"Ada apa, Pak Wu Xiuhan?" tegurnya. Ia terlihat heran melihat sikapku. "Ah! Bibi Yo, apakah kau tadi sudah ke atas?" tanyaku meyakinkan kalau tadi dia bersamaku. " Belum, Pak. Saya tadi kesiangan, jadi baru menyapu di sini," balasnya dengan ramah. Tubuhku terasa tidak memiliki tulang. Bahkan, untuk berdiri pun aku tak mampu menopang berat badanku sendiri. "Tidak mungkin. Jika Bibi Yo ada di sini, lalu siapa yang bersamaku tadi?" tanyaku dalam hati. Dengan perasaan bingung, aku berjalan meninggalkan Bibi Yo. Sesekali aku menoleh ke arahnya, tidak ada yang aneh. "Hai, Xiuhan!" Suara wanita yang begitu kukenal menyapaku, sontak aku menoleh ke sumber suara tersebut. Ada getar di hati, ada kesedihan di dalamnya. "Hai, Yang Zhishu? Kenapa ada di sini?" Pagi ini, aku bertemu dengan cinta masa laluku. Dia masih terlihat cantik. Kenapa Tuhan mempertemukan kami kembali? Hatiku terasa ngilu, tetapi bahagia bisa mendengar suaranya kembali. Aku terus menatapnya, masih berharap jika semua ini adalah mimpi. "Sepertinya, sekarang kau terlihat kaya?" ucapnya tanpa rasa bersalah. Tangan Yang Zhishu membelai pipiku. Wanginya, masih sama seperti dulu. Hatiku sakit sekali, perih. Aku ingin memeluknya, tetapi tidak mungkin. Yang Zhishu adalah masa lalu untukku. "Seperti yang kau lihat," balasku seperlunya saja. Hati ini begitu merindukannya, tapi mengingat apa yang telah ia lakukan, membuatku tersadar akan kenyataan. "Kau semakin tampan," godanya, menghampiri dan mencium lembut bibirku. Aku membalas kecupannya. Manis. Tanpa kusadari, Bao-yu menyaksikan semua itu. Entah sejak kapan ia berada di antara kami. Aku hampir saja terhanyut, ketika sudut mataku menangkap bayangan Bao-yu, ia berlari begitu saja dan aku segera melepaskan lumatan itu. "Maaf, aku sedang terburu-buru." Aku berusaha melepaskan pelukannya dan mengejar Bao-yu. Akan tetapi, gadis itu menghilang di ujung koridor. "Xiuhan! Kau mau ke mana?" Teriakan Yang Zhishu tak kuhiraukan. Hatiku begitu takut kehilangan Bao-yu. "Xiuhan! Kita akan bertemu lagi, aku akan menunggumu!" teriak Yang Zhishu kembali. Aku terus berlari mencari Lian Bao-yu. Ya, aku menemukannya, Lian Bao-yu terus berlari kembali. "Lian Bao-yu! Tunggu aku!" teriakku pada Lian Bao-yu yang terus saja berlari menjauhiku. "Kenapa mengejarku? Bukankah kau tengah asyik bermesraan?" sergahnya saat aku telah berhasil mengejarnya. "Apakah kau cemburu padanya?" godaku. Ya, aku senang dengan sikapnya yang seperti ini. "Tidak!" Lian Bao-yu beranjak kembali, segera kuraih jemarinya dan mencium lembut bibir mungil itu. Ia pun tak menolaknya, kami saling menyatukan perasaan yang ada. "Maafkan aku, Lian Bao-yu. Yang Zhishu adalah masa laluku, tidak ada perasaan apa pun di dalam sini untuknya," ucapku berbohong, seraya menuntun jemarinya dan meletakkan ke dadaku. Bao-yu mengangguk dan memeluk erat. Aku tidak tahu, apakah aku masih mencintai Yang Zhishu? "Tidak ada ruang lagi untuk Yang Zhishu, karena kamu telah mengisi hatiku," bisikku lembut. Aku mencoba meyakinkan hatiku dan gadis idamanku itu. "Xiuhan, apa kau tidak bekerja hari ini?" tanyanya. Sontak membuatku melepaskan pelukan. Melirik jam yang melingkar dipergelangan tanganku. "Oh, iya. Aku telat!" jawabku segera meninggalkannya sendiri, terdengar tawa Lian Bao-yu yang semakin keras dari kejauhan. Aku berlari sambil menertawakan tingkah konyolku tadi. Sesekali menoleh ke arahnya yang masih berdiri dan melambaikan tangan, ia pun membalasnya. Aku bahagia. Benar-benar menikmati kisah cinta ini dengannya. **** Hari-hari terasa begitu cepat berlalu, luka hatiku perlahan terobati. Namun, ketika luka itu sedikit tertutup ... Yang Zhishu hadir kembali. Jauh di lubuk hatiku, masih menyimpan semua kenangan bersamanya. Dua tahun menjalin cinta, tak mungkin bisa melupakannya begitu saja. Entah kenapa, perasaanku menjadi ragu untuk mencintai lagi. Aku mencintai Yang Zhishu, tetapi menginginkan Lian Bao-yu. Ah! Sebenarnya aku mencintai siapa? Apakah Lian Bao-yu hanya sebagai tempat pelarian ku saja? Ketika berada di dekatnya, hatiku terasa nyaman dan bahagia. Apalagi saat melihat senyum cantiknya. Sedangkan saat bersama dengan Yang Zhishu, hatiku selalu ingin membuatnya bahagia, takut kehilangan dirinya, selalu merasakan cemburu saat lelaki lain mengobrol dengannya. Bahkan, ayahku dan Wei Lung Ko pun tidak merestui hubungan kami kala itu. Mereka bilang, kalau Yang Zhishu hanya menciptakan kedukaan bagi hatiku saja. Wanita cantik itu memang membuatku bertekuk lutut di hadapannya. Aku ingin membuatnya bahagia dengan caraku sendiri. Akan tetapi, perempuan itu malah memilih laki-laki lain. Ya, bukan salah di sepenuhnya. Salahku kenapa terlahir menjadi pria miskin! Berbeda dengan Lian Bao-yu, sederhana, mampu membuatku tertawa lepas oleh tingkah konyolnya. Sejak mengenal dirinya, aku menjadi orang yang berbeda. Pak Chen datang ke Macau hanya untuk memeriksa dan melihat secara langsung bisnis yang ku pegang ini. Lelaki tua itu, berkali-kali ia memuji hasil kerjaku. Satu unit mobil keluaran terbaru, ia berikan padaku. Aku bangga pada diriku sendiri, dengan tangan ini ... aku bisa membahagiakan ayahku. Pakaian lamaku yang kusam, telah berpindah tempat, bukan lagi di dalam kemari. ***** Bisnis yang aku kelola, mengalami kemajuan yang begitu pesat. Pak Chen membuka cabang perjudian kembali. Kali ini, ia mengajukan beberapa persyaratan untukku. Pak Chen ingin, agar aku dapat menyabotase kedudukan Pak Stanley. Tentu saja aku menolaknya, ia pun mengancam akan menculik Yang Zhishu bila aku tak menuruti semua perintahnya. Awalnya, aku terkejut mendengar Pak Chen menyebutkan nama Yang Zhishu. Meskipun kami sudah tidak ada lagi keterikatan dalam hubungan percintaan, tapi mendengar Pak Chen akan menculiknya membuatku tak tega. Bagaimana Pak Chen tau tentang Yang Zhishu? Apakah sampai sejauh itu, ia mengamati pegawai rendahan sepertiku? Rasanya begitu tak masuk akal. "Ingat baik-baik! Dalam tiga hari kau tak mengambil keputusan, maka aku tak segan-segan menculik kekasihmu itu!" Ucapan Pak Chen sore itu, begitu mengganggu pikiranku. Membuatku berpikir keras, apa yang akan aku lakukan jika ancaman itu benar-benar terjadi? Namun, aku tidak bisa menuruti perintah yang satu itu. Biarpun Yang Zhishu telah menorehkan luka yang dalam di hati ini, aku tidak ingin melihatnya menderita karena diriku. "Ada apa sebenarnya ini?" Aku bertanya pada diriku sendiri. Kenapa Yang Zhishu hadir kembali, di saat aku telah menikmati kepahitan karena kepergiannya? Aku mengacak-acak rambut secara kasar. Pertemuan dengannya kemarin, selalu berputar dalam benak. Aku bahagia saat perempuan itu menciumku. Ah, konyol memang! Aku tersenyum sinis, menertawakan hidupku. Yang Zhishu melihat perubahan dalam diri ini, oleh sebab itu dia mau menciumku! Aku mengumpat diriku. Selama dua tahun bersama, tidak sekali pun kami berciuman. **** Pak Chen kembali menyuruhku untuk menuruti semua perintahnya tanpa terkecuali. Begitu pun dengan hari ini, ia terus memaksa. Aku terkejut melihat Yang Zhishu ada di ruangan Pak Chen. "Tugasmu hanya menyabotase kedudukan Stanley saja. Jika tidak, aku tak akan menjamin keselamatan kekasihmu itu. Sementara itu, Yang Zhishu akan menjadi jaminannya!" ancam Pak Chen, membuatku bingung tak berdaya. "Maaf, Pak. Aku dan Yang Zhishu tidak mempunyai hubungan apa pun. Pak Chen salah paham sepertinya," ucapku. Meskipun telah berulangkali aku menjelaskan padanya, jika aku dan Yang Zhishu sudah tidak ada hubungan apa pun lagi, tetap saja ia tak mempercayainya. "Terserah, jika kau mau menyangkalnya. Aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku sendiri!" jawabnya kembali. "Xiuhan, apa kamu benar-benar menyangkal hubungan kita?" Yang Zhishu menyela pembicaraan kami. "Hahaha! Kita lihat saja, Wu Xiuhan. Apakah kau tega melihat wanita cantik ini kehilangan nyawanya?" ucap Pak Chen dengan santai, sambil menghisap cerutunya. Lalu mengembuskan asap tipis ke wajahku. "Maaf, Pak. Aku tidak bisa melakukannya." Aku menjawab dengan nada sedikit pelan. BRAAAK! Gebrakan meja membuatku kaget. Pak Chen tidak senang atas jawaban yang kusampaikan barusan. Sorot matanya memancarkan kebencian yang begitu besar padaku. "Kurang ajar! Tidak tahu diri! Kau hanya sampah yang tidak berharga! Setelah dipungut, begini balasan darimu, hah?!!!!" Umpatan demi umpatan keluar begitu saja dari mulut kotornya. Aku merasakan aliran darah naik hingga ke puncak ubun-ubun, merasakan panas yang menjalari tubuhku hingga ke wajah. Tanganku mengepal dengan sendirinya! Bersiap untuk memukul lelaki itu. Akan tetapi, aku melihat Yang Zhishu tampak begitu cemas saat menatapku. Entah kenapa, aku menjadi lemah saat mata kami saling bertemu. Sorot mata Yang Zhishu begitu berharap, seakan menyuruhku untuk menuruti semua titah dari Pak Chen. Ada rasa cemburu di hati ini, kala jemari Bos ku itu membelai lembut paha mulus perempuan yang pernah singgah di hatiku. Namun, jika aku menurutinya, bagaimana dengan Pak Stanley? Apakah ini yang dimaksud oleh ayahku tentang konspirasi itu?
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
mantap
08/06/2025
0wihhh baguss
27/04/2025
0lucuuu suka
17/03/2025
0Lihat Semua