.
"What?!!"
Nayla langsung menyambar kunci motor dan berpamitan. Sadar dia akan terlambat, diapun langsung tancap gas.
Dua puluh menit kemudian dia sampai di parkiran khusus karyawan WS Mart. Dia berlari masuk kantor. Sesampainya di sana dia melihat teman-temannya sudah berbaris. Di hadapan mereka tampak orang-orang dari kantor pusat.
"Aduh, aku terlambat. Ya Tuhan, semoga tidak terjadi apa-apa."
Nayla menghentikan langkahnya.
"Bismillah semoga nggak papa deh, maju aja," ucapnya meyakinkan diri.
Naylapun memberanikan diri mendekati barisan. Pak Bambang, Team Leader Nayla memberi isyarat agar Nayla segera masuk barisan.
Naylapun lega, dan merasa tidak akan terjadi apa-apa.
Kebetulan Resta berdiri di sampingnya. Resta tersenyum kecil yang mengisyaratkan perasaan bersalahnya karena terlambat memberikan info. Naylapun membalas dengan senyuman yang penuh arti.
"Awas kamu, Resta," gumamnya dalam hati.
Nayla lalu memperhatikan satu per satu orang-orang yang ada di depan mereka. Dan seketika itu juga matanya terbelalak, bersamaan dengan pengumuman yang disampaikan oleh Pak Bambang.
"Perkenalkan, ini adalah Pak Prasta Wiraguna, pimpinan kita yang baru, beliau adalah putra dari Pak Candra Wiraguna yang saat ini memutuskan untuk pensiun," begitu kata Pak Bambang.
"Silakan Pak Prasta," lanjut Pak Bambang mempersilakan Pak Prasta untuk menyampaikan sepatah dua patah kata.
"Baiklah selamat pagi semua. Saya Prasta Wiraguna. Terimakasih untuk kerja keras kalian selama ini di WS Mart. Semoga ke depannya WS Mart semakin maju dan sukses. Terima kasih."
Sambutan Prastapun dibalas dengan tepuk tangan semua karyawan.
Prasta tersenyum, tak terkecuali pada Nayla.
Nayla menyadari bahwa cowok yang selama ini dibencinya ternyata bosnya, dan tadi malam dia bahkan menolongnya.
"OMG.. Ternyata.."
Pikiran Nayla berkecamuk antara bingung, malu dan merasa bersalah karena selama ini dia sudah salah menilai Prasta.
Lututnya tiba-tiba lemas. Dia tetap mematung di tempatnya saat barisan telah dibubarkan.
"Nay, lo kenapa?" Resta menepuk bahu Nayla.
Nayla tersadar dari lamunannya, ternyata teman-temannya sudah bubar.
"Eengg--nggak papa, Res," jawab Nayla singkat.
"Hey! Cowok itu yang kemarin kan, yang nangkep lo waktu jatuh dari tangga?" tanya Resta antusias. Di belakang juga teman-teman bisik-bisik membicarakannya.
"Ganteng banget ya.." lanjut Resta sambil senyum-senyum.
Nayla tidak memperdulikan sahabatnya, dia pergi dan berlalu.
"Hey, Nay! Nay! Tunggu!!!"
Hari itu Nayla banyak diam. Dia hanya berusaha menyelesaikan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Dia tidak mau pekerjaannya berantakan hanya karena memikirkan cowok itu.
Sedangkan Resta seharian kebingungan dengan sikap Nayla yang tidak seperti biasanya. Sampai pada saat pulangpun Nayla seperti menghindar. Saat dicari-cari ternyata sudah pulang duluan.

Komentar Buku (298)

  • avatar
    Rurunn Kurnia Sari

    keren bangetttttt

    18/06/2025

      0
  • avatar
    NashaNasha Qisti Nuril Haq

    baguss bangett

    18/06/2025

      0
  • avatar
    Aureliashofi

    baguss

    18/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru