Hari itu pun berlalu begitu sangat membahagiakan bagi Ezhar. Ia bisa menemani sang kekasih menjalani segala rutinitas di rumah sakit. Bahkan dalam sehari itu ia mampu membuat Maira tak menanyakan tentang Dion. Tentu saja ini adalah kesempatan emas baginya yang tak mungkin akan di sia-siakan. Ezhar berusaha untuk menghapus nama Dion dari ingatan kekasinya itu secara perlahan. Ia yakin jika itu akan sangat mudah, karena nama lelaki brengsek itu sudah atak ada lagi di hati Maira. Melihat Maira nyaman dengannya, Ezhar pun merubah semua rencananya. Awalnya ia akan meminta bantuan Dion sepenuhnya demi kesembuhan Maira. Namun, melihat rasa nyaman di mata Maira saat bersamanya membuat Ezhar berubah pikiran. Kini ia tak perlu menyuruh lelaki brengsek itu untuk selalu berada di dekat calon istrinya itu. Ia memang masih membutuhkan Dion, tetapi sekarang tak sepenuhnya. Pukul sebelas pagi, ibu Maira sampai di rumah sakit. Ezhar pun meminta izin untuk pergi menemui Dion. °°°° “Ada apa sehingga kau ingin bertemu?” tanya Dion saat sampai di meja yang sudah di pesan Ezhar “Aku ingin membahas kerja sama kita,” jelas Ezhar singkat. Dion hanya mengerutkan kening, ia berharap lelaki di depannya itu tak membatalkan kerja sama ini. Ia segera menarik kursi dan duduk. “Apa maksudmu? Apa kau membatalkan kerja sama ini?” tanya Dion cemas. Ezhar tersenyum mendengar ucapan Dion yang terdengar ketakutan. Ia tahu, lelaki itu takut tak mendapatkan imbalan yang sudah ia janjikan. “Tidak, tapi aku berubah pikiran. Kau tak usah terlalu sering menengoknya. Tapi tenang saja, aku akan tetap memberimu imbalan,” jelas Ezhar yang membuat Dion semakin tak mengerti akan ucapan Ezhar. “Bisa tolong jelaskan lagi?” Dion meminta Ezhar menjelaskan apa yang ia bicarakan. Ezhar menghela napas panjang, detik berikutnya ia tersenyum karena ia sadar yang ada di otak Dion hanya uang. Sehingga apapun yang akan dia jelaskan percuma, ujung-ujungnya lelaki di hadapannya itu pasti akan meminta imbalan yang ia janjikan. “Kau ini bodoh atau idiot?” tanya Ezhar dengan nada mengejek. “Jika saja bukan karena imbalan yang kau janjikan, aku tak Sudi bekerja sama dengan mu!” Dion malah naik pitam saat Ezhar mengejeknya. Senyum Ezhar justru semakin mengembang mendengar Dion pada akhirnya mengakui tujuannya itu. “Ckk ... Baiklah anak pintar, jika, Maira keluar dari rumah sakit aku minta ajak dia ke rumah lama kalian. Aku ingin dia bisa mengingat masa lalunya yang kelam bersamamu di sana.” Ucap Ezhar yang penuh akan sindiran. “Baik, tapi sekali lagi aku ingatkan jangan lupa dengan imbalan ku!” seru Dion. “Tenang saja, demi Maira apapun itu pasti akan aku berikan. Oh ya, aku ingatkan juga, mulai sekarang jaga jarak mu dengan calon istriku. Jangan terlalu hanyut dalam penyesalan mu, sehingga kau menganggap ini adalah kesempatan kedua mu untuk memperbaiki hubunganmu dengan, Maira.” Ezhar pun segera pergi setelah membicarakan rencana yang ia rubah dengan Dion. Sementara Dion begitu kesal dengan semua ucapan Ezhar padanya. Jika saja bukan karena imbalan yang Ezhar janjikan pasti ia tak akan mungkin mau bertahan di sana. “Dasar brengsek! Kau berani menghinaku? Jika saja uangmu tak sebanding dengan ucapanmu, sudah pasti aku akan melawanku dan tak mau bekerja sama dengan mu!” umpat Dion. °°°° Ezhar sudah tiba di rumah sakit lagi, karena ia akan menemani Maira untuk terapi berjalan. Saat memasuki ruangan Maira ia tak menemukan kekasihnya itu, Ezhar pun melangkahkan kakinya menuju ruang di mana Maira sedang melakukan terapi. Lagi-lagi Ezhar membiarkan garis lengkung itu menghiasi wajah tampannya. Semenjak wanita pujaannya sadar, ada banyak hal yang membuatnya selalu bahagia. Maira menoleh ke arah Ezhar yang baru saja datang. Ia pun ikut memamerkan senyumnya, yang jelas membuatnya semakin bahagia. Maira di bantu dokter mulai berlatih berjalan dengan penuh semangat. Ibu Maira pun menatap putrinya yang sedang berusaha demi kesembuhannya itu dengan penuh haru. Ezhar mendekat ke arah calon mertuanya itu. “Aku sudah mempunyai rencana, Bu,” ucap Ezhar. “Apa, Nak?” tanya ibu Maira. “Setelah ia diperbolehkan pulang, aku akan membawanya ke rumahnya saat ia masih menjadi istri, Dion,” jelas Ezhar. “Apa? Kau tak salah bicara kan, Nak?” Ibu Maira tak percaya jika Ezhar merencanakan hal yang menurutnya tak masuk akal itu Ezhar meletakan tangannya di pundak ibu Maira, ia berusaha meyakinkan jika apa yang ia rencanakan ini demi kesembuhan, Maira dan tentunya akan cepat memulihkan ingatn Maira. “Tenang saja, Bu. Aku yakin rencana ini akan berjalan lancar. Aku juga sangat yakin, Maira akan segera ingat kenangan yang menyakitkannya di rumah itu.” “Baiklah, Nak aku serahkan semua padamu. Aku hanya bisa membantu kalian dengan doa.” Ibu Maira pun tak kuasa menahan tangisnya. Tangisnya ini bukanlah tangis kesedihan, melainkan tangis kebahagiaan, ia sangat berterima kasih pada Tuhan yang telah mengirimkan lelaki seperti Ezhar dalam hidup putrinya. Ezhar bagaikan matahari yang mampu membuat dunia Maira kembali terang. Dengan cintanya, ia mampu membuat memberikan kesempatan bagi putrinya untuk merasakan kebahagiaan yang lama tak bisa di rasakan. Bahkan di saat sulit ini pun ia tetap sabar mendampingi Maira. “Terimakasih, Nak,” ucap wanita paruh baya itu. “Untuk apa, Bu?” “Untuk semuanya, semua yang kau berikan untuk putriku.” “Ini kewajiban ku, Maira adalah hidupku. Jadi, jangan berterima kasih padaku. Aku yang seharusnya berterima kasih padamu, sudah mengizinkanku bersama, Maira.” Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ezhar, membuat ibu Maira tersenyum. Ia percaya jika kebahagiaan pasti akan menyertai mereka. “Kenapa, Ibu menangis?” tanya Maira yang melempar tatapan tajamnya pada Ezhar. “Bukan aku, Nyonya.” Ezhar mengangkat kedua tangannya. “Lalu kenapa, Ibuku menangis?” cecar Maira. Ezhar tak bisa menjawabnya, ia pun menoleh ke arah ibu Maira. “Jangan mengelak! Jangan memaksa, Ibuku untuk berbohong!” bentak Maira. Tak mau terjadi kesalahan, ibu Maira pun turun tangan. “Sayang, kau tahu apa arti tangisku ini?” Maira menggeleng. “Tidak.” “Ini adalah tangis bahagia. Kau tahu, aku sangat bahagia kau bisa mempunyai supir yang merangkap menjadi Bodyguard untukmu itu. Dia bahkan selalu ada di sisimu untuk melindungi mu,” jelas ibu Maira. Ia berharap dengan ini bisa membantu ingatan putrinya tentang Ezhar dapat segera kembali. Maira menundukkan kepalanya, ia merasa malu karena sudah menuduh supirnya itu. “Maaf.” Dengan cepat Maira mengucapkan kata itu. Ezhar tersenyum melihat ekspresi Maira yang sangat imut menurutnya. “Kau tuli! Aku meminta maaf tapi kau malah tersenyum.” Kini wajah Maira berubah menjadi cemberut. “Untuk apa meminta maaf, Nyonya. Asal kau jangan memecatku, sekalipun kau memarahiku setiap hari aku siap. Karena kau adalah majikan terbaikku.” Entah mengapa debaran aneh menjalar di dada Maira saat untaian kata itu keluar dari mulut Ezhar. Bersambung.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
keren
19/01
0menarik banget kak
17/09/2025
0kren
11/09/2025
0Lihat Semua