"Terima kasih ya, Pak, udah dibantuin nurunin barang-barang ini." "Iya Neng, biasa saja, lagi pula memang sudah tugas saya untuk mengantarkan penumpang sampai tujuan dan membantunya menurunkan barang-barang ini." "Sekali lagi terima kasih ya, Pak, tapi boleh tidak saya minta tolong satu kali lagi, untuk membawakan koper dan barang saya ke teras rumah, soalnya kan, berat banget ya, Pak?" Sang supir hanya tersenyum tipis, tidak lagi menunjukkan wajah ramahnya. Dia segera mengangkat koper dan juga beberapa kardus barang yang gadis itu. Halaman rumah terlihat lebih indah dengan berbagai tanaman bunga tersaji di sana. Terasa sangat indah, nyaman, dan juga sejuk. Gadis berambut hitam itu berjalan mendahului sang supir. Setibanya di teras rumah, segera beberapa kardus dan koper itu cepat-cepat diturunkan, terlihat raut kesal jelas di wajah sopir taksi online itu. "Terima kasih Pak, barang-barang dan koper saya sudah tiba dengan selamat," ucap gadis berjaket biru dengan senyumnya yang merekah. "Iya Neng sama-sama, lain kali kalau bawa banyak barang kayak gini harusnya ongkosnya bisa ditambah dong." "Lah, Bapak ini kenapa? kan tadi saya minta tolong. Saya juga nggak ada niatan buat bayar Bapak lagi, lagipula ongkos untuk taksi online sudah lebih dari cukup." "Asal Neng tahu ya, waktu saya itu sangat berharga." "Terus?" "Ini tadi sudah berapa menit saya ngantar dari depan sana sampai ke teras ini?" "Ya, enggak saya hitung, Pak!" "Seharusnya sudah ada penumpang yang mau naik taksi saya," ucap sopir taksi online itu dengan wajah garang. Tidak kalah garangnya, gadis itu melemparkan tas ransel yang dia bawa. "Eh, Pak, pelayanan itu di mana-mana nomor satu. Untung tadi udah saya kasih bintang lima, kalau bisa diedit, mau saya kasih minus bintang lima. Bapak langsung dipecat." "Oh, dasar cewek stres, besok lagi nggak akan mau deh kalau diorder." "Oh, dasar supir gila, nggak bakal deh aku pesan kamu lagi!" sahut gadis bermata coklat dengan penuh emosi. Si supir langsung pergi meninggalkan teras rumah itu dengan segera. Namun, masalah belum selesai seutuhnya. Sepertinya ada seseorang yang datang untuk memperingatkan sang gadis akan kepemilikan rumah tersebut. "Mohon maaf Anda siapa, ya?" Belum sempat membuka pintu rumah, pertanyaan itu membuatnya memalingkan tubuh dan menatap ke empunya pertanyaan. "Pandu?" "Ini Melly?" "Iya Pandu, ini Melly, kamu lupa, ya? ngapain kamu kamu ada di sini?" tanyanya dengan ceria. "Seharusnya aku yang tanya, kenapa kamu ada di sini?" "Loh, kok bisa kayak gitu? Ini kan rumahku." "Mohon maaf sebelumnya ya Mel, tapi setahuku rumah ini sudah dibeli sama mama tiriku satu tahun yang lalu saat kalian lagi di Surabaya." "Oh, iya, siapa yang jual?" "Kamu belum diberitahu? Tante Mita yang jual," ucap Pandu dengan sangat berhati-hati, takut saja amarah Melly meledak seperti beberapa menit yang lalu ketika supir taksi online kesel kepadanya. "Sialan! jadi tante Mita juga jual rumah ini? bisa-bisanya hak orang lain juga dijual." "Mel, Mel, sabar ya, jangan emosi. Kamu masih bisa kok tinggal di sini, tenang aja, ya. Tapi kamu tinggalnya di teras atau di ruang tamu, soalnya kamarnya penuh. Udah aku tempati sama Endit." "Makasih ya Pandu, kamu nggak perlu sampai kayak gitu. Aku bisa kok sewa kontrakan atau apartemen mungkin juga hotel." Melly membuka dompet untuk melihat seberapa banyak uang yang masih tersisa di sana. Ekspresi wajahnya berubah menjadi kecut setelah mengetahui mungkin uangnya tidak akan pernah cukup untuk menyewa hotel atau kontrakan. Melly tersenyum tipis pada Pandu. "Kenapa Mel, aneh banget wajahmu?" "Sebenarnya aku mau menginap di hotel, tapi karena kenangan di rumah ini sangat banyak dan nggak bisa terlupakan, untuk beberapa malam bolehkan tinggal di sini? sampai aku bisa bertemu dengn tante Mita, gimana?" "Iya boleh banget dong, Mel, tapi aku udah bilang kan, kamu tidurnya di ruang tamu, ya?" "Iya nggak masalah kok, yang penting bisa tidur, 'kan?" sahut Melly dengan tersenyum kecut. Pandu membukakan pintu rumah lalu membantu Melly membawakan beberapa kardus dan koper untuk masuk. Melly masih canggung karena rumah itu bukan lagi miliknya. Banyak barang-barang yang telah diubah dan foto-foto keluarganya pun sudah tidak terpasang di tembok ruang tamu maupun ruang keluarga. Melly berusaha tegar meyakinkan diri jika semuanya akan baik-baik saja. "Kenapa Mel, suasananya jadi baru, ya? sorry banget, jika beberapa foto dan juga barang-barang peninggalan keluargamu aku simpan di gudang." "Nggak masalah Pandu, lagipula rumah ini kan bukan lagi milikku, udah menjadi milik keluargamu." Melly berjalan menyusuri tiap sudut rumah. Melihat betapa rumah itu telah banyak berubah, selama lebih kurang dua atau tiga tahun ditinggalkan. Dulu rumah itu begitu hangat dan nyaman, namun sekarang terlihat sepi dan kosong. Bukan karena tidak ada barang-barang di dalamnya, tetapi pemiliknya telah berganti tangan. "Sebenarnya dari tadi aku lihatin kamu. Aku kan ada di taman, tapi kamu enggak lihat aku. Lagian emosimu dengan pak supir taksi online bikin aku takut." "Tahu gitu aku enggak perlu minta tolong sama supir taksi online yang songong itu, kan bisa minta tolong sama kamu aja, gratis enggak perlu nambah ongkos." "Kamu ini bisa aja sih, Mel, ya udah, sekarang mau minum apa?" "Pandu, kamu lupa ya, apa yang aku suka? mentang-mentang kita udah jadi mantan pacar, benar-benar kamu udah nggak inget apa yang aku suka?" "Apaan sih, udah lama tahu. Itu zaman kita SMA, sekarang kita udah nggak sama lagi." "Aku aja masih ingat kok, kamu tuh suka banget sama Sprite, cola, dan susu Milo." "Terima kasih ya, Mel. Kamu masih ingat apa yang aku suka." "Tidak ada alasan untuk menghapus ingatan masa lalu, jadi kamu masih ingat nggak, aku suka minum apa, Ndu?" "Es jeruk manis." "Ternyata kamu juga masih ingat dengan kesukaanku. Aku senang deh, walaupun kita udah putus, tapi sama-sama saling menjaga ingatan." "Aku hanya menggodamu, Mell, enggak perlu mengharap lebih." "Lah, emang kamu mau aku mengharap lebih darimu, Ndu?" Pertanyaan dari Melly benar-benar membuat Pandu kehabisan akal. Pipinya memerah, mulutnya terkunci tanpa bisa berucap sepatah katapun. Mungkin hati mereka ingin kembali membuka kenangan masa lalu, namun sama-sama ragu. ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Bagus kembalinya mantan kekasih bagus
12/05/2025
0baik
21/03/2025
0Yuk, update lagi 🤗
10/07/2024
0Lihat Semua