logo text

Bab 20 Wanara Berhasil Menumbangkan Panglima Rasoma

Keesokan harinya, Wanara langsung mendatangi tempat yang dituju. Yakni, barak para prajurit kerajaan Rawamerta yang menamakan diri mereka sebagai prajurit Dewa petir.
Ketika sedang terbang, Wanara mendengar suara gaduh orang-orang sedang tertawa. Seperti sedang merayakan sesuatu.
Dengan cepat, ia menukik turun dari udara menuju ke arah asal suara itu.
''Aku rasa, itu adalah tempatnya," desis Wanara mengarahkan dua bola matanya ke beberapa bangunan barak yang berjajar rapi di sepanjang pantai.
Kakinya segera menginjak tanah kembali, tepat di depan deretan barak-barak tersebut. Ratusan prajurit kala itu tengah beristirahat sambil berbincang-bincang, tampak kaget dengan kedatangan Wanara.
"Hai, pasukan Dewa petir!" seru Wanara.
Para prajurit itu tampak ketakutan. Mereka mengira Wanara adalah siluman yang datang dari langit, para prajurit itu hendak berlari masuk ke dalam barak. Namun, Wanara segera mencegahnya, "Prajurit Dewa petir jangan kabur kalian!" bentak Wanara. "Jangan jadi pengecut! Aku hanya ingin bertanya kepada kalian!" sambung Wanara.
Dengan demikian, para prajurit itu pun mengurungkan niat mereka untuk masuk ke dalam barak, dan serentak ratusan prajurit tersebut berjongkok menghadap ke arah Wanara.
Wajah-wajah mereka tampak menegang, ada banyak perasaan yang menyelimuti benak mereka. Salah satunya adalah perasaan takut dan khawatir.
"Aku akan mempermainkan prajurit-prajurit tengik ini," kata Wanara dalam hati.
Wanara menghela napas panjang, kemudian mengangkat kaki kirinya dan langsung ia letakkan di atas pundak salah seorang prajurit yang berjongkok di barisan depan.
"Apa kalian prajurit Dewa petir yang suka memeras rakyat?" tanya Wanara.
Namun, para prajurit itu tidak mengakui. "Bukan!" jawab mereka serentak memandangi satu persatu wajah-wajah para prajurit itu.
"Baiklah, kalau kalian tidak merasa sebagai pasukan Dewa petir. Perkenalkan, aku Wanara baru kembali dari Jantara," ujar Wanara memperkenalkan dirinya terlebih dahulu.
"Kami kira, Raden ini siluman, atau iblis dari langit?" seloroh seorang prajurit.
"Aku manusia sejati sama seperti kalian. Mana Panglima kalian yang katanya anti senjata tajam?"
"Ada di dalam, panglima kami sedang beristirahat, Raden."
"Bangunkan!" perintah Wanara.
"Baik, Raden." Prajurit itu bangkit dan langsung melangkah masuk ke dalam barak.
Setibanya di dalam barak, prajurit itu memberanikan diri untuk membangunkan panglimanya yang sedang terlelap tidur. Padahal hari sudah mulai siang, namun pimpinan prajurit tersebut masih tetap enak-enakan tidur.
Panglima prajurit tersebut adalah Rasoma, ia tampak sedikit marah ketika dibangunkan oleh prajuritnya. "Ada apa kau menggangguku?" Rasoma hampir mengeluarkan bola matanya ke arah prajurit yang sudah membangunkannya itu.
"Ada pemuda sakti mencari Panglima, dia sekarang ada di depan," jawab prajurit itu gugup.
"Seperti apa orangnya dan senjata apa yang dibawanya?"
Prajurit itu langsung menjawab lirih pertanyaan dari sang panglimanya, "Pemuda itu namanya Wanara, dia datang dengan tangan kosong. Tapi, dia datang dari langit, tiba-tiba saja mendarat di depan barak."
"Baiklah, tolong ambilkan pedangku!" perintah Panglima Rasoma.
Prajurit itu langsung segera mengambilkan pedang milik panglimanya. Setelah itu, ia langsung menyerahkan pedang tersebut kepada panglimanya.
"Ayo, kita keluar!" ajak Panglima Rasoma.
Dengan gagahnya, ia melangkah keluar diikuti oleh seorang prajurit di belakangnya.
"Mana orang yang bernama Wanara itu?" teriak Panglima Rasoma bertulak pinggang.
Wanara tersenyum sambil berdiri tegak mengamati gerak-gerik Panglima Rasoma.
Wanara melihat musuhnya mengenakan ikat kepala kuning keemasan yang bersinar berkilauan, jubah perang besar, celana hitam, ikat pinggang, dan memegang sebilah pedang.
Wajah Panglima Rasoma memang terlihat garang. Tubuhnya tampak kekar berotot dan tinggi mirip raksasa, dengan membawa sebilah pedang bergagang kepala naga, sepasang matanya bulat dan tajam wajah Wanara.
"Hai, Algojo!" teriak Wanara menyambut kedatangan Panglima Rasoma. "Kenapa kau tidak mau menatap wajahku?" sambung Wanara bertanya.
Panglima Rasoma menunduk, kemudian mengangkat wajahnya, dan tertawa lepas ketika melihat Wanara. Lantas, ia berkata, "Tubuhmu sangat kecil, kau juga tidak membawa senjata. Tapi keberanianmu sungguh luar biasa, meskipun tidak sepadan dengan kondisimu."
"Hai, Algojo! Jangan pernah kau menghinaku, aku bukan anak kemarin sore!" hardik Wanara membentak keras.
Begitu menghentikan ucapannya, Wanara langsung melangkah maju. Panglima Rasoma tampak memandang sebelah mata, ia tidak percaya kalau Wanara mempunyai kesaktian tinggi.
"Hai, Anak muda! Jika aku melawanku, apa kata dunia persilatan? Aku pasti dapat cibiran karena sudah melawan pendekar seperti dirimu," kata Panglima Rasoma tak hentinya melontarkan hinaan kepada Wanara.
Kemudian, ia melemparkan pedangnya ke arah para prajuritnya. Para prajurit itu sepertinya sudah mengetahui kesaktian Wanara, dengan demikian mereka pun hanya diam bergeming, tak berani ikut campur, meskipun panglimanya sudah mulai adu mulut dengan Wanara.
"Aku tidak akan pernah lari, aku akan mematahkan tangan dan merobek mulutmu yang lancang itu!" ancam Wanara geram melihat tingkah laku Panglima Rasoma.
Panglima Rasoma tertawa lepas, kemudian berkata lagi, "Baguslah, rupanya kau sangat jantan juga. Ayo maju!" sambut Panglima Rasoma mulai pasang kuda-kuda.
Ia langsung melangkah sembari mengayunkan tangan hendak memukul wajah Wanara. Wanara dengan sigap mengelak, lalu balas memukul ke arah kepala Panglima Rasoma.
"Auuow!" pekik pria bertubuh kekar itu tampak kesakitan.
Karena tubuhnya memang terlalu tinggi, ia tak bisa melayani Wanara yang melejit kian kemari dengan gesit sambil memukuli kepala dan pundaknya berkali-kali.
Dengan begitu, Panglima Rasoma pun mulai naik pitam. Karena merasa terdesak dan dipermainkan oleh anak muda itu.
Panglima Rasoma langsung meraih pedang dari tangan prajuritnya, setelah menghunus pedangnya, ia langsung menebaskan ke arah Wanara hingga mengeluarkan suara angin kencang menderu-deru.
Wanara mundur beberapa langkah, ia mulai membaca mantra dengan meraih sedikit tanah yang ia pijak, kemudian meniup tanah tersebut.
Tanah dari telapak tangan Wanara melesat karena tiupan yang berkekuatan tinggi, sehingga menyerang dan menutupi mata Panglima Rasoma. Seketika pria bertubuh kekar itu menjadi kewalahan.
Ketika, Panglima Rasoma sedang kelabakan, Wanara mengambil kesempatan emas. Dengan gerakan sangat cepat, ia merebut pedang dari tangan Panglima Rasoma, dan langsung menebas leher pimpinan prajurit itu, hingga kepalanya terpisah dari tubuhnya tergelincir jatuh ke tanah.
Setelah pimpinan prajurit itu mati, Wanara langsung merapalkan mantra dan memperbanyak wujudnya menjadi seratus wujud.
"Ayo, serang!" perintah Wanara mengarah kepada seratus orang yang mirip dengannya itu.
Demikianlah, ratusan Wanara itu pun langsung menggempur para prajurit di barak tersebut. Di bawah pimpinannya, para Wanara itu pun membunuh para prajurit kerajaan yang bertugas di barak tersebut.
Dalam waktu singkat, para prajurit itu tewas tak tersisa. "Tugas kalian sudah selesai, ayo masuk lagi ke dalam ragaku!" teriak Wanara.
Demikianlah, seratus sosok yang mirip dengan Wanara pun langsung menghilang satu-persatu. Mereka berubah menjadi sebuah sinar dan langsung masuk ke dalam tubuh Wanara.
"Tugasku sudah selesai. Mereka sudah terbunuh semua, raja pun tidak akan mengetahui kalau aku pembunuhnya. Karena tidak ada yang melihat peristiwa ini," desis Wanara.
Ia kembali menghentakkan kakinya dan langsung melesat jauh ke udara
Bukan main bahagianya semua penduduk di desa tersebut, setelah mendengar kabar terbunuhnya Panglima Rasoma dan ratusan prajurit oleh seseorang yang tidak diketahui dengan pasti.
Tak ada satu pun orang yang mengetahui tentang pembantaian para prajurit kerajaan tersebut. Hanya Wanara yang mengetahui hal itu, karena dialah pelakunya.
Ketika menjadi murid pertapa sakti yakni Ki Wirya Tama, Wanara juga pernah diajarkan bagaimana caranya melakukan trik penyerangan terhadap musuh tanpa harus diketahui oleh orang banyak.
Ki Wirya Tama pernah mengajarkan Wanara untuk pandai dalam mensiasati keadaan dan disarankan untuk membantai keseluruhan musuh di luar target.
Hal tersebut, diyakini dapat menghindari bocornya tindakan yang ia lakukan. Karena, tidak mungkin ada yang melaporkan hal tersebut jika semuanya dibinasakan.
****

Komentar Buku (502)

  • avatar
    Ranger duoPopay

    Jujurr, dari sekian Novel yg sdh sy baca, sampai saat ini, novel Wanara is the best.. penyampaian n alur cerita bagus bgt tidak muter" tidak bosenin.. Dilanjutin dong cerita Wanaranya.. Wanara is the best pokoknya.

    25/07/2025

      0
  • avatar
    Achmad Suryonegoro

    masih ok jalan ceritanya, msh terarah...

    05/02/2025

      0
  • avatar
    IstianDwi

    cerita yang menarik kisah jaman dahulu

    07/12/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru