"Kita mau lewat mana ya bu?" Tanya Pak Supir kepada Bu Wati, sembari tangannya mengecek aplikasi GPS pada ponselnya. "Terserah bapak aja, saya gak tau jalan." sahut Bu Wati dengan tatapan kosong, ia masih tak menyangka dengan hal yang sedang menimpa suaminya itu. "Baik bu, kita lewat jalur tol saja ya, biar cepat." Ucap Pak Supir kepada Bu Wati, yang mencoba memahami kondisi Bu Wati. Mobil mewah itu pun melaju dengan cepat, melintasi jalanan Ibu Kota yang mulai padat dengan kendaraan yang ingin pergi bekerja, mencari nafkah di Jantung Kota tersebut. Dengan tatapan sendunya, Bu Wati mencoba untuk menenangkan diri, mengendalikan pikirannya supaya tetap waras, agar bisa mengurus semuanya dengan baik, seperti biasanya. Rasanya berat memang bagi Bu Wati untuk meninggalkan Anak-anak di rumah tanpa pengawasan orang dewasa, pikirannya menjadi kalut saat ia lebih mengedepankan perasaannya dibanding dengan logikanya. "Semoga semuanya baik-baik saja." Gumam Bu Wati dalam hatinya, ia berdo'a keselamatan untuk anak-anaknya dan juga Vika yang saat ini sedang ada di Rumahnya. Hanya Tuhan-lah yang bisa menjadi tumpuan Bu Wati saat ini, ia seperti sebongkah kayu yang terombang-ambing di tengah lautan luas, tanpa ada pegangan, cuma ada harapan dan do'a yang bisa ia pegang untuk menguatkan hatinya yang sedang rapuh. "Bu... Kok bengong aja saya perhatiin daritadi?" Tukas Pak Supir kepada Bu Wati dengan nada bersahabat, rupanya ia sedari tadi memperhatikan Bu Wati yang hanya bengong saja. "Oh... Gak ada apa-apa pak." sahut Bu Wati dengan singkat, ia mencoba tersenyum di hadapan Pak Supir, untuk menutupi kesedihan dalam hatinya. "Yasudah kalau begitu." ucap Pak Supir yang mencoba mencairkan suasana untuk membuka obrolan kepada Bu Wati. Namun sepertinya Bu Wati terlihat enggan untuk mengobrol dengan Pak Supir, ia terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri, hal inilah yang membuatnya hanya bengong saja, seperti orang yang sedang bergelut dengan dirinya sendiri. Pak Supir yang memaklumi keadaan Bu Wati, kembali melanjutkan mengendarai mobilnya. Ia sebenarnya juga merasa tak enak, karena tidak bisa mengajak ngobrol ataupun menghibur Bu Wati. Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam lamanya, Rumah sakit yang dituju pun gedungnya mulai terlihat dari kejauhan, warnanya yang hijau menandakan ciri khas gedung rumah sakit. "Sudah mau sampai bu." ucap Sang Supir kepada Bu Wati, agar ia bisa bersiap diri dan menyiapkan barang-barang yang ingin ia bawa turun dari mobil mewah milik Vika tersebut. Mobil mewah itu bersiap mencari tempat untuk parkir, melewati lantai demi lantai, karena memang tempat parkirnya ada di lantai paling atas. Sementara itu Bu Ratna siap membuka pintu mobil, dengan dibantu oleh Pak Supir yang dengan sigap membukakan pintu mobil sebelum Bu Ratna membukanya. "Terimakasih Pak." Ucap Bu Ratna sambil menggendong barang bawaannya, disusul oleh Pak Supir yang juga ikut membantu Bu Ratna membawakan barang dan ikut masuk ke unit rawat inap. Mereka berdua berjalan menyusuri lorong rumah sakit, berpapasan dengan orang-orang yang juga berlalu-lalang menyusuri lorong rumah sakit untuk menjenguk keluarganya atau kerabatnya yang sakit. "Ceeeeeetttt..." Suara pintu kamar rawat inap terdengar ketika Bu Ratna membuka pintu tersebut. Bu Ratna pun berjalan masuk ke dalam kamar rawat inap tersebut, dan melewati 3 tempat tidur pasien lainnya untuk menuju tempat tidur Pak Dirman. "Sreeek... sreeekk..." Bu Ratna membuka tirai penutup untuk melihat keadaan Pak Dirman. Pak Supir yang penasaran mencoba ikut melihat keadaan Pak Dirman, terlihat dari mata Pak Supir yang berkaca-kaca menahan pilu di dalam hatinya saat melihat keadaan Pak Dirman. Hati siapa yang tidak pilu ketika melihat berbagai macam selang ada di tubuh Pak Dirman, begitu banyak bekas luka yang belum mengering dan yang fatal adalah Pak Dirman sedang dalam keadaan koma. Sungguh malang nasib Pak Dirman, Pak Supir menjadi sangat berempati, ingin rasanya membantu keluarga Pak Dirman, tapi apa daya ia hanya seorang Supir yang gajinya hanya cukup untuk makan keluarga sebulan. Melihat keadaan orang-orang yang sedang di rawat di rumah sakit, Pak Supir menjadi lebih bersyukur dengan hidupnya, sebab masih diberi kesempatan untuk hidup aman, sehat dan berakal. "Bu saya mau pamit dulu, mau balik lagi ke rumah ibu, jemput non Vika." ucap Pak Supir kepada Bu Ratna. "Oh iya Pak, terimakasih banyak ya." sahut Bu Ratna kepada Pak Supir, namun tiba-tiba ia teringat dengan sesuatu. "Tunggu sebentar Pak, ini ada uang buat bapak." Ucap sekali lagi Bu Ratna kepada Pak Supir, sembari tangannya mengepalkan uang lima puluh ribuan ke tangan Pak Supir. "Jangan Bu, gak usah." jawab Pak Supir yang merasa tidak enak dengan Bu Ratna. "Sudah Pak terima saja." Ucap Bu Ratna sambil tersenyum. "Terimakasih ya Bu, semoga Suaminya bisa cepat pulih seperti sedia kala, aamiin." tukas Pak Supir yang akhirnya menerima uang tersebut, takut kalau ia menyakiti hati Bu Ratna, sembari mendo'akan kebaikan Bu Ratna di dalam hatinya. "Iya Pak, sama-sama." sahut Bu Ratna yang mengakhiri obrolannya dengan Pak Supir. Pak Supir pun berlalu pergi meninggalkan ruang rawat inap tersebut, ia berjalan kaki menuju parkiran mobil untuk segera kembali ke rumah Ratna. Mobil berwarna hitam itu pun langsung dinyalakan oleh Pak Supir, ia bergegas menginjak gas untuk menjalankan mobil tersebut, melewati lantai demi lantai, mobil itu turun kembali ke lantai bawah. Setelah tiba di lantai bawah, Pak Supir rupanya berhenti sejenak, memarkirkan kembali mobilnya, rupanya ia baru ingat bahwa ia belum makan sedari pagi tadi. Usai mematikan mesin mobilnya, ia membuka pintu mobil tersebut, lalu kemudian turun dari mobil dan berjalan menuju kantin yang terletak di sebelah kanan parkiran mobil. "Bu Soto Ayamnya satu ya, sama es teh manisnya satu." teriak Pak Supir kepada pedagang soto di kantin rumah sakit tersebut. Pak Supir menunggu soto sambil duduk di kursi yang sudah disediakan pihak kantin, ia menoleh ke kiri dan kanan untuk melihat situasi kantin yang lumayan ramai dengan pengunjung yang sedang makan, maupun sekedar berbincang sembari merokok. Setelah beberapa menit menunggu akhirnya pedagang soto tersebut, datang menghampiri Pak Supir sembari membawa semangkok soto di tangan kanannya, dan es teh manis di tangan kirinya. "Terimakasih, totalnya jadi berapa ya?" Tanya Pak Supir yang ingin segera membayar, karena ia sangat terburu-buru mengejar waktu untuk datang kembali ke rumah Ratna. "Tiga puluh ribu." ucap Pedagang Soto tersebut. Segera tangannya merogoh uang di saku celananya, Pak Supir mengambil uang yang baru saja diberikan oleh Bu Ratna. Sebenarnya tidak bisa dipungkiri bahwa ia juga butuh dengan uang yang diberi oleh Bu Ratna, sebab Gajinya bulan ini sudah habis untuk membayar les anak-anaknya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus banget ceritanya
06/05/2025
0bagus
14/11/2024
0Bgus
08/11/2024
0Lihat Semua