Dua Pil Tidur

Evan menarik pinggang Anin hingga tubuh mereka tak berjarak, dia hendak mencium kembali istrinya tapi langsung teringat kejadian pagi tadi. Mereka sudah begitu 'panas' dan hampir melakukannya tapi akhirnya Evan harus mendinginkan badannya sendiri di bawah kucuran shower.
Evan melepaskan pelukannya dan berpura-pura sibuk dengan sesuatu di meja dapur. Dia tidak ingin hanyut lagi dalam permainan yang dia buat sendiri seperti tadi pagi.

"Apa kamu kecewa menikah denganku mas?" tanya Anin.
Wanita itu memeluknya dari belakang, menyandarkan kepalanya pada punggung Evan.
"Kau mulai lagi Anin, apa maumu sebenarnya?" batin Evan.
Dielusnya tangan Anin yang melingkar di perutnya.
"Apa yang kamu katakan? aku bahagia bisa menikah lagi denganmu. Ayo cepat selesaikan masaknya, aku sudah lapar," tutur Evan sambil membalikkan tubuhnya dan tersenyum semanis mungkin.
"Apa aku harus meracik bumbunya?" tanya Evan lagi.
"Jangan, biar aku saja, kamu duduk saja disitu." Anin menunjuk sebuah kursi yang ada di dekat meja makan."
"Bagaimana bisa aku duduk, bukannya kita mau masak bersama." Evan berdiri di samping istrinya dan memperhatikan cara dia memasak.
"Albanna pulang jam berapa?" tanya Evan memecah kesunyian.
"Entahlah, Meysha tidak bilang mau mengantarkannya jam berapa. Tapi jika tidak pulang-pulang kita tinggal menjemputnya."
"Oh iya, betul juga."
Setelah lama memasak di dapur akhinya mereka selesai juga memasak yang diselingi candaan, sesekali Evan memeluk dan mencium pipi istrinya. Satu hal yang di pelajari Evan hari ini, Anin bersedia di peluk dan dicium tapi dia tidak mau melakukan lebih jauh lagi. Evan memang harus punya rem yang pakem untuk bisa menahan dirinya sendiri.
"Aku akan mandi dulu baru makan," ucap Evan saat istrinya sudah menyelesaikan masaknya.
"Nggak makan dulu, tadi katanya lapar."
"Mau mandi dulu saja," sahut Evan sambil berlalu menuju ke kamarnya.
Anin membiarkan suaminya untuk mandi, sedangkan dia sendiri membereskan dapur sekaligus menyiapkan makanan di meja makan.
***
Hingga jam lewat jam delapan malam, Meysha belum juga mengantarkan Albanna. Anin dan Evan menunggunya sambil menikmati acara televisi yang sebenarnya tidak mereka tonton. Duduk di sofa setelah makan bersama tadi.
"Ceritakan tentang Albanna," ucap Evan sambil menyadarkan punggung ke sofa.
"Menceritakan tentang apa?" tanya Anin, saat ini dia duduk di samping Evan.
"Kenapa kamu memberinya nama itu?" tanya Evan memancing, dia ingin tahu dari mulut Anin sendiri tentang hal itu. Bukan sekedar asumsi dari Fajar.
"Apa kamu akan memaksaku jika aku tak mau menjawabnya?" sahut Anin balik bertanya.
"Tidak, aku tak akan pernah memaksamu perihal apapun."
"Apa kamu menderita saat itu?" tanya Evan lagi.
"Tidak ... Mas Fajar selalu menghiburku hingga aku tak pernah merasakan kesepian dan penderitaan."
Mendengar jawaban Anin ada rasa cemburu menyelusup dalam dada Evan.
"Aku cemburu ...." desis Evan.
"Apa kamu mencintainya?" lanjutnya bertanya.
"Kalau aku mencintainya, saat ini aku tidak akan ada disini bersamamu mas."
"Ah iya, itu jawaban yang bijaksana meskipun bukan jawaban dari pertanyaanku."
"Apa kamu menderita membesarkan Albanna?" lanjut Evan bertanya.
"Tidak, dia harta paling berharga yang aku miliki. Aku bisa hidup bahagia disana karena anak itu. Terimakasih sudah menitipkannya didalam rahimku," ucap Anin tulus.
Evan tidak bisa berkata apa-apa, apa itu hal yang patut mendapatkan ucapan terima kasih? Dia mencampakkan istri dengan begitu kejam. Bahkan dia tak tahu jika benihnya tumbuh dirahim wanita yang dia sakiti.
"Aku tak pantas mendapatkan ucapan terimakasih," bisik Evan sambil menatap kearah Anin.
Anin juga menatap ke arah Evan, pandangan mereka saling mengunci. Saat wajah mereka begitu dekat hingga hangat hembusan nafas mereka begitu terasa satu sama lain, tiba-tiba bel apartemen mereka berbunyi.
"Albanna sudah pulang sepertinya, aku akan membuka pintu," ucap Anin sambil bangkit dan berjalan menuju pintu.
Evan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali untuk menetralisir detak jantungnya.
Benar saja Albanna pulang diantar Meysha dan Fajar, tapi Anin bilang mereka tidak masuk karena sudah malam.
"Bunda ... Al mau tidur sendiri," ucap Albanna sesaat setelah masuk.
"Albanna masih kecil, gak boleh tidur sendiri."
"Tapi Al anak pemberani. Pokoknya bunda tak boleh tidur di kamar Al."
"Terus bunda tidur dimana?" tanya Anin.
"Disana!" jawab Albanna sambil menunjuk kamar papanya.
"Al bobo dulu," pamitnya sambil mencium kedua orangtuanya kemudian masuk begitu saja kedalam kamarnya seorang diri.
"Tapi kamu masih kecil, nak." bujuk Anin.
"Sudah besar bunda."
"Biarlah, nanti kita lihat jika dia sudah tertidur. Sekarang jika kamu mau tidur, masuklah ke kamarku. Aku akan menemani Albanna dulu."
Dengan enggan Anin masuk kedalam kamar Evan, sedangkan Evan masuk ke kamar dimana Albanna berada.
"Papa tak boleh disini," tolak Albanna.
"Papa akan menemanimu, nanti jika Albanna sudah tidur, papa akan pergi dari sini. Janji," ucap Evan.
Albanna menurut, sambil bercerita lama kelamaan akhirnya Albanna tertidur dengan pulas.
Seperti janjinya, Evan segera pergi dari kamar sang anak dan memilih untuk kembali ke kamarnya.
Melihat Evan masuk, Anin hendak keluar dari kamar itu.
"Aku akan menemani Albanna," ucap Anin.
"Tidurlah disini, dia tidak akan suka jika melihatmu disana. Tadi dia bilang, Meysha mengatakan jika anak laki-laki harus tidur sendiri bukan sama bundanya."
"Ah, Meysha. Bocah itu kenapa mengatakan hal seperti itu pada anak sekecil Albanna," gerutu Anin.
"Kalau kamu tidak nyaman tidur berdua, aku bisa tidur di sofa," ucap Evan.
"Tidak apa-apa mas, masa kamu tidur di sofa sih. Aku akan tidur disini bersamamu. Hanya tidur kan?" tanya Anin memastikan.
"Ya, hanya tidur!" sahut Evan.
Evan merebahkan tubuhnya di ranjang, begitupula Anin. Mereka tidur berhadapan dengan berjarak.
"Tidurlah ...." ucap Evan sambil memejamkan mata.
Saat kesadarannya mulai menghilang hanyut dalam tidurnya, Evan merasakan hembusan nafas hangat menerpa wajahnya. Wajah Anin begitu dekat dengannya.
"Kenapa?" tanya Evan membuka matanya kembali.
Bukan menjawab pertanyaan Evan, Anin malah mendaratkan kecupan di bibir suaminya.
"Kau ...." Evan tidak menyelesaikan kalimatnya karena lagi-lagi Anin menciumnya.
Evan mulai kehilangan kendali atas dirinya. Dia tak tahan lagi dan membalas ciuman istrinya, melakukan apa yang tadi pagi dia lakukan. Dan lagi ... Saat tangannya hendak bertindak lebih jauh, sang istri kembali mencegahnya dengan kalimat andalannya.
"Mas, kamu bilang ...."
"Tidurlah ...." sahut Evan cepat, dia biarkan Anin tetap dalam pelukannya.

Meredan kembali jiwa lelakinya yang hampir terbangun sesaat yang lalu.
Setelah merasa Anin sudah tertidur, Evan segera bangun dari tempat tidurnya. Rasa kantuknya sudah menguap. Evan membuka laci mejanya, mengambil botol obat dan menelan dua buah pil tidur sekaligus.
Dia memilikinya, kadangkala jika kesulitan tidur dia memang akan menelan pil yang sudah di resepkan oleh sahabatnya itu. Tapi kali ini dia meminumnya lebih dari satu.
🍁🍁🍁

Komentar Buku (324)

  • avatar
    Uslifatunisa

    Suka banget sama ceritanya. Ditunggu lanjutannya, Thor.

    06/06/2022

      0
  • avatar
    Shinnalee24

    lanjutt plssss

    26d

      0
  • avatar
    PermataPuput

    ceritanya sangat bagus dan menginspirasi terdapat nilai" positif d dalam nya

    10/08

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru