logo text

Bab 49 Pengaruh Obat

Tiba di malam hari, setelah Louis bertemu dengan Indry, dia harus bergegas pergi ke kantor Ken lagi, dia perlu menjemput Ken untuk mengantarnya pulang. Seperti biasa. Namun, begitu Louis tiba di sana, Ken masih belum menyelesaikan pekerjaannya, membuat Louis hanya duduk di sana menemani Ken.
"Memangnya kamu sudah selesai kencannya dengan Indry?" tanya Ken, netranya terus fokus menatap berkas di hadapannya.
"Sudah, Tuan. Sudah beres, sekarang tinggal Tuan yang perlu saya bereskan," jawab Louis.
Ken sontak saja mendongak dan menatap Louis dengan tajam. "Maksud kamu apa?"
Pertanyaan itu Louis tanggapi dengan ringisan terlebih dahulu, dia puas telah membuat Ken kesal, karena entah kenapa membuat Tuannya kesal menjadi hiburan tersendiri untuk Louis akhir-akhir ini.
"Maksudnya mengantar Tuan pulang, setelah itu pekerjaanku beres dan aku bisa pulang untuk segera istirahat," jawab Louis.
Ken mendesis, dia menarik sudut bibirnya dengan sinis. "Padahal aku tidak memintamu untuk kembali ke sini."
Ya memang, batin Louis. Namun, ini sebuah kebiasaan yang sudah menjadi rutinitas pekerjaan Louis. Jadi meski Ken tidak memintanya untuk kembali, secara naluri Louis akan kembali, karena itu bagian dari pekerjaannya. Seharusnya jika Ken tidak memerlukan Louis lagi, Ken perlu memberi tahu Louis agar tidak perlu kembali lagi ke kantor hanya untuk menjemputnya.
Namun, Ken justru tidak mengatakan itu, dan dengan tenangnya mengatakan kepada Louis bahwa dia tidak memintanya untuk kembali setelah Louis berada di hadapannya.
"Jadi bagaimana?" tanya Louis pada akhirnya.
"Ya sudah terlanjur mau bagaimana lagi?" Ken menjawab dengan pertanyaan. "Jadinya kamu perlu menunggumu selesai bekerja dulu."
Louis mengangguk, tidak keberatan sama sekali. Sehingga kini ia duduk di salah satu kursi yang tersedia di ruang kantor Ken. Di saja dia menunggu dengan perhatian penuh yang tersita oleh banyaknya barang di ruangan Ken. Louis hanya menyusurkan netranya mengarah ke sembarang arah hingga akhirnya sosok Ken melintas tepat di hadapan Louis.
"Ayo pulang!" katanya.
Louis bergegas saja beranjak dari duduknya, lalu mengikuti Ken yang sudah melangkah ke luar kantor.
Hingga tiba di tempat parkir, Louis langsung memasuki kursi kemudi, sementara Ken duduk di sisi kemudi. Setelah semuanya siap, Louis pun melajukan mobilnya, meninggalkan lahan kantor perusahaan Ken menuju rumah Ken.
Di perjalanan hening, hanya ada suara radio bervolume kecil yang menjadi satu-satunya suara di dalam mobil itu. Ken sendiri hanya diam dengan pandangan lurus ke depan. Louis pun demikian.
"Jadi sekarang Tuan sudah bebas bergerak ya, karena sudah tidak pura-pura buta lagi?" tanya Louis, akhirnya dia membuka obrolan karena tidak betah dengan kesunyian yang terjadi di antara mereka.
"Setidaknya di hadapan Karina dan orang tuaku," jawab Ken.
"Ah iya, mengenai orang tua Tuan, bagaimana tanggapan mereka setelah mendengar pengakuan dari Tuan?" Louis yang penasaran pun bertanya.
"Memangnya aku belum cerita sama kamu?"
Mendengar itu, Louis menggeleng-gelengkan kepalanya. "Belum."
"Padahal itu sudah lama sekali, sudah dua Minggu berlalu," kata Ken.
Hal itu pun mengundang keterkejutan Ken, karena dia biasanya apa-apa selalu menceritakannya kepada Louis. Namun, yang satu itu Ken lupa menceritakannya. Mungkin karena saking leganya Ken mendapat maaf dari kedua orang tuanya, Ken jadi merasa itu bukan masalah lagi yang perlu Ken pikirkan. Jadi ketika Ken tidak memikirkannya, ia tidak memerlukan Louis untuk membagi pikirannya itu. Sepertinya begitu.
Seketika Ken merasa bersalah, karena telah bersikap seolah Ken bercerita kepada Louis saat ada maunya saja, seperti Ken yang hanya membagi ceritanya kepada Louis yang buruk-buruk saja, lalu ketika Ken sudah menyelesaikan masalahnya, dia tidak membutuhkan Louis lagi. Ken pun meminta maaf dalam hati kepada Louis.
"Kenapa Tuan tidak menceritakannya kepadaku?" tanya Louis.
"Lupa." Ken menjawab, lalu ia melanjutkan, "Mereka kecewa, seperti yang pernah kita duga. Hanya saja mereka tidak marah, maksudnya mereka marah, tapi memilih untuk memaafkanku."
"Tidak seperti istri Tuan yang perlu diberi bunga dan semacamnya?" tanya Louis, bermaksud bercanda.
Ken terkekeh. "Tidak perlu itu."
"Sekarang masalahnya sudah selesai."
Louis pun mengangguk. Dia lekas menatap sisi wajah Ken sekilas, hanya untuk memikirkan kembali pengakuan Indry tadi, mengenai Karina yang hamil. Bagi Louis, seharusnya Karina mengatakannya kepada Ken nanti, ketika Ken pulang ke rumahnya. Pasti kabar itu akan menjadi hadiah paling membahagiakan untuk Ken ketika ia pulang bekerja, dan menjadi penawar rasa lelah Ken setelah seharusnya ini bekerja.
Namun, Louis iba karena pada kenyataannya Ken menjadi orang yang dikecualikan oleh Karina untuk mengetahui perihal kehamilannya. Entah apa yang wanita itu pikirkan, Louis tak habis pikir. Meski Louis duga karena mereka menikah secara paksa, tapi janin yang ada di dalam kandungan Karina itu hasil bersama. Sudah seharusnya Ken berhak tahu. Tapi mungkin Karina memiliki alasan yang lebih dari itu, sehingga Louis tidak mau ikut campur.
"Kenapa ya," celetuk Ken, kembali bersuara. "Kok aku merasa seperti ada sesuatu."
"Sesuatu apa?"
"Tidak tahu, seperti ada sesuatu saja, seolah aku akan diberi hadiah atau semacamnya."
"Perfect, memang anak hasil bersama akan terhubung dengan naluri orang tuanya," batin Ken bersuara. "Tapi sayang, Tuan, tidak akan mendapatkan hadiah itu. Hadiah itu disembunyikan," lanjut Louis masih membatin.
"Mungkin istri Tuan masak banyak malam ini," kata Louis.
***
Kenyataannya Karina tidak masak banyak. Bahkan di meja makan tidak ada apa-apa, pun ketika Ken tiba di dalam rumah, Karina tidak menyambutnya seperti yang biasa Karina lakukan setiap saat. Hal itu pun mengundang keheranan bagi Ken.
Karina tidak ada di mana-mana, membuat Ken memutuskan untuk menuju kamar, dan di dalam sana Ken mendapati Karina sudah tertidur. Lantas Ken pun melirik jam hanya untuk mengetahui bahwa malam itu baru pukul tujuh malam. Karina tidak biasanya tidur secepat itu. Namun, akhir-akhir ini Ken memang kerap mendapati Karina tidur lebih cepat dari biasanya.
Sebenarnya itu tidak akan menjadi aneh, jika saja biasanya Karina melakukan itu. Namun, nyatanya Karina tak pernah seperti itu, sehingga ketika Karina melakukannya, Ken heran dan menganggap ada keanehan dalam diri Karina.
"Dia tidak apa-apa, kan?" Ken bertanya-tanya, lantas dia melangkah mendekat ke ranjang hanya untuk mendapati wajah Karina yang terlihat pucat.
"Loh, dia pucat?" Mendadak ada sedikit rasa panik melanda Ken.
Ken bergegas meletakkan telapak tangannya pada dahi Karina, hendak mengecek suhu tubuhnya. Namun, Ken tidak merasa suhu tubuh Karina panas, hanya hangat saja.
"Apa dia sakit?" tanya Ken.
Akhir-akhir ini Ken memang merasa ada yang tidak biasa dalam diri Karina, tapi Ken tidak terpikirkan bahwa Karina sakit atau apa. Ken terlalu sibuk sehingga dia kurang memperhatikan Karina.
"Ya sudahlah, biarkan dia istirahat, Ken," ucap Ken pada dirinya sendiri.
Setelah itu, Ken menaruh tas kerjanya di atas meja, ia juga menarik dasi yang melilit pada kerah kemejanya itu, kemudian Ken menyambar handuk dan segera melangkah ke kamar mandi. Namun, baru niat hati ingin melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi, Karina terbangun dari tidurnya, dan spontan melangkah dengan cepat melewati Ken untuk memasuki kamar mandi.
Di dalam sana, Karina muntah-muntah. Aksi itu yang terlihat oleh Ken membuat Ken panik luar biasa.
"Karina, kamu kenapa?" tanya Ken, dia menghampiri Karina dan berusaha memijat tengkuk leher sang istri.
Karina masih memuntahkan isi perutnya, yang padahal tidak ada apa-apanya. Namun, rasa mual di dalam perutnya sangat menyiksa Karina, dia benar-benar ingin menuntaskan habis apa yang ada di perutnya itu supaya lega. Namun, sekuat apa pun Karina berusaha untuk memuntahkan isinya, tidak ada apa-apa yang keluar. Hanya ada cairan yang tidak seberapa. Tapi tetap saja Karina ingin memuntahkannya lagi.
"Kamu sakit?" tanya Ken. "Kita sebaiknya pergi ke dokter!"
"Tidak perlu!" Karina langsung menolak.
"Tapi kamu muntah-muntah seperti ini." Dengan wajah panik, Ken terus memijat tengkuk leher Karina dengan lembut.
"Ini hanya masuk angin," kata Karina. "Tidak perlu berlebihan sampai ke rumah sakit."
"Tapi nanti kalau tidak diperiksa semakin parah bagaimana?" tanya Ken, dia cukup kesal karena Karina keras kepala.
"Jangan sepelekan itu, Karina." Dan Ken memperingati.
"Aku tidak apa-apa. Hanya masuk angin biasa. Sudahlah!"
Karina pun beranjak setelah ia membasuh mulutnya. Kemudian ia kembali membaringkan tubuhnya di atas kasur, menghiraukan Ken yang saat ini masih menatapnya dengan lekat. Karina berusaha memejamkan mata meski ia tahu Ken terus menatapnya. Karina ingin menghilangkan pikirannya mengenai Ken. Berhadapan dengan Ken membuat Karina terus memikirkan kehamilannya, yang akan Karina sembunyikan dari Ken.
"Kamu benar-benar tidak apa-apa?" Ken mencoba memastikan.
Karina mengangguk saja, lalu memberi acungan jempol. Namun, barangkali Ken tidak puas, akhirnya Karina menjawab. "Aman. Aku tidak apa-apa. Hanya perlu istirahat."
"Ya sudah, kalau ada apa-apa segera panggil aku!" Ken memberi pesan.
Setelah melihat Karina menanggapi dengan anggukan, Ken pun melanjutkan niatnya memasuki kamar mandi untuk segera mandi. Sementara Karina yang tahu Ken telah masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya dengan rapat, Karina pun membuka matanya.
"Maaf, Ken. Aku belum bisa memberitahumu soal kehamilanku ini. Aku tahu kamu berhak, tapi aku belum siap mendengar kemungkinan yang buruk jika kamu mengetahui ini." Karina bergumam.
"Kehamilanku terjadi karena kita melakukan hubungan itu atas pengaruh obat, aku tidak tahu dengan pasti apakah itu berarti penting untukmu sehingga mungkin saja kamu menganggap bahwa itu hanya kecelakaan, selain itu kita hanya dijodohkan saja. Aku pikir kamu tidak akan menganggap pernikahan kita serius."
"Jika begitu, bisa saja kamu tidak menginginkan anak kita." Karina menduga itu sejak tadi, karena mereka melakukan itu atas pengaruh obat, bukan keinginan mereka.
Karina takut bahwa Ken tidak menginginkan anak mereka. Karena itulah Karina ragu untuk mengatakannya. Jadi dia perlu mempersiapkan diri terlebih dahulu. Jika ia telah siap menerima kemungkinan apa yang terjadi nanti, maka Karina akan menyampaikannya kepada Ken.

Komentar Buku (404)

  • avatar
    Tataaaaa

    baguss

    15/05

      0
  • avatar
    Itsmetata

    bagusss

    22/12

      0
  • avatar
    SafiraNasya

    bagussss

    12/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru