Beranda/Anak yang Ditirikan/
17. Ketahuan Guru
Pelajaran matematika. Semua siswa memperhatikan dengan baik apa yang dijelaskan oleh guru mereka di depan kelas—ya, harusnya begitu. Tapi tidak dengan Raka, karena dirinya sama sekali tidak bisa fokus, apalagi tenang. Ia baru saja melihat Karin izin untuk keluar kelas. Ke UKS, ujar gadis itu tadi. Raka percaya? Mana bisa. Setelah semua yang telah disaksikannya, mana bisa?
Ia segera mengacungkan tangan dan izin keluar kelas untuk pergi ke toilet—yang tentu saja adalah bohong, lantas mengekor pada jejak Karin dari jauh. Ia sempat melihat ekspresi aneh pada wajah Johan usai dirinya langsung izin ke toilet setelah beberap menit Karin izin keluar kelas. Semoga saja sahabatnya itu tak curiga.
Akhirnya Ia sampai di halaman belakang sekolah. Benar saja, kali ini ada dua orang laki-laki seumuran mereka yang menemui Karin. Ternyata mereka benar-benar mengikuti gadis itu sampai sejauh ini. Di Rumah Sakit, sekarang di Sekolah.
Apa mereka terus mengawasi gadis itu? Raka menghela napas panjang saat lagi-lagi Karin menukar amplop coklatnya yang berisi uang dengan amplop coklat mereka yang berisi barang laknat itu.
“Tolong jangan beritahu Ayah, aku mohon, please.” Raka teringat pada ucapan Karin saat itu.
Saat dimana Raka mengetahui bahwa kehidupan yang dijalani Karin selama ini amat berat. Ayahnya sering sakit, mereka memang memiliki usaha kos, namun hanya 3 kamar dan belum cukup untuk biaya sekolah Karin ditambah hutang-hutang Ayahnya karena menebus Karin dari penjara saat dirinya duduk di bangku SMP.
Mulai dari narkoba, ikut tawuran, hingga pencopetan. Karin di bangku SMP menganggap bahwa dirinya yang paling tangguh dan kuat, hingga tanpa sadar merusak dirinya sendiri sejauh ini.
Namun Ia sadar atas kesalahannya setelah ibunya tak sanggup lagi mengurusnya dan lebih memilih untuk meninggalkan Ia bersama Ayahnya, penyesalan itu cukup terlambat. Hutang Ayahnya sudah menumpuk karenanya. Karena menebusnya, karena rehabilitasinya, dan biaya sekolahnya.
Ia bekerja paruh waktu untuk membantu ayahnya, namun ada suatu saat di mana Ia dibutakan oleh hal yang instan dan mengiyakan tawaran temannya.
Ia harus menemani kenalan temannya yang merupakan pria paruh baya, lalu Ia bisa mendapatkan banyak uang untuk membantu ayahnya. Namun sial, usai mendapatkan bayarannya Karin baru tahu ternyata pria paruh baya itu adalah ayah dari pengedar narkoba yang mengejarnya sejak lama.
Dengan menggunakan kedok tersebut sebagai ancaman untuk diadukan ke sang Ayah, si pengedar dan teman-temannya terus menyuruh Karin untuk membeli narkoba dari mereka. Karin sudah tak tahu lagi harus berbuat apa.
Ia hanya bisa menuruti mereka dan memusnahkan barang haram itu. Ia ingin lapor polisi, namun itu berarti Ia juga akan kembali mengecewakan Ayahnya. Ia ingin kembali hidup normal sebagai anak gadis yang baik di mata Ayahnya.
Ia ingin berhenti, tapi mereka terus saja mengancamnya, kadang mereka juga merundungnya. Ia bukan lagi Karin yang tak pernah takut pada siapapun, kini Ia takut pada semua orang.
“Kamu gila?” bisik Raka dengan nada tajam usai kedua laki-laki yang menemui Karin pergi. Karin hanya menunduk malu, Ia tak tahu harus menjawab apa, maka dirinya hanya bisa diam.
“Kamu tau resikonya tinggi kalau menyimpan ini saat kamu lagi di Sekolah, kan?” Raka kembali berbisik meski tak ada orang di sana selain mereka. Karin mengangguk, “Akan langsung aku musnahkan.,” jawab Karin dengan bisikan juga.
“Mereka sering datang ke Sekolah?” Raka kembali bertanya. Karin menggeleng, “Ini pertama kali.,” Raka menggeram. Kalau ini pertama kali, berarti mereka sudah semakin berani untuk mengambil resiko.
Keterlaluan sekali sih, mereka. Kalau ingin jadi pecandu ya sana! Jangan ajak-ajak orang yang tidak mau! Mau mati kok ngajak-ngajak. Raka kesal sekali.
“Sekarang gimana?” ucap Raka sambil mengikuti Karin yang berjalan entah ke arah mana.
“Ya dimusnahkan, lah. Masih tanya aja.,” jawab Karin ketus.
“Gimana musnahin itu kalau kita aja sekarang ada di Sekola—”
Langkah mereka berdua terhenti serentak. Jantung mereka semakin cepat berdetak. Raka menelan ludahnya sendiri saat guru pelajaran matematika ternyata mengikuti mereka kemari, bersama beberapa siswa kelasnya. Apa ini adalah akhirnya?
Ah.
Mati.
Kalau ayahnya tahu Ia terlibat dalam hal seperti ini, bukan hanya cekikan bawah sadar yang akan didapatnya. Di belakang guru itu, Raka juga bisa melihat Johan. Johan terlihat terkejut, Ia hanya terpaku di tempatnya berdiri kini, Raka tahu arti tatapan mata itu, dan Raka perlu menjelaskan semuanya pada Johan bahwa ini sama sekali tak seperti yang mungkin ada di pikirannya.
“Kemarikan bungkusannya.,” ucap guru pelajaran matematika yang entah kerasukan apa hingga mengikuti mereka berdua kemari.
“Saya sudah curiga sejak kalian izin keluar tadi, saya kira kalian pacaran di jam pelajaran, tapi apa ini?” tambah Bu Nanik—guru pelajaran matematika itu kepada Karin dan Raka. Tak ada yang berbicara, tak ada yang menjawab.
“Ikut ibu ke ruang guru sekarang.,”
Karin menangis tersedu-sedu. Ayahnya baru saja keluar dari Rumah Sakit tempo hari dan sekarang beliau harus dipanggil karena Karin kembali terlibat dalam suatu masalah.
Gadis itu tak bisa mengatakan apapun, Ia hanya terdiam sambil menangis keras sembari meminta maaf kepada Ayahnya, Ia sama sekali tak mengira bahwa Ia akan kembali berakhir seperti ini.
Raka juga merasa bersalah, Ia belum sempat melakukan apapun untuk membantu gadis itu, ditambah lagi Johan mungkin salah paham padanya. Dan kini seluruh sekolah mungkin turut menuduhnya sebagai pemakai narkoba. Satu kali pun dalam hidup Raka, tak pernah Ia membayangkan bahwa Ia akan menjadi pusat perhatian yang sebesar ini, terlebih lagi dalam hal yang negatif.
Ayahnya masih belum sampai ke Sekolah, tapi Tante Nessie dan Dira ada di sini, baru saja sampai, “Ka, gue yakin lo pasti ngga terlibat sama hal kaya gini, ‘kan? Ini cuma salah paham aja, ‘kan? Karin, kalian ga ngapa-ngapain, ‘kan?” tanya Dira pada Raka dan Karin begitu dirinya dan Ibunya sampai di Ruang Guru.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (2)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bagus
25/12
0sedihh, ini ada lanjutannya lagi gaa?
18/12
0Lihat Semua