logo text

Bab 24 Lelaki di bawah Payung

Setibanya di kosan, pada sudut kamar yang lembab dan gelap, Bije terpekur hingga kedua kakinya yang tertekuk sudah mati rasa. Sesekali ia meraba sebelah kakinya, karena memakai celana pendek, kulitnya bisa bersentuhan langsung dengan telapak tangan. 
Gurat kasar, bilur panjang terukir secara permanen di sana. Mendadak Bije merinding sebadan-badan, kenangan yang sempat terkubur mencuat naik hingga sedikit membuat dadanya sesak. 
“Benar. Ketimbang memikirkan perasaan yang entah akan bermuara kemana, lebih baik aku fokus pada apa yang seharusnya aku terima dan jalani saat ini. Biarlah, bagian yang itu, bagian yang tak mampu aku ulang kembali tersimpan tanpa perlu dikenang,” monolog Bije sembari menyandarkan kepalanya pada dinding kamar yang dingin.
Ujung matanya perlahan melirik pada jendela yang belum tertutup gorden, tempias mengaburkan pandangan di luar. 
Beranjak malam, Bije yang berjibaku dengan waktu untuk memerangi perasaannya sendiri berakhir sudah menggenggam sebuah keputusan. 
Tepat di malam ini, Bije ingin melepaskan seluruh rasa apapun yang tertinggal dalam ruang hati, berharap agar tidak ada lagi perasaan gelisah yang membuat hati kecilnya digerogoti. 
Saat menundukkan pandangan, sinar dari layar ponsel yang menyala tak membuat matanya menyipit. Tapi justru malah mengundang tangis yang sebelumnya ia tahan, apa yang tertera dalam ponsel tersebut berhasil memicu air matanya untuk berhamburan. 
Mengambil benda pipih itu dengan tangan yang gemetar. Bije memberanikan diri untuk memandanginya lebih dekat, foto Harjun yang selalu dipandangi tiap hari sebelum tidur dan selalu berhasil membangkitkan senyum di wajah, tapi kali ini malah menguras air matanya. 
“Sekarang sudah banyak yang sayang sama kamu, Harjun. Sampai nggak ada ruang yang bisa aku tempati, atau celah yang bisa aku masuki, dan rasanya aku nggak perlu lagi berusaha buat nunjukin diri. Toh, pada akhirnya yang mengingat semua tentang kita hanya aku saja, 'kan?” Bije menggigit bibirnya kuat, tangannya yang bergetar kian mencengkram ponsel itu. 
“Persetan dengan perasaan cinta,” lanjut Bije, rahangnya diketatkan. “Aku cinta ataupun tidak, keadaannya tetap tidak merubah apapun, 'kan?”
Selepas itu Bije langsung meletakkan ponselnya ke bawah bantal, memilih untuk memejamkan mata dan memasuki mimpi meskipun belum terlalu malam dan rasa kantuk belum menguasai. 
Bije hanya ingin lepas dari rasa sesak, ingin lupa dengan apa yang ia lihat hari ini, ingin tidak tahu bahwa Harjun sudah bahagia dan dekat dengan gadis lain. 
Tapi sepertinya Bije terlalu dini untuk menyimpulkan semua itu secara sepihak tanpa melihat dari sudut pandang lain. Jika memang kehidupan Harjun sudah bahagia, mengapa trauma di masa lalu masih terawat dalam tubuh Harjun hingga dewasa? 
***
Tiga hari sudah Bije mengurung diri di kosan. Bukan inginnya mengurung diri seperti ini, tapi sejak kehujanan hari itu, mendadak sekujur tubuhnya menggigil dan meriang. Gadis bersurai panjang itu pun tidak membuka ponselnya sama sekali, dirinya terlalu malas untuk menatap layar pipih tersebut. 
Bije juga meminta Pak Janu untuk datang dan mengirimi makanan. Ia bahkan meminta pria itu agar mau bersekongkol, menyuruhnya berbohong pada kedua orang tua angkat Bije untuk memberitahu bahwa saat ini Bije tengah sibuk dengan kegiatan sekolah dan fokus belajar, jadi tidak ada waktu untuk bermain ponsel. 
Dan rasanya sia-sia berusaha meyakinkan diri dengan keputusan yang dipilihnya. Sebab segala tentang Harjun masih berenang-renang dalam kepala, masih ada banyak pertanyaan yang tidak memiliki jawaban, meski begitu tetap saja Bije enggan jika harus kembali berupaya untuk membuat Harjun mengingatnya. 
Dengan setengah mata terpejam, Bije berusaha bergerak menapaki lantai yang dingin. Meraba-raba dinding yang lembab sebagai pegangan menuju pintu utama, membukakan pintu untuk seseorang yang berulang kali mengetuk-ngetuk, Bije yakin itu adalah Pak Janu yang mengantarkan sarapan pagi ini. 
Tapi ternyata dugaan Bije terpatahkan ketika sudah membukakan pintu. Seorang lelaki jangkung dengan payung transparan dan sekantung kresek hitam berada di tangannya.
Bibir merah mudanya melengkung, nyengir, menampilkan jajaran giginya yang rapih, terlihat agak canggung tapi buru-buru lelaki itu mengeluarkan sapaan kikuk. 
“Kak Arsen?” Bije sedikit terbelalak. Rambut kusutnya langsung ia rapihkan secara asal, rasa lemas dan kantuk yang bercampur sudah terhempas seketika. 
“Maaf, pasti kamu kaget. Aku menanyakan alamatmu ke orang-orang dekat sini setelah tahu kamu tidak datang ke sekolah dan tidak memberi kabar selama tiga hari ini,” ungkap Arsen jujur, dibalik wajahnya yang canggung ada cemas yang terselip. 
Bije tidak tahu harus memberi respon seperti apa, tapi kepalanya mengangguk tanpa sadar, lalu seperkian detik kemudian ia menggaruk pelipis sambil menyapu pandangan ke sembarang arah. “Aku hanya demam biasa, sepertinya karena kehujanan kemarin.”
“Mau aku antar ke klinik?”
Buru-buru Bije menyorot Arsen sembari menggeleng tegas. “Tidak perlu, Kak. Demamnya juga sudah agak turun.”
Dengan gerakan secepat kilat, kresek hitam di tangan kanannya berpindah pada tangan kiri yang setia menggenggam gagang payung. Lalu punggung tangan miliknya terulur ke depan untuk mendarat pada dahi Bije tanpa aba-aba. 
“Ini masih panas sekali lho.” Arsen mengerungkan alis, rasa kekhawatirannya semakin nampak jelas. “Setelah sarapan, aku bawa kamu ke klinik, ya.”
“Tapi, Kak. Aku—”
“Kalau dibiarkan bisa tambah parah. Jadi sekarang kamu sarapan dulu saja. Aku tunggu di mobil, ya.” Arsen menyerahkan kresek hitam di tangannya pada Bije. “Ini ada bubur ayam spesial. Aku tidak tahu kamu suka apa tidak, tapi ini bubur ayam terlaris dan terkenal enak di kawasan sini.”
“Te-terima kasih, Kak.” Bije menerimanya dengan tak enak hati karena merasa sudah merepotkan. 
Kepalanya melongok sebentar ke dalam, memastikan keadaan, kemudian tatapannya berpindah kembali pada lelaki didepannya. “Apa Kak Arsen mau tunggu di dalam?”
Ditanyai seperti itu Arsen langsung mengerjap cepat. “Eh?”
Karena terkesan ambigu, Bije lantas memberi penjelasan, “Karena hujan deras, di depan sana juga kan sudah mulai terendam banjir. Celana dan sepatu Kak Arsen nanti semakin basah. Lagi pula ada hal yang ingin aku tanyakan pada Kak Arsen, aku ingin mengobrol sedikit.”
Arsen yang paham langsung angguk-angguk. Lalu masuk setelah dibukakan pintu lebih lebar oleh Bije, duduk di sofa kecil ruang tengah yang minimalis, menunggu Bije bersiap setelah mencuci muka dan memindahkan bubur ke mangkok. 
Melihat gadis itu sudah menggulung rambut, wajahnya sedikit basah, di tangannya ada mangkok berisi bubur dan mulai mendaratkan bokong pada sofa yang sama, Arsen pun langsung mengambil posisi duduk yang benar, punggungnya ditegapkan.
“Kita mengobrol sambil kamu sarapan. Jadi apa yang ingin kamu tanyakan? Kamu penasaran dengan kelanjutan hubungan kita ini atau bingung dengan sikapku yang mungkin sedikit berlebihan?” kekeh Arsen mengiri ucapannya, berusaha membuat suasana lebih cair. 
Tapi Bije langsung menggeleng, tangannya sibuk mengaduk bubur yang belum sama sekali ia suap ke dalam mulut. “Aku cuma ingin tahu. Apa sebagai kakak beradik, Kak Arsen dan Rigen akrab?”
Arsen tidak menyangka kalau Bije akan membahas tentang Rigen, entah kenapa dadanya terasa sempit, merasa pembicaraan ini enggan ia bahas. Tapi Arsen tetap menghargai Bije, siapa tahu memang ada sesuatu dibalik pertanyaan tersebut.
“Aku punya dua jawaban, Bije. Eh, maksudku Gem-mintang,” kata Arsen yang sedikit terbata-bata karena menyadari salah bicara. 
“Dua jawaban?” Bije langsung tertarik dengan perkataan tersebut. 
Kepala Arsen mengangguk. “Tergantung dibalik alasan kamu ingin tahu. Aku bisa menjawab pertanyaan itu seadanya atau sebaliknya. Karena jujur, ini agak sulit untuk dibahas. Tapi entah kenapa, saat denganmu, aku sulit untuk menyembunyikan apapun. Selama ini aku selalu memendam sendiri, aku tidak pernah bercerita apapun pada siapapun.”
Binar dari jelaga hitam Arsen menyorot Bije, menunjukkan banyak arti. “Saat bertemu denganmu, dengan gadis manis pemilik tatapan hangat dan memenangkan, aku merasa jadi seseorang yang senang bicara.”
Bije yang menyimak sambil menyuap bubur ke dalam mulut, mendadak menyesali karena tidak menunggu sampai lelaki itu selesai bicara. Alhasil bubur yang berusaha ia telan terasa tersangkut dalam mulut dan terus dikunyah meskipun sudah hancur lebur. 
“Katakan saja semuanya, Kak. Ceritakan padaku apapun itu jika memang Kakak nyaman.” Bije hanya mampu merespon seadanya, pikirannya menghitam dan tidak bisa memproduksi kata karena diberi tatapan tidak biasa oleh Arsen. 
***

Komentar Buku (146)

  • avatar
    Fa-izahHimmatul

    bagus bangett

    19/05/2025

      0
  • avatar
    andi shifa azzahra (zahra)

    Kakk alurnyaa fress bangettt, aku gk ekspek bagal sebetah itu aku baca, biasanya aku baca novel cuman setengah setengah, tapi ini bagus bangett, dan bikin penasaran, makasih kak dah buat novelnyaa 🫶🏻🫶🏻🫶🏻

    14/05/2025

      1
  • avatar
    thncssup

    bagus banget kakk!!!

    07/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru