Ruang presentasi mulai dipenuhi mahasiswa. Suara bisik-bisik, suara laptop dibuka-tutup, hingga derit kursi yang diseret terdengar bersahut-sahutan. Hirun duduk di barisan depan bersama anggota kelompoknya—termasuk Eliza yang terlihat sangat tenang, seperti sudah presentasi ratusan kali sebelumnya. Fabian, yang duduk tepat di sebelah Hirun, berbisik sambil menyikut lengan temannya itu, “Bro, liat tuh... Eliza kayak dosennya, bukan mahasiswanya.” Mark yang duduk di belakang mereka nyengir, “Gue ngerasa gue cuma jadi properti dekorasi kelompok ini.” Dan seperti biasa Ciara sibuk mengatur senyumnya, supaya terlihat natural katanya. Hirun mengangguk pelan sambil memandangi layar laptopnya. Mora duduk dengan jarak dua kursi dari tempatnya, terlihat asyik mengatur file presentasi, rambutnya dikuncir rapi, wajahnya serius. “Selamat pagi semua,” suara dosen pembimbing membuat ruangan hening. “Hari ini kita akan dengar presentasi dari kelompok delapan dulu. Silakan maju.” Itu giliran mereka. Fabian panik, “Kelompok delapan siapa ya? Jangan kita dulu dong...” Eliza berdiri, membalik badan, lalu berkata tenang, “Itu kita, Fabian.” Fabian langsung membeku. “Wah, udah fix. Gue demam panggung.” Dengan penuh kharisma (dan keheningan mendebarkan), kelompok mereka maju ke depan. Ciara membuka dengan pengantar yang rapi dan tegas, Eliza menyampaikan latar belakang proyek, metode, dan hasilnya. Hirun kemudian mengambil alih dengan pembahasan teknis. Meski biasanya agak cuek, kali ini dia tampil kalem tapi penuh wibawa. Banyak yang tak menyangka Hirun bisa se-serius itu. Di belakang, Fabian masih komat-kamit menghafal bagian yang harus dia sampaikan. Ketika gilirannya tiba, Fabian mengambil mic... dan membuka dengan: “Jadi... analoginya tuh kayak... nasi goreng, Pak.” Dosen langsung menaikkan alis. Hirun menatapnya datar. Sedangkan Mora seperti ingin teriak: lo bisa serius sekarang kan, Fabian?! Fabian tetap lanjut, penuh keyakinan. “Karena kalau kita punya bahan yang pas, proses masaknya benar, hasilnya juga enak. Nah, data kami itu kayak bumbunya, Pak. Harus lengkap, baru mantap.” Mark yang dari bangku belakang langsung tepuk jidat pelan. Tapi... anehnya, dosen justru mengangguk pelan. “Analogi yang menarik. Silakan lanjut.” Fabian langsung sumringah. Hirun menyela pelan ke Mora, “Gue gak nyangka, nasi goreng bisa selamatin kita.” Mora balas dengan senyum kecil. “Next time kita presentasi, bawa menu lengkap sekalian.” Setelah presentasi selesai, kelompok mereka duduk kembali, dan reaksi mahasiswa lain pun bermunculan. Ada yang terkagum-kagum dengan Eliza, ada juga yang nyengir geli karena analogi Fabian. “Gue rasa Fabian cocok buka channel edukasi,” celetuk Mark. “‘Ngoding dan Nasi Goreng’, judulnya,” timpal Mora. “Gue yang bikin logonya,” kata Ciara, senyumnya sumringah. Sementara itu, Eliza duduk kembali tanpa banyak bicara, tapi dari ekspresinya, dia jelas puas. Diam-diam, dia melirik Hirun yang tengah tertawa pelan bersama yang lain. Tatapannya sedikit lama, seolah ada sesuatu yang tak diucapkan. ~~ Setelah semua kelompok menyelesaikan presentasi mereka, ruangan menjadi lebih santai—meski masih dipenuhi wajah-wajah tegang menanti hasil penilaian. Dosen pembimbing, Pak Julius, berdiri sambil membolak-balik lembar catatan penilaian. “Baik, semua kelompok sudah menyampaikan hasil kerja mereka dengan cukup baik…” ucapnya, lalu menatap ke arah mahasiswa satu per satu. Mark berbisik ke Fabian, “Cukup baik tuh artinya… ya gitu, cukup.” Fabian mengangguk pelan. “Kalau beliau bilang 'sangat baik', baru lega.” Pak Julius melanjutkan, “Namun, dari seluruh presentasi hari ini, ada satu kelompok yang berhasil menyampaikan proyeknya dengan sangat sistematis, kreatif, dan juga memiliki pendekatan yang berbeda…” Semua kepala mulai menoleh kanan-kiri. “…terutama saat menggunakan analogi nasi goreng dalam menjelaskan integrasi data dan struktur kebijakan.” Fabian langsung tegap. “Pak... itu gue... GUE!” Mora hanya geleng-geleng kepala. “Iya... iya, kita tahu. Nasi goreng berjasa menyelamatkan umat.” Eliza hanya tersenyum kecil. Sementara Hirun tetap kalem, memandangi dosen dengan pandangan tenang. Tapi jemarinya mengetuk pelan meja—tanda dia juga deg-degan. Pak Julius melanjutkan, “Kelompok terbaik hari ini adalah… kelompok delapan.” Ruangan langsung ramai oleh mahasiswa yang baru saja mendengar hasilnya. “HAH?! Serius?!” “Yang pake nasi goreng itu?!” “Gokil…” Mark langsung berdiri, pose tangan di pinggang. “Saya... ingin mengucapkan terima kasih kepada rice cooker yang telah menginspirasi kami.” Fabian menepuk dada. “Terima kasih wajan, terima kasih kecap, terima kasih mic.” Mora mengusap wajahnya, menahan tawa. “Gue nyesel bawa mereka dari awal.” Eliza tertawa pelan, lalu menambahkan, “Tapi kan menang.” Setelah pengumuman bahwa kelompok delapan dinyatakan sebagai kelompok terbaik, suasana ruangan masih penuh tawa dan tepuk tangan. Pak Julius menutup catatan penilaiannya sambil berkata, “Saya harap kelompok ini bisa jadi contoh bagaimana kerja tim bisa disampaikan dengan kreatif... meskipun pakai analogi nasi goreng.” Setelah pengumuman itu, banyak mahasiswa lain datang menghampiri mereka. Ada yang memberi selamat, ada yang sekadar bercanda soal analogi nasi goreng, dan beberapa bahkan mulai menatap Eliza dengan rasa penasaran yang semakin besar. Namun seperti biasa Eliza tetap tenang, dan hanya berkata, “Semua karena kerja tim.” Hirun tersenyum samar, menatap Eliza. “Kerja tim, ya.” Ciara nyeletuk, “Tapi kalau Eliza jadi kapten tim, gue siap jadi anak magang. Yang penting ikut ngetop.” Seketika itu juga Fabian berdiri, mengangkat tangan ke atas seperti pemenang Oscar. “TERIMA KASIH, BERAS! TANPAMU, KAMI BUKAN APA-APA!” Ciara langsung menunduk sambil menahan tawa. “Sumpah... ini kelompok akademik atau stand-up show…” Eliza hanya menggeleng pelan dengan tingkah Fabian yang menurutnya terlalu aneh. Mark yang duduk di sebelah Hirun hanya tertawa pelan. “Gue mulai paham kenapa kalian bisa betah temenan sama dia.” Mora mencibir pelan, “Sekarang lo sebenarnya dirasuki jiwa badut juga. Selamat, lo udah jadi temen dia.” Mark tiba-tiba berdiri dan berseru, “Merayakan kemenangan ini... ayo makan nasi goreng beneran malam ini!” “Setuju!” Fabian menepuk meja. “Gue traktir,” tambah Hirun singkat. Semuanya serentak: “HAAAH?!” Hirun menoleh dengan ekspresi datar. “Kan katanya semua karena nasi goreng. Masa perayaan gak sesuai tema?” Fabian langsung berdiri dan mulai memimpin: “Kita deklarasikan malam ini sebagai... Malam Nasi Goreng Nasional!” Mahasiswa di sebelah mereka melirik dengan alis mengernyit. Mark menimpali, “Tolong nanti jangan masuk berita, ya. ‘Mahasiswa merayakan kemenangan akademik dengan kecap manis berlebihan’.” ~~ Malam harinya. Mereka semua akhirnya berkumpul di warung kaki lima langganan Fabian, duduk melingkar di tikar, sambil menunggu pesanan datang. “Nih, grup akademik rasa geng motor,” celetuk Mora sambil membuka sandal. Mark angkat tangan. “Gue yang paling kanan, tapi pake helm nasi goreng.” Fabian nyengir. “Helm lo isinya telur ceplok.” Eliza duduk di pinggiran, menyandarkan diri ke tiang warung. Kali ini, ia tidak berkomentar. Hanya diam, memperhatikan interaksi mereka. Hirun duduk tepat di seberang Eliza. “Lo nggak nyangka, kan. Grup kita bakal sejago ini.” Eliza tersenyum tipis. “Aku percaya sama kalian semua dari awal. Tapi percaya sama analogi nasi goreng? Itu baru plot twist.” ~~ Beberapa saat kemudian... Nasi goreng datang, lengkap dengan kerupuk dan acar. Satu per satu mereka makan sambil bercanda—tentang presentasi, ekspresi dosen, dan ekspresi mahasiswa lain yang kalah. Tapi di balik semua gelak tawa itu, ada perasaan hangat yang tumbuh: bahwa mereka bukan cuma kelompok, tapi mulai terasa seperti keluarga kecil yang aneh—dan penuh cita rasa. Satu kelompok. Satu kemenangan. Satu nasi goreng * * * Bersambung... [Melodynan]
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus kak, aku suka alur ceritanya 🌷
19/12
0good
30/07/2025
0keren banget ceritanya
26/07/2025
0Lihat Semua