Wajahnya indah sekali diterpa sinar matahari dari arah samping, Arisa Kirani duduk di bangku sebelah kiri di gerbong kereta kelas eksekutif. Perempuan itu menatapinya lama sekali, tidak mengatakan apa-apa saat Ardo duduk di sebelahnya. Arisa marah, terkejut, dan mungkin saja terpana atas tingkah acak Ardo. Padahal, teman duduk Arisa tadi adalah mahasiswa kurus yang sepertinya kurang gizi dan butuh diberi donasi. Pemuda yang sepertinya Anak Mama. Mereka naik kereta yang sama, tetapi tidak duduk bersebelahan. Sayangnya, Ardo tidak ingin jauh-jauh darinya terlalu lama, karena tujuannya jauh-jauh dan berpegal-pegal ria duduk di kereta adalah merebut perempuan ini dari Kala. Maka, dengan segala cara Ardo akan melakukan apa pun yang dia mau. “Kejutan!” seru Ardo ceria. “Apa-apa’an, Do?” “Kita bakalan berjam-jam di kereta sebelum sampai tujuan. Mendingan aku duduk di deket mantanku yang judes daripada dengerin Bapak-Bapak ngoceh soal anaknya yang baru keterima kerja.” Ardo tidak tahan jika menghabiskan waktu berjam-jam duduk di dekat Bapak-Bapak berperut buncit yang sejak awal perjalanan membanggakan anak bungsunya yang baru bekerja di BUMN. Memangnya Ardo perduli? Pria itu hanya sesekali mengangguk sambil sesekali tersenyum kaku untuk menanggapinya. Lebih baik mengganggu mantan pacarnya ini. “Mau kacang?” Ardo tersenyum simpul sambil menawarinya snack. Risa menoleh ke belakang, kemudian kembali ke Ardo. “Mahasiswa tadi ke mana?” “Dia mau pindah duduk setelah aku transferi kosannya sebulan.” Perempuan itu memutar mata sebelum pada akhirnya tersenyum geli. Mungkin sebal karena ketenangannya dirusak. Masih sulit dipercaya mengapa Ardo dengan mudahnya melepaskan perempuan itu bertahun-tahun lalu. Seharusnya dulu dia langsung meminta maaf dan mengaku salah. Nasi sudah menjadi bubur, tetapi Ardo akan menaburi bubur tersebut dengan banyak suwiran ayam setelah menyiraminya dengan kuah gurih. Sedap! Di mana lagi dia akan menemukan perempuan yang terus membalas kata-katanya dan mengkritiknya seperti Risa? Sejauh ini terlalu banyak perempuan yang ‘iya iya saja’ dengan ide-ide ataupun setiap tindakan Ardo. Tidak ada yang mengingatkanya mana yang salah dan benar, tidak pula ada yang sungguhan perlu Ardo dengarkan. Tidak seru, kurang menantang. “Sekarang kamu udah berani pergi-pergi sendiri, ya?” Ardo memandangi Risa yang sibuk membaca buku dari tablet yang bentuknya cukup aneh. “Dulu aku Google Maps-mu.” Mencoba membangkitkan kenangan masa lalu. “Sebenernya, aku tetep takut pergi jalan-jalan sendiri, tapi zaman udah berubah dan ada banyak aplikasi yang membantuku,” jawabnya tanpa mengalihkan pandangan. “Buku-buku baru yang kamu beli pas sama aku kenapa nggak dibawa? Ketinggalan, ya? Kenapa baca buku dari tablet? Dulu kamu sering baca buku yang aku belikan.” Ardo memasukkan kembali kacang goreng ke mulutnya. Dia sudah berniat mengganggu Risa dengan cara mengajaknya bicara terus. “Betewe, tablet-mu bagus.” Arisa mengangkat benda aneh itu, dia tunjuk depan dan belakang seperti review produk yang baru dibuka paketnya. “Ini e-reader, tepatnya kindle, dikasih Kala waktu nembak aku. Umurnya … uhm, selama hubungan kami. Awet, kan? Di sini ada ratusan buku yang bisa aku baca. Jadi, aku nggak perlu bawa-bawa buku lagi.” Risa tersenyum lebar. Di mata Ardo, perempuan berengsek ini jelas sekali sedang mengejeknya. Ardo tahu semua jenis komputer, ponsel, ataupun kamera. Dari harga sampai spesifikasinya apa saja dia pun tahu, tetapi tidak pernah ada orang yang membisikkannya tentang benda bernama e-reader. Apa itu? Yah, satu fakta yang membuat hati Ardo nyeri, ternyata Kala tahu sejak awal tentang hobi Arisa yang mengerikan—membaca. “Apa bedanya sama tablet?” tanya Ardo, berusaha menekan harga diri. “Teknologi e-ink yang bikin betah baca lama, nggak bikin mata cepet capek. Tampilan layarnya mirip kertas.” Risa menunjukkannya lebih dekat ke Ardo sebagai bukti. Ardo menatapnya lembut. “Tapi kamu masih suka baca buku biasa, kan?” Maksudnya adalah Ardo sendiri yang mengibaratkan dirinya sebagai buku konvensional serta kuno, sementara Kala adalah e-reader yang canggih. Ardo yakin Risa memahami pertanyaan terselubung tersebut. Buktinya, perempuan itu terlihat tidak nyaman ditatap dalam-dalam seperti ini. Masih ada Virardo Nugraha di hati dan pikirannya walaupun tak sebanyak Kala. Bagi Ardo, itu adalah peluang. Arisa mengerjap dan menolak membalas tatapan. “Kadang-kadang.” *** Satu jam berikutnya Ardo sibuk menonton film dari tablet, sambil sesekali melirik Arisa yang membaca. Ya, seperti ini, dulu mereka juga bersama, tetapi sibuk dengan dunia masing-masing. Hanya seperti ini saja Ardo sudah sangat bahagia, entah dahulu maupun sekarang. Namun, sekarang hati Risa milik Kala, sementara Ardo adalah orang luar yang berharap hubungan mereka rusak. Sejak satu jam yang lalu pula pria itu berharap Risa tertidur dan terjatuh ke bahunya. Sayangnya, perempuan itu sepertinya sadar bahwa dirinya harus berhati-hati di dekat Ardo, sehingga memaksakan diri untuk terus terjaga walaupun tak jarang menguap dan satu dua kali meminum air mineral. Ahh! Seharusnya Ardo sebelum berangkat ke stasiun membeli obat tidur dan diam-diam memasukkannya ke minuman Arisa saat perempuan itu pergi ke toilet. Jakarta ke Yogyakarta masih jauh. “Kenapa baru mau nikahnya sekarang, kalau kalian pacarannya udah lama? Apa butuh waktu selama itu untuknya beneran yakin nikah sama kamu? Sejak aku nembak kamu, aku udah langsung yakin bakalan ngabisin sisa umurku sama kamu.” Ardo melepaskan TWS dari telinganya. Matanya pedas karena lelah menonton sejak tadi. Risa menoleh ke Ardo. “Karena dia pilot.” Ardo memutar mata, lalu tersenyum mengejek. “Pilot? Itu bukan jawaban. Kalau kamu ngincer duinya. Asal kamu tahu, duitku juga banyak. ” Lama-lama Ardo tidak mau naik pesawat karena tidak mau bertemu dengan Kala tanpa sengaja. Benar juga, Ardo belum bertanya Kala ini pilot maskapai apa dan lebih sering terbang ke mana saja. Ardo akan sebisa mungkin menghindari pesawat itu jika bisa. Jika bukan karena bertemu secara langsung, Ardo tidak sudi mendengar suara pria itu saat memberikan pengumuman di udara. “Jadwalnya susah, Do, dan keluarganya ingin pernikahan kami diadakan dengan layak, bukan cuman pemberkatan di gereja kayak kawin lari. Padahal, aku ini enggak masalah kalau cuma di gereja, pestanya kapan-kapan aja. Kamu juga tahu orang tuaku gimana, kan? Apalagi, aku anak bungsu, putri satu-satunya. Ya gitulah.” “Owh, ribet emang kalau pacaran sama pilot,” balas Ardo tidak tertarik, lalu kembali membuka bungkus snack kentang. “Dia pilot maskapai apa? Jangan-jangan aku pernah naik pesawatnya, tapi nggak sadar.” Baiklah, Ardo harus mengalah kali ini saja, membahas topik yang tidak dia suka dengan mantan kekasihnya. Ardo sama sekali tidak suka dengan pria yang bernama Kala itu. Setidaknya jika membicarakan tentang Kala, perempuan di sebelahnya ini mau bicara banyak. Ardo akan terus memancing sampai mau bercerita tentang apa yang dirasakan Risa setelah mereka putus. Karena Ardo menggila setelah itu, dia pernah ingin langsung terjun ke laut dari tebing setinggi belasan meter saat liburan dengan teman-temannya. Saat itu Indra dan Rey memegangi lengannya agar tidak melancarkan aksi gilanya. “KLM atau Royal Dutch Airlines, pusatnya ada di Amsterdam,” jawab perempuan itu diakhiri senyuman tipis. “Rute seluruh dunia.” Ardo bisa melihat kilatan sedih di kedua mata itu walaupun hanya sesaat, itu pun tidak akan Ardo sadari jika tidak terlalu memperhatikan. Mungkin Risa sedih karena sangat khawatir terjadi apa-apa pada Kala di setiap perjalanannya. Seperti apa rasanya dicintai seperti itu lagi? Ardo iri sekali. Dulu dia pernah menjadi pihak yang dikhawatirkan. “Dia itu blasteran? Tapi kenapa mukanya masih Indonesia banget? Cara ngomongnya pun enggak ada bule-bulenya, masih kayak orang lokal.” Ardo memberikan salah satu makanan ringan ke mantan kekasihnya. Risa menerima keripik singkong dan langsung membukanya. “Mungkin karena orang tuanya keturunan, jadi, Kala masih terkesan Indonesia. Kalau maksudmu kulitnya yang nggak putih, itu karena dia hobi berjemur. Jam tidurnya nggak seperti kita, jadi, dia berusaha menyeimbangkan diri dengan olahraga dan pola hidup sehat.” “Udah jelas, kamu ngincer duitnya,” tuduh Ardo. “Ya ampun, Ardo. Pikirannya jelek banget.” Perempuan itu pun tergelak. “Dulu waktu kenalan—aku ngaku pengangguran biar nggak ditaksir, sementara dia malah ngaku tour guide. Ceritanya panjang, bisa jadi satu buku kalau ditulis.” Ardo mengernyit. “FTV macam apa itu?” “Jelas kami saling ngetes walaupun udah sama-sama tertarik di awal. Kamu bisa kayak gitu? Nggak bisa, kan? Ardo udah terkenal banget, cewek yang suka kamu kebanyakan karena kamu ganteng dan tajir.” Sebelah alisnya terangkat. “Dulu, kamu suka aku apa adanya. Makanya aku ada di sini sekarang.” Untuk merebut Arisa dari Kala.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus
30/10
0keren
28/10
0sangat bagus
14/10
0Lihat Semua