Hati Lena menolak keras agar jangan sampai percaya pada foto-foto yang ia terima dari mantan istri sang suami. Namun entahlah, rasa cemburu itu seolah mempermainkannya. Menekan sanubarinya agar percaya pada bukti-bukti yang ia punya. Meskipun begitu, Lena tak mau melakukan kesalahan yang sama. Wanita ayu ini tetap berusaha menjaga bicaranya. Ia tak ingin termakan ego lagi seperti saat wanita itu datang dan mengatakan masih istri sah sang suami. Yang pada kenyataannya itu hanyalah tipuan berlaka. Lena tak ingin kejadian memalukan itu terulang kembali. Maka dari itu Ia pun sekuat tenaga, berusaha tidak terpancing oleh sesuatu yang belum terbukti nyata. Ia tetap bersikap biasa pada sang suami. Bersikap seolah tak ada apa-apa. Tak terjadi apa-apa pada hatinya. Suhu tubuh Lena kini telah kembali normal, meskipun masih terlihat lemas dan pucat. Ia tetap tersenyum dan tertawa, terlebih saat menghadapi celetukan Zia. Baginya Zia juga termasuk pembawa kebahagiaan tersendiri baginya. Terlepas saat ini Zia telah mengenal ibu kandungnya. Saat ini Bima sedang membersihkan seluruh rumah. Menyapu, mengepel, memasukan baju-baju kotor seluruh keluarga ke dalam mesin cuci. Kecuali baju dalam Lena. Lena melarang keras sang suami menyentuhnya. Sebab itu tak etis bagi Lena. Bima juga tak mengeluh sedikitpun mengerjakan pekerjaan rumah yang biasa dilakukan sang istri. Mereka memang selalu kompak dan bertanggung jawab akan tugas-tugas rumah yang telah mereka sepakati. Sore itu, setelah Bima menyelesaikan seluruh pekerjaannya. Ia pun segera mandi dan mempersiapkan diri agar bersih dan wangi untuk berkumpul dengan anak istrinya di kamar. Senyum mengembang di antara kedua wanita yang ia sayangi itu. "Gimana Bunda, udah enakan belum?" tanya Bima sambil mencium kening sang istri. Lena menyambut ciuman itu dengan hati bahagia tentunya. "Udah Mas, ini Bunda juga barusan bangun sholat. Mas udah sholat belum?" tanya Lena sambil berusaha bangun dari pembaringan. "Mas udah sholat. Ada yang dirasa sakit nggak Bunda?" tanya Bima perhatian. "Nggak, Mas. Udah enakan. Apa lagi putri cantik Bunda ni mipijitin kepala, lengan, sampai dada Bunda juga di pijitin. Enak bener deh rasanya!" puji Lena untuk Zia. Dengan sikap manisnya Zia pun tersenyum malu-malu. "Iya Dek, Zia pijitin Bunda?" tanya Bima, bermaksud membuat Zia makin menyayangi wanita yang dinikahinya. "Iya, Bi," jawab Zia malu-malu. Lena pun langsung memeluk gadis cilik yang begitu menyayanginya itu. Sambil menggoda Zia sesekali Bima mencuri padang wajah sang istri. Jujur ingin rasanya pria tampan ini memeluk dan mencium serta melakukan apa yang dikendaki oleh hatinya. Namun, ia tak mungkin senekat itu. Di samping ada Zia, ia juga tak mungkin melakukan itu tanpa izin. Ia takut, tanpa bertanya sesat di jalan. Bima tak mau apa yang akan ia lakukan nantinya menyakiti sang istri. Bima setia menunggu sang istri mempersilakan dirinya untuk masuk lebih jauh ketahap itu. Bima tahu jika itu adalah haknya. Tetapi tetap saja ia tak ingin memaksakan kehendak. Terlebih sejak tadi, Lena hanya sibuk bercanda dengan Zia. Jarang sekali menoleh padanya. Sebenarnya pria ini merasa lain sih. Hanya saja ia tak berani bertanya. Tak terasa obrolan mereka telah mengantarkan mereka sampai pada waktu menjelang magrib. "Ya Allah, sudah magrib saja ya! Keasikkan Bunda becanda ama si cantik ni ha," ucap Lena sambil mengelitik perut Zia. Gadis cilik itu pun tertawa bahagia. Bima hanya tersenyum sebab ia ingin gabung namun masih tak nyaman. Alasannya tetap sama, Ia takut nantinya Lena tak nyaman dengan candaannya. Soalnya tak dipungkiri sejak tadi, perhatian Lena hanya tertuju pada Zia. Wanita cantik ini hanya sesekali saja menjawab pertanyaannya. Itu pun menjawab dengan sangat singkat, setelahnya pasti perhatiannya fokus pada Zia lagi. Membuat Bima minder. Bersyukur Lena cepat baikan. Ia pun beranjak dari pembaringanBersiap melaksanakan salat berjamaah dengan sang suami yang ia cintai ini. "Mas bantu ya Bunda!" tawar Bima. Lena mengangguk. Bima pun meraih pelan tubuh sang istri dan mengantar sang istri ke kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi, Bima tak mau keluar. Pria aneh ini malah diam sambil senyum-senyum aneh. Membuat Lena bingung. "Kok Mas nggak keluar? Ada yang mau diomongin?" tanya Lena. Bima jadi malu. Ia pun segera berpamitan. "Eh, iya maaf Bun," jawab Bima, ia pun membalikkan tubuhnya. Namun anehnya ia memutar lagi, menghadap Lena, seolah tak rela jika pergi tanpa menyampaikan sesuatu yang ia risaukan. "Loh kok masih di sini?" tanya Lena lagi. "Emmm, itu ... itu Bun. Em, apa ya!" ucap Bima gugup. Lena mengerutkan keningnya. Tersenyum sekilas, sebenarnya wanita ini menahan tawa, menurutnya Suaminya ini aneh. "Apa abinya Zia, mau ngomong apa?" tanya Lena lagi. Berusaha memacing keberanian sang suami. "Eh itu, Bun. Mas tunggu di luar ya. Kita salat bareng!" jawab Bima gugup. Lena tertawa pelan. "Iya abinya Zia. Ini mau siap-siap. Ya udah tunggu di luar. Malu atuh," jawab Lena sambil bercanda. Sedikit menggoda Bima. "Em, satu lagi Bun," ucap Bima sambil menatap takut ke arah Lena. "Iya apa? Bilang aja Mas mau tanya apa!" Bima pun mendekat ke arah sang istri, hendak mengambil sesuatu yang ia inginkan. Sayangnya saat tubuh mereka semakin dekat, terdengar teriakan Zia memanggil nama mereka. Membuat mereka terkejut dan tersipu malu tentunya. "Itu, Zia panggil!" ucap Lena mengingatkan. "Boleh nggak, Bun, cium dikit aja," pinta Bima. Lena tersenyum. Lalu, tanpa aba-aba Bima pun mendekatkan bibirnya dan penyatuan bibir itu pun terjadi. Kecupan pertama mendarat dengan sempurna tanpa penolakan. Di kecupan berikutnya, mereka semakin berani. Bima semakin nakal. Bahkan bibirnya kini telah sampai di leher jenjang sang istri. Beberapa kali terdengar desahan manja lolos dari bibir Lena. Membuat semangat Bima untuk melakukan lebih semakin membara. Bima mengembalikan kecupan itu di bibir manis sang istri. Dengan penuh cinta, Lena pun membalas kecupan itu dengan pangutan seirama dengan apa yang Bima lakukan. Ciuman itu makin panas dan ganas. Membuat tubuh keduanya berasa panas dingin. Bima dan Lena tak memungkiri bahwa saat ini mereka menginginkan lebih. Sungguh... Lena mencoba menepis kemarahan yang ada di sudut hatinya. dan mencoba ikhlas menerima tugasnya sebagai istri. Andai saat ini, Bima menerima lebih, Lena ikhlas. Ia tak ingin egois. Bima semakin nakal kala Lena tidak menolak apapun yang ia lakukan. Bahkan ketika Bima berani menjamah dada sang istri. Meremas nya pelan. Sesuai cecapan bibir yang mereka lakukan. Namun sayang, ketika Bima hendak membuka kancing baju sang istri. Teriakan Zia kembali terdengar. Hingga mereka pun terpaksa menyudahinya aksi perkenalan hasrat itu. Tapi, meskipun begitu, baik Bima maupun Lena, mereka sama-sama tidak bisa menutupi. Bahwasannya mereka bahagia dengan apa yang baru saja terjadi antara mereka. Bersambung...
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
semangat buat cerita nya seru
15d
0bagus
20/08
0keren
16/08
0Lihat Semua