logo text

Bab 19 Jalani Saja

Keluarga Benalu  Ingin Kaya Mendadak
Jangan lupa klik berlangganan, agar jika aku update bab baru, tak ketinggalan notifikasinya.
Setelah membaca, jangan lupa tinggalkan komentar dan tap love, agar aku makin semangat nerusinnya.
Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat. Terima kasih.
*****************************************
Part 19
Jalani Saja (Pov Alif)
"Nak Alif, ini anakku, namanya Izzah. Apa benar kamu mau dinikahkan dengannya?" tanya Pak Hasan sambil menunjuk Izzah yang dari tadi hanya diam saja.
Setelah tadi Pak Hasan berbincang sebentar dengan Bapak di kamar. Kemudian,  bapak menyuruh kami menemui Pak Hasan di ruang tamu.
"Ya ampun, Nak Izzah ini sangat cantik sekali ya...Alif pasti kamu sangat mau kan Nak?! Belum pernah loh ibu ketemu dengan wanita secantik ini," ucap Ibu sambil menyikut perutku.
"Iya...iya Pak. Saya bersedia menikah dengan putri Pak Hasan," ucapku sambil tersenyum terpaksa.
"Tapi, ini bukan karena paksaan 'kan?" tanya Pak Hasan lagi sambil tersenyum padaku.
"Iya, Insyaallah saya siap Pak." Aku kembali menjawab sambil mengaggukkan kepala.
"Alhamdullillah kalau begitu. Aku jadi tenang jika suatu saat dipanggil kembali menghadap Allah. Karena kini Izzah sudah ada yang menjaga," ucap Pak Hasan penuh harap yang kubalas lagi dengan anggukan.
"Jangan khawatir Pak Hasan, Alif ini anaknya amat bertanggung jawab sekali kok. Pasti Izzab bakal bahagia jika hidup bersama Alif. Kami juga sekeluarga pasti akan bersikap baik sekali pada Izzah," ucap Ibu amat bersemangat.
Obrolan pun terus  berlanjut, dan Ibu terus saja memujiku, padahal semua yang diucapkan sebagian nggak bener sih. Namun, hingga pulang, Izzah tak sama sekali berucap, hanya diam saja. Sepertinya, memang dia juga tak begitu suka dengan perjodohan ini. Dan mungkin, posisinya juga sedang kebingungan sepertiku.
Akhirnya diputuskan, seminggu lagi acara pernikahan kami harus dilakukan, dan aku tentu saja hanya bisa diam dan nurut saja. Dan aku serta Izzah pun tak pernah bertemu lagi.
Dua hari sebelum acara pernikahan itu, Bapak meninggal dunia. Setiap pagi, aku pasti membangunkan untuk shalat, dan ternyata bapak sudah tak lagi bernapas pagi itu.
Aku tentu amat shock dengan kepergian bapak, karena selama ini, aku amat dekat dengannya, dari pada dengan Ibu. Aku bahkan sempat ingin membatalkan pernikahan ini. Namun, Ibu yang tak sedih sama sekali dengan kepergiaan bapak itu, mencegahku, dan lagi-lagi aku tak bisa membantahnya.
"Bu, lebih baik pernikahanku dengan Izzah ini dibatalkan saja ya. Atau diundur tahun depan gitu," ucapku setelah acara pemakaman bapak waktu itu.
"Lif, apa ibu nggak salah dengar? Jadi orang itu ya jangan cengeng banget dong. Pikir yang pintar gitu loh!
Bapakmu sudah mati itu ya sudah, memang umurnya segitu. Malah enak nggak.jadi beban lagi kan?
Pernikahanmu dengan Izzah harus tetap terlaksana, apapun yang terjadi. Kesempatan nggak datang dua kali loh! Pokonya kamu harus nikah dengan Izzah dua hari lagi. Ibu ini sudah capek hidup miskin!" sungut ibu penuh emosi.
Tentu saja, akhirnya pernikahan pun terjadi dengam meriah. Di pesta pernikahan itu, kulihat ibu, Mbak Desi, Mas Widodo dan Vena, terlihat amat bahagia, seakan lupa jika bapak baru saja meninggal dunia.
Selama pernikahan, aku dan Izzah sama sekali tak berbincang. Dan aku pun canggung sekali. Hingga malam pengantin pun, kami lewati tanpa bekah duren.
Malam itu, kami akhirnya berbincang, dan Izzah terbyata bukan wanita yang jutek kok. Dia baik, hanya saja sebenarnya dia pun tak menginginkan pernikahan ini. Semua dilakukan hanya demi bakti pada orangtuanya, sama sepertiku.
Kami pun sepakat, tak akan melanggar privacy masing-masing. Namun, dihadapan Pak Hasan, kami tetap akan berlaku seperti pasangan pengantin yang berbahagia.
Suatu kebahagiaan tersendiri, karena ternyata Pak Hasan memberikan jabatan yang tinggi padaku, meski Izzah masih meragukan ketrampilannku. Sebenarnya, aku memang kurang mumpuni sih dibidang itu, tapi siapa sih yang akan menolak diberi jabatan setinggi itu? Hanya orang bodoh saja sepertinya.
Saat itu, aku sangat kaget, karena ternyata ibu dan semua keluargakku ada di rumah ini. Pasti mereka akan membuat kegaduhan nantinya. Dan benar saja, ternyata mereka sejak pagi sudah membuat kehebohan. Dan aku cuek saja, selama tak mengusikku.
Setelah tragedi di meja makan, akhirnya kami pun berangkat ke kantor, dan sesuai arahan Pak Hasan, Izzah pun memberikan jabatan wakil direktur itu padaku.
Dia pun dengan sabar mengajariku apa-apa yang harus kulakukan. Dan Mas Widodo pun menjadi sopir perusahaan, kurasa itu adalah posisi yang pas untuknya. Namun sepertinya, Ibu dan Mbak Desi tak bisa menerimanya.
Kadang aku tak habis pikir dengan kemauan dan sikap Ibu di rumah ini, mereka sama sekali tak merasa sungkan, padahal baru sehari saja berbesanan dengan Pak Hasan. Untungnya Pak Hasan ini orang yang sabar, jadi tak begitu menanggapi sikap ibu dan keluargaku yang lainnya.
Flashback Off
Pemakaman mertuaku pun sudah dilakukan siang ini, dan kematiannya yang tiba-tiba itu membuat semua orang kaget.  Sebenarnya, aku sudah ingin mengakhiri hubungan pernikahan sandiwaraku dengan Izzah, namun tak diperbolehkan ibu.
Penjelasan dari ibu pun bisa kuterima, dan amat benar menurutku. Jadi, aku pun menurutinya. Aku akan tetap menjalani pernikahan ini, hingga aku mendapatkan harta yang kumau, baru kemudian aku menikahi Nesa.
Kurasa, Nesa pun tak akan menolakku jika nanti aku sudah punya banyak harta. Jangankan Nesa, berpuluh wanita lain pun, bisa kudapatkan dengan mudahnya. Benar kata ibu, untuk saat ini, uang adalah segalanya. Dan selagi bisa, lakukan apa saja asal bisa menghasilkan banyak uang.
"Mulai sekaraang, kamu tidur di kamar tamu ya. Meski kita tak berbuat apa-apa, tapi kok aku rasanya risih, jika tinggal berdua dengan seorang lelaki di kamar ini," ucap Izzah tadi saat aku akan membaringkan badan di sofa, dalam kamarnya.
"Oke, terserah kamu saja. Toh aku juga sebenarnya nggak nyaman kok berdua di sini denganmu. Apa rencanamu untuk pernikahan kita kedepannya?" tanyaku sambil membereskan baju-bajuku.
"Entahlah, tapi sebelum tujuh harian papa ini, aku ingin kita bersikap sebagai pasangan normal pada semua orang, tetamgga, tamu dan teman-teman papa yang lain," jawabnya sambil memainkan handphonenya.
"Oke, bisa kumengerti itu. Jika kamu butuh sesuatu, jangan sungkan bicara padaku. Meski kita baru kenal sebentar, aku akan membantumu, anggap saja sekarang kita berteman," ucapku.
Kemudian aku pun pindah ke kamar tamu. Entah mengapa jika tak ada ibu, aku bisa merasa simpati pada keadaan Izzah saat ini, tapi jika ada ibu, aku tak bisa menaruh simapti sedikitpun pada Izzah.
Entahlah, aku tak tahu apa yang akan terjadi besok dan lusa. Yang pasti untuk saat ini, aku akan melakukan apa yang dibilang ibu.

Komentar Buku (184)

  • avatar
    AsafanaAsyifa

    bgus

    13d

      0
  • avatar
    Danar Danar Ar

    mantap

    25/08

      0
  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus

    16/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru