logo text

Mbok Inah

Dari ke jauhan ku lihat sepupuku sedang asyik memainkan ponselnya di parkiran bawah pohon.
Aku berjalan mendahui dokter itu, dan ia tetap mengikutiku
" hey kakak " aku mengagetkan sepupuku
" eh kamu lama banget, kakak sampai bosen nungguin. Mau masuk tapi nggak tahu ruangannya " ia nampak kesal
" hehehe maaf " aku hanya menyengir
" terima kasih dokter " tak lupa aku berucap terima kasih kepada doktee yang sudah mengantarku
" sama sama, saya pamit dulu kalo begitu, mari Aan " what? dia mengenal sepupuku
Dokter itu berlalu setelah berpamitan
" kakak kenal sama dokter itu? " aku menatap kak Aan dengan penuh tanda tanya.
" ehhh iya " ia berbicara kepadaku namun pandangannya masih menatap dokter itu
" dia siapa kak? " aku bertanya lagi
" emmm. diaa.. diaa.. dia itu temen kakak " sekarang dia nampak gugup
" kita pulang yuk " ucapnya lagi
Di jalan kita saling diam, asyik dengan fikiran masing masing
" kalian dari mana saja, ini sudah sore keluyuran mulu" baru turun dari mobil Ibuku sudah mengomel
" maaf Bunda tadi Aan ajak Liya ke taman " ucap kak Aan berbohong, dari kecil keponakan Ibuku selalu memanggilnya dengan sebutan Bunda, padahal kami anak anaknya memanggilnya mami
Ibuku hanya berlalu setelah mendengarkan ke bohongan kak Aan.
" kenapa kakak berbohong kepada mami? " tanyaku kebingungan
" nggak apa, cuman malas ribet ajah , kalo gitu kakak pamit yah " dia berlalu tanpa menunggu jawabanku
Sekarang aku memasuki rumah dengan perasaan was was, karena hari ini keluarga dari Daddy sudah kembali ke rumah mereka masing masing.
" Habis dari mana loh " suara kakaku mengagetkan dari balik pintu kamarnya
" dari taman sama kak Aan " jawabku acuh
" bohong loh yah? " ucapnya menyelidiki
" tanya ajah kak Aan kalo gak percaya " setelah mengatakan itu aku berlalu melewatinya dan menuju ke dapur, perut ini sepertinya minta di isi
ku buka tudung saji, wah ada banyak lauk di meja.
Aku mulai menuangkan ke dalam piringku satu persatu lauk yang ku inginkan.
Selesai makan aku membereskan semuanya. Sepertinya orang rumah memang sengaja memasak banyak, entah ada apa.
Tidak terasa aku sudah sangat lama aku di sini, kesehatanku juga sudah membaik jadi sepertinya aku akan meminta pulang besok.
Pagi ini di meja makan sudah ada sarapan nasi goreng, namun penghuni rumah kosong, jadi ku putuskan untuk makan dalam kamarku saja.
Selesai makan aku menyimpan piring kotor di dapur, tapi di situ aku menenukan orang asing, siapakah dia?.
" maaf anda siapa?" aku memperhatikannya dari atas ke bawah
" saya pembantu baru di sini, panggil saja mbok Inah " jawabnya
" emangnya siapa yang bakal gaji mbok? " ucapku menyelidiki, karena yang ku tahu ke uangan mami menipis lagian suaminya belum dapat pekerjaan.
" Pak Indra non " Jawabnya menundukkan kepala
" oh gitu, jadi seisi rumah pada kemana? "
" tadi pagi nyonya sudah berangkat katanya ada hal penting yang akan dia urus, sodarah sodarah nyonya sudah ke sekolah dan pak Indra sudah berangkat kerja " ucapnya panjang lebar
" jadi siapa yang jagain adikku ? " ucapku tak puas akan jawabannya
" tadi sudah mbok antar, kata nyonya di tinggal saja nanti jam pulang baru di jemput "
" okelah kalo begitu, selamat bekerja mbok. Nanti biar saya yang jemput anak anak " ucapku lalu berlalu dari hadapannya
Wahh sepertinya keuangan keluarga ini membaik, jadi mereka sempat menyewa pembantu.
Seperti yang ku tahu mami menyuruhku tinggal terpisah karena keuangan yang kurang, jadi mungkin sekarang aku akan tinggal disini dan meninggalkan tante Mina.
Saat memasuki kamar aku melirik jam yang ada di dinding, sekarang masih jam 7 sebaiknya aku mandi dulu kemudian bergegas menjemput adik adik.
Aku menghabiskan 1 jam di kamar berhias diri, lalu keluar menuju halaman rumah. Kebetulan sekolah adik adik bisa di tempuh dengan jalan kaki.
" ehh Liya udah sehat? " sapaan tetangga yang tak jauh dari rumahku.
" eh iya tan, ini udah bisa jalan jalan. Liya duluan yah mau jemput adik " lalu aku berlalu dari hadapannya
Saat telah tiba di tujuan ternyata mereka belum pulang, jadi aku ikut gabung di antara kerumunan ibu ibu yang sedang berkumpul di pojok sekolah, sepertinya ada kantin juga di sana.
" permisi tante numpang duduk yah" aku meminta izin duduk di dekat mereka takut mereka gak nyaman akan ke hadiranku.
" duduk ajah dek nggak apa tempat umum kok, gak di larang " salah satu dari mereka menyahut.
Di antara mereka cuman aku yang paling muda hehehe yang lain udah pada dewasa, sepertinya kebanyakan dari mereka adalah baby sister dari anak anak yang bersekolah di sini. Di lingkunganku memang dominan orang tuanya sibuk semua jadi gak sempat nemenin masa kecil anaknya.
" adek bukannya yang habis kecelakaan itu yah? kakaknya sih kembar? " salah satu dari mereka memulai pembicaraan denganku, oh yah adikku yang kecil itu kembar.
" iya tan, aku Liya " Aku memperkenalkan diri.
" emangnya kamu udah sehat? mana kesini tadi jalan kaki lagi " sepertinya yang menyahut kali ini adalah pemilik kantin karena aku melihatnya menggoreng tak jauh dari hadapan ibu ibu yang berkumpul.
" alhamdulillah udah tante, Liya udah sehat. Besok juga udah mau balik kok " aku berusaha menetralkan suaraku karena tiba tiba ingin menangis.
" kok pulang sih? bukannya Ibu kamu lagi dapet proyek besar yah. Kebetulan suami saya kerja di kantor ibumu" kali ini Bu mardiyah menyahut yang ku tahu suaminya bekerja di kantor Ibu.
" oh saya belum tahu itu tante, mungkin Ibu saya akan memindahkan saya kembali ke sini tapi belum sempat bicara dengan saya. karena dia sangat sibuk belakangan ini. " ucapku berbohong, sebenarnya yang ku ucapkan adalah harapanku ingin di pindahkan kembali ke sini bukan rencana Ibuku.
" Kakakkkkk... Liyaaa.... " suara sih kembar memekakkan telingan.
Aku beranjak dari dudukku lalu menghampiri mereka
" jangan berteriak seperti itu tidak baik dek itu tandanya tidak sopan." ucapku sambil menggendong kedua tas mereka.
" ajaran kakaknya bagus masih kecil tapi bisa mengajarkan yang baik buat adiknya." samar ku dengar suara ibu ibu yang tadi berkumpul
" kakak ayo Pulanggg " stevany menarik ujung bajuku
" tante tante kami pamit yah " aku pamit pada mereka yang masih asyik berkumpul .
Di jalan kita menyanyi sampai rumah agar tak merasakan panasnya terik matahari, tadi aku lupa membawa payung.
" anak anak mami udah pulang " mami mengusap pucuk kepala sih kembar
" kenapa bukan mbok yang jemput mereka " ucap mami kepadaku
" aku cumam pengen jalan jalan ajah, besok aku ingin pulang " ucapku datar kemudian berlalu dari hadapanya, melangkahkan kaki menuju kamarku .
" tunggu mami mau bicara " ucapnya setengah berteriak tapi langkah kakiku tak berniat untuk berhenti.
aku terus berjalan menuju kamarku, ternyata mami mengikutiku dari belakang. Saat ingin memasuki kamar aku berhenti lalu berucap datar kepadanya
" kita bicara di dalam "
Dia tak berkata apapun saat memasuki kamarku.
Hening sejenak, lalu ia memulai percakapan.
" mami punya hadiah buat kamu, tapi jangan tanya orang lain, oke " mami menaikkan satu alisnya tanda menunggu persetujuanku
"oke " ucapku singkat
" 1......2.......3........ Buka matamu " ucapnya

Komentar Buku (40)

  • avatar
    saraha lauhin

    cukup bagus12

    06/01

      0
  • avatar
    rstisevi

    cukup menarik

    03/11

      0
  • avatar
    cahyaniheni

    seru banget

    19/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru