Bab 14 Seolah Nyata

#POV Yania
(Masih Flashback)
Aku sudah tiba kembali di rumah. Segera aku membereskan rumah agar terlihat lebih rapi lagi. Meski sebenarnya rumah ini sudah sangat rapi setiap harinya. Ya, karena memang aku sangat mencintai kerapian.
"Beneran bakalan dateng, Yan?" tanya Ibu yang tiba-tiba muncul dari dapur.
"Iya, Bu. Aku, kan, udah bilang kalo Bang Indra serius." Aku mengibas sofa cokelat itu dengan selembar kain sarung.
"Ya udah, kalo memang kamu udah yakin, Ibu bisa apa lagi selain mendoakan yang terbaik untukmu, Yan," kata Ibu sambil tersenyum.
"Makasih, Bu." Aku bersyukur karena Ibu mendukungku tanpa berdebat lebih dulu. Aku banyak mendapatkan cerita orang-orang yang sering berdebat dengan orang tuanya hanya karena perihal jodoh yang tak sesuai dengan pengharapan orang tua mereka.
"Jadi, Ibu harus bantuin kamu apa ini?" tanya Ibu.
"Enggak usah, Bu. Ini juga cuma sebentar doang." Aku meminta Ibu untuk beristirahat saja.
"Mau disajikan apa untuk Nak Indra, Yan?" tanya Ibu yang masih berdiri di ambang pintu dapur.
"Udah aku pesen ke toko makanan tadi semuanya, Bu. Nanti tinggal dianterin." Aku tersenyum manis.
"Wah, bener-bener penuh persiapan, ya?" Ibuku sedikit meledek. Aku tersipu malu.
***
Aku berpamitan pada Ibu untuk menjemput Rifat di sekolahnya. Tak lupa kupesankan pada Ibu untuk tetap di rumah karena untuk menunggui orderan kue-kue yang mungkin akan tiba.
Matahari siang ini benar-benar terik sekali, rasa panas menyengat punggung tanganku. Aku lupa mengenakan sarung tangan yang biasa kupakai. Aku tiba di sekolah Rifat.
Terlihat Rifat tengah mengobrol bersama temannya sembari berjalan menuju gerbang. Kulambaikan tangan ketika dia melihat. Dia tampak kaget, mungkin dia tak menyangka akan kujemput juga.
"Ayo naik!" suruhku.
"Kupikir Kakak enggak akan jemput aku." Dia tersenyum.
Tuh, aku sudah bilang bahwa dia tak menyangkakan hal ini.
Kami tiba di depan toko ponsel. Aku berjanji akan memberikan hadiah pada adikku. Aku tahu sebenarnya dia tak mengharapkan hadiah ini, tetapi ini permintaannya yang tak langsung saja.
"Kita ngapai ke sini, Kak?" tanya Rifat yang masih duduk di atas motor.
"Ayo! Kamu pilih hadiahmu di sana!" kataku seraya memintanya turun.
Dia masih terheran-heran. "Kan, nilaiku belum keluar, Kak?"
"Enggak apa-apa. Hadiahnya dulu aja yang keluar," sahutku.
"Kalo ternyata nilaiku merah, gimana?" Dia tampak panik.
"Kakak ambil lagi hadiahnya." Rifat melipat bibir mendengar jawabanku. "Hahaha, enggaklah. Kakak becanda doang. Ya udah, yuk!" ajakku.
Rifat pun turun dari motor dengan senyum yang mengembang. Kurangkuk adikku satu-satunya itu menapaki beberapa anak tangga.
Kubiarkan dia memilih ponsel yang dia inginkan. Toh, selama ini dia tak pernah meminta apapun dariku dan Ibu. Dia anak yang sangat pintar menyisikan uangnya. Sepeda yang biasa dia bawa ke sekolah adalah hasil tabungannya.
Setelah mendapatkan ponsel yang Rifat inginkan, kami pun segera kembali ke rumah. Wajah adikku begitu bahagia. Aku mengacak rambut cepaknya.
***
Sore pun tiba.
Seorang lelaki yang aku kenal berdiri di depan pintu rumahku bersama kedua orang tuanya. Segera aku memanggil ibuku dan menyambut mereka.
"Lo serius? Cowok ini yang bakal ngelamar lo, Yan?" tanya Anggia berbisik.
"Iya," jawabku lirih.
"Dian mah kalah jauh!" tukas Anggia.
Aku hanya membalas Anggia dengan senyum. Orang tua Bang Indra memandangiku dengan sangat ramah. Aku jadi salah tingkah.
"Jadi, ini calon menantu Mama, In?" tanya Mama Bang Indra sambil tersenyum.
"Pantesan enggak sabar banget ngajakin Mama ngelamar," tambahnya lagi. Aku jadi tersipu malu.
Aku bahkan tak berani menatap Bang Indra. Jujur saja, saat ini degub jantungku debarannya sungguh di luar kendali. Suara degubannya pun bisa kudengar jelas karena kuatnya dia berdebar di dalam dadaku.
"Ibu, maksud kedatangan saya ke sini adalah ingin mengutarakan keinginan saya untuk melamar putri Ibu, Yania." Bang Indra yang langsung mengatakannya pada ibuku, bukan papa atau pun mamanya.
"Apa Nak Indra yakin dengan keinginan Nak Indra untuk melamar Yania, sementara ... waktu perkenalannya bisa dihitung jari, kan?" tanya Ibu. Aku paham kalau ibuku sangat khawatir.
"Saya sangat yakin, Bu. Maaf kalo ini terlalu cepet. Namun, sesuatu yang baik, kan, memang harus disegerakan." Bang Indra menatap ibuku seraya tersenyum.
"Masalah perkenalan bisa dilanjut setelah menikah, ya, Yan?" tanya Bang Indra padaku. Aku hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Iya, Ibu juga paham kalo niat baik harus disegerakan, Nak. Masalahnya dulu itu Yania mengalami masa seperti ini, tapi ternyata lamaran itu berkedok untuk mencari keuntungan. Ibu cuma enggak mau terulang kedua kalinya. Maaf kalo sekiranya ini menyinggung Nak Indra dan keluarga," kata Ibu dengan wajah sendu.
"Insya Allah kedatangan kami ke sini serius Lillahi ta'ala, Bu," sahut Mama Bang Indra sambil mengembangkan senyum.
Tadinya kupikir keluarga Bang Indra akan tersinggung, ternyata mereka orang yang sangat bersahaja. Kulihat kekhawatiran ibuku juga mulai hilang ketika banyak mengobrol dengan mama Bang Indra. Kuharap ini memang jodoh dari Allah.
"Jadi, gimana, Bu? Apa Ibu mau nerima lamaran saya untuk Yania? tanya Bang Indra setelah ibuku dan Mamanya berhenti bercakap-cakap.
Ibu mengangguk. "Ibu harap niat baik ini diridhoi Allah," kata ibuku.
"Aamiin," ucap semuanya berbarengan.
Sungguh di luar dugaan sekali yang terjadi dengan perasaanku. Aku luar biasa bahagia atas lancarnya lamaran ini. Pernikahanku dan Bang Indra juga akan dilaksanakan minggu depan.
Ya, memang terlalu cepat untuk menuju ke tahap yang lebih seius. Akan tetapi, keridhoan dan keberkahan dari Allah harus diraih dengan menempuh jalan yang halal. Itulah yang terbaik.
Setelah manyambung perbincangan lagi, akhirnya keluarga Bang Indra memutuskan untuk kembali pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Kami turut mengantar keluarga Bang Indra sampai keluar gang karena mobilnya terparkir di lahan kosong di seberang gang masuk ke rumahku.
Kami semua melambaikan tangan ketika kaca mobil itu turun dan orang-orang di dalamnya melakukan hal yang sama seperti kami. Perlahan mobil hitam itu bergerak meninggalkan posisinya dan melebur dengan kendaraan lain di jalanan.
Kami kembali ke rumah. Ibu dan Rifat berjalan lebih dulu sambil berangkulan. Sementara aku dan Yania berjalan berdua agak lambat dan jauh dari Ibu.
"Pantes lo mau nerima Bang Indra, Yan. Ternyata ... cakep parah. Tatapan matanya tajem sampe menusuk ke relung hati," kata Anggia bercanda.
"Alis matanya tebel bak semut beriring dan yang buat gue enggak bisa lepas dari memandangnya adalah senyumannya yang manisnya kelewatan. Mungkin kalo ada penyakit diabetes yang level paling atas, gue bisa kena, gara-gara ngeliat senyumnya itu," lanjut Anggia lagi.
"Ish, yang enggak-enggak aja lo. Entar dikasih sakit beneran lo," kataku.
"Hehe perumpamaannya loh, Yania. Sensitif aja yang mau nikah," ledek Anggia seraya mendorongku pelan. Aku tertawa kecil.
"Bukan sensitif, Nggi. Kita udah sahabatan dari kecil. Gue tau banget gimana hidup lo. Yang pasti gue enggak pengen lo sakit, entah itu fisik atau pun fsikis lo. Gue pengennya lo bahagia. Makanya gue sedih banget kalo lo ngomongin penyakit walau cuma becandaan juga," kataku sedih.
"Iya, sorry. Emang cuma lo yang ngerti perasaan gue, Yan. Andai Emak gue ... ah, udahlah! Gue suka pengen nangis sambil ngesot kalo mau cerita kisah hidup gue lagi, Yan." Anggia melipat bibirnya.
Aku sangat tahu bagaimana perasaan dan kehidupan Anggia setelah emak dan bapaknya lebih memilih berpisah. Ditambah lagi ketika emaknya memilh untuk menikahi pria yang usianya tidak jauh dariku dan Anggia sekitar tiga tahun lalu dengan latar belakang tragedi yang memalukan.
"Yang sabar ya, Nggi. Gue yakin, Allah pasti udah siapin kebahagiaan buat lo," kataku mencoba untuk menghibur sahabatku ini.
Meski sudah seratus kali dia bercerita tentang kisah hidupnya, seratus kali pula aku setia mendengarnya sambil menangis. Aku tak pernah bosan mendengar ceritanya, meski alurnya sudah kuketahui.
"Malem ini gue nginep lagi di rumah lo, Yan. Gue tadi abis berantem lagi sama Bapak muda gue," sungut Anggia.
"Oh, pantes lo tadi bawa banyak barang," sahutku.
Ya, begitulah Anggia, dia selalu lari ke rumahku saat masalah menimpanya lagi. Dia sebenarnya tak kuat tinggal bersama emak dan bapak mudanya. Namun, bagaimana pun dia harus di sana karena wasiat bapak kandungnya untuk menjaga emaknya sampai tua.
"Kalo bisa gue jadi anak Ibu lo, Yan," kata Anggia. Air matanya jatuh.
"Lo juga udah dianggep anak sama Ibu gue, kan? Kalo kagak, ya, enggak mungkin Ibu gue ngizinin lo nginep sampe sebulan di rumah gue," ucapku sedikit tertawa.
"Nah, iya. Coba emak gue kayak ibu lo." Anggia mengerucutkan bibirnya.
Anggia memang selalu menangis di mana saja ketika sudah bercerita tentang keluarganya. Tak peduli meski di tempat umum sekali pun. Kalau sudah terasa sangat sesak dan tak bisa dibendung, maka akan ia biarkan tumpah, entah itu tangisan atau pun amarah.
***
Malam pun telah tiba.
Kulihat Anggia sudah terlelap. Dia memang akan seperti itu, setelah bertengkar dengan bapak mudanya, dia pasti memuaskan dirinya dengan menangis sendiri lalu tertidur. Ibuku juga sudah paham dengan Anggia. Aku masih terus mendoakan yang terbaik untuknya.
Ponselku bergetar, ada pesan masuk dari Bang Indra. Wah, ada apa, ya? Kok, aku jadi deg-degan begini?
[Yania, terima kasih sudah mau menerima lamaranku. Mamaku seneng banget dengan calon pilihanku. Kata Mama kamu baik banget meski belum kenal, tapi dia bisa ngeliat dari gesturmu. Mama titip salam.]
Hah? Yang bahagia Mamanya Bang Indra saja? Dia tak bahagia, begitu? Kenapa aku jadi berharap? Aku tertawa sendiri.
[Iya, Bang. Terima kasih juga karena Abang udah beraniin diri nemuin Ibu. Salam kembali untuk Mama Bang Indra, ya.] Kukirim balasan itu pada Bang Indra.
[Selamat tidur, Yan! Semoga mimpi indah.]
[Selamat tidur juga, Bang!] balasku.
[Enggak ngucapin mimpi indah untukku, Yan?] Bang Indra mengirimiku pesan lagi. Aku malah tertawa membacanya.
[Semoga enggak mimpi indah, ya, Bang!] Kubalas saja seperti itu.
[Hahaha! Ya udah, bye, Yania.]
Tak kubalas apa-apa lagi dan aku menyusul Anggia untuk merajut mimpi di malam hari yang indah ini. Aku bahkan jarang berbalas pesan dengan teman lelaki di tempatku bekerja, kecuali membahas masalah pekerjaan saja. Perlahan kekuatan mataku berkurang dan aku tak merasakan apapun lagi.
"Jangan, Bang! Jangan lakukan itu!" teriakku sekuat yang kumampu dengan deraian air mata yang tak bisa lagi kutahan-tahan. Aku berusaha menahannya agar tak meninggalkan rumah ini.
"Kalo kamu memang mau kita terus bersama, maka izinin aja aku dan dia bersatu. Kamu enggak akan kekurangan apapun, kamu tetep akan mendapatkan semuanya seperti biasanya," kata Bang Indra mendesakku.
Pria itu menggandeng tangan wanita lain di hadapanku dan akan pergi begitu saja jika aku menolak keinginannya untuk bersama dengan wanita itu.
"Dengan kamu bersamanya, maka aku udah kehilangan segalanya, Bang. Kamu enggak mengerti hal itu, Bang. Kamu segalanya di dalem sini," kataku seraya menunjuk dada tempat jantungku berada.
"Sudahlah, Yan! Terlalu banyak cerita kalo setiap kali bernego denganmu. Kamu mau nerima dia atau aku pergi?" tanya Bang Indra yang memberiku pilihan yang benar-benar berat. Aku termangu di ambang pintu kamar memandangi mereka berdua.
"Tapi, Bang ...." Aku masih mengurai kerikuhan hatiku melalui air mata ... ya, aku masih terisak.
"Ah, baiklah, Yan. Diammu itu sudah menjadi jawaban yang sangat jelas," tegas Bang Indra.
Ia menarik mesra tangan wanita itu dan melangkah jauh meninggalkanku dan perlahan meninggalkan rumah ini.
Aku tak bisa menghentikannya. Tangisan dan teriakanku tak membuatnya tergugah. Aku berlari menyusul langkah Bang Indra, hingga aku tersungkur ketika melihatnya naik ke mobil dan disambut oleh keluarga mertuaku.
"Enggak mungkin! Ini enggak mungkin!" kataku dengan suara yang bergetar. Pelan-pelan mobil itu melaju meninggalkan jejak roda di atas pelataran rumah yang aku dan Bang Indra bangun penuh dengan cinta.
"Jangaaaan!" pekikku.
(Flashback Off)
"Yan! Yania!" Aku menoleh pada Anggia yang terlihat panik di sampingku.
Napasku yang tersengal dan bulir bening yang menitik serta titik-titik keringat memenuhi tubuhku. Aku tak mengedarkan pandangan ke mana pun, kehadiran Anggia sudah menyadarkanku bahwa aku hanya bermimpi.
"Astaghfirullah!" ucapku seraya mengusap dadaku. Berkali-kali aku mencoba menarik napas dan mengatur perasaanku yang diliputi kegelisahan. Kuyakinkan hatiku bahwa ini cuma mimpi buruk yang diciptakan oleh setan saja.
Anggia menyodorkan sebotol air mineral padaku. "Minum, Yan!"
Kuraih dan kuteguk dengan lambat cairan penghilang dahaga itu. Otakku masih menggerayangi torehan mimpi tadi. Mimpi yang sungguh menyebalkan. Kupandangi anakku yang ternyata masih tertidur. Kupikir teriakanku di dalam mimpi tadi benar-benar nyata, ternyata tidak.
"Kenapa lo? Mimpi, ya?" tanya Anggia.
"Iya, Nggi." Itu saja yang bisa kukatakan.
"Ya udah, tidur lagi deh lo, Yan! Kacau banget muka lo," suruh Anggia. "Biar gue yang jagain Satria."
Jelas saja kacau! Hati yang sudah kuyakinkan bahwa ini cuma mimpi malah semakin membuatkan ketakutan dengan bukti-bukti yang ada.
[Ya Allah, semoga ini bukanlah pertanda buruk,] doaku dalam hati.
"Lo udah dari tadi nyampe?" tanyaku. "Kita ngobrol di luar aja," tambahku. Anggia menyetujui.
"Lo kenapa, Yan? Kayak banyak masalah. Ceritalah ke gue," kata Anggia.
Aku menatapnya sebentar, lalu menunduk memandangi ujung jariku yang terbungkus kaos kaki.
[Haruskah kubagi padanya?] tanyaku dalam hati.

Komentar Buku (315)

  • avatar
    Enjel

    bgs benget

    20/04

      0
  • avatar
    Azizah Nur

    cerita ini bagus

    07/12

      0
  • avatar
    Heniginasih

    bagus banget

    05/12

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru