Beranda/(Not) My Dream, Mas!/
Bab 39 Ayah
haiiii, aku update lagi!!!
mumpung free, jadi aku tuntasin sekalian cerita ini, karena petengahan bulan nanti pasti bakal sibuk persiapan lebaran—apalagi banyak keluarga yang mau dateng, mengingat kondisi udah mulai stabil kan. makanya di lebaran nanti, aku libur nulis dulu. hehehe.
BTW gaes, ada sesuatu di chapter ini. dan chapter ini lebih panjang dari kenanganku bersama abang grab. eh! HAHAHAHA baca gih! jangan lupa share cerita ini ke temen-temen kalian, yha.
~ p i r i d i n g ~
[]
"Tiara."
"Kenapa sama dia? Apa yang dia lakuin?" desak Ringga.
Terjadi jeda selama beberapa detik. Clara meraup oksigen di sekitar—berharap dengan begitu, mampu mengurangi sesak yang mencekik. Momen yang tak diharapkan Clara, justru disuguhkan semesta, dan kini tepat di depan mata. Padahal ia telah membuang jauh-jauh kenangannya bersama Ringga karena ia harus banyak-banyak tahu diri. Selain derajat keduanya yang berbeda, dari segi pendidikan dan lainnya juga mereka tidak sebanding.
"Cla, tolong jelasin; apa yang udah Tiara lakuin ke kamu?" cecar Ringga, menatap Clara penuh permohonan. "Apa gara-gara dia, kamu ninggalin aku?"
"Mas—"
"Kita perlu bicara, oke? Tolong jangan nolak." Tanpa komando, pria itu menarik Clara ke meja tadi, disambut tatapan sinis Lili. Anak itu masih khusyuk menikmati steak. "Lili, kenalin ini Tante Clara."
"Hai, Lili," sapa Clara, kaku, lalu beranjak duduk di samping Lili.
Yang disapa enggan bereaksi, ia buang pandangan ke sembarang arah—sambil tetap menikmati steak favoritnya. Sekali lagi, Lili telanjur kecewa pada perempuan bernama Clara. Perempuan yang berhasil merebut perhatian papanya hingga pria itu ingkar janji, juga bikin mamanya menangis. Karena buat Lili, tak seorangpun boleh memisahkan papa dan mamanya.
"Maaf ya, Cla," ucap Ringga, mewakili.
Clara mengangguk. "Nggak apa-apa, Mas."
"Om Iga, udah," ujar Lili, begitu steak-nya tandas, lalu berangsur turun dari kursi, berpindah ke sebelah Ringga. "Mau main di game fantasia boleh, nggak?"
"Boleh."
"Tapi ditemenin Om Iga," rengek Lili, lantas iris bulatnya melirik sengit figur Clara.
Menyadari itu, Clara pun tersenyum tahu diri. Salahnya juga karena meminta bantuan Eltristan di waktu yang nggak tepat. Tapi, mau bagaimana lagi? Ia benar-benar butuh pertolongan, seperti apa yang disampaikan Eltristan di pertemuan terakhir jika dirinya butuh bantuan, jangan pernah sungkan menghubungi pria itu. Tapi ternyata; menghubungi Eltristan bukan pilihan. Memang sih, masalahnya selesai, tapi sekaligus menghadirkan masalah baru.
"Oke." Ringga mengiakan. Digiringnya si kecil dan sang mantan ke area game. Sembari mengawasi Lili di ujung, kedua tangannya dilipat di depan dada, kemudian memulai obrolan. "Sekarang coba kamu jelasin; apa yang udah Tiara lakuin ke kamu?"
"Apa aku bisa percaya, sedangkan kamu suami dari Tiara!" sahut Clara. Spontan mengurai lipatan tangan, Ringga terperangah. Clara tersenyum kecut. "Harusnya aku lebih tahu diri waktu itu, karena cinta yang tumbuh di antara kita justru menghilangkan nyawa ayahku."
"Cla, tolong jangan berbelit!"
"Setelah kamu bilang mau dateng ke rumah untuk ngelamar aku, Tiara ngelabrak aku. Dan nuduh aku ngerebut kamu dari dia," ujar Clara, mengingat memori pahit dalam hidupnya. "Gara-gara dia ngomong gitu di depan banyak orang, aku kehilangan pekerjaan. Bosku ngira kalau aku cewek nggak bener, makanya aku dipecat dari butik tempat aku kerja."
Ringga berjengit.
"Padahal saat itu ayahku lagi sakit, Mas. Kalau aku nggak kerja, siapa yang bakal cari nafkah? Ibuku cuma buruh cuci yang gajinya nggak seberapa, ditambah abangku yang pemabuk. Kamu tahu 'kan gimana dia? Pulangnya karena butuh uang, setelah itu pergi entah kemana," lanjut Clara, pilu.
"Setelah kejadian itu, aku milih ngejauh dari kamu, dan pergi ke luar kota supaya bisa dapet kerjaan yang lebih baik. Tapi ...." Berhenti sebentar, Clara menghela napas gusar. "Keputusanku pergi malah bikin keadaan tambah runyam. Aku nyaris dilecehin atasanku dan diiming-imingi materi. Untungnya, Tristan ada di sana, lalu dia nolongin aku."
"Jadi, kamu kenal Tristan udah lama?" Nada bicara Ringga seolah sedang menginterogasi.
Clara mengangguk. "Kamu kenal juga, Mas?"
"Dia adikku."
"Apa?!"
***
Sejak bertemu Clara dan mengobrol di mall, Ringga tidak lagi bersuara. Tentu Lili yang sedari awal menaruh rasa benci pada perempuan itu jadi curiga; apa Clara yang menyebabkan Om Hero-nya berubah? Maka setibanya di apartemen, gadis enam tahun itu menghentikan langkah di depan pintu. Otomatis Ringga yang sadar turut menjeda langkah. Pria itu mengernyit, menatap bingung putrinya, sementara yang ditatap kontan menceletuk, "Lili nggak suka lihat Om Iga deket-deket Tante Clara."
"Kenapa, Sayang? Tante Clara baik, kok." Ringga membungkuk.
Lili cemberut. "Tapi Lili nggak suka, Om!" tegasnya, dengan nada tinggi. Ayah kandungnya diam. Wajah Lili berubah muram sebelum nada bicaranya berganti lirih. "Lili takut Om Iga pergi juga kayak Papa."
Ringga terenyak.
"Lili sayang Om Iga," sambung Lili, menghambur memeluk Ringga. Dan lagi-lagi, tindakannya itu berhasil meyakinkan Ringga. "Lili pengin Om Iga terus sama Lili."
Berjongkok, pelukan Lili agak mengendur. Tapi kemudian Ringga tarik tubuh mungil anaknya ke dalam dekapan sambil sesekali ia kecup pipi chubby anak itu. Harapan yang sama, ia langitkan lewat doa. Bahkan jika boleh, ingin rasanya ia mendengar Lili memanggilnya Ayah. Ia ingin semesta tahu bahwa dia lah ayah kandung Aily. Namun, ia juga tahu diri; yang dijumpainya kini adalah apa yang dia tinggalkan di masa lalu.
"Om Iga sayang 'kan sama Lili?" tanya Lili, pelan.
"Iya, sayang banget," tegas Ringga, sendu. Pelukannya kian erat.
Muncul senyuman Lili, lalu dekapannya terhela. "Makasih, karena Om Iga udah jadi temen Lili. Sekarang kita sahabat ya, Om." Jari kelingkingnya terulur di depan wajah Ringga. Tanpa pikir panjang, pria itu mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking si kecil.
Ringga tidak keberatan bila putrinya menganggap dia sebagai sahabat, karena Ringga sendiri tidak hanya ingin menjadi ayah, tapi juga bisa jadi sahabat untuk anak perempuannya. Agar Lili tidak sungkan berbagi. Dan Ringga semakin mudah mengawasi.
"Sahabat!" seru keduanya, kompak, lalu mendekatkan hidung dan digesek perlahan, diakhiri tawa. Sungguh menggemaskan!
"Ringga!"
Panggilan Tiara menyita perhatian Ringga dan Lili.
Disusul decakan Ringga. "Lo lagi. Ngapain?"
"Mau sampai kapan sih kita kayak gini?"
"Sampai lo sadar kalau di hati gue nggak ada lo!" tukas Ringga, bangkit. Diajaknya Lili masuk, tapi dengan segera Tiara mencekal pergelangan tangannya. Praktis gerakkan Ringga terinterupsi. Pria itu berdecak. "Lili masuk dulu, ya. Om Iga mau ngomong sama Tante Tiara bentar."
"Tapi jangan lama-lama ya, Om," pesan Lili.
"Emang kenapa kalau lama?" serobot Tiara, judes. "Eh, anak kecil! Asal kamu tahu ya, Om Ringga ini suami Tante, jadi kamu nggak berhak ngatur-ngatur dia! Lagian, kamu ini kayak nggak punya orang tua aja, segala main ke apartemen orang dewasa!"
Lili mewek.
Ditengahi Ringga. "Jaga mulut lo ya, Ti! Kalau lo lupa, Lili anak gue!"
"Emang seyakin itu ya, kalau Diva hamil anak kamu? Bisa jadi anaknya Tristan, 'kan?" Tiara tertawa mencela. "Hubungan Diva sama Tristan itu nggak sebentar. Pasti banyak hal yang mereka lewati tanpa sepengetahuan kamu. Dan logikanya; mana sudi Tristan ngerawat anak yang bukan darah dagingnya, bahkan bisa dibilang luka buat dia?"
Ringga bungkam, agak terhasut.
"Aku aja yang dimintain tolong bentar buat jagain, ogah!"
"Gue lebih tahu Diva!" tekan Ringga, berusaha teguh.
Tawa Tiara sontak menyembur—lagi. "Oh, ya? Tapi aku sepupunya loh. Yang tahu seluk-beluk dia sebelum kenal kamu. Apalagi dulu kita akrab banget. Banyak cerita yang dia bagiin ke aku, yang mungkin aja nggak kamu tahu."
"Terserah! Gue nggak akan kemakan omongan lo lagi!"
"Ga, aku nggak ngarang cerita!"
Ringga enggan meladeni, digiringnya si kecil masuk, tapi lagi-lagi Tiara menghalangi. Pria itu menggeram. "Stop ya, Ti! Jangan ganggu gue, karena gue udah memutuskan bakal gugat pisah lo secepatnya."
"Terus, anak yang—"
"Itu bukan anak gue!" penggal Ringga, "Dan sekarang jabatan bukan sesuatu yang perlu dikejar, karena yang berarti dalam hidup gue cuma Aily!" tegasnya, "Oh, satu lagi. Clara."
Mendengar nama Clara, Tiara kontan terperangah syok.
Giliran Ringga yang tertawa mencela. "Kaget?"
"Kamu—"
"Iya, gue udah nemuin Clara, dan gue juga tahu; apa alasan dia pergi dari gue." Ringga tusuk netra bening Tiara melalui tatapan tajam. "Inget baik-baik, kalau sampai lo macem-macem lagi, gue bakal bongkar aib lo di depan keluarga besar lo, biar lo dan bonyok lo malu sekalian!"
"Kenapa kamu ngancem aku?"
"Lo pikir aja sendiri!" pungkas Ringga, lalu benar-benar masuk, dan membanting pintunya keras-keras. Tiara nyaris terjungkal karena ulah tengil suaminya itu.
Ringga langsung mengempaskan diri ke sofa, sedang Lili duduk di sebelahnya—menatapnya bingung seraya bertanya, "Om Iga, Tante Tiara nggak suka sama Lili, ya?"
"Udah, ya, nggak usah pikirin. Yang penting 'kan Om Iga selalu sayang sama Lili dan Om Iga seneeeng banget Lili main sama Om Iga." Ringga menenangkan di tengah kekacauan batinnya. Tapi dia tetap yakin kalau Lili memang anaknya. Sebab selama berhubungan dengan Eltristan, Diva mengaku tidak pernah berbuat jauh. Toh, Eltristan sendiri juga tidak pernah neko-neko—setahu Ringga.
Lili menghambur memeluk Ringga. "Tadi kenapa Om Iga sama Tante Tiara sebut-sebut Tante Diva?"
Butuh tiga menit bagi Ringga mengumpulkan tekad. Selain Clara, nama Diva juga sudah melekat di hatinya. Bahkan sebelum pergi, Diva meninggalkan harta paling istimewa untuk Ringga. Harta yang sempat Ringga sia-siakan, kini tengah mendekapnya penuh kasih, memberikan rasa damai.
Ringga mengesah.
Lili mendongak. "Om Iga ...."
"Iya, Sayang?" sahut Ringga, menurunkan pandangan.
"Terus, kenapa Om Iga bilang kalau Lili anaknya Om Iga?"
"Karena ..." Bibir Ringga bergetar. Semestinya bukan perkara sulit mengatakan siapa dia sebenarnya, tapi, apa Lili bisa terima? Apa anak itu akan dengan terbuka menyambut ayah yang sudah menolak kehadirannya? Dan siapkah Ringga pada kemungkinan-kemungkinan yang ada? Pria itu berangsur turun, duduk di karpet, membiarkan putrinya tetap berada di sofa.
Lili mengernyit. "Kok, Om Iga duduk di situ?"
"Aily ...," desis Ringga, ia raih tangan kecilnya untuk digenggam, sedang iris abunya menyorot Lili lekat-lekat. "Kalau Tuhan kasih Lili dua ayah, apa yang Lili rasain?"
"Eum ...." Lili menunjukkan raut berpikir. Sepersekian detik, lalu ia gelengkan kepala. "Nggak tahu deh. Tapi Bulan selalu sedih, karena satu ayahnya nggak sayang sama dia."
"Bulan itu siapa?" tanya Ringga.
"Temen Lili," jawab Lili. "Pacarnya Abi."
Ringga menahan napas. Entah makhluk seperti apa yang dijumpai putrinya di sekolah. Kenapa saben hari Lili mendapat kosakata yang bikin bapaknya sesak napas? Apa perlu Ringga memindahkan Lili ke sekolah yang lebih waras? Dan satu lagi; makin hari, anak ini tambah kritis dalam menanggapi setiap obrolan.
"Kalau dua-duanya sayang sama Lili, Lili sedih nggak?"
"Enggak dong."
"Kalau ternyata Om Iga ayahnya Lili, apa Lili bersyukur?" pancing Ringga. Ia tidak boleh gegabah. Pasalnya, Lili nggak seperti anak kebanyakan yang bakal dengan mudah menerima. "Tapi kalau Lili nggak mau jawab—"
"Terus, Papa Tristan?"
Hening meraja. Ringga meringis. Tentu figur Eltristan akan jadi pertanyaan besar bagi Aily karena selama ini pria itu lah yang dipanggilnya Papa, yang telah menyamarkan peran ayah, sekaligus memberinya cinta dan kasih sayang—biarpun dengan cara yang tak biasa.
Mengembuskan napas, Ringga lantas menjelaskan, "Sayang, Papa Tristan itu adiknya Ayah. Dan Ayah Ringga ini ayah kandungnya Lili." Jeda, ia usap pipi chubby putrinya dengan lembut. "Maaf ya, kalau Ayah baru dateng dan bilang ini ke Lili, karena ada sesuatu yang harus Ayah selesaikan. Tapi setelah ini Ayah janji, Ayah bakal jagain Lili sampai kapanpun."
Lili menggeleng dengan tatapan tidak percaya.
"Aily, ini Ayah," tegas Ringga, kalem.
"Lili mau pulang ke rumah Papa," rengek Lili.
"Iya, boleh. Tapi Lili harus janji sama Ayah, Lili jangan ninggalin Ayah, ya?" pinta Ringga, memelas. "Ayah nggak mau pisah sama Lili lagi. Ayah sayang sama Lili. Lili janji?"
"Lili mau pulang," cicit Lili.
Ringga tidak punya pilihan selain mengantar Lili ke rumah Yuri—seperti biasa, karena Eltristan akan menjemput Lili sepulang kerja. Dan setibanya di sana, mereka disambut tatapan tajam Eltristan, berikut pukulan telak pria itu pada perut Ringga yang membuat ayah biologis Lili tersungkur, sementara Dinda dengan sigap menarik Lili dan menutup mata anak itu.
"El, cukup!" lerai Yuri.
"Kali ini Mama nggak usah ikut campur!" Eltristan memperingati.
Yuri menggeleng. "Nggak, El!"
"Ma, plis ...."
"Mau sampai kapan kalian kayak gini? Mama sedih loh lihat anak-anak Mama nggak akur," desis Yuri, getir. "Ayolah, lunakkan hati kamu, El. Mama tahu ini nggak mudah, tapi kalian nggak bisa terus-terusan kayak gini."
"Mama bener, El. Kita perlu bicara," sela Ringga.
Menyulihkan atensi, Eltristan menyeringai cuai. "Apa yang perlu dibahas? Perselingkuhan lo sama Diva? Status lo sebagai suami Tiara? Hah?!"
"Semuanya, termasuk Clara."
//
Tiara itu definisi orang pendiam; diam-diam menebar kebencian, diam-diam menghasut banyak pihak, diam-diam ... (isi aja sendiri wkwk) tapi related nggak sih sama sifat beberapa manusia di muka bumi ini?
next nggak?Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (48)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
kayak uda agak ketebak endingnya.tapi tetap menarik banget dibaca
08/01
0penipuan jangan download nanti nyesel
17/11
0hebat
27/10
0Lihat Semua