Polisi kemudian membuka perlahan paket yang ditujukan kepada Andre. Sebuah surat ada di dalamnya. [Sekarang kamu bisa bersenang-senang. Setidaknya kamu bisa menikmati indahnya dunia. Karena sebentar lagi kamu akan MATI.] Andre menghela nafas panjang. Lalu memejamkan matanya sejenak. "Dari gaya tulisannya sama seperti dari surat sebelumnya," ucap polisi. "Bisa saya menduga itu adalah Hendra, Pak. Roni masih belum bisa diajak ke luar rumah sakit. Keadaannya belum memungkinkan. Saya memiliki feeling jika Hendra berada di rumah masa kecilnya. Karena di sana memang rumahnya cukup bagus. Dan saya juga belum pernah mendengar keluarga Hendra menjual rumah tersebut," dugaan Andre. "Pak Andre masih mengingat rumah itu ada dimana?" tanya polisi. "Kalau tidak salah, rumahnya tidak jauh dari rumahnya yang baru, Pak. Mungkin kapan kita bisa segera ke sana?" balas Andre. "Kita memang harus cepat. Bisa jadi memang tujuan utama Hendra adalah Anda. Tetapi kita juga tidak bisa gegabah. Kita harus memantau terlebih dahulu di sana bagaimana. Mulai dari aktivitas dan siapa saja penghuni rumah tersebut. Baru kita bisa melakukan eksekusi. Pak Andre sebutkan saja alamat rumahnya!" jelas polisi. Andre kemudian memberikan alamat lengkap rumah Hendra yang tadi dimaksud. Andre kemudian pulang. Hari juga sudah semakin gelap. Dia tidak mau membuat Mosa makim khawatir. Satu bulan kemudian. Andre telah menerima informasi jika rumah yang dimaksud satu bulan lalu memang ditinggali oleh Hendra. Berdasarkan pemantauan polisi dari RT dan RW setempat. Dan polisi juga mendapatkan informasi jika rumah itu cukup tertutup. Hanya orang dalam saja yang bisa masuk ke dalam rumah tersebut. Untuk iuran sampah dan lain sebagainya warga lain dilarang masuk. Anak buah Hendra sudah diperintahkan untuk membayar lunas tagihan apapun tanpa harus masuk ke dalam rumahnya. Sudah sejak satu minggu lalu, Roni diperbolehkan pulang. Sehingga Andre juga sudah bisa mengajak berbincang Roni dengan santai. Tetapi Roni harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Roni mendekam di penjara lagi. Sepulang Andre bekerja, ia menuju ke tempat Roni ditahan. ''Ron, bagaimana keadaanmu?" tanya Andre. "Seperti yang kamu lihat, aku sudah bisa berjalan dan ngomong dengan jelas. Meskipun aku tidak bisa bergerak seperti dahulu. Dan aku masih harus mendekam di penjara," jawab Roni. "Setidaknya kamu masih bisa bertaubat, Ron," sahut Andre. "Iya. Terima kasih kamu juga sudah mendonorkan darah padaku saat aku memerlukannya. Entah ini bisa dikatakan baik atau tidak. Aku merasa hidupku sudah benar-benar hancur," tukas Roni. "Iya. Masa depanmu masih panjang. Setelah kamu bebas nanti kamu bisa bekerja denganku. Kamu jangan khawatir untuk tidak bisa bekerja! Aku juga akan menggaji kamu," sahut Andre. "Entah. Masa tahanan ku masih sangat lama. Membayangkan saja aku tidak sanggup. Apa Hendra sudah bisa ditangkap?" "Mungkin secepatnya. Masih butuh waktu juga. Ternyata menangkap dia tidaklah mudah," jawab Andre. "Iya. Posisinya memang cukup sulit. Tetapi penjahat pasti bisa tertangkap. Entah dari mana sebabnya. Aku juga ingin melihat Hendra tertangkap. Agar tidak lagi mengganggu orang lain," jelas Roni. Malam harinya dimana polisi sudah menghubungi Andre untuk ikut dalam penangkapan Hendra. Andre juga sudah meminta izin kepada Mosa. Meskipun berat tetapi Mosa tetap mengizinkan suaminya untuk turut bersama polisi. Di rumah yang dituju terlihat cukup sepi. Tidak terlihat aktivitas apapun di sana. Lampu juga terlihat gelap. Polisi menunggu dan memasang strategi di sana. Namun, ditunggu sampai dua jam masih juga sepi. Seorang polisi berhasil masuk ke dalam rumah. Dan melihat keadaan rumah. Ternyata rumah itu sudah ditinggalkan oleh penghuninya. Andre mencoba bertanya kepada seorang tetangga yang ada di sana. Ternyata mereka melihat, penghuni rumah itu keluar sejak sore hari. "Sepertinya kita terlambat. Mereka sudah kabur," ucap salah satu polisi. Andre merasa bahwa usahanya malam ini sia-sia. Dia melihat jam tepat pukul satu malam. Para rombongan tersebut pun kembali dan mengulang kembali untuk nen sri keberadaan Hendra. Andre pun juga pulang diantar Luki. Sesampainya di rumah, Mosa menyambut kedatangan Andre. "Kamu kok belum tidur?" tanya Andre setelah menutup pintu. "Aku nggak bisa tidur. Aku mikirin kamu. Apa Hendra sudah ditangkap?" balas Mosa. Andre menggelengkan kepalanya. "Dia sudah pergi sebelum kami ke sana. Rumah itu sudah kosong," terangnya. "Ya Tuhan. Menangkap orang jahat itu susahnya." "Semoga saja dia bisa segera tertangkap." "Tadi isi paketnya apa?" tanya Mosa mengingat Andre belum mengatakan isi dari paket yang didapatkan tadi. "Bukan apa-apa." "Jangan bohong! Coba katakan!" paksa Mosa. "Teror lagi. Sama seperti kemarin,'' jawab Andre "Ya Tuhan. Aduh!" keluh Mosa sembari memegang pipinya. ''Kamu kenapa?" tanya Andre. "Entah kenapa dari tadi sore gigiku sakit. Dan setelah mendengar ucapan kamu barusan gigiku makin sakit saja,'' jawab Mosa. "Kamu sudah minum obat?" "Aku tidak berani minum obat. Karena ibu hamil kan tidak bisa sembarangan minum obat," jawab Mosa meringis kesakitan. Andre berfikir sejenak. Memang benar apa yang dikatakan Mosa. "Ya sudah kita ke rumah sakit saja, ya!" ajak Andre. "Jangan sekarang! Nanti saja tunggu kalau sudah pagi. Ini masih terlalu malam. Sebaiknya kita istirahat saja dulu! Nanti aku buat tidur saja agar tidak terasa begitu sakit," tolak Mosa. Andre kemudian membawa Mosa ke dalam kamar. Setelah itu Andre membersihkan diri kemudian mengistirahatkan diri sebelum paginya memulai hari lagi. Esok harinya, Andre sengaja izin untuk mengantar Mosa ke rumah sakit. Sakit gigi yang dirasa masih cukup sakit jika dibiarkan saja. "Bagaimana, Dok? Apa ada obat untuk ibu hamil yang sedang sakit gigi?" tanya Mosa. ''Ada. Saya resepkan obatnya. Nanti bisa diambil di apotek. Memang ibu hamil harus bisa menjaga asupan selalu. Karena apa yang dikonsumsi ibu akan dimakan juga oleh janin di dalam perut," tutur Dokter. "Iya, Dok. Terima kasih banyak. Kalau begitu kami permisi dulu,'' pamit Andre. Sepulang dari rumah sakit, Andre langsung berangkat kerja dan meninggalkan Mosa di rumah. "Bagaimana tadi, Mosa?'' tanya Mina. "Sudah dikasih obat sih, Bu. Nanti aku minum kalau sudah makan. Aku mau makam masih malas. Gigiku sakit sekali rasanya. Sebelumnya belum pernah sakit gigi seperti ini," jawab Mosa. ''Ya sudah. Ibu sudah buatkan kamu jus alpukat. Setidaknya kamu harus makan atau minum sesuatu! Nanti kamu bisa minum obat setelah kamu menghabiskan jus alpukatnya," titah Mina. "Iya, Bu. Terima kasih. Ya sudah aku minum dulu jus alpukatnya," sahut Mosa. * Di kantor Andre. Bos Andre memasuki ruangan Andre setelah Andre baru saja sampai di kantor. ''Bapak ke sini. Silakan duduk, Pak!" sambut Andre. "Bagaimana masalah kamu, Dre? Sepertinya masalah kamu cukup pelik,'' tanya Bos Andre. "Iya, Pak. Memang seperti itu. Namun, saya juga berusaha untuk menyelesaikannya. Saya tidak ingin saudara saya terlampau jauh untuk melakukan perbuatannya," jawab Andre. "Ya sudah. Saya juga mendukung kamu menyelesaikan masalah kamu. Saya hanya mengingatkan kamu untuk menjaga performa kamu bekerja!" "Baik, Pak. Maaf kalau beberapa hari ini saya mengecewakan," ucap Andre. "Tidak. Tetapi saya melihat kamu kelelahan. Sebaiknya kamu juga menjaga kesehatan! Takutnya dengan kamu memforsir tubuh kamu, kamu bisa saja sakit," sahut Bos Andre. "Baik, Pak. Saya akan lebih menjaga kesehatan. Dan saya juga minta maaf jika selama bekerja di sini saya memiliki banyak salah kepada Bapak sebagai atasan saya," balas Andre. Bos Andre tercenung. Dia seperti melihat Andre akan pergi jauh. "Pak?" panggil Andre. "Oh ya?" Bos Andre baru sadar dari lamunannya. "Saya juga minta maaf, ya! Tetapi selama ini kamu tidak pernah memiliki kesalahan kepada saya." "Ya sama-sama, Pak. Setiap manusia pasti punya salah dan dosa, Pak. Mungkin Bapak belum menyadari saja kalau saya mungkin berbuat salah dengan Bapak. Dan saya minta maaf belum bisa menempati rumah pemberian Bapak. Mungkin Bapak juga sudah mendengar dari Luki alasannya,'' sahut Andre. "Iya, tidak masalah. Kapan pun kamu bisa menempati rumah itu," balas Bos Andre. "Kalau misal saya tidak lagi bekerja di perusahaan, nanti rumah itu akan kembali ke Bapak," ucap Andre. Lagi-lagi ucapan Andre membuat bosnya termenung. "Tidak. Rumah itu untuk kamu. Atas nama kamu juga. Jadi kalau misalkan nantinya kamu sudah pensiun, rumah itu bisa ditempati istri atau anak kamu. Saya dengar istri kamu sudah akan melahirkan, kan?" sahutnya. "Iya, perkiraan bulan depan. Mohon doanya saja, Pak!" tukas Andre.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (270)
TinokHartinok
bagus ceritanya👍👍👍👍
25/05
0
Annaznissa
best jalan cerita nya
23/01
0
Nur FadillahArumi
bagus kk tulisan nya juga jelas kadang ada yang belibet
bagus ceritanya👍👍👍👍
25/05
0best jalan cerita nya
23/01
0bagus kk tulisan nya juga jelas kadang ada yang belibet
23/12
0Lihat Semua