"Avel..? Kau mengatakan kau mencintai aku bukan? Kau bahkan bersumpah kau mencintaiku. Lalu mengapa kau tidak bangun dan mengatakannya sekarang? Aku sangat ingin mendengarnya! Tolong., Tolong hiks., Tolong jangan lelah mencintai aku!" Tangis Sila. "Kau tahu? Begitu lama aku mencintaimu, begitu lama aku menunggumu mencintai ku kembali! Aku bahkan mencintaimu di dua kehidupan! Dan kali ini akhirnya kau mencintaiku! Aku sangat bahagia, sungguh! Akhirnya aku bisa melihat cinta di matamu! Cinta yang hanya tertuju padaku! Tapi mengapa kau begitu kejam?!" Sila menarik nafasnya dalam-dalam, ia kembali mengecup lengan Avel dengan penuh cinta dan kelembutan. "Mengapa kau begitu kejam?! Dalam sekejap kau menghancurkan kebahagiaan ini! Kau terbaring dengan lemah di sini, kau tahu betapa takutnya aku? Aku takut, sangat takut! Aku sakit Avel!" Tangis Sila. Sila mengarahkan lengan Avel ke dadanya. "Di sini! Di sini sangat sakit! Rasanya sesak seperti di remas, sangat sakit seperti di sayat-sayat dengan sebuah pisau." Ujar Sila. Lagi-lagi semuanya hening, Avel tetap tidak bergerak sedikit pun. Sila hanya bisa terdiam sambil berharap Avel akan meresponsnya meskipun hanya sedikit. Cup. Sila kembali mengecup lengan Avel dan mengarahkannya ke pipinya, menggerakkan tangan Avel agar mengelus pipinya lembut. "Aku mencintaimu." Ujar Sila. ***** Tok tok tok. Krieett... Pintu terbuka, di sana ada Sila yang tengah berdiri sambil menatap sendu ke depan. Sedangkan di dalam sana terlihat Blair tengah berdiri di depan perapian dengan sebuah buku di tangannya. Tap Tap Tap. Sila melangkahkan kakinya ke dalam dengan pelan, wajahnya masih tertunduk, matanya masih menatap sayu ke depan, pikirannya di penuhi kekosongan dan rasa bersalah. "Blair...?" Panggil Sila. "......" Blair tak menjawab. "Aku-" "Pergilah." Potong Blair. "Maafkan aku..." Ujar Sila. "Ku bilang pergi sebelum aku melakukan kesalahan terhadap mu!" Ujar Blair sedikit tinggi. Sila tersentak. Air matanya kembali terjatuh. "Aku tidak akan pergi." Blair terdiam. Saat itu pula Blair berbalik dan menatap tajam ke arah Sila. Blair berjalan cepat dengan penuh emosi ke arah Sila. Tap! Blair mencekal lengan Sila kuat, sangat kuat hingga membuat Sila merasakan sakit yang teramat di tangannya. Namun Sila tetap diam dan berusaha menahan rasa sakit itu. "Apa lagi mau mu?!" Tanya Blair penuh amarah. Tess... Air mata lagi-lagi jatuh membasahi pipi Sila, isakkan mulai terdengar, wajahnya mulai tertunduk. "Aku minta maaf., Bukankah.., bukankah kau sama seperti ku? Tolong.., tolong jelaskan apa yang terjadi saat itu padanya.., aku mohon.." mohon Sila dengan isak tangisnya. Blair menatap seolah mengejek ke arah Sila. "Heh? Kau ingin mendengarnya? Lebih baik tidak perlu, karna jika kau mendengarnya. Aku khawatir kau akan langsung merasa bersalah dan bunuh diri." Ujarnya merendahkan. Grep! Sila mencengkeram kuat kerah Blair. "Jelaskan! Aku mohon." Ujar Sila tajam. Blair menatap Sila cukup lama, ia pun menghela nafasnya panjang. "Jika kau marah karna Noel yang tidak pernah mendapat kasih sayang dari Avel, kau salah." Ujar Blair akhirnya. Cekalan itu mulai melemah. "?!" "Avel sangat menyayangi Noel, lebih dari apa pun, aku berani bertaruh. Karna aku yang selalu memerhatikannya, dan aku pun menyaksikannya." Ujar Blair. "Dia selalu memerhatikan Noel dari balik jendela ruang kerja, jika dia menemukan sesuatu yang mengganggu Noel, dia akan langsung menyelesaikan semuanya demi Noel, meski hal kecil sekalipun, tentunya tanpa sepengetahuan Noel." Lanjutnya. ".........." "Tapi masa lalunya menghalanginya untuk mendekat, masa lalunya membuatnya takut dengan cinta, terlebih lagi dia memiliki banyak musuh." "Lalu.., Sona...?" "Wanita licik itu benar-benar melakukan semuanya dengan sempurna, kebungkaman Noel dan dirimu yang membuat Avel tak mengetahui apa pun, terlebih lagi Avel adalah seorang Duke, dia sangat sibuk. Dia tidak tahu apa pun sampai kau yang menghabisi Sona saat itu." Sila terdiam. "Kau tahu? Avel tidak pernah tidur dengan Sona semenjak pernikahannya, bahkan menyentuhnya saja tidak. Dia selalu memberikan Pil birahi pada Sona. Dan dalam Pil birahi itu terdapat racun yang membuat siapa saja menjadi mandul." "?!" "Pil birahi? Maksud mu Pil buatan penyihir?" "Ya, dalam hidupnya, Avel hanya pernah melakukannya dengan mu. Perlu ku beri tahu, Avel bukanlah seseorang yang seperti itu, dia membenci wanita, terutama wanita licik. Dia menjauhi setiap wanita, karna dia takut dia akan mencintai salah satu dari mereka." "Bodoh., Benar-benar bodoh! Mengapa kau tidak mengatakannya padaku?! Apa yang aku lakukan?!" Batin Sila. "Dia sangat mencintaiku, tapi aku melukainya. Di kehidupan sebelumnya pun akulah yang seenaknya berpikir bahwa dia tidak memedulikan aku dan Noel., Kenyataannya aku benar-benar bodoh.” "Di kehidupan sebelumnya dia menjadi gila, dan membunuh dirinya sendiri." "Hiks.., Avel.., Avel..., Maafkan aku..., Maaf..." -Batin Sila. "Dan di kehidupan ini., Kau membuatnya kembali merasakan hal yang sama. Apa kau tahu apa yang dia rasakan tiga tahun ini?" Tanya Blair mulai dengan nada tajamnya. Sila menggeleng pelan. "Dia menjadi gila karna mu! Mau sampai kapan kau menyiksanya di dua kehidupan?!" Marah Blair. Sila masih terdiam. "Dalam hidupnya, dia begitu takut dengan cinta dan kasih sayang. Dan ini pertama kalinya dia mencintai seseorang begitu besar, hingga dia sanggup melawan masa lalunya. Tapi kau..?" "Hiks.., hiks..," "Apa yang kau harapkan dari pernikahan tanpa cinta? Apa yang kau harapkan dari seseorang sepertinya?" Tanya Blair. "Apa kau tahu? Saat kau sedang mengandung Noel, tanpa sadar kau menggali luka masa lalunya. Dia sangat takut! Dia takut jika dirinya akan memperlakukan Noel dengan buruk.” "Aku sungguh minta maaf! Ini semua karena keegoisan ku! Aku minta maaf..., Aku minta maaf hiks., Aku minta maaf.., aku benar-benar tidak mengetahui apa pun Blair,, aku tidak mengetahui apa pun. Aku tidak tahu! Jadi tolong berhentilah menyalahkan aku, rasa bersalah itu membuat ku ingin mati rasanya.” Blair terdiam. "Dia memang tidak mengetahui apa pun, dan dia juga menjadi korban di sini., tetapi.., dia egois., Oh tuhan.., apa yang harus aku lakukan..?" -batin Blair. "Tidak ada gunanya kau menyesal, Seperti apa yang kau katakan tiga tahun lalu, Penyesalan memang selalu datang di akhir." Ucap Blair rendah. DEG. Bersambung........
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
seru
21/02
0ceritanya keren
14/12
0ini seru bangey plsss
18/03/2025
0Lihat Semua