Bab 22 Kamu Manis

“Thenia, apa kamu terpesona oleh aksi heroikku?”
Setelah dipikir-pikir, aku lebih baik mencobanya. Entah apa yang akan terjadi nanti, aku akan menghadapinya.
Ditanyai seperti itu olehku, Thenia tersentak mendengarnya. Dengan wajah yang berona merah, dia berkata dengan suara yang tak terkendali “Ma-mana ada!? Kau jangan sok tahu ya!”
“Lalu, apakah ada alasan tentang perubahan sikapmu yang terkadang cerewet juga pendiam seperti saa ini?” tanyaku lagi, menatap Thenia sambil tersenyum penuh makna.
“Itu... Itu karena...” Dengan suara yang tergagap, Thenia nampak kebingungan bagaimana menjawab pertanyaanku. Tingkahnya memperlihatkan, betapa sedang berpikir kerasnya dia hanya untuk mencari alasan yang sebenarnya telah ada. Namun, dia tak ingin mengungkapkan alasan yang sebenarnya.
Thenia hanya tak tahu pasti apa yang sedang dirasakannya itu. Entah karena bingung bagaimana dia mengungkapkannya atau malu, pada akhirnya dia tetap takkan menggunakan alasan tersebut.
“Karena apa?” tanyaku lagi, seolah aku merasa tak sabar ingin mendengar.
Thenia semakin terlihat salah tingkah mengetahui dirinya terlalu lama untuk menjawab. Dia terbang sedikit menjauh dan tak sedikitpun melirik padaku.
Melihat Thenia yang nampaknya kesulitan untuk mengungkapkan alasannya, aku berniat menebaknya sesuai dengan apa yang sebelumnya kurencanakan. Dengan harapan, Thenia mampu menjadi dirinya sendiri seperti sebelum-sebelumnya.
“Biar kutebak, apakah karena aku menyebutmu manis?”
Thenia segera memelototiku dengan ganas, seolah dalam tatapannya itu tersirat sebuah perintah untukku menarik kata-kataku. Namun, Thenia hanya membuka mulut kecilnya tanpa terdengar suara sama sekali.
“Aah... Berarti kalau diam, tebakanku benar?” Aku mencoba memancingnya. Siapa tahu, dengan memberikan pernyataan yang merujuk pada kondisi Thenia saat ini, mau tak mau Thenia harus bersuara untuk menyanggah atau mungkin membenarkannya.
“... Iya.” Setelah bersuara dengan ucapan yang tak dapat dimengerti, akhir katanya terucap seperti itu dengan Thenia tertunduk malu.
Aku yang tak ingin Thenia terlaurt-larut dalam rasa malu, berniat membuatnya marah agar melupakan kejadian ini. “Kamu salah sangka, Thenia. Maksud manisnya dirimu itu bukan penampilanmu, melainkan rasa tubuhmu bila kumakan...” ucapku dengan ringan sambil tersenyum.
Apa yang kudapatkan selepas mengatakannya adalah sebuah pukulan keras pada keningku, hingga berasap dan membuatku jatuh terlentang. Saat kulihat, Thenia menampilkan wajah yang memerah karena marah dengan tangan kecilnya dikepalkan yang barusan digunakan untuk memukulku.
Meskipun secara fisik kecil, tetapi yang kurasakan seperti mendapati sebuah pukulan oleh pria kekar. Dengan kepalan tangan yang besarnya, keningku menjadi sasaran samsak tinju.
“Bodoh!’ jerit Thenia dengan napas yang terengah-engah.
Aku tidak merasa marah, meski sakit yang kudapat sempat membuatku sakit kepala. Apalagi saat kulihat, Thenia kini menatapku dengan khawatir bahwa dirinya telah memukulku begitu keras membuatku kembali tersenyum.
Melihat Thenia yang tidak berani mengungkapkan rasa khawatirnya, membuatku merasa sia-sia telah merasakan pukulan dari sosok Ratu Peri yang Dikhianati. Belum terlihat Thenia menjadi dirinya sendiri, sebagai hasil dari yang kuharapkan.
Dengan telunjukku, aku mendorong kening Thenia dengan pelan. Bila Thenia berukuran sama sepertiku, aku akan menjitak keningnya dengan pelan sebagai wujud balas dendamku.
“Ugh!?” Thenia nampak kaget mendapati perlakuan seperti itu dariku.
“Apa? Aku hanya membalasmu...” Aku yang tahu tatapan itu memberikan penjelasan yang singkat dan jujur.
“Hmph!” Sambil memalingkan wajahnya, Thenia dengan pelan terbang menuju bahuku. Lalu tanpa mengatakan apapun, dia duduk begitu saja.
Aku tersenyum melihat Thenia yang masih malu-malu duduk di bahuku. Kupikir membutuhkan waktu untuk kembali menjadi dirinya sendiri seperti yang pertama kali kukenal. Namun dengan begitu, usahaku sebelumnya tidaklah sia-sia.
Malam yang bagaikan siang bagiku membuatku dapat memiliki penglihatan pada malam hari selayaknya orang-orang melihat di siang hari. Mendapati sebuah pemberitahuan yang tak dapat kugambarkan bagaimana rasanya, namun mirip dengan saat seseorang ataupun benda menyentuh kulitku, pandanganku segera teralihkan ke arah pepohonan yang menghimpit jalan.
Satu per satu orang kulihat berpakaian seragam warna hitam dan berpenutup kepala melompat dari satu dahan ke dahan yang lain menuju ke arah yang sama denganku. Entah mereka tidak menyadari keberadaanku ataupun mereka dengan sengaja mengabaikanku, yang jelas di depan sana akan terjadi sesuatu.
Aku memiliki firasat buruk yang berkaitan dengan mereka. Dari mereka, terpancar aura yang tak mengenakkan hati. Seolah hati ini mengatakan bahwa mereka bukan orang baik-baik.
“Orang-orang itu adalah pembunuh, aura pembunuh mereka sangat tebal. Mungkin, mereka telah terbiasa dengan menjadi malaikat kematian. Apa kau tak ingin mengejar mereka?” Thenia menunjuk ke arah orang-orang itu yang kian menjauh.
Sebelum aku berniat menanyakan tentang aura pembunuh ini, aku lebih tertarik dengan alasan Thenia menanyakanku seperti itu. “Memangnya, kenapa aku harus mengejar mereka? Bukankah nanti saat aku bertemu dengan mereka malah menjadi masalah?” tanyaku dengan kebingungan.
“Apa kau takut?” tanya Thenia dengan nada yang meledekku.
“Ti-tidak dong. Apa kamu pernah melihatku ketakutan, bahkan saat berhadapan dengan ular yang itu?” tanyaku tak terima diledek seperti itu, karena memang sejauh ini aku belum pernah merasakan rasa takut atau sebenarnya perasaan semasa aku hidup di kehidupanku sebelumnya tidak kurasakan lagi sejak bangkit dalam tubuh tulang kerangka.
“Tapi, aku merasakan ketidaknyamanan terpancar dari mereka, meski jarak antara mereka denganku terpaut cukup jauh...” ujarku dengan jujur.
“Itulah aura pembunuh, seperti itulah gambarannya. Yang jelas, mereka adalah orang-orang yang selalu menebar teror. Lalu, apa kau ingat ke arah mana rombongan perempuan yang kau tolong itu pergi?”
Saat kuteringat setelah mendengar ucapan Thenia, aku tersentak. Rombongan Putri Amy adalah arah yang kuambil untuk pergi memulai perjalananku. Ada kemungkinan, Putri Amy berada dalam bahaya, bila dikaitkan dengan keberadaan orang-orang berseragam hitam. Sedangkan, identitas Putri Amy pastilah istimewa.
Memiliki identitas istimewa, popularitas, kekayaan, ataupun yang semacamnya dapat menimbulkan kebencian dari pihak yang menjadi saingan. Saat saingannya tak mampu untuk bersaing lagi, berbagai cara pasti ia lakukan untuk melampaui saingannya.
Rasa khawatir muncul tiba-tiba, sehingga membuatku segera melesat menuju ke arah rombongan Putri Amy dan juga menyusul orang-orang berseragam hitam.
‘Semoga saja aku tidak terlambat...’
...
Suara langkah kaki kuda terdengar sepanjang jalan selama sepanjang malam. Tak peduli betapa dinginnya udara pada malam hari, Kusir memaksa kuda-kuda untuk tetap menerobos gelapnya malam.
Kusir telah mendapat titah dari Tuannya untuk tidak sekalipun berhenti. Bahaya sedang mengejar mereka, dengan Putri Amy sebagai tujuan utama dari bahaya yang sedang datang itu.
Meski kuda-kuda yang menarik kereta merupakan kuda yang berkualitas, ketidakberuntungan sempat menghadang perjalanan dan malah mendapatkan korban jiwa dari pihak para pengawal. Oleh karena itu, perasaan was-was membuat jantung Kusir tak berhenti berdebar akhir-akhir ini. Dia takut bahaya yang dimaksud oleh Tuannya mampu menyusul rombongan Putri Amy.
Hanya Kusir dan Komandan Pasukan yang mengetahui bahaya sedang mengejar. Keduanya telah sepakat untuk tidak membuat semuanya panik, terutama Putri Amy.
Semakin sedikit yang mengetahui akan membuat situasi semakin baik.
Namun, begitu rombongan Putri Amy sampai pada pertigaan jalan, di sana telah menunggu orang-orang yang memakai seragam berwarna hitam. Firasat buruk Kusir tak terelakkan lagi.
Komandan Pasukan, Robert yang juga memiliki firasat buruk tersebut segera menyerukan kepada para pengawal untuk membentuk barisan pertahanan. Dia sendiri bersama beberapa orang lainnya membuat barisan baru yang lebih kecil mengelilingi sekitaran kereta.
Sebagai seorang komandan pasukan, Robert cukup mengenali orang-orang yang memakai seragam serbahitam di depan sana. Mereka adalah orang-orang yang berasal dari sebuah organisasi besar yang bernama Glorious Assassin. Orang yang membayar para pembunuh bayaran dari organisasi tersebut haruslah orang yang memiliki popularitas yang tinggi maupun kekayaan yang banyak.
Telah dapat dipastikan, para pembunuh bayaran tersebut merupakan suruhan dari seorang bangsawan atau semacamnya.
Robert tak memiliki waktu untuk mengamati mereka lebih lama sebelum para pembunuh bayaran itu memulai aksinya.
“Bersiaplah!” Tak sampai dapat mengedipkan mata setelah Robert berseru, para pembunuh bayaran tanpa membuang-buang waktu dan tenaga dengan hanya sekedar bersuara, mereka dengan ganasnya menyerang barisan pertahanan.
Dengan pengalaman yang banyak dalam pembunuhan, para pembunuh dapat dengan mudah menembus barusan pertahanan. Tak peduli dengan betapa terlindunginya tubuh para pengawal oleh perlengkapan pelindung tubuh, mereka tak berdaya saat area-area vital mendapat serangan yang mematikan.
Hanya satu kali tarikan napas, barisan pertahanan bagian luar telah runtuh.
Dalam situasi yang terkepung, tak ada jalan lain selain bertarung habis-habisan. Tak peduli dengan apapun lagi, harapan mereka hanya keselamatan Putri Amy agar pengorbanan mereka tidak sia-sia.
“Semoga keajaiban berpihak kepada Tuan Putri. Pasukanku yang kubanggakan, mari kita berjuang sampai akhir..." Robert tersenyum dengan bangga menatap pasukannya yang tersisa dan juga bersedih, karena malah membawa petaka kepada mereka.
Melihat pasukannya juga tersenyum dan juga tak terlihat sedikitpun sorot mata yang menyiratkan rasa takut pada mereka, Robert berseru dengan lantang.
“... SERANG!!!”

Komentar Buku (38)

  • avatar
    keduanoviakedua

    baguss banget novelnya

    28/04/2025

      0
  • avatar
    GantengKahfi

    bagus

    08/02/2025

      0
  • avatar
    malau lasni

    Ok sgat

    16/11/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru