logo text

Bab 18 Si Kecil Hana

Pertemuan yang diadakan untuk menyapa Linka tidak bisa berlangsung terlalu lama. Semua orang harus segera kembali bekerja. Satu persatu dari mereka mengundurkan diri, pamit, tugas dan tanggung jawab tlah menunggu.
Arf —merupakan nama panggilan bos Ravi, tuan muda Shaloka— begitu dia disebut di kediaman ini, memiliki pekerja yang ahli di berbagai bidang. Mulai dari koki dapur, penata kebun, mereka yang membersihkan tiap bagian rumah, membuat steril ruangan, dan banyak lagi.
Sampai yang tidak Linka pikirkan, Pak Andy, bekerja sebagai tuan yang mengasuh kuda-kuda milik Ravi. Benar, begitu intens dan menyeluruh.
"Terdengar luar biasa untukku, tetapi pasti biasa saja bagi Raviarf Shaloka. Memiliki banyak uang membuatmu mampu melakukan segala, bahkan untuk hal-hal kecil yang tidak terpikirkan."
Karena Linka masih belum memiliki pekerjaan dan tidak mempunyai tugas yang harus diselesaikan, gadis berkemeja biru dengan dalaman kaos putih polos —sangat pas di tubuhnya— itu memutuskan untuk mengikuti saran dari salah seorang teman di sini, namanya Upi, gadis paling muda yang bekerja di kediaman Shaloka.
"Menurutku, Mbak Linka perlu sesekali menyusuri tempat ini seorang diri dan ikut menikmati keindahan yang ada. Toh, belum ada tugas apapun yang harus diselesaikan. Nikmati waktu Mbak sebaik mungkin."
Kalimat yang dilontarkan padanya ini persis seperti Ziban.
"Mbak, tempat ini aslinya uapik banget, lho!" gadis itu mengungkapkan kekagumannya —yang terdengar di telinga Linka seperti pujian.
"Memerhatikan cara orang-orang di sini bekerja, berkenalan dengan mereka, terus liat-liat pemandangan juga, kan, bagian dari langkah adaptasi yang bisa Mbak lakukan. Ada banyak kejutan, deh, Mbak. Cobain gih!"
Upi adalah gadis yang cerdas. Sayang sekali dirinya harus berhentu bersekolah. Ia sempat bercerita kepada Linka, alasannya harus mengakhiri mimpi karena ketidakmampuan biaya, persis seperti dirinya.
"Ada Emak di kampung yang menunggu uang beras, Mbak. Adik-adik yang ngadu biaya sekolah juga, hehe. Lagipula, aku bisa belajar hal baru di sini, ndak hanya harus pergi ke sekolah. Bener toh?"
"Bener banget. Karena beberapa pelajaran hidup justru kita temui secara langsung, ketika kita melewati pasang surut segala jenis bentuk takdir yang diberikan kepada kita."
"Upi sangat hebat!"
Upi juga menceritakan tentang orang-orang yang bekerja kepada keluarga Shaloka. Walau ada banyak beragam kepribadian yang memang berbeda-beda dan tidak selalu selaras dengan apa yang diinginkan, Upi mengatakan semua orang di sini adalah orang yang baik.
Ravi sendiri yang ikut menyeleksi mereka.
"Oh, ya, Mbak. Pak Ravi, maksudku Arf, adalah orang terfavoritku di sini. Sudah aku anggap Bapak sendiri, he he. Beliau ini baik banget, Mbak. Nggak ada habisnya kalau sudah bahas kebaikan beliau. Bukan karena capek atau apa, tapi emang buanyak buanget!"
"Benarkah?"
"Iya! Mbak bakalan setuju dengan pendapatku setelah mengenal Pak Ravi lebih dekat. Pagi ini, Mbak lihat aku berpakaian rapi, 'kan? Aku punya tugas pribadi dari Pak Ravi, Mbak. Yaitu belajar. Beliau bilang, aku bisa belajar sebelum memulai bekerja. Dengan begitu, aku tidak akan tertinggal."
Linka tersenyum hangat. Ada desir bahagia setiap kali ia mendapatu cerita kebaikan seseorang. Ini untuk yang kesekian kalinya dirinya mendengar bahwa sosok pria dingin —Raviarf Shaloka, bosnya— merupakan orang yang baik.
"Aku pergi, ya, Mbak! Guruku mungkin sudah datang. Dadah!"
Lamunan Linka buyar, kaki jenjangnya juga ikut terhenti saat tanpa sengaja melihat bayangan seorang gadis mungil tengah berlarian kesana kemari memetik sekuntum bunga.
"Siapa gadis kecil itu?"
Mengenakan gaun berwarna putih dengan aksesoris bondu senada  menghiasi kepalanya, gadis itu nampak bahagia. Usianya sekitar 5 tahun. Berlarian adalah hobbnya. Terlihat sangat senang membuat orang lain kewalahan.
Linka tidak bisa mengalihkan pandangannya dan terus menatap dengan senyuman lebar melihat tingkah menggemaskan tersebut.
Beberapa pengasuh yang sebelumnya terlihat bermain bersama dengan gadis kecil itu terlihat sedang dikerjai.
Bermain sumputan sampai kelelahan, Linka tertawa renyah karena tahu tempat gadis itu tersembunyi.
Sementara gadis yang masih mengira bahwa dirinya aman karena tidak ada yang tahu tidak menyadari tatapan Linka.
Sesaat kemudian ia terkejut hingga terhuyung ke belakang. Linka mengayunkan telunjuknya. Salah nomor rekening isyarat dari sikapnya tersebut bahwa kenakalannya akan segera berakhir karena Linka akan memberitahu semua orang di mana persembunyiannya.
"Aniyo!" bibirnya manyun, gadis kecil itu menggeleng cepat. Mengarahkan jemarinya ke depan bibir, juga melantunkan bunyi 'sst' pada Linka.
Astaga, ini mengasyikkan.
Linka menuruti permintaan gadis itu dan membungkam mulutnya rapat-rapat. Memberi kode berupa jempol di udara juga untuk menekankan kesetujuannya berada di pihak gadis itu.
Setelah suasana berubah sepi —yang menjaga gadis tadi pergi— malaikat kecil itu memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyiannya kemudian langsung berlari menghambur ke pelukan Linka.
Linka tampak terkejut dengan tindakan yang sangat tiba-tiba tersebut. Tetapi dengan cepat membalas kembali pelukan pertama yang ia dapati di rumah ini.
"G-gum-mawo!" ucapnya, terdengar tak jelas tetapi sangat gemas.
Linka tidak tahu apa artinya itu, tetapi mendengarnya mengucapkan kata semanis itu membuat hatinya berbahagia.
Linka duduk, dengan posisinya yang setengah bejongkok seperti ini memudahkan mereka berkomunikasi.
"Siapa namamu?" tanya Linka, penasaran. Diusapnya punggung tangan lembut itu dengan seksama.
"Na?" salah satu jarinya menunjuk ke tubuh mungil tersebut. "An-na Ra ...."
"Ann?" Linka mengulangi. "Nama yang indah!" memberikan ciumaan singkat di pipi gadis mungil itu dengan cepat, sebagai hadiah pertemanan.
Mendapatkan kado pertemuan semenggemaskan itu membuat si gadis kecil tertawa bahagia.
"Namaku Linka. Senang bertemu denganmu."
"Yash!"
"Tetapi, lain kali tidak boleh begitu, ya. Mereka sepertinya kelihatan repot dan ketakutan saat kehilanganmu. Sepakat tidak lagi, ya?!"
"Um!"
"Hana Ra!" panggil seseorang, membuat kegiatan keduanya yang saling melempar tawa dan bermain bersama itu terhenti.
Suara baritonnya yang terdengar khas menggema ke seluruh ruangan.
Linka yang sebelumnya menata penuh ke arah gadis yang saat ini berdiri di hadapannya tentu saja mengalihkan pandangan ke arah sumber suara.
Terkejut tatkala mendapati sosok yang ia kenali sedang ikut balik menatap ke arahnya.
Raviarf Shaloka. Dengan senyuman selebar bunga-bunga yang bermekaran di luar sana melentangkan tangannya. Sekali lagi memanggil nama seseorang, seolah mempersilahkan tubuhnya tuk dipeluk hangat. Disusul dengan kedatangan gadis kecil yang sebelumnya berada di sisi Linka.
"Appa!" teriak Ann, gadis itu.
Sementara Linka mematung. Ia tidak mampu mengatakan apapu di tengah pertemuan kedua orang tersebut, antara bapak dan anak ini.
"Wah. Padahal kudengar tadi namanya Ann. Rupanya bukan Ann, tapi Hana. Hana Ra Shaloka. Gadis yang kuciuum itu Hana Ra Shaloka?!" pekiknya, dengan kedua lutut melemas.
Linka hampir jatuh sebelum pandangannya bertemu dengan Ravi. Kalah sekali lagi pada sorot mata itu. "Mampuslah aku."

Komentar Buku (58)

  • avatar
    NurbaitiNengsih

    Cerita nya sungguh mengerikan tapi kepenasaran 🤭👍👍

    22/06/2022

      3
  • avatar
    Natasya BellaRara

    baguss..

    03/07

      0
  • avatar
    SyahrilSyahril

    sangat relate👌

    03/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru