Beranda/Antara Cinta dan Peraturan Abi/
Bab 3 Lingkungan Baru
Berjam-jam sudah Ayra habiskan dengan duduk di mobil dan menatap layar ponsel dengan cemas. Berharap ada satu pesan yang masuk, tetapi nihil. Haikal tidak memberinya kabar apa pun dan nomornya tak bisa dihubungi. Ia terus mengetuk layar ponsel pintarnya, sesekali menengok ke jendela kaca mobil.
“Kamu kenapa? Dari tadi gelisah terus,” tanya Mama yang duduk di kursi depan.
“Nggak,Ma,” jawabnya datar, sambil mengetuk-ngetuk ponsel yang berwarna putih ke jok mobil.
Enggan untuk meladeni Mamanya lagi, Ayra langsung mengalihkan pandangannya mentap jalanan lagi dengan resah. Hanya terlihat pemukiman warga, dan beberapa lahan sawah yang menghijau. Hitungan bulan siap untuk panen. Sesekali ia menggigit ujung kuku ibu jari yang panjang. Pikiran gadis itu tengah melanglang buana.
Ponsel yang ada di genggaman tangannya bergetar. Ayra menghirup napas pasrah saat nama Nadin tertera di layar, bukan Haikal.
Kamu di mana? Aku ke rumahmu, tapi sepi. Tadinya, mau ngajak nganter Haikal ke bandara. Kamu nggak lupa kan, kalau dia kuliah ke luar negeri?
Deg.
Seperti ada sengatan petir yang menyambar tubuhnya saat ini. Pesan dari Nadin membuat kepala Ayra benar-benar terasa pusing.
“Yah, berhenti!”
“Ada apa, sih?” tanya Ayah Ayra setelah menginjak rem mobil dengan tenang.
“Lagian, tanpa kamu suruh pun, Ayah mau berhenti. Kita udah ada di pesantren,” lanjutnya lagi yang disambut pelototan kaget dari Ayra.
“Kita pulang aja,” cicit Ayra pelan. Tubuhnya terkulai lemas di jok mobil belakang, sembari menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
Ayah menggelengkan kepala dengan pelan. Ia sangat bahagia bisa datang ke tempat ini, melihat anak bungsunya yang manja ini harus hidup di pesantren. Anaknya dituntut untuk bisa hidup mandiri dan melepaskan sifat manja yang melekat di diri Ayra selama ini.
“Ayolah, Ma, Yah,” rengeknya manja.
“Ayo, kita turun aja.” Ajakan Ayah seolah perintah mutlak.
Dengan malas, Ayra turun dari mobil dan mengikuti orangtuanya masuk ke dalam rumah sederhana berwarna cokelat. Di halaman rumahnya pun berdiri papan bertuliskan ‘Pesantren Ar-Risalah’.
Matanya mengobservasi sekeliling. Tepat di depan rumah bercat cokelat itu berdiri bangunan kokoh dua lantai warna hijau, berjejer beberapa pintu. Sesekali para pria keluar dari sana.
“Asrama satu putra.” Ia mengeja tulisan dengan cat kuning yang ada di atas bangunan itu. Kembali menatap lurus ke depan, berjarak 10 meter, hanya terhalang pohon rambutan, bangunan yang terlihat kecil bertuliskan asrama dua putri.
“Assalamualaikum?” ucap Ayah.
“Waalaikumsallam. Silakan masuk dulu,” balas pemilik rumah yang mengenakan jubah berwarna putih dan sorban hitam putih kotak-kotak tersampir di bahu kanan pria paruh baya itu.
Keluarga Mahendra langsung masuk dan duduk di kursi kayu jati yang mengkilap. Mata mereka berkeliling, mengamati dinding ruang tamu yang hampir penuh dengan foto-foto orang menggunakan peci atau pun sorban.
“Umi, sini dulu. Ini ada tamu jauh sepertinya,” teriak pria berjanggut putih di ambang pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan ruangan berikutnya.
Ayah tersenyum ke arah Pak Kiai. “Senang sekali bisa bersilaturahmi kemari, Pak Kiai,” ujar Ayah membuka pembicaraan. Ia terlampau senang sampai bibirnya bisa robek karena tersenyum lebar.
“Pasti melelahkan, ya, perjalanannya. Jarak Kediri-Bandung itu sangat jauh,” timpal Pak Kiai dengan logat khas Jawa yang kental. Tangannya terus memainkan tasbih berawarna cokelat sedangkan tangan yang lain bertumpu di pegangan kursi.
“Jadi, maksud kedatangan kami kemari, sesuai yang saya bicarakan di telepon kemarin, ingin anak saya masuk pesantren. Boleh, Pak Kiai?”
“Tentu saja boleh. Pesantren ini dibuka untuk umum. Siapa pun bisa menimba ilmu di sini. Semoga betah, ya, Cah ayu.” Kiai Falah-pimpinan pondok pesantren-tersenyum lembut ke arah Ayra yang hari ini mengenakan gamis merah maroon dicampur cokelat.
“Nama saya Ayra, bukan Cah ayu.” Ada nada tak suka yang Ayra keluarkan saat membalas ucapan sesepuh pesantren Ar-Risalah itu.
Mendengar jawaban dari Ayra, Pak Kiai tertawa pelan. “Cah ayu itu artinya anak cantik. Kamu harus terbiasa dengan bahasa Jawa di sini.”
Ayra tersenyum kikuk. Melihat keadaan yang cukup sederhana di sini, membuat salivanya ditelan kasar. Membayangkan hidup di kota orang, dengan segala suasana yang baru, membuat kepala Ayra mendadak pening. Apalagi, melihat penampilan dua orang wanita yang datang beriringan. Yang satu memakai gamis dan kerudung kebesaran, sedangkan wanita muda di belakangnya mengenakan baju muslimah dengan sedikit belahan di pinggir.
“Assalamualaikum?” sapa wanita paruh baya yang langsung duduk di samping Pak Kiai. Tangannya terkatup di depan dada berniat menyapa wali santri baru. Sedangkan wanita yang satu lagi, langsung duduk di lantai dengan kepala menunduk dalam. Ayra menatap gadis itu aneh.
Serempak, semua orang menjawab salam dan menyunggingkan senyum. “Anaknya mau mondok di sini, Pak, Bu?” tanya wanita paruh baya itu dengan hangat.
“Iya, Bu Nyai. Saya dan istri ingin Ayra belajar di sini.”
Wanita paruh baya yang kerap di panggil Umi pun tersenyum. “Baiklah. Mbak Ajeng saja, ya, yang mengantar Mbak Ayra berkeliling, terus daftar ke kantor, lalu antar ke kamarnya. Sudah disiapkan semuanya, kan, Mbak?”
“Iya, silakan,” jawab Ayah. Matanya mengisyaratkan agar Ayra patuh dan mengikuti sesuai petunjuk Umi.
Orang yang bernama Ajeng pun mengangguk paham. Setelah itu, pamit undur diri sembari membantu Ayra membawa barang-barangnya dan mengajak gadis itu memasuki wilayah asrama putri. Kamarnya sudah disiapkan sejak kemarin. Dengan malas dan langkah yang terseok-seok, Ayra terpaksa mengikutinya. Ia sudah telanjur masuk dan tak bisa keluar untuk sekarang. Mau tidak mau, Ayra akan terpenjara di penjara suci untuk beberapa saat.
Udara di sini terbilang panas. Hanya bermodalkan kipas kecil, sedikit memberikan udara sejuk. Ayra yang tak terbiasa dengan hal itu, sedari tadi mengucapkan sumpah serapah. "Kita ke mana dulu?" tanya Ayra, mengikuti langkah Ajeng.
"Kita ke kantor dulu untuk daftar. Ya, sekalian keliling aja, biar kamu tahu lingkungan di sini."
Langkah kaki keduanya kini beriringan, melewati halaman rumah abi atau biasa disebut ndalem, terus belok kiri melewati asrama putra. Sesekali Ajeng menjelaskan peraturan di sini, juga jadwal mengaji. "Karena kamu masuk kelas ibtida atau permulaan, kitab yang Mbak Ayra pelajari itu ta'lim, jurumiyah, shorof, safinah, ditambah dengan hafalan doa-doa."
Ajeng berhenti tepat di depan bangunan bertuliskan "Koperasi Pesantren Ar-Risalah" seraya tersenyum arah pria berkoko cokelat. "Assalamualaikum, Mas?"
"Waalaikumsallam, Jeng. Santri baru?" tanya pria berwajah kotak dengan koko cokelat garis-garis yang ia kenakan.
"Iya, Mas. Ajeng permisi, ya, mau anterin dia ke kantor, terus keliling."
"Ah, iya." Mata pria itu terus tertuju pada Ayra tanpa berkedip membuat sang objek merasa risi.
Setelah mengucapkan salam, Ajeng mengajak Ayra untuk lanjut lagi. Langkah mereka terus melewati aula yang berada di depan koperasi, lurus terus sampai terlihat tugu bertuliskan "Asrama satu Putri Ar-Risalah". Sedari tadi pun Ajeng menjelaskan tentang lingkungan di sini.
"Kamu isi dulu formulirnya," titah Ajeng, menyodorkan selembar kertas bertuliskan nama dan sebagainya.
Mata Ayra masih fokus ruangan yang katanya kantor pusat putri ini. Sampai, Ajeng memanggil namanya berkali-kali pun tak ia indahkan.
Dehaman tak bersahabat keluar dari seorang gadis yang memiliki tahi lalat di keningnya. Ia menatap tajam ke arah Ayra.
"Ah, maaf," cicit Ayra sembari mengambil pulpen dan membubuhkan tulisan-tulisan di atas kertas yang tadi diberikan Ajeng.
...
Setelah tadi menyelesaikan pendaftaran, perpisahan dengan ayah dan mama, jangan lupakan drama Ayra yang merengek minta pulang, kini gadis itu sudah sah sebagai santriwati Ar-Risalah.
Gadis itu terduduk di kamar bernuansakan biru laut yang berada di lantai dua. Hanya ada dua ranjang bertingkat, tiga lemari, satu rak buku setinggi satu meter, dan satu meja belajar.
“Mbak Ajeng, mana santri barunya?” Gadis berkerudung handuk tiba-tiba masuk tanpa izin. Suara cemprengnya membuat Ayra refleks menutup kedua telinga. Oh, ayolah. Sebahagia itukah ada orang baru?
Bibir gadis itu tersenyum senang melihat orang asing terduduk di lantai sambil merapikan pakaian bersama Ajeng.
“Namaku Hana. Penghuni kamar ini juga.” Tangannya terulur untuk berkenalan dengan Ayra.
“Ayra,” balas Ayra singkat sembari menjabat tangan Hana.
Matanya mulai menilai penampilan teman sekamarnya itu. Bulu mata yang lentik dan ada tahi lalat kecil di bawah sebelah kanan bibir gadis itu. Selebihnya, putih bersih, tak ada jerawat atau pun bekasnya.
“Ayra? Ah, kamu dipanggil Mbak Ay aja. Gimana?”
Ayra hanya mengangguk pelan. Terserah mereka mau memanggil apa. Ia tidak tertarik dengan hal itu. Yang dicemaskan Ayra adalah bagaimana bisa keluar dari tempat ini atau melaluinya dengan sukses.
“Mbak Ay, sudah tahu peraturan di sini?”
Kepala Ayra mengangguk pelan.
“Di sini, santri baru dilarang pulang dari pesantren selama 4 bulan. Tujuannya, supaya bisa menyesuaikan diri di sini. Harus salat berjamaah, dan nggak telat ngaji. Kalau mau, hafalan Al-Qurannya yang rutin.
“Ngaji dimulai setelah salat subuh sampai menjelang waktu duha. Setelah itu, sekitar pukul 10 pagi sampai sebelum zuhur. Setelah zuhur pun lanjut ngaji sampai pukul 3 sore. Pukul 5 sore ngaji lagi sampai waktu magrib datang. Setelah salat isya, kita setor hafalan, muroja’ah, mudzakarah. Itu yang tadi Mbak Ajeng jelaskan."
Ditepuknya kening yang luas dengan pelan, sembari membayangkan berbagai aktivitas itu. “Bisa mati aku.” Ajeng yang didekatnya hanya tersenyum tipis. Tingkah laku Ayra, persis seperti ia dulu sewaktu pertama kali datang kemari dan menyandang status sebagai santri.
“Kamu tahu, semua santri di sini mengalami hal yang sama kayak kamu. Ya, termasuk juga Mbak sama Hana. Dulu, Mbak nangis saking nggak betahnya di sini. Tapi, lama-lama hidup menjadi santri bukan hal buruk. Banyak pelajaran hidup yang sangat berharga untuk kita kedepannya. Menjadi manusia yang bertakwa pada Allah dan menjadi hamba-Nya yang taat.”
“Iya, Ay. Dulu aku sama sekali nggak bisa masak, di rumah manja banget. Tapi sekarang, jangan remehkan masakanku. Satu lagi, kalau pulang pun aku nggak kayak dulu. Ya, jadi lebih mandiri lagi,” timpal Hana semangat.
Mata Ayra tertutup mendengar ucapan mereka. Yang ia bayangkan sekarang ini adalah rebahan di kamar kesayangannya, bukan di antara dua teman sekamarnya, Hana dan Ajeng. Berharap kehadirannya di sini hanya bunga tidur dan mama akan datang dan membangunkan Ayra saat fajar menyingsing. Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (225)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bagus ceritanya
26/02
0bAgus dan aku Suak
13/12
0saya suka dengan novelnya
12/12
0Lihat Semua