Ranting-ranting mulai kering kehilangan dedaunannya yang berguguran. Beberapa pasang kekasih dan keluarga kecil bersama anak-anak kecilnya tampak bergandengan di hamparan kuningnya daun di lantai hutan komplek perumahan. Tesa memandang takjub suasana di penghujung musim gugur ini, meski harus berkali-kali merapatkan sweaternya. “Damar mana sih?” gumamnya mengerucutkan bibir. Lantas menengok arloji di pergelangan, sebentar lagi senja akan benar-benar tenggelam. Beberapa menit menunggu lagi, sambil beberapa kali memotret keindahan nuansa kuning musim gugur dan berswafoto. Namun akhirnya ia melangkah pulang dengan kesal. “Tesa!” Damar berteriak dari ujung jalan. Tesa tersenyum semringah, kemudian berlarian ke arah Damar, begitu jarak diantara keduanya hilang tanpa basa-basi ia memeluk Damar. “Aku kesel banget, tapi begitu liat kamu Dateng aku langsung seneng!” “Ah, iya--” Tesa mengeratkan pelukannya tanpa perduli Damar tak membalas pelukan itu. “Aku udah di sini, jadi lepas ya—“ “Hmm! Kenapa sih gak mau dipeluk? Masih keinget mantanmu?” Rajuk Tesa seolah-olah ialah kekasihnya. Damar menggeleng pelan, “yuk jalan.” “Udah mau malem, kita cari makan yuk?” Tesa menggamit lengan Damar. Lantas berlarian kecil menuju komplek perumahan. Damar dengan enggan ikut berjalan cepat di belakangnya. Setelah melalui komplek perumahan bernuansa putih, keduanya menuju halte bus untuk menuju pusat penjual jajanan di malam hari. Kegembiraan tersemat jelas di wajah Tesa, aura kebahagiaannya tanpa sengaja menular kepada Damar yang sesekali terkekeh menanggapi celoteh teman kecilnya itu. Sejenak, kepedihan akan rasa kehilangan terhadap Alma seolah sedikit memudar. Turun dari bus, berjalan beberapa menit keduanya sampai di sebuah pasar dengan stand-stand penjual street food yang menguarkan aroma lezat. Tesa menatap antusias ke deretan stand yang dipadati pengunjung, ia pun berlarian kecil mendekati penjual currywurst Setelah mengantre beberapa saat, Tesa akhirnya mendapatkan dua porsi Street food berbahan dasar sosis daging yang dipadukan dengan bumbu kari dan saus pedas itu. Satu porsi lainnya ia serahkan pada Damar, keduanya menikmati kudapan khas Jerman sejak perang dunia ke II itu sambil berjalan-jalan. Ketika tengah asik menyuap currywurst tanpa sengaja bahu Tesa ditabrak pejalan kaki dari arah berlawanan. “Argh!” pekik Tesa yang hampir tersungkur kalau saja Damar tak segera meraih bahu gadis itu dalam dekapannya. “Kamu gak apa-apa?” Damar bertanya panik, sekalipun dirinya sendiri berlumuran saus sisa tumpahan currywurst. Sembari memegangi bahu Tesa yang baru saja menyeimbangkan posisi berdirinya. Tesa justru menatap Damar lekat-lekat, penuh rasa. Ia merasa begitu tersentuh akan sigapnya Damar melindunginya, sekalipun ia tak tahu pasti apakah hati lelaki itu telah terbuka untuknya. Tanpa bisa terbendung lagi, Tesa mengangkat tumitnya menyamai tinggi tubuh Damar lantas mendaratkan kecupan hangat di pipi sahabat kecilnya itu. Damar terkejut akan keberanian Tesa, hingga hanya bisa mematung dengan wajah Semerah kepiting rebus. Bab Baru Alma tercengang, Damar? Bagaimana Yogi bisa tahu tentang Damar? “Gak ada jalan mulus di Dunia ini istriku.” Yogi mendekat, mengapit dagu istirnya dengan ibu jari dan telunjuk. “Apa maksudmu?” Tantang Alma melempar tatapan tajam, sampai titik terlemahnya pun ia tak sudi tampak lemah di depan lelaki itu. Yogi tersenyum tipis, “aku sudah tahu semua rahasiamu dan sekarang aku mau kamu beristirahat tenang di sini, jangan buang-buang energi untuk melawan takdir yang sudah kuciptakan untukmu.” “Arrgh!” Alma menepis dengan kasar pergelangan tangan Yogi, menatap sengit. “Yang bisa menentukan nasibku hanya diriku, bukan orang lain.” Desisnyapenuh penekanan. “Oh ya?” Yogi tersenyum sinis, mengangkangi keangkuhan istrinya. “Tanda tangani surat pengalihan kuasa perusahaan ini,” Yogi mehempaskan file-file itu ke ranjang, “silahkan berlibur tenang selamanya di sini istriku tercinta.” Tanpa berbasa-basi lagi Yogi buru-buru meninggalkan ruangan itu dengan kepala terasa mendidih berkat perlawanan Alma sekaligus fakta bayi itu bukanlah anaknya. Kecewa bukan main, mengetahui dirinya betul-betul diperalat oleh Alma. *** Detik serangga bersahutan dengan lolongan hewan liar di luar sana, menemani malam panjang yang tengah Alma lalui dengan kegelisahan. Memikirkan jalan keluar dari lubang kelam yang Yogi ciptakan. Sampai-sampai perutnya mulai terasa kram, ia berhenti mondar-mandir di kamar bercahaya redup itu. Ia terduduk lelah di tepian ranjang, tertunduk pasrah. Sampai pada satu titik ia terpikirkan untuk mengirimkan surat pada kakaknya, Andini dan membongkar semua keburukan Yogi sekalipun rahasianya juga akan terbongkar. Pikirnya begitu. Maka malam itu juga ia menulis surat di salah satu halaman kosong surat kuasa itu. Sembari memegangi perutnya yang kram dan sesekali menarik napas untuk menghela segala rasa cemas. Sampai akhirnya ia jatuh tertidur dini hari usai kelelahan akan segala hal buruk yang ia lalui hari itu. Pagi harinya, ketika Ada mengetuk pintu dengan mata yang masih terasa berat Alma bangkit dari mimpi. “Nyonya, silahkan sarapan,” sapa Asa disertai senyum hambar. “Asa, Asa.” Alma tergasa mencekal pergelangan bodyguardnya itu. “Ada yang bisa saya bantu?” Asa memutar tubuhnya ke arah Alma, menatap saksama. Dengan suara memohon, “bisa tolong sampaikan file ini ke Kak Andini?” Asa mengernyit, ia sama sekali tak tahu menahu mengenai tentang keluarga Pramusito. Ia hampir saja menggeleng jika saja Alma tak semakin memperkuat cekalan tangannya dan berujar, “kumohon, kamu hanya perlu keluar dari hutan cari jasa pengiriman alamatnya sudah aku tuliskan di sana.” Asa bergeming, takut kalau-kalau menyetujui kemauan Alma melanggar kontrak kerjanya. “Saya akan coba minta izin ke tuan—“ “Jangan!” Sergah Alma, “suamiku sendiri yang memintanya.” Asa setengah tak percaya, namun hati kecilnya yang minat kondisi Alma pagi itu yang payah, tampak lemah dan penuh kecemasan mulai merasa iba. Akhirnya ia mengangguk dan meraih berkas-berkas itu. Alma akhirnya bisa bernapas lega, ia pun tertatih-tatih kembali ke tempat tidur. Memegangi perutnya yang kembali kram. *** Menjelang sore, ketika seluruh pekerjaan Asa telah selesai ia berniat keluar dari pulau dengan akses speed boat yang disediakan Yogi. Tapi nahas, saat sampai di bibir pantai kapal milik Yogi justru sedang merapat di dermaga. “Ada keperluan apa sampai-sampai kamu jauh-jauh keluar dari pulau?” tanya Yogi penuh selidik usai mengentikan laju kendaraan Asa. “Tidak ada,” jawabnya sigap meski tampak cukup gugup. “Periksa!” Yogi menoleh ke arah kedua bodyguard berbadan kekar di belakangnya. Tanpa menunggu waktu lama, berkas-berkas itu ditemukan bodyguard yang dibawa Yogi. Yogi yang menerima berkas itu mengecek isinya, tersenyum sengit. Marahnya menggelegak, melihat tingkah Alma yang selalu berusaha bermain di belakangnya. Perlahan, berkas itu lumat di genggamannya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
saya sangat bagus
27/01
0makasi
09/09/2025
0mantap
08/08/2025
0Lihat Semua