5

Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai Leonard Arjana, seorang pengusaha sukses yang selama ini hidup sendiri di rumah besar dengan beberapa pelayan. Tidak ada keluarga, tidak ada anak, hanya kekayaan yang terus bertambah tetapi tidak pernah benar-benar berarti baginya.
Mungkin itulah alasan mengapa dia memutuskan untuk membawa Rey ke rumahnya.
"Dokter bilang kamu kehilangan sebagian ingatanmu," ucap Leonard saat mereka duduk di dalam mobil mewahnya, meninggalkan rumah sakit. "Apa kau benar-benar tidak ingat keluargamu?"
Rey menatap tangannya sendiri. Ada luka bekas jahitan di telapak kirinya—luka yang dia tidak tahu asalnya. Dia mencoba menggali pikirannya, tapi tetap saja... kosong.
"Aku tidak tahu," jawabnya pelan.
Leonard tidak bertanya lagi. Mungkin dia paham, mungkin juga dia hanya malas memaksanya mengingat sesuatu yang tidak bisa dia ingat.
Setelah perjalanan beberapa menit, mobil mereka berhenti di depan rumah besar bergaya modern dengan gerbang besi tinggi yang terbuka secara otomatis. Begitu mereka masuk, beberapa pelayan langsung menyambut dengan hormat.
"Mulai sekarang, kau akan tinggal di sini," kata Leonard.
Rey menatap rumah itu dengan perasaan campur aduk. Dia seharusnya merasa bersyukur—dia mendapat tempat tinggal mewah, makanan, dan perlindungan. Tapi di dalam dirinya ada sesuatu yang mengganjal.
Seakan-akan... ini bukan tempatnya.
Namun, dia tidak punya pilihan lain.
LIMA TAHUN KEMUDIAN
Waktu berlalu dengan cepat.
Rey tumbuh menjadi remaja yang cerdas dan pendiam. Meskipun masih menyimpan banyak pertanyaan tentang masa lalunya, dia memilih untuk fokus pada masa kini.
Leonard tidak pernah memperlakukannya seperti anak sendiri, tapi pria itu juga tidak pernah membiarkannya merasa kekurangan. Rey diberikan pendidikan terbaik, segala kebutuhannya terpenuhi, dan lebih dari itu—dia diberi kebebasan untuk menentukan jalannya sendiri.
Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Di usia 17 tahun, Leonard jatuh sakit. Penyakit kronis yang selama ini dia sembunyikan akhirnya merenggut nyawanya.
Rey duduk di depan ranjang pria itu di detik-detik terakhir hidupnya.
"Kau... tidak pernah menanyakan kenapa aku membawamu masuk ke rumah ini," suara Leonard terdengar lemah, tetapi tetap tenang.
Rey menggenggam tangan pria itu yang mulai dingin. "Kenapa?"
Leonard menatapnya lama sebelum akhirnya tersenyum kecil. "Mungkin karena aku melihat sesuatu dalam dirimu... sesuatu yang membuatku tidak bisa meninggalkanmu sendirian."
Rey tidak mengerti maksudnya.
"Sesuatu?"
Tapi Leonard tidak menjawab.
Dengan napas terakhirnya, dia hanya menepuk tangan Rey perlahan—seolah ingin menyampaikan sesuatu tanpa kata-kata.
Beberapa saat kemudian, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.
Dan saat itu juga, semua harta Leonard jatuh ke tangan Rey.
Rey terbangun dengan napas sedikit memburu. Pikirannya masih terjebak dalam sisa-sisa kenangan yang baru saja ia alami.
Tangannya terangkat, menyentuh dahinya yang dingin oleh keringat.
Itu bukan sekadar mimpi. Itu adalah bagian dari masa lalunya.
Dia menutup matanya sejenak, mencoba mengendalikan emosinya. Saat ini, dia tidak punya waktu untuk membiarkan dirinya larut dalam perasaan. Ada sesuatu yang lebih mendesak.
Dia menoleh ke meja di samping ranjangnya. Di sana, rantai yang ia ambil dari leher Adrian masih tergeletak, berkilauan redup di bawah cahaya lampu.
Perlahan, dia mengambilnya, merasakan dinginnya logam di ujung jarinya.
Dan saat itu juga, kesadarannya menghantamnya seperti ombak besar.
Dia ingat.
Rantai ini… sama persis dengan yang dipakai oleh orang-orang yang menculiknya dulu.
Jantungnya berdegup kencang.
Tapi kalau begitu… bagaimana dengan Adrian? Jika Adrian adalah bagian dari organisasi itu, mengapa dia dibunuh?
Pikiran Rey berputar dengan cepat.
Ada dua kemungkinan.
Pertama, pembunuh Adrian adalah bagian dari organisasi itu sendiri. Ada sesuatu yang salah, dan Adrian harus disingkirkan.
Atau kemungkinan kedua—yang jauh lebih mengganggu—pembunuh Adrian adalah seseorang yang pernah mengalami nasib yang sama dengannya dulu.
Seseorang yang juga pernah diculik.
Seseorang yang kini kembali untuk membalas dendam.
Rey mengepalkan tangannya, merasakan rantai itu semakin erat di genggamannya.
Namun ada satu masalah besar: Dia tidak mengingat wajah teman-temannya saat diculik.
Jika salah satu dari mereka benar-benar ada di luar sana, melakukan semua ini... dia bahkan tidak tahu harus mulai dari mana untuk mencarinya.
Tapi satu hal yang pasti Pembunuhan Adrian bukanlah kebetulan.
Dan Rey harus mencari tahu siapa dalangnya.
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela besar apartemen mewahnya, tapi Rey tetap merasa seolah berada dalam kegelapan.
Dia duduk di tepi ranjangnya, masih dalam pakaian tidurnya, sementara matanya terpaku pada rantai yang tergeletak di atas meja. Tangannya bergerak, meraih benda itu, lalu menggenggamnya erat.
Malam tadi dia hampir tidak bisa tidur. Setiap kali matanya terpejam, gambaran masa lalu kembali menghantuinya—hutan yang gelap, langkah-langkah berat mengejar, suara siulan mengerikan, dan wajah-wajah samar yang tidak bisa ia ingat.
Namun, pagi ini dia tidak bisa membiarkan pikirannya berantakan.
Hari ini adalah pemakaman Adrian.
Sebagai salah satu junior yang bekerja bersamanya, dan sebagai dokter forensik yang menangani kasus kematiannya, Rey harus datang ke tempat peristirahatan terakhir seniornya.
Bukan hanya karena rasa hormat. Tapi juga karena dia ingin melihat siapa saja yang akan muncul di sana.
Mungkin, di antara orang-orang yang datang berduka, ada seseorang yang menyimpan rahasia.
Menghela napas panjang, Rey berdiri dan berjalan menuju lemari pakaiannya. Tangannya meraih kemeja hitam yang tergantung rapi, lalu dengan gerakan tenang, dia mulai bersiap.
Tak lama kemudian, dia melangkah keluar dari apartemennya.
Udara pagi terasa sejuk, tetapi tidak cukup untuk menenangkan pikirannya yang penuh tanda tanya. Dengan langkah mantap, dia menuju mobilnya.
Dia tidak tahu apa yang akan ia temukan di pemakaman nanti.
Namun, satu hal yang pasti—ini bukan sekadar perpisahan biasa.

Komentar Buku (115)

  • avatar
    GN2092 Roblox

    bagus untuk di baca

    20/06

      0
  • avatar
    SxdAdd

    bagus

    23/03

      0
  • avatar
    MAnnisa.

    Fantastic

    18/11

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru