Bab 41 Carla Pulang

Adam berseru senang mendengar ibunya akan pulang dari rumah sakit hari ini. Hampir satu minggu ibunya terbaring lemah di ranjang rumah sakit dan selama satu minggu itu juga Adam selalu setia menemaninya. Adam tak suka melihat ibunya sakit terlebih ia bosan berada di ruangan putih dengan bau obat menyebar. Ia sudah tak sabar untuk merawat sang ibu di rumah dibandingkan di ruangan putuh itu. Terlebih, ia tak tega melihat tangan Carla yang ditusuk jarum infus berhari-hari. 
Setelah mengetahui berita kepulangan Carla, bocah kecil itu berlari menghampiri neneknya yang tengah sibuk membereskan pakaian. Tangan mungilnya ikut menata satu persatu barang milik Carla yang harus dimasukkan ke dalam koper kecil di atas meja. 
“Adam mau bantuin juga, eyang,” seru Adam. Bocah kecil itu mengira memasukkan barang ke dalam koper sama seperti bermain puzzle. Hani sang nenek menggelengkan kepalanya. Ia menolak dengan halus bantuan Adam yang menggebuu-gebu itu. 
“Kamu bantuin mama saja. Tuh, mama kesulitan sisir rambutnya.” Hani menunjuk ke arah Carla yang memang tengah kesulitan menyisir rambut panjangnya. Selama tangan kanannya diinfus, tangannya jadi kaku dan sulit bergerak. 
Adam berbalik mendekati ibunya. Tangannya sudah siap dengan sisir dan jepitan rambut yang diberikan oleh Carla di samping ranjang. Adam dengan semangat mengurai satu persatu rambut Carla yang kusut. Bibirnya ikut maju, tanda jika ia terlalu fokus melakukan kegiatan menyenangkan baginya. 
Setelah satu jam membereskan barang-barang, Carla dan ibunya telah siap untuk keluar dari ruang rawat inap rumah sakit itu yang selama ini ditempatinya. Al dan Vian datang untuk membantu. Sedangkan Adam terus berjalan di sisi Carla yang memakai kursi roda sambil memegangi tangannya dengan erat. 
“Ke rumah Carla atau ke rumah tante Hani?” tanya Al memastikan. Hani duduk di dekat Al, samping pengemudi sedangkan tiga orang lagi berada di belakang. 
“Ke rumah tante lah. Kamu mau lihat Carla dicuekin sama mertuanya sadisnya?” jawab Hani sambil menepuk kencang lengan Al hingga mengaduh kesakitan. 
Hani mengatakan demikian bukan tanpa sebab. Ketika Hani datang ke rumah yang ditempatinya Carla bersama Abi, ada Riandari yang menjawab dengan ketus semua pertanyaan darinya. Terlihat jelas di wajah Riandari jika dirinya tak sama sekali bersimpati dengan keadaan Carla yang tengah dirawat di rumah sakit. Hani jadi berpikir, apa mungkin Riandari perlahan-lahan tengah menyingkirkan Carla dari Abi? 
Hani ingat kata-katanya saat itu. 
“Oh, Carla lagi sakit toh? Saya kira lagi main di rumah temannya. Tahu sih, kemarin Abi anterin dia ke rumah sakit. Maaf ya jeng, saya lagi sibuk urus menantu yang lagi ngidam,” ejek Riandari seolah ingin memamerkan bahwa menantunya yang baru lebih pantas untuk disayang. 
Sejenak Hani berpikir tentang sikap Riandari yang menurutnya sangat keterlaluan. Dari awal Carla menikah dengan Abi, wanita itu tak pernah sedikitpun menampakkan wajah tersenyum pada Carla dan dirinya. Jadi, selama tujuh tahun ke belakang, Carla telah menyimpan kesulitannya sendiri. 
“Ada apa, Ma? Kok diam?” tanya Carla yang rupanya sejak tadi tengah mengamati ibunya dari belakang. Hani menggelengkan kepalanya. Ingin bertanya, tapi masih ada vian di belakang. Ia merasa tak enak jika ada orang luar mengetahui aib rumah tangga anaknya. 
“Ma, nanti Adam tidur satu kamar sama mama,” seru Adam. 
“Okay. Tapi jangan ngorok ya.” satu mobil tertawa membuat bibir bocah kecil itu mengerucut lucu. 
“Adam enggak ngorok ya! Om Vian tuh yang ngorok,” tunjuknya pada Vian. 
“Kok tahu kalau om Vian ngorok?” 
“Tahu, kan om Vian tidur terus di kamar mama. Semalam juga. Malah megang tangan mama,” adu Adam pada ibunya. 
Carla menoleh, wajahnya memerah malu. Vian pun sama. Keduanya saling berpandangan lalu balik badan menghadap jendela mobil. 
*** 
Carla terdiam sejenak setelah mobil yang ditumpanginya berhenti tepat di depan kediaman milik ibunya. Al turun lalu membuka pintu belakang mengambil kursi roda untuk Carla. Sambil menunggu Al, Carla membuka ponsel yang sejak tadi digenggamnya. Ia menghela napas berat melihat layar kosong di tangannya. Abi belum sama sekali menghubunginya sejak hari kedua dirawat. 
'Kenapa dia semakin jauh.' 
Setelah kursi rodanya siap, Carla perlahan turun dari dalam mobil. Al dengan santainya mendorong kursi roda itu memasuki halaman luas rumah Hani dan berhenti tepat di depan kamar Carla yang berada di lantai satu. Al membukanya dengan satu tangan. 
"Mau makan atau langsung istirahat?" tanya Al. Sepupu Carla itu dengan sigap mengangkat tubuh ringan Carla ke atas ranjang lalu menyelimutinya. "Kamu kurus. Di rumah Abi enggak pernah dikasih makan ya?" 
"Enak saja. Aku kan lagi sakit, jadinya nafsu makan kurang. Sudah sana, aku mau istirahat dulu," usir Carla. 
Al mencium dahi Carla sebelum keluar dari dalam kamar. Namun saat hendak menutup pintunya, ia menoleh ke belakang. 
"Nanti kalau mau makan, panggil bibik saja. Tadi bibik datang sama pak Ujang. Katanya, dia mau urus kamu di sini untuk sementara." 
Carla membelalakkan matanya tak percaya. "Bibik di sini? Lalu, Risya?" 
"Halah, enggak usah khawatirkan si ulet keket itu dulu. Bibik kan bagian keluarga kita, jadinya dia lebih setia sama kamu," ujar Al yang sedetik kemudian keluar kamar lalu menutup pintunya. 
"Bibik dan pak Ujang ikut?" Carla tersenyum. Ia bisa membayangkan dari jauh apa yang terjadi di keluarga mereka jika tiba-tiba semua orang-orang terdekatnya pergi. 
'Aku akan balas kalian perlahan-lahan.'

Komentar Buku (165)

  • avatar
    RockslimYasmin

    cerita nya 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻

    28/06/2025

      0
  • avatar
    SholihahAzizah

    bgusss

    16/04/2025

      0
  • avatar
    LatifatulHusna

    BAGUS BGT TPI PLIS JANGAN BUAT CARLA TERLALU MENDERITA

    04/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru