31

BAB 31
Tania masih terduduk di kamarnya, ia masih merenungi semua ucapan Ezhar padanya. Tak ada penyesalan sama sekali dengan apa yang sudah ia lakukan, ia justru mengibarkan dendamnya pada Hani. Karena ia yakin ini perbuatan sahabatnya itu.
°°°°
Sementara di lain tempat Hani mendatangi apartemen Roy, ia ingin memberitahukan tentang pertemuan Tania dan Karina. Hani menekan bel saat sampai di apartemen Roy.
Tak lama pintu pun terbuka, tetapi Hani terkejut melihat penampilan Roy yang sangat acak-acakan.
“Hani!” seru Roy yang juga terkejut.
“Siapa, Sayang ...!” teriak seorang wanita dari dalam apartemen.
“Maaf, aku mengganggumu. Permisi.” Hani membalikkan badan dan hendak segera meninggalkan tempat itu. Namun, lengannya di tahan oleh Roy.
“Tunggu!”
“Tapi—“ belum sempat Hani melanjutkan kalimatnya.
“Ayo masuk!” Roy menarik lengan Hani untuk masuk.
Tanpa penolakan Hani mengikuti langkah Roy, meski dalam hati ia merasa tak enak karena datang di saat yang tidak tepat. Mata Hani membulat sempurna saat melihat sosok wanita yang tadi berteriak. Wanita itu masih terbaring tanpa sehelai benang pun di tubuhnya.
Merasa ada yang masuk, wanita itu segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Ia terlihat tak suka dengan kedatangan Hani, yang dirasa mengganggu aktivitas mereka.
“Siapa dia?” tanya wanita itu sambil meraih rokok di atas meja.
“Siapa dia, bukan urusanmu. Sekarang pergilah!” usir Roy.
“Roy!” seru wanita itu menolak diusir.
“Cepat pergi!” bentak Roy.
Dengan penuh terpaksa ia meraih pakaiannya yang berserakan di lantai dan segera masuk ke kamar mandi. Sementara Roy merapikan tempat tidurnya, ia menarik seprei yang sudah menjadi saksi pergulatannya dengan wanita itu dan menggantinya dengan yang baru
“Oh ya aku lupa, duduklah di sana.” Roy menunjuk sofa di dekat jendela. Hani pun menurut.
Tak lama wanita itu keluar dengan pakaian yang sudah rapi di tubuhnya. Ia melangkah melewati Hani dengan wajah yang begitu masam. Tak mau kalah, Hani pun memasang wajah cueknya yang membuat wanita itu terlihat lebih kesal.
“Ada apa kau ke sini?” tanya Roy.
“Oh ya, ini mengenai, Tania,” jawab Hani.
“Ada apalagi dengan wanita ular itu?” wajah Roy tampak tak suka mendengar nama Tania.
“Kemarin aku melihatnya menemui istri kedua, Dion. Sepertinya mereka merencanakan sesuatu,” tutur Hani.
“Apa! Brengsek, ayo kita temui, Maira!” Roy segera meraih jaketnya dan mengajak Hani ke rumah Ezhar.
Selama di perjalanan Hani menceritakan semua hasil penelusurannya. Ia benar-benar tak mau Tania merusak hubungan Ezhar dan Maira, ia juga tak mau melihat sahabatnya itu semakin terjun ke jurang penderitaan. Karena ia tahu, semua yang dilakukan Tania tak akan membuat wanita itu bahagia, sekalipun Ezhar dapat ia dapatkan. Karena semua yang di awali dengan kebohongan akan berakhir tak menyenangkan.
Sesampainya di kediaman Ezhar keduanya langsung masuk untuk segera memberitahukan soal ini.
“Maira!” panggil Roy saat berada di ruang tamu. Namun, mbok Rati yang datang menemui mereka.
“Den, Roy. Ada apa, Den?” tanya mbok Rati.
“Mbok, Maira ada?” tanya Roy tanpa menjawab pertanyaan Mbok Rati.
“Ada, saya panggilkan dulu, Den.” Tanpa bertanya kembali, mbok Rati segera naik ke lantai dua untuk memanggil Maira.
TOK ... TOK ... TOK ....
“Nyonya!” panggil mbok Rati sambil mengetuk pintu kamar Maira.
“Masuk!” teriak Maira.
Mbok Rati pun masuk, ia menghampiri Maira yang sedang membaca buku-buku kesayangannya.
“Ada apa, Mbok?”
“Ada, Den Roy dan seorang wanita. Dia menyuruh mbok memanggil, Nyonya,” jelas mbok Rati.”
“Roy? Baiklah, aku akan turun.” Maira berdiri dari duduknya, dan berjalan bersama Mbok Rati untuk menemui Roy.
Sesampainya di ruang tamu, Maira memperhatikan wanita yang ada di samping Roy. Ia pun mengingat jika wanita itu adalah sahabat Tania. Otaknya pun sudah bisa menebak apa alasan mereka datang. Pasti ini ada kaitannya dengan Tania.
“Roy!” panggil Maira.
Roy dan Hani pun menoleh saat mendengar suara Maira.
“Hai, maaf kami mengganggu waktuku,” ucap Roy tak enak.
“Tak apa, apa yang di lakukan, Tania lagi?” ucap Maira to the point.
“Wah, kau sangat pintar. Baiklah, Hani jelaskan!” Roy meminta Hani menjelaskan apa yang ingin ia sampaikan kepada Maira.
Hani pun menceritakan apa yang ia lihat kemarin. Mendengar semua itu membuat darah Maira mendidih, pantas saja kemarin lelaki yang dulu pernah membuatnya di benci Dion menemuinya di toko perhiasan.
“Jadi ini rencanamu, Tania?” ucap Maira dengan penuh amarah.
“Kita harus segera memberi tahu, Ezhar. Aku takut ia akan termakan hasutan, Tania,” ucap Hani penuh kecemasan.
“Kalian tak perlu takut!”
Mereka bertiga menoleh ke arah sumber suara, yang ternyata itu adalah Ezhar.
Ezhar berjalan ke arah mereka bertiga, ia juga melemparkan amplop besar berwarna cokelat di tangannya ke meja. Ketiganya saling berpandangan, seakan saking bertanya apa isi amplop itu?
“Apa ini, Sayang?” tanya Maira yang masih bingung.
“Buka saja!” perintah Ezhar.
Maira pun membuka amplop itu, alangkah terkejutnya ia melihat foto yang baru ia lihat. Ia pun jadi tahu, apa alasan Dion sangat membencinya, foto ini ternyata adalah penyebab hancurnya rumah tangga yang ia idam-idamkan.
“Kenapa kau kaget, Sayang?” tanya Ezhar yang bingung melihat ekspresi wajah Maira.
“Aku baru melihatnya,” lirih Maira.
“Apa!” Ezhar lebih terkejut dari Maira.
Ia pikir ini alasan Maira tak mau memberi tahu siapa lelaki itu. Namun, kenyataannya malah di luar pemikirannya.
“Kenapa kau tak percaya pada foto ini? Orang yang mengedit ini sangat pintar, bahkan foto ini seakan nyata.” Maira mengambil beberapa foto lagi untuk melihat ulah Karina di masalalu.
“Kau meragukan ku? Tapi aku sangat mempercayaimu, aku yakin kau tidak seperti itu.” Ezhar berjongkok di hadapan Maira dan menggenggam tangan wanita itu untuk meyakinkannya bahwa dia berbeda.
“Tapi, nyatanya aku tak sebaik yang kau pikirkan. Aku berselingkuh denganmu di belakang, Dion,” ujar Maira.
“Kau benar, itu karena aku yang terus memancing mu untuk mengkhianati, Dion.” Ezhar berusaha menghibur Maira.
“Tetap saja, aku wanita yang sudah berselingkuh!” kekeh Maira.
“Terserah, bagiku kau wanita yang sangat istimewa,” ujar Ezhar yang menerbitkan senyum di wajah Maira.
“Gombal!” ujar Maira.
“Tapi kau suka!” goda Ezhar.
“Tidak!” elak Maira.
“Baik, kalau begitu aku akan menggombal saja pada, Ta—“ Ezhar sengaja menghentikan Kalimatnya
“Apa! Jadi aku mau menggombal padanya?” Maira memukul tubuh Ezhar karena ucapannya itu.
Ezhar langsung memeluk tubuh Maira dan menghentikan pukulan calon istrinya dengan cara mengecup bibir yang sudah menjadi candunya itu.
“Hmmmm ... hei, ingat masih ada kami!” bentak Roy yang sedari tadi menyaksikan kemesraan mereka.
Ezhar terpaksa menghentikan acara menghisap madu itu, wajahnya tampak murka karena Roy kembali mengganggunya.
“Brengsek kau! Hani, bantu dia meluapkan rasa irinya!” ucap Ezhar pada Hani.
“Hah! Kenapa aku?” tanya Hani bingung.
“Sudah jangan di dengarkan ucapannya, ayo kita pergi!” Roy menarik lengan Hani untuk segera meninggalkan rumah Ezhar dan mengantarkan Hani pulang.
Selama di perjalanan baik Hani maupun Roy hanya terdiam, mereka hanyut dalam pemikiran mereka masing-masing. Mereka sampai tak menyadari jika sudah sampai di rumah Hani.
“Sudah sampai,” ucap Roy.
“Oh, terima kasih.” Hani segera turun.
“Hani!” panggil Roy, sebelum wanita itu masuk.
“Ya.” Hani menoleh ke arah Roy.
“Selamat malam,” ucap Roy dengan senyum yang tergambar di wajahnya
“Selamat malam.” Hani pun mengucapkan kalimat yang sama.
Hani segera masuk setelah mobil Roy berlalu. Tetapi ia menghentikan langkahnya saat melihat seorang wanita sudah ada di dalam rumahnya.
“Tania?”
Bersambung...

Komentar Buku (351)

  • avatar
    AmirAmiruddin

    keren

    19/01

      0
  • avatar
    Niswatul Khoirunnisa

    menarik banget kak

    17/09/2025

      0
  • avatar
    ronanoviana

    kren

    11/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru