logo text

BAB. 7 Perdebatan Kecil Di Pagi Hari

Pagi itu udara masih dingin, sedingin komunikasi antara pasangan suami istri. Matahari baru saja menyinari rumah petakan kecil di sudut Kota Jakarta yang tampak reot. Ratih berdiri di ambang pintu, memandangi suaminya, Rangga, yang tengah bersiap untuk keluar rumah. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya sejak beberapa waktu lalu, dan pagi ini Ratih memutuskan untuk berbicara kepada Rangga. Dengan tekad bulat, dia pun menghentikan langkah suaminya yang baru saja ingin meraih gagang pintu.
“Mas Rangga, tunggu dulu.” suara Ratih terdengar tegas, meski hatinya sedikit gentar.
Rangga menoleh dengan alis terangkat.
“Ada apa lagi, sih? Aku buru-buru, Ratih. Ada urusan penting yang berkaitan dengan pekerjaanku!” serunya tak suka saat istrinya hendak angkat bicara.
Ratih menarik napasnya panjang, dia berusaha menenangkan diri.
“Aku minta kamu duduk dulu, Mas. Sebentar saja, kok. Ada yang mau aku bicarakan kepadamu,” ucap Ratih lagi .
Rangga mendengus, tapi akhirnya dia pun melepaskan tangannya dari gagang pintu dan berjalan menuju ruang tamu mereka yang kecil dan sederhana. Perabotan tua yang sudah usang terlihat di sana, namun memang hanya itulah yang mereka miliki.
“Cepat, katakan! Apa maumu? Aku nggak punya banyak waktu,” ucap Rangga sambil duduk di kursi kayu yang sudah hampir patah.
Ratih pun ikut duduk di kursi seberang suaminya, meskipun seluruh tubuhnya terasa tegang. Dengan hati-hati, perempuan muda itu mulai membuka pembicaraan.
“Mas Rangga, aku mau tanya soal uang di dompetku yang hilang. Berjumlah lima ratus ribu. Kamu tahu ke mana uang itu?”
Rangga diam sejenak, lalu mengangkat bahu.
“Aku yang ambil. Buat modal di tempat kerja baruku.” Dengan entengnya Rangga mengatakan semuanya.
Ratih menatap suaminya dengan mata melebar.
“Buat modal apa, Mas? Kenapa kamu nggak bilang ke aku?”
“Aku pakai buat kerja,” jawab Rangga singkat, tanpa ada rasa bersalah.
“Lagian, itu cuma uang lima ratus ribu. Buat apa kamu ribut?”
“Lima ratus ribu itu uang buat kebutuhan kita, Mas Rangga.” Ratih mengingatkan suaminya, suaranya bergetar.
“Asal kamu tahu, aku sudah membayar tunggakan kontrakan rumah kemarin. Sekarang uang kita tinggal sedikit,” keluh Ratih hampir putus asa.
Rangga hanya tertawa kecil, seolah tak peduli dengan kekhawatiran istrinya.
“Ha-ha-ha! Ya, bagus dong kalau kamu sudah bayar. Itu kan memang tugas istri, membantu perekonomian suami. Lagian kamu itu kan anak orang kaya, tinggal minta tuh sama orang tua kamu, pasti mereka akan memberikannya. Apapun keinginanmu pasti dituruti oleh mereka!” seru Rangga tajam.
Ratih terdiam sejenak, mencoba meresapi ucapan suaminya. Hatinyanya semakin sesak mendengar kata-kata Rangga, tapi dia mencoba menahan amarahnya.
“Mas Rangga, aku cuma ingin tahu, kamu sebenarnya kerja apa di luar sana?”
“Soal kerjaanku, itu urusanku sendiri. Itu bukan urusan mu!” jawab Rangga dengan nada tajam.
Ratih merasa ada yang aneh dengan perubahan sikap suaminya belakangan ini. Sejak mereka menikah, Rangga semakin sering pulang malam, dan uang di rumah selalu cepat habis. Akhirnya, Ratih tak bisa lagi menahan pertanyaan yang sudah lama menghantuinya.
“Kenapa kamu berubah setelah kita menikah, Mas Rangga? Dulu kamu nggak seperti ini.”
Rangga menyipitkan mata, jelas merasa terganggu dengan pertanyaan itu.
“Kalau kamu menyesal nikah sama aku, kamu bisa pulang ke rumah orang tuamu! Beres perkara!”
Ucapan itu menghantam hati Ratih seperti tamparan keras. “Maz Rangga, kenapa kamu ngomong begitu?” tanyanya lirih, matanya mulai basah.
Rangga berdiri dengan kasar, bersiap meninggalkan rumah. Namun sebelum melangkah ke pintu, pria itu berkata dengan nada dingin,
“Aku sudah ambil perhiasan kamu juga, buat modal kerja kerja. Aku mau gadaikan itu. Bulan depan, aku janji bakal ganti semuanya.”
Ratih tertegun mendengar itu. “Apa? Kamu ambil perhiasan aku? Tapi Mas, itu perhiasan dari Mami!”
“Iya, aku tahu. Aku cuma pinjam sebentar kok. Lagian itu nggak seberapa, jika dibanding nanti kalau usaha aku sukses. Seorang istri harusnya dukung suaminya, bukannya malah marah-marah nggak jelas kayak kamu! Bikin emosi saja, kamu!”
Ratih ingin memprotes, lalu berteriak dan mengatakan bahwa apa yang dilakukan suaminya itu salah. Tapi suara Rangga yang keras dan dingin menghentikannya. Dia hanya bisa menatap suaminya dengan perasaan campur aduk.
“Ya sudah! Aku pergi dulu! Seharusnya kamu mulai berpikir bagaimana caranya membantu keuangan keluarga kita!” serunya lantang.
Ratih terdiam mendengar ucapan suaminya. Namun dia tak dapat berbuat apa-apa. Perempuan itu hanya bisa menangis saat ini. Dia sepertinya menyesali pernikahannya dengan pria itu.
Seandainya waktu bisa diulang kembali Ratih seharusnya mendengarkan nasihat kedua orang tuanya yang melarang keras hubungannya dengan Rangga, kala itu. Namun cinta telah membutakan mata hatinya. Ratih pun menikah dengan pria itu tanpa restu dari orang tuanya.
Rangga, tanpa mempedulikan perasaan istrinya, membuka pintu dan keluar dari rumah. Langkahnya terasa berat, akan tetapi hatinya tetap keras. Pria itu merasa yakin jika apa yang dilakukannya benar, meski jauh di dalam hatinya, dia tahu ada sesuatu yang salah. Namun egonya terlalu besar untuk mengakuinya.
Ratih, yang masih duduk di kursinya, hanya bisa memandangi kepergian suaminya dengan hati yang semakin hancur. Air mata yang tadi tertahan kini jatuh perlahan di pipinya. Dia merasa sendiri, terjebak dalam rumah kecil itu, dalam pernikahan yang semakin hari semakin terasa asing.
Sore harinya, Ratih duduk sendirian di ruang tamu. Pikiran tiba-tiba teringat tentang perhiasannya yang diambil oleh suaminya, uang yang hilang, dan perubahan sikap Rangga terus menghantuinya. Dia sangat yakin jika suaminya telah berbohong soal modal kerja itu. Meski Rangga tidak mengaku, Ratih yakin uang dan perhiasannya habis di meja judi, sesuatu yang Rangga selalu sembunyikan darinya.
“Kenapa ini harus terjadi?” gumam Ratih pelan sambil menatap jendela yang terbuka. Di luar, suara anak-anak kecil yang bermain terdengar samar-samar, kontras dengan kesunyian dan kehampaan yang dirasakan olehnya di dalam rumah.
Ratih ingin berbuat sesuatu. Dia merasa perlu bicara lagi dengan Rangga, mencoba menyadarkannya. Namun, setiap kali dirinya memikirkan semuanya itu, bayangan ancaman Rangga muncul di benaknya.
“Kalau kamu menyesal nikah sama aku, kamu bisa pulang ke rumah orang tuamu!” Kata-kata itu terngiang lagi di telinganya, mengingatkannya pada betapa sedikit pilihan yang ia miliki.
Tidak mungkin Ratih kembali ke sisi kedua orangtuanya. Karena mereka telah membuangnya sejak Ratih lebih memilih menikah dengan Rangga, mantan sopir pribadi ayahnya.
Perempuan itu teringat betapa mereka dulu saling mencintai, bagaimana Rangga sebelumnya adalah pria yang penuh kasih dan perhatian. Tapi semua itu berubah sejak pernikahan mereka. Apakah dia memang salah memilih suami? Ataukah semua ini hanya fase yang bisa mereka lalui bersama?
Sambil menahan isak tangisnya, Ratih memutuskan untuk bersabar. Mungkin Rangga butuh waktu. Mungkin suaminya akan sadar jika cara yang dia tempuh sekarang tidak benar. Ratih hanya bisa berharap jika janji Rangga untuk mengembalikan perhiasannya bulan depan bukanlah kebohongan belaka. Namun, jauh di lubuk hatinya, dia tahu bahwa harapan itu mungkin terlalu besar.
Pagi telah berubah menjadi siang, dan kini matahari mulai terbenam. Ratih tetap duduk di kursinya, menunggu sesuatu yang entah kapan akan terjadi. Satu hal yang dia tahu pasti, dirinya harus bertahan. Setidaknya untuk hari ini.

Komentar Buku (31)

  • avatar
    VirgoMrs.

    bgs sekali wahhh

    28/06

      0
  • avatar
    Rhw Faith

    kerennn

    18/06

      0
  • avatar
    Farah Sagita

    sedih

    27/05

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru