logo text

Kesal dan Cemburu

Menyadari Lintang yang melihat dia dan Marisa berpelukan, David mendorong Marisa agar menjauh.
"Risa, jangan seperti ini. Kita tidak akan bahagia jika memaksakan diri,” kata David dengan suara lebih pelan.
"Aku tulus sayang kamu, Mas," Marisa terus mencoba meyakinkan David. Dia menarik lagi tangan David dan memegangnya erat.
"Aku akan menyakiti kamu jika memaksa menerima kamu. Karena hatiku untuk orang lain." Akhirnya David mengakui perasaannya. Dia memilih mengatakan ini agar Marisa mundur dan tidak terus mengejarnya.
"Jadi, Mas David sudah punya kekasih?" Marisa tak percaya mendengar ini. Matanya melebar memandang David dengan wajah merah. Apa benar yang David katakan? Apa benar David sedang dekat dengan wanita lain? 
David tidak menjawab. Ya, dia punya hati untuk Lintang, tapi Lintang bukan kekasihnya. Dia juga tidak mau mendustai Marisa. Dia hanya jujur mengatakan perasaannya diisi oleh cinta untuk orang lain.
"Siapa dia, Mas? Aku harus tahu." Tatapan Marisa tajam. Rasa marah makin meningkat dalam dadanya.
"Kamu ga kenal dia," ujar David. Dia tidak mau meladeni Marisa. Tidak ada gunanya. "Pulanglah, aku sangat lelah. Kemarin ada dua operasi dan hari ini aku baru pulang."
Marisa menatap David, lalu balik badan dan pergi dari rumah itu dengan marah. Tapi dia tidak akan tinggal diam. Dia tidak rela kalau David mencampakkan dia seperti ini. Dia sudah bisa dekat dengan dokter tampan itu, lalu tiba-tiba dia katakan dia punya hati untuk orang lain? Tidak semudah itu menyingkirkan Marisa.
"Ah, ternyata dia posesif sekali. Ini belum jadi pacar. Kalau beneran?" David masih kaget dengan sikap Marisa. Tidak dia kira dia tidak mau mengerti orang lain, memaksa perasaannya saja.
David masuk ke dalam rumah, pergi ke dapur, mengambil minuman dingin di kulkas. Ada Lintang di sana. Lintang juga mengambil minuman yang sama.
"Tamunya perlu minum, Kak?" tanya Lintang tanpa melihat David. Dadanya rasanya berat sekali, melihat David dan Marisa berpelukan seperti itu.
"Risa sudah pulang," jawab David. Dia meneguk minumannya.
"Kak, bisa kan, kalau mau mesra-mesraan ga di depan rumah?" Lintang menutup pintu kulkas, meninggalkan dapur dan masuk kamarnya. Dia tak bisa tahan. Dia kesal sekali.
David meletakkan gelas yang dipegangnya.
"Kamu cemburu, Alin." David tersenyum. Dadanya berdebar, senang. Hati Lintang masih untuk dirinya. Lintang marah, mengira Marisa adalah kekasih David.
David melangkah menuju kamarnya. Di depan kamar Lintang, dia mendengar Lintang sedang menelpon.
"Iya, baru sampai … Iya, boleh kok … Besok jam berapa? ... Jam delapan siap. Oke ... Hm, ga boleh sampai malam ... hee ... hee ... Iya, aku pakai kaos dari kamu …masih laa ... iya. Bye, Bim ...." Lintang menutup telepon.
"Hmm ... dikasih kaos? Udah sampai kasih sesuatu? Jadi mereka serius?" David masih di depan pintu. Sekarang dia yang kesal.
Bagaimana caranya dia bisa membatalkan acara Lintang? Apa dia pura-pura sakit? Tapi David seorang dokter, dia bisa ambil obat yang dia perlu. Mungkin dia mengajak Lintang jalan sendiri? Tapi alasannya apa? Ah, bingung juga.
"Kak, kenapa di sini?" Lintang tiba-tiba sudah di depan pintu. David kaget dan gelagapan.
"Eh, kamu mau masak apa nanti?" Muncul juga ide ngomong. Jangan sampai Lintang berpikir David nguping pembicaraan Lintang dengan Bimo.
"Aku? Belum mikir. Kenapa?" tanya Lintang. 
"Aku pingin sup kacang merah," kata David. Asal bicara, tapi berharap idenya tepat.
"Ga ada bahannya. Masak yang ada saja, ya?" ujar Lintang.
"Lagi pingin itu. Aku antar belanja, deh," sahut David. Bagus, buat Lintang sibuk dengan urusan perut.
David meninggalkan Lintang. Sengaja agar gadis itu tidak bisa menolak lagi. Sedikit kesal, Lintang masuk kamarnya, mengganti pakaian, lalu dengan agak malas dia ke depan. David sudah di sana, menunggu Lintang. David bahkan sudah pamitan Bu Anik, babysitter Tio.
Motor David sudah siap meluncur. Lintang naik ke boncengan. Gadis itu masih belum lega, diajak belanja secara paksa begini. Lintang merasa David kayak ibu hamil lagi ngidam. Apa yang dia pingin harus langsung dapat.
David membawa Lintang ke mall yang tidak jauh dari rumah. Mereka masuk ke supermarket. Lama juga mereka tidak belanja sama-sama. Padahal sebelumnya, kalau pergi keluar dengan David, pasti saat yang menyenangkan buat Lintang. Belakangan ini, Lintang lebih sering pergi dengan Diana dan Wulan, karena David semakin sibuk saja akhir-akhir ini. Dalam pikiran Lintang, pasti David sibuk dengan Marisa.
"Alin ...," panggil David sementara Lintang masih memilih belanjaan.
"Ya?" Lintang menjawab tanpa menoleh.
"Kamu dekat sekali sama Bimo." David ingin mengorek pertemanan Lintang dan Bimo.
"Iya, sama kayak Kak Dave sama Risa," sahut Lintang. Datar. 
Jawaban Lintang telak banget dan tidak enak didengar. David nyengir. Tapi rasa penasaran dan sedikit cemburu membuat David akan memakai waktu ini untuk tahu sejauh apa hubungan Lintang dan Bimo. Siapa tahu, dia ada alasan akhirnya membatalkan rencana jalan bareng mereka berdua, yang dalam bayangan David seperti mau dating saja.
"Kalian pedekate?" tanya David lagi.
"Gimana, ya ... uda dari waktu di desa emang dia sahabat aku. Ya, dekat aja. Ketemu lagi langsung nyambung," jawab Lintang. Dia berjalan lagi, pindah ke bagian ikan dan daging.
"Alin, aku ga mau kenapa-napa, makanya aku pastikan. Kamu mengerti, kan?" ujar David.
"Iya, makasih perhatiannya." Lintang menoleh sebentar, lalu melihat lagi bahan makanan yang dia perlu. Dia tidak merasa perkataan David adalah rasa simpati. Dia diatur-atur, David sendiri seperti itu sama Marisa.
"Masih mau beli apa lagi?" David menjajari langkah Lintang. Dia melongok ke troli.
"Udah. Kak Dave emang pingin apa?" Lintang menoleh.
"Pingin peluk kamu," batin David. Matanya menatap Lintang seolah sedang berpikir. Hatinya lanjut bicara, "Mau bilang I love you."
"Besok buatin pasta, ya ..." Itu yang David katakan.
Tidak! Masak pasta rada ribet. Lintang ada acara sepanjang hari, bisa jadi sampai malam. Mana bisa? David ada-ada saja maunya.
"Aku besok kan pergi. Pulang sore sekali. Ga cukup waktunya. Lusa aja, Kak," pinta Lintang. Dia benar-benar kesal sekarang.
"Makanya ga usah pergi, kan mesti urusan rumah beres,” tegas David.
"Ga bisa gitulah, Kak. Aku udah janjian. Lusa. Ya?" Lintang membujuk. Dia tidak mau membatalkan acara dengan Bimo. Dia sudah atur semua agar rencana jalan sama Bimo bisa terwujud.
"Ya udah, awas batal lagi," cibir David. Ternyata tidak berhasil juga mengurungkan niat Lintang pergi dengan Bimo.
Mau tidak mau, meski masih kesal, melihat wajah David, Lintang tertawa juga. Ini pak dokter kok jadi kayak bocah aja!
"David? My man!!" Seseorang menepuk pundak David.
David menoleh cepat.

Komentar Buku (65)

  • avatar
    nazzuha azhar

    very good storyline and make me feel like i’m in the story right now. and very good author that you have make a good story about it . it really impressive and strong emotional when i was read the novel . i hope i can read more novel from this author. Such a beautiful & great story and i think must to interpret i real tv movie

    28/06/2022

      3
  • avatar
    IqwalMuhammad

    bagusssssssssssssssssssssss

    24/08

      0
  • avatar
    Nurr Hsnh

    bagus

    30/05

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru