"Ratna ayo bangun, sudah pagi nak." tegur Ibu untuk membangunkan Ratna yang sedang tidur pulas di ranjangnya. Ratna yang sejak semalam menangis terus karena memikirkan kematian Noni, pagi ini juga masih suka menangis sendiri jika ingat dengan Noni. Ibu yang melihat anaknya yang suka menangis itu jadi ikut terbawa emosi, ia juga jadi sedih melihat anaknya seperti itu, takut kalau nanti psikologisnya jadi terganggu karena sudah merasakan kehilangan seseorang yang telah Ratna sayangi. Doni yang merasa dari semalam ada hal yang tidak beres, ia hanya diam saja, karena tidak mau merepotkan dan mengganggu Kakak dan Ibunya. Sementara itu Pak Dirman juga ikut sedih melihat tingkah anaknya itu, ia merasa kasihan dan tidak tega kepada anaknya itu, tapi ia juga merasa bahwa anaknya harus belajar menerima kenyataan pahit dalam hidup, bahwa dimana ada kehidupan disitu pasti ada kematian. Seperti hari-hari biasanya, pagi ini Ratna diantar ke Sekolah oleh Ibu dan Doni, sepanjang perjalanan Ratna hanya diam dan termenung, sesekali ia hanya menunduk. Ketika sampai di depan kelas, Ratna disambut oleh Bu Guru dan teman-teman, setelah cium tangan Bu Guru, tiba-tiba tubuh Ratna langsung dipeluk oleh Bu Guru, seketika itu tangisan Ratna dan Bu Guru pecah, diikuti juga tangisan siswa yang lain, karena mereka juga ikut berduka. "Teeet... teeettt.... teeettt..." suara bel Sekolah berbunyi yang menandakan bahwa mereka harus masuk dalam kegiatan belajar dan mengajar. Ibu Guru menyudahi tangisannya dan menenangkan Ratna dengan cara mengelus punggung Ratna, kemudian mengajaknya untuk masuk ke dalam kelas dan semuanya pun ikut masuk ke dalam kelas. Di dalam kelas Ratma bertemu Vika, mereka hanya terdiam, Vika enggan menegur Ratna karena takut ia semakin sedih, jadi mereka berdua hanya saling diam, untuk menenangkan rasa berduka. Beberapa jam kemudian, Vika yang lelah berdiam diri akhirnya mencoba melirik ke arah Ratna, ia menemukan Ratna seperti tidak semangat belajar. Tiba-tiba bel istirahat berbunyi, "Teeettt... teeettt... teeettt... " Semua siswa kegirangan dan ada juga yang bersorak, mereka berangsur keluar dari dalam kelas menuju kantin, yang letaknya ada di belakang sekolah. Ratna pun juga ikut keluar kelas, guna membeli beberapa snack kesukaannya untuk mengembalikan tenaganya, yang daritadi malam terkuras habis karena menangis. Tapi di tengah perjalanan, Ratna mendengar Vika berteriak, "Ratnaaa! Ratnaaa! " teriak Vika dari kejauhan, yang berusaha memanggil Ratna ketika ia pergi ke kantin sekolahnya seorang diri. Ratna pun menoleh dan menjawab "Iya, ada apa?" "Sini deh, duduk sebentar, aku ada perlu." ungkap Vika sambil menarik tangan Ratna dan mengajaknya duduk ke pojokan samping kelas 6. "To the point aja ya, aku mau ngasih buku diary milik Noni, waktu pulang sekolah bukunya jatuh di bawah meja, lalu aku ambil, belum sempet aku baca sih soalnya dikunci." jelas Vika sambil menyodorkan buku diary Noni dengan gambar Teddy Bear. "Yah kok dikasih ke aku sih, kenapa gak dikasih ke Bu Guru aja?" jawab Ratna sambil menggolengkan kepalanya tanda tidak setuju. Tapi Vika tetap memaksa Ratna untuk menerima bukunya, karena Vika takut jika ia sampai dipanggil Ibu Guru untuk menjelaskan tentang buku diary milik Noni yang dia temukan. "Nih inih! " perintah Vika sambil mengambil tangan kanan Ratna dan meletakan bukunya di tangan Ratna, dengan terpaksa Ratna menerimanya dan membawanya kembali ke kelas, lalu memasukan buku tersebut ke dalam tasnya. "Teeet... Teeeet... Teeeet..." bel sekolah pun berbunyi, tanda istirahat telah usai, anak-anak berangsur masuk ke dalam kelas masing-masing begitu juga dengan Ratna. Ratna bingung dengan tindakan apa yang harus ia ambil untuk buku diary milik Noni, hingga ia tidak fokus dengan guru yang sedang menjelaskan pelajaran. Suara teman-teman kelasnya yang berisik hanya menjadi suara dengungan, tidak terdengar jelas karena ia hanya sibuk memikirkan buku diary milik Noni, sambil terkadang ia melamun karena ia bingung tidak tau harus berbuat apa. Dari arah bangku lain, Vika memperhatikan Ratna sedari bel masuk berbunyi, ia juga mengerti apa yang dirasakan Ratna, hingga ia memutuskan untuk bangun dari kursi dan menghampiri Ratna. "Nih nomer hp aku." ungkap Vika sembari tangannya meraih pulpen untuk menulis di buku milik Ratna. Ratna pun diam tak bergeming, ia hanya memperhatikan yang dilakukan Vika, lalu Ratna teringat sesuatu bahwa ia tidak memiliki Hp, tapi ia lupa mengatakan hal itu kepada Vika, sampai akhirnya Vika kembali duduk ke bangku belakang. Hingga mata pelajaran selanjutnya berganti, Ratna tetap galau dengan pikirannya sendiri, hatinya seolah berkecamuk, berontak bahwa ia yang menjadi penyebab kematian Noni. Bu Guru yang sejak tadi memperhatikan Ratna, hanya bisa memaklumi keadaannya, karena ia mengerti bahwa Ratna sedang berduka. "Anak-anak, bagaimana kalau hari ini sepulang sekolah kita datang sebentar ke rumah mendiang Noni, untuk mengucap belasungkawa kita terhadap berpulangnya mendiang Noni." ajak bu guru, yang bertanya langsung kepada anak-anak didiknya di depan kelas. "Ya boleh bu." jawab sebagian anak-anak yang lain, sedangkan sisanya setuju untuk mengikuti, kemudian mereka saling memberi donasi seikhlasnya untuk diberikan kepada Ibunda Noni. Hingga akhirnya jam pulang pun berbunyi "Teeettt... teeettt... teeettt..." Semua murid bergegas merapikan peralatan tulis mereka, lalu dengan sigap semuanya berdo'a bersama dan memberikan salam perpisahan kepada Ibu Guru seperti biasanya. Ibu Guru yang sudah menunggu di depan kelas berkata "Ayo anak-anak jangan pulang dulu, kita ke rumah mendiang Noni sebentar, kebetulan rumahnya dekat kok dari sini, ayo sini." ajak Bu Guru kepada semua anak muridnya. Semua anak murid berjalan mengikuti Bu Guru, begitupun dengan Noni dan Vika, mereka berjalan saling bergandengan tangan. Ketika sampai di depan rumah Noni, Bu Guru mengucap salam, "Assalamualaikum." tapi rumah noni terlihat sangat sepi, tidak ada yang menyahut salam dari Bu Guru. Sekali lagi Ibu Guru mengucap salam, "Assalamualaikum." teriak Bu Guru dengan lebih keras dari sebelumnya. Dan terdengar seseorang menjawab salam dari "Waalaikumsalam." rupanya dia adalah tantenya mendiang Noni. Kemudian tante Noni membukakan pintu pagar, dan menyuruh semuanya untuk masuk ke dalam rumah Noni. "Maksud tujuan kami semua datang ke sini ingin mengatakan berbela sungkawa atas kepergian mendiang Noni bu." cakap Bu Guru dengan sopan kepada Tante Noni. "Oh iya bu, terimakasih banyak, tunggu sebentar ya, saya buatkan minum dulu, sambil tunggu Ibunda Noni pulang, karena baru saja ia pergi ke pasar." jawab Tante Noni dengan lembut nan lugas. "Oh gak perlu repot-repot bu." ucap Bu Guru menenangkan Tante Noni supaya tidak merepotkan dirinya. "Oh gak apa-apa bu." balas Tante Noni sambil tersenyum, lantas bergegaslah ia masuk ke dalam dapur menyiapkan minuman dan cemilan. "Assalamualaikum." ucap sesosok wanita paruh baya, berbalit baju gamis merah maroon, yang ternyata adalah ibunda Noni yang masuk ke dalam rumahnya. "Waalaikumsalam." semuanya menjawab salam dengan kompak. Ibu Guru langsung beranjak dari tempat duduknya dan menyambut Ibunda Noni, dengan posisi orang yang ingin saling berpelukan. "Tujuan kami semua datang kesini ingin mengucapkan belasungkawa atas kepergian mendiang Noni, bu." ucap Bu Guru dengan sopan kepada Ibunda Noni. "Oh iya terimakasih banyak ya, maafkan kalau noni ada salah ya nak." jawab Ibunda Noni sambil menangis gemetar di hadapan teman-teman Noni, sehingga semuanya pun jadi ikut menangis bersama Ibunda Noni. "Ayo silahkan diminum dan dicicipi cemilannya ya!" ucap tante noni yang datang menghibur supaya semuanya berhenti menangis. "Ibu masuk ke dalam dulu ya, silahkan dinikmati sajiannya ya." ucap ibunda noni, yang mencoba menyembunyikan kesedihannya di depan bu guru dan anak-anak. Sesampainya di kamar ibunda noni menangis sesegukan, kehadiran teman-teman noni membuatnya semakin rindu dengan anak semata wayangnya itu, dan diambilnya foto noni dan dipeluknya erat-erat. Setelah puas menangis kemudian bu noni menarik nafasnya dalam-dalam, mengelap air matanya dan bersiap keluar kamar lagi, untuk menemui bu guru dan anak-anak. Ternyata bu guru dan anak-anak sudah bersiap untuk pulang, mereka semua ingin pamit kepada ibunda noni dan menyerahkan uang belasungkawa dari teman-teman noni. "Bu kami semua mau izin pamit, ini ada sedikit uang dari temen-temennya noni buat ibu dan ini ada juga dari para guru dan staf yayasan sekolah, mohon diterima ya bu." ucap bu guru dengan lembut dan sopan. "Oh iya, terimakasih banyak ya nak." ucap bu noni dengan senang, sambil mengantar bu guru dan teman-teman noni ke depan pintu pagar. Setelah saling melemparkan senyum, bu guru dan anak-anak muridnya pergi meninggalkan rumah noni, dan kembali ke halaman sekolah untuk setelahnya pulanh ke rumah masing-masing. Dalam perjalanan ada teman noni yang tau bahwa sebentar lagi mereka akan tiba di depan rumah Ratna. "Bu, itu di depan ada rumah Ratna, ayo mampir makan kue!" tukas salah satu anak lelaki teman sekelas noni. "Heh gak boleh begitu, jangan suka ngerepotin orang ya!" jawab bu guru dengan gaya khasnya, seperti seorang guru yang sedang menerangkan di depan kelas. Ratna dan Vika yang sedari tadi saling berpegangan tangan hanya menahan tawa karena kejahilan temannya itu. "Bu, ratna pulang dulu ya." ucap Ratna izin pamit ke guru dan temannya, diikuti oleh lambaian tangan vika yang melambangkan say good bye. Lantas semuanya memandangi ratna yang berbelok arah untuk pulang ke rumahnya, semuanya melanjutkan jalan kakinya untuk sampai Sekolah dan pulang ke rumah masing-masing.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus banget ceritanya
06/05/2025
0bagus
14/11/2024
0Bgus
08/11/2024
0Lihat Semua