BAB 23

Sementara Ansel masih berfikir kalau bukan Ririn yang melakukan itu lantas siapa? Siapa sebenarnya orang ini? Mengapa ingin sekali memisahkan nya dan Maura?.
"Maura Lo tenang aja gue bakal cari keadilan buat Lo! Dan gue nggak bakal ninggalin lo lagi Ra!"ucap Ansel.
"Maafkan saya, sebaiknya bawa pasien ke rumah sakit di luar negeri, di sana pengobatan nya lebih baik dari di sini. Saya sudah berjuang semampu saya, namun hasil nya nihil," ucap sang dokter kepada keluarga Maura.
"Baik dok terimakasih," ucap Alvin.
"Pak? Ini gimana pak? Hiks." Rina.
"Telfon Maura, suruh dia pulang! Malem ini kita bakal ke Singapur." ucap Alvin tegas.
Rina hanya mengangguk dan mengambil ponsel nya di dalam tas lalu menekan nama Maura yang ada di layar, cukup lama tidak ada jawaban, akhirnya Maura mengangkat telfon nya.
"Iya ma kenapa?"
"Maura kamu pulang sekarang, kita bakal pindahin kakak kamu ke rumah sakit di luar negeri."
"Secepat itu ma? Emang nya kondisi Abang masih belum stabil?"
"Iya Ra hiks, kamu pulang sekarang hiks."
"Oke ma! Maura pulang, sekarang mama tenang ya."
"Yaudah mama tutup dulu telfon nya."
"Iya ma."
Setelah memutuskan sambungan telfon Rina pun beranjak ke brangkar Reynand.
"Hiks Rey kenapa bisa gini Rey? Mama ga percaya kalo Ansel kaya gitu, tapi mama bener-bener kecewa sama dia Rey hiks." Tangis Rina.
"Rina sebaiknya kamu siapkan barang-barang kamu, ingat malam ini kita akan meninggalkan Jakarta," ucap Alvin.
"Iya."
Di sisi lain Maura sedang termenung di sebuah taman di mana banyak kenangan manis bersama Ansel yang akan ia tinggalkan.
"Haha buat apa juga gue mikirin bajingan itu? Sumpah gak guna banget! Serasa kaya orang bego!" Maura bermonolog.
"Loh Maura? Kok Lo disini?" ucap Sonya yang kebetulan ada di sekitar taman bersama dengan Mario.
"Eh soy kenapa?"
"Gue lagi jalan-jalan aja di sekitar sini sama Rio."
"Weh kalian jadian? Asik nih pj dong."
"Yee Lo mah pj-pj aja Ra, Lo tau nggak temen Lo nih ya ambek- awwh," ucap Rio terpotong karna perutnya di cubit oleh Sonya.
"Hmm mesra banget sih kalian," ucap Maura.
"Enak aja ngga kok!" ucap keduanya.
"Tuh kan kompak hahaha." Tawa Maura pecah walau masih ada kesan seperti pura-pura.
"Serah Lo deh Ra, eh btw Lo udah baikan sama Ansel?" tanya Rio.
Maura tidak menjawab pertanyaan Rio melainkan asik dengan lamunan nya.
"Eh Ra Lo kok bengong?" tanya Rio.
"Rio sini coba kuping kamu mana?" tanya Sonya.
"Lah kenapa yang?"
"Sini gw bisikin."
Sonya yang sudah tau masalah yang menimpa Maura pun menceritakan detail nya kepada Rio.
"Hah?! Nggak Lo salah Ra! Lo salah! Ansel nggak bajingan kaya gitu! Oke gue akuin dia suka sakitin perasaan cewe tapi dia nggak bakal ngelakuin hal licik kaya gitu," ucap Rio yang tidak terima jika sahabatnya di anggap pembawa masalah.
"Yo tenang udah-udah biar Maura dan Ansel yang selesain masalah mereka masing-masing." ucap sonya menenangkan Rio.
"Tapi Sonya dia nggak gitu, gue kenal sahabat gue! Ra Lo harus percaya sama gue Ansel bukan tipe orang yang kaya gitu."
"Lo sahabatnya, Lo nggak bakal biarin sahabat Lo di jelek-jelek in. Gue paham kok. Tapi gue mohon jangan egois. Ini udah jadi bukti dan ini udah jadi alasan gue harus ninggalin Ansel," ucap Maura tanpa menoleh.
"Lagian percuma juga Lo bela sahabat Lo. Toh kita nggak punya hubungan apa-apa lagi, dan lagi gue bakal pergi ke luar negeri malem ini. Jadi gue izin pamit." lanjut Maura.
"Terserah Lo Ra, tapi satu yang harus Lo inget. Jangan nyesel kalo Lo kehilangan Ansel. Gue udah peringatin Lo." ucap Rio lalu meninggalkan Sonya dan Maura.
"Eh Rio Lo mau kemana? Ishh emosian banget sih!" kesal Sonya. "Maaf ya Ra dia memang gitu kalo nyangkut tentang sahabat-sahabat nya."
"Nggak apa-apa soy, Lo buruan kejar dia."
"Nggak apa-apa Ra gue temenin Lo disini."
"Nggak soy, gue juga udah mau pulang kok, gue juga lagi pengen sendiri."
"Oke kalo itu mau Lo, tapi kalo Lo merasa sendiri atau butuh temen buat cerita Lo jangan sungkan hubungin gue, kita sahabat Ra."
"Makasih soy Lo sahabat baik gue." ucap Maura menahan Isak nya.
"Udah-udah sini peluk dulu," ucap Sonya dan memeluk Maura.
"Makasih ya soy."
"Iya udah gue pergi susul Rio dulu ya, sore ini gue bakal ke rumah Lo bantu Lo beres-beres."
"Nggak usah soy, Lo temenin gue ke bandara aja, oh ya soy gue punya satu permintaan."
"Apa?"
"Lo jangan pernah kasi tau ke siapapun kemana gue pergi, gue nggak mau ada yang ganggu kehidupan gue lagi."
"Gue janji, demi kebahagiaan sahabat gue, oke gue pergi dulu bye."
"Bye."
Setelah Sonya pergi, kini tinggal Maura yang kembali seperti beberapa menit lalu. Diam dan mengingat kembali kenangan masa lalu, Cuaca yang dingin tidak membuat Maura kalah. Dia enggan pergi dari taman ini.
******
Bandara 19:00 WIB.
Kini Maura dan keluarga sudah siap pergi meninggalkan tempat kelahiran mereka. Ntah kapan mereka akan kembali. Tapi satu yang Maura yakini. Ia akan kembali lagi kesini suatu saat.
"Soy makasih ya udah antar gue, Lo jaga diri baik baik ya," ucap Maura.
"Lo juga ya Ra, jaga kesehatan jangan sampe sakit. Oh ya jangan cinta-cintaan sama bule ya Ra, percuma cinta-cinta tai monyet," ucap Sonya.
"Ahahaha untuk sementara gue masih trauma sama hubungan sih Lo tenang aja, kalo gue nggak nikah-nikah gue bakal nikahin Lo."
"Ih nggak mau dasar lesbi Lo."
"Hahahaha." Tawa keduanya pecah.
"MAURA BURUAN PESAWAT NYA UDAH MAU BERANGKAT!" teriak sang papa.
"Udah mau berangkat soy, bye gue bakal kangen sama Lo muahh," ucap Maura mencium pipi Sonya dan memeluknya sekilas lalu pergi.
"Iya bye gue juga bakal kangen Lo Ra hiks." Akhirnya tangis Sonya pecah.
"Bye Sonya!" teriak Maura dari jauh.
"Bye Ra!" teriak Sonya tak kalah kencang.
Maura pun memasuki pesawat. Pintu pun di tutup mesin mulai di nyalakan. Akhirnya maura pergi meninggalkan nya, meninggalkan kenangan nya saat di bangku SMA. Sonya hanya berharap Maura bisa kembali dan berkumpul dengan nya. Di sisi lain ada Ansel dengan penampilan acak-acakan berdiri di depan rumah Maura. Setelah mendapat kabar dari Rio kalau Maura akan pergi ke luar negeri, Ansel buru-buru pergi ke rumah Maura.
Akhirnya Ansel Sampai di depan rumah Maura. Tapi keadaan rumah tersebut tampak sepi. Hati Ansel mulai tidak tenang. Ia pun membuka gerbang dan mengetuk pintu rumah tersebut.
"Maura? Tante! Permisi!" teriak ansel.
"Permisi!"
"Ada orang!"
"Asalamualaikum Tante?!"
"MAURA?! dia pergi dia bener-bener pergi?! Arrrgggh," teriak Ansel di iringi Isak tangis.
"Maura gue mohon maafin gue...! Gue bodoh! Bajingan! Goblok! Bego! Lemah! Ngga bisa jagain Lo! Nggak bisa jagain orang yang gue cinta! Bahkan gue ngga bisa ngehentiin Lo pergi!" lirih Ansel.
"Maura Lo kemana?"
Semua yang melihat Ansel saat ini pasti berfikir kalau Ansel gila. Ya kenyataan nya memang begitu, Ansel gila karna Maura.
Bersambung........

Komentar Buku (52)

  • avatar
    Hasni

    baguss

    03/02

      0
  • avatar
    montongbila

    sangat suka dngn novel ini

    27/01

      0
  • avatar
    ayuisma

    sangat seru

    28/11

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru