Orang tua itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Ya, benar sekali. Kau adalah titisan Prabu Merta Jaya putra Dewa petir!" jawab Ki Wirya Tama tersenyum-senyum. Wanara mengerenyitkan kening, ia semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh orang tua itu. Lantas, Wanara kembali bertanya, "Apakah aku sangat mirip dengan Prabu Merta Jaya?" Pemuda itu tampak penasaran, seakan-akan ia ingin mengetahui lebih lanjut tentang apa yang sudah dikemukakan oleh Ki Wirya Tama. "Ada banyak persamaan di antara kalian, salah satunya adalah kesaktian yang kelak akan kau miliki!" ucap orang tua itu. Bergegas Wanara menggeser posisi duduknya, maju sampai ke hadapan orang tua itu. Lalu bersujud dan mengangguk-anggukkan kepalanya sampai tiga kali. Ki Wirya Tama memandang lekat Wanara yang bersikap sedemikian hormat terhadap dirinya. Pria senja itu, tak henti-hentinya memandangi pemuda yang ada di hadapannya dengan matanya yang jernih namun sangat tajam. "Wanara, berhentilah menganggukkan kepalamu. Tidak usah bersujud seperti itu, aku ini bukan Dewa!" "Kau adalah orang yang tepat untuk aku jadikan sebagai guru." Wanara bangkit dan kembali mundur tidak terlalu dekat lagi dengan Ki Wirya Tama. "Maksudmu, kau mau menjadikan aku sebagai guru ketigamu?" bertanya Ki Wirya Tama, seakan-akan ia mengetahui seluk-beluk kehidupan Wanara. Wanara mengerenyitkan kening, memandang wajah Ki Wirya Tama hanya sepintas, lalu menunduk lagi. "Ternyata orang tua ini mengetahui tentang seluk-beluk kehidupanku," desis Wanara dalam hati. "Jika kau mau menjadi muridku, coba kau bangkit berdiri, lalu peragakan ilmu silat yang kau miliki yang selama ini diajarkan oleh guru-gurumu terdahulu! Aku ingin melihat caramu melakukan pergerakan silat!" pinta Ki Wirya Tama lirih. "Baik, aku akan melakukan perintah Guru." Wanara langsung melompat bangun dan segera melakukan pergerakan silat yang selama ini ia pelajari. Baru saja sebentar melihat pergerakan Wanara, Ki Wirya Tama sudah tertawa terbahak-bahak melihat gerakan Wanara yang ia nilai masih lemah dan kurang kokoh dalam pertahanan. "Berdirimu kurang tegak, kau belum bisa memasang kuda-kuda dengan baik!" ujar Ki Wirya. Wanara menghentikan gerakannya, kemudian mengatur napas dan berdiri di hadapan Ki Wirya Tama. "Lantas apa yang harus aku lakukan, Guru?" tanya Wanara. "Belajar dengan giat! Mulai hari ini, kau aku angkat sebagai muridku. Karena, aku tidak dapat menolak takdir," jawab Ki Wirya Tama. "Terima kasih, Guru. Kau sudah menerimaku sebagai murid," kata Wanara berlutut di hadapan Ki Wirya Tama. "Tapi ingat! Ada syarat yang harus kau penuhi!" "Guru bilang saja, apa pun syarat yang Guru ajukan, aku akan berusaha memenuhinya!" Sejenak pria senja itu terdiam, seakan-akan sedang memikirkan sesuatu. Kemudian berkata, "Kuberi kau waktu selama tiga puluh hari atau satu bulan di sini untuk belajar ilmu kanuragan dan menyempurnakan gerakan-gerakan silat dengan kuda-kuda tegak, kaki tidak lemas dan pandangan harus terarah ke depan. Sigap dan penuh kewaspadaan!" terang Ki Wirya Tama. "Sekarang kau duduk dulu!" pinta Ki Wirya Tama. Sambil merunduk-runduk Wanara melangkah maju ke depan. Kemudian, Ki Wirya Tama memerintahkan Wanara untuk segera berbaring, Wanara pun langsung menuruti perintah guru barunya itu. "Coba kau berbalik. Tengkuraplah!" "Iya, Guru." Wanara langsung membalikkan badannya, ia sangat patuh melakukan semua yang diperintahkan oleh Ki Wirya Tama. Dengan kedua tangannya Ki Wirya Tama langsung menyasar persendian tubuh Wanara, dan mengurutnya perlahan-lahan. "Badanmu terlalu keras, sehingga tidak lentur ketika melakukan pergerakan. Ada beberapa jurus yang kau miliki, tapi pergerakannya tidak sempurna. Karena, tubuhmu ini yang kaku." Ki Wirya mengurut sekujur tubuh Wanara, dimulai dari leher, punggung, kaki, jari-jari tangan, pinggang, dan hampir keseluruhan. "Tubuhmu memang sama dengan manusia zaman dulu, tinggi dan kekar. hanya ketahanan tubuhmu saja yang lemah dan kebiasaanmu yang membuatmu seperti seorang pemuda yang polos. Jadi, kau harus banyak berlatih!" ujar Ki Wirya Tama sambil tersenyum. "Baik, Guru. Aku akan giat belajar dan terus melatih kemampuan silatku agar sempurna." "Nanti, jika pergerakan silatmu telah sempurna. Baru kau akan aku ajarkan ilmu tenaga dalam!" Setelah itu, Ki Wirya Tama memerintahkan Wanara untuk pergi ke air terjun. "Pergilah ke air terjun, dan bersihkan badanmu!" Wanara menarik napas dalam-dalam, kemudian menjawab, "Aku tidak tahu di mana letak air terjun itu, Guru?" "Kau jalan saja lewat jalan setapak itu yang langsung mengarah ke hutan. Nanti, di pertengahan hutan kau akan menemukan air terjun yang sangat indah!" kata Ki Wirya Tama. "Baik, Guru." Wanara bangkit dan langsung pamit kepada Ki Wirya Tama. "Aku berangkat sekarang, Guru." Wanara melangkah dan berlalu dari hadapan Ki Wirya Tama, ia berjalan begitu riang menyusuri jalan setapak yang lurus masuk ke dalam hutan. Namun, ketika tiba di pertengahan hutan tersebut. Wanara dikejutkan oleh kehadiran dua pria bertubuh kekar, kedua pria itu mengenakan jubah sama persis dengan jubah yang dipakai oleh Ki Wirya Tama dari corak dan warnanya tidak ada perbedaan sedikit pun. Dua pria itu, mencoba menghalangi langkah Wanara. "Hai! Kau mau ke mana, Anak muda?" "Izinkan aku lewat, Ki! Aku hendak mandi ke air terjun," jawab Wanara lirih, tetap bersikap tenang dan ramah. "Apakah kau punya barang berharga?" tanya salah seorang dari mereka. "Tidak, Ki. Aku tidak punya apa-apa, aku hanya seorang pengembara," jawab Wanara mulai resah dengan kehadiran dua pria itu. "Aku tidak mungkin menang melawan mereka, sedangkan tubuh mereka besar-besar," kata Wanara dalam hati. "Jangan bohong! Aku rasa pedangmu cukup berharga, serahkan pedangmu itu!" "Jangan, Ki. Ini warisan orang tuaku!" "Persetan dengan warisan. Serahkan pedangmu! Atau kau mau mati?" Mendengar ancaman dari orang tersebut, Wanara sedikit merasa emosi. Kemudian, Wanara pun berkata, "Tidak semudah itu kalian dapat menguasai pedang ini. Kalian tidak akan pernah bisa menyentuh pedang pusaka ini," bentak Wanara. Kedua pria itu tampak lebih bersemangat lagi mendekati Wanara dan mereka menganggap bentakkan Wanara merupakan sebuah lelucon. "Kau akan mati konyol jika tidak mengabulkan keinginan kami!" kata salah seorang dari kedua pria itu, kemudian langsung mengayunkan kaki kirinya dan menendang keras pinggang Wanara. Wanara memekik keras tubuhnya pun terjungkal beberapa tombak ke belakang. Tidak berhenti begitu saja, satu orang lagi menghentakkan kakinya ke arah perut Wanara, kemudian membungkukkan badan dan menyapu wajah Wanara dengan sentuhan tangan kekarnya. Dengan demikian, hidung dan mulut Wanara mengeluarkan darah segar. Seiring dengan derasnya darah yang keluar dari hidung dan mulutnya, seketika Wanara pun mulai kehilangan keseimbangan. Pandangannya mulai redup dan berkunang-kunang, namun ia tetap berusaha untuk bertahan. Akan tetapi, tendangan keras pun kembali menghantam punggungnya, hingga pada akhirnya Wanara terjatuh dan kehilangan kesadarannya. "Akhirnya pingsan juga anak muda ini," ucap pria berjanggut tebal. "Kau ambil pedang anak muda itu! Jika kita jual harganya pasti mahal," sambung pria itu mengarah kepada kawannya. Kawannya pun segera melangkah untuk mengambil pedang pusaka yang menyanggul di punggung Wanara, baru saja membungkukkan badan hendak meraih pedang tersebut. Tiba-tiba melesat cepat sebuah tendangan tak terduga arah kedatangannya tepat menghantam wajah pria itu, sehingga pria itu terjatuh beberapa tombak ke belakang. ****
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (502)
Ranger duoPopay
Jujurr, dari sekian Novel yg sdh sy baca, sampai saat ini, novel Wanara is the best.. penyampaian n alur cerita bagus bgt tidak muter" tidak bosenin..
Dilanjutin dong cerita Wanaranya.. Wanara is the best pokoknya.
Jujurr, dari sekian Novel yg sdh sy baca, sampai saat ini, novel Wanara is the best.. penyampaian n alur cerita bagus bgt tidak muter" tidak bosenin.. Dilanjutin dong cerita Wanaranya.. Wanara is the best pokoknya.
25/07/2025
0masih ok jalan ceritanya, msh terarah...
05/02/2025
0cerita yang menarik kisah jaman dahulu
07/12/2024
0Lihat Semua