Beranda/Setelah Sepuluh Tahun Pernikahan/
Bab 55 Tetangga Baru
Setelah Sepuluh Tahun Pernikahan 55
"Mass iihh!" pekikku saat melihat tingkah Mas Damar.
"Biarin! Aku sudah ngga tahan pengen makan kamu!" desisnya dengan seringai menggoda. Ia kembali menyusuri wajahku dengan bibirnya. Sepertinya pengalaman tadi tak dibuat pelajaran olehnya. Ya sudah biarlah. Tak ada yang bisa dengan baik mengendalikan nafsu memang. Apalagi nafsu sepasang pengantin baru.
Belum selesai Mas Damar dengan aktivitasnya, dering ponsel mengganggu apa yang Mas Damar lakukan. Kembali ia kesal karena banyak sekali hal yang mengganggu kami siang ini. Jelas saja kan siang hari masih banyak orang yang beraktifitas, tapi hal itu tidak berlaku bagi orang yang baru menikah. Ck!
Segera Mas Damar meraih ponsel dari dalam saku celananya. Tertera nama "MY WIFE" dalam benda layar datar yang dipegangnya. Sengaja ponselku kutinggal di rumah Bapak agar memudahkan anak-anak untuk menghubungiku saat mereka rindu. Karena baru ini anak-anak jauh dariku.
"Sabar ya Sayang," ujarku seraya mengelus pipinya. Tampak raut kesal masih mendominasi wajah tampannya. Namun meskipun sedang kesal wajah itu semakin terlihat menawan.
Aku menerima uluran ponsel dari tangan Mas Damar dan segera menekan tombol gagang telepon warna hijau.
"Ibu!" teriak Kirani diujung panggilan.
"Assalamu'alaikum Sayang," selaku ditengah suara Kirani yang menggebu-gebu.
"Waalaikumsalam Ibu! Ibu kapan jemput Adek? Adek kangen sama Ibu!" Suara Kirani terbata. Tampak seperti suara orang yang telah menangis.
"Adek nangis? Rindu Ibu ya?"
"Iya, Adek rindu sama Ibu. Ibu kapan kesini jemput Adek?" rengek Kirani. Aku lantas tersenyum mendegar suara Kirani yang manja. Ada rasa senang saat anak yang kita rawat mencari keberadaan kita. Aku merasa itu adalah bukti bahwa kasih sayang yang kuberi telah melekat dalam hatinya. Dan aku merasa senang kala ia merindukanku.
"Ini sudah mau berangkat. Lagi nunggu Nenek Mala ganti baju. Nenek mau ikut jemput Adek," jawabku lembut. Meskipun merengek, Kirani masih bisa diberi pengertian.
"Jangan lama-lama Ibu," sahutnya.
"Iya, doakan Ibu dan Ayah selamat sampai rumah Kakek ya? Mbak Danisa lagi apa? Ngga nyari Ibu juga?" tanyaku mengalihkan perhatiannya.
"Mbak lagi main sama teman di luar, Bu. Ini Kirani lagi sama Nenek di ruang tamu."
Mas Damar terlihat memperhatikan obrolanku dengan Kirani. Ia tersenyum mendengar celoteh Kirani yang sedih tapi menggemaskan. Aku yang duduk atas ranjang bersebelahan dengannya turut senang melihat ekspresi wajah suamiku ini. Kuusap wajah itu lembut sebagai ungkapan bahagia bahwa ia menerima keadaanku dengan baik.
"Ya sudah, Adek main lagi. Ibu mau siap-siap berangkat dulu ya? Adek mau dibelikan apa?"
"Emm Adek mau dibelikan boneka berbi aja, Ibu. Mbak sudah besar, nggak usah dibelikan, hihihi." Suara Kirani yang tadinya sedih kini sudah berubah menjadi senang.
"Okey ditunggu ya? Nanti Ibu bawakan boneka berbi yang cantik kayak Ibu!"
"Kok kayak Ibu sih?!"
"Terus kayak siapa?"
"Cantik kayak Adek!"
"Ah ya! Bonekanya cantik kayak Adek! Ya sudah Ibu berangkat ya? Assalamu'alaikum."
Setelah mematikan panggilan dari Kirani, Mas Damar langsung merengkuh tubuhku dalam dekapannya. Ia menciumi gemas pipiku sambil menggelitik pinggangku.
"Geli, Mas! Usil iihh!"
"Biarin! Salah sendiri ngledek terus dari tadi! Bikin gemes aja!" Ia terus menghujaniku dengan kelitikan di pinggangku dan mencium gemas pipiku. Hubungan ini terasa fleksibel. Kadang ia jadi suami, kadang pula ia jadi teman, kadang jadi musuh yang suka menjahili seperti ini. Aku senang menjalaninya, tidak membosankan. Semoga saja hubungan ini terus baik hingga ruh terpisah dari raga.
"Siapa yang ngledek sih! Ihh gelii, Mas!" pekikku tertahan. Entah seberapa keras kami tertawa sejak tadi.
"Mar, Mama sudah siap," teriak Mama dari luar kamar.
"Iya, Ma." balasku berteriak.
Mas Damar lantas melepaskan kelitikan tangannya dipinggangku. Ia kemudian bangkit dari kasur tempatnya menjahiliku. Kami berdua lantas keluar kamar bersama setelah lebih dulu berkaca untuk merapikan penampilanku yang sudah diacak-acak oleh suamiku tercinta ini.
"Kalian kayak anak kecil aja bercanda sambil teriak-teriak gitu!" desis Mama dengan raut wajah yang dibuat seolah-olah sedang kesal. Mama tidak marah, hanya menggoda kami yang bertingkah layaknya anak baru gede.
"Habis punya istri nggemesin gitu, Ma!"
"Apaan sih!" ujarku sambil mencubit gemas perut rata Mas Damar.
"Aww!" pekik Mas Damar dibuat-buat.
Tak kupedulikan lagi tingkah Mas Damar. Kami lantas berjalan menuju garasi mobil sambil mendorong kursi roda Mama.
Aku membukakan pintu bagian belakang untuk memberi ruang pada Mama masuk ke dalam mobil. Dengan sigap Mas Damar mengangkat tubuh Mama untuk membantu Mama pindah posisi. Sedangkan Mama merangkul leher Mas Damar untuk mengimbangi bobot tubuhnya.
Setelah Mama duduk sempurna di kursi tengah, aku lantas menutup pintu mobil dengan hati-hati. Lalu ganti Mas Damar yang membukakan pintu bagian depan untukku. "Makasih, Sayang," bisikku sebelum mendudukkan bobot tubuh di kursi sebelah kemudi.
Mas Damar tersenyum malu-malu. Ia lantas berjalan menuju sisi mobil bagian kanan sambil tersenyum. Dan mulai mengemudikan mobil yang kami tumpangi dengan hati-hati.
"Akhirnya Mama bisa jalan-jalan juga!" ucap Mama mencebik.
"Damar kan kemarin-kemarin sibuk, Ma. Belum sempat ajak Mama jalan-jalan begini."
"Iya! Mama tahu."
"Habis ini Mama punya teman jalan-jalan. Ada istri Damar yang akan selalu menemani Mama di rumah, iya kan, Dek?" ujar Mas Damar sambil melirikku sekilas.
"Iya, Ma. Jangan khawatir. Dewi akan selalu menemani Mama."
Jika dulu ada Ibu Mas Bima yang selalu menjadi prioritasku setelah keluarga kecilku, kini ganti Mama Mas Damar yang akan menggantikan posisi Ibu Mas Bima. Meskipun begitu aku tetap menganggap Ibu Mas Bima sebagai orangtuaku juga.
"Iya. Papamu aja lebih mentingin bisnisnya dari pada Mama."
"Ya nggak gitu juga, Ma. Kan Papa kerja juga buat Mama."
"Ya tapi Mama kan bosan di rumah terus. Kamu juga jarang pulang ke rumah! Dah jual aja apartemenmu itu, kamu pulang ke rumah Mama!"
Tak menjawab ucapan Mama, Mas Damar hanya menoleh sekilas. Lalu kembali fokus pada jalanan. Demikian juga denganku.
Sebenarnya aku kurang setuju jika harus tinggal bersama Mama, karena bagiku ketika kita membangun rumah tangga lebih baik hidup mandiri. Bukan tak mau hidup bersama mertua tetapi istri punya hak untuk menjadi ratu di istananya sendiri. Kecuali jika suami belum mampu memberikan fasilitas sebuah rumah untuk istri maka istri wajib menerima apapun keputusan suami.
"Ya, Nak? Jual saja rumahmu itu!" Mama kembali melempar pertanyaan.
"Nggak bisa begitu dong, Ma! Apartemen itu Damar beli kan buat istri Damar, juga buat warisan anak-anak Damar kelak? Nggak usah dijual lah."
"Ya kan sudah ada rumah Mama ngapain juga kamu beli rumah?"
"Kan Mama yang kasih izin Damar beli rumah dulu?"
"Ya dulu Mama masih bisa jalan! Sekarang lihat kondisi Mama! Jalan aja nggak mampu!" ucap Mama dengan suara parau. Serak dalam nada bicaranya menunjukkan bahwa sebentar lagi akan keluar butiran air hangat dari kelopak matanya.
Aku iba mendengar suara Mama. Bagaimana seseorang harus hidup dengan kondisi kaki yang lumpuh sementara semua raganya sehat tanpa cacat sedikitpun.
"Ma, Mama bukan nggak mampu! Hanya saja Mama perlu terapi agar kondisi Mama kembali seperti semula!"
"Mama kan sudah terapi tapi kamu lihat sendiri? Mana bisa jalan padahal terapi sudah beberapa minggu!"
"Semua kan butuh proses, Ma? Nggak bisa ujuk-ujuk sembuh gitu aja!"
"Mama sudah berusaha, Nak!"
"Sabar, Ma. Butuh waktu! Asal Mama terus semangat untuk terapi rutin."
"Capek terapi terus tapi nggak ada perubahan."
"Apa mau Dewi temani, Ma?" selaku disela-sela obrolan Ibu dan anak itu.
"Kamu beneran?" sahut Mama. Ia menatapku penuh harap.
"Kalau Mas Damar mengizinkan, Dewi mau." Aku menatap wajah suamiku yang sedang fokus menghadap jalan raya.
"Tuh, Mar. Istrimu minta izin buat antar Mama terapi, dikasih izin apa enggak?" ucap Mama sambil mencebik.
"Kalau Dewi ikut Mama terapi, trus kalau Damar kangen gimana, Ma?" goda Mas Damar. Sekilas wajah tampan itu melirikku genit.
"Kamu itu, alesan aja!" desis Mama.
"Iya, iya, Ma! Boleh! Apa sih yang enggak buat Mama?"
"Minta antar Papamu juga sibuk terus!" kesal Mama. Sepertinya Mama ini kurang perhatian dari suaminya yang membuatnya ganti mencari perhatian dari anaknya. Wajar saja sih sebenarnya. Hanya saja aku yang sejak dulu sebagai anak tunggal baru melihat dan merasakan hal yang seperti ini.
"Namanya juga kerja, Ma. Wajar saja nggak bisa antar."
"Iya sih! Uangnya juga buat Mama!" dengkus Mama. Meskipun kesal tapi beliau tak mengingkari apa yang sudah Papa lakukan buatnya.
"Ya sudah kan sekarang sudah ada istri Damar, Ma. Ngga usah sedih lagi," ujar Mas Damar menenangkan.
Terdengar helaan napas panjang milik Mama. Namun setelah kutunggu lama tak lagi terdengar celoteh Mama. Yang ada hanya suara isakan yang ditahan. Aku yang dulu sering melakukannya membuatku menoleh, seakan paham atas apa yang sedang Mama lakukan.
Kuraih tangan Mas Damar agar ia menghadapku. Kulirik Mama sekilas untuk menunjukkan keadaan Mama pada suamiku.
Mas Damar mendongak. Melihat keadaan Mama dari spion di atasnya. Mata itu terpaku melihat keadaan orangtuanya. Kurasa ia seperti baru pertama kali melihat sang Mama menangis seperti itu.
Perlahan Mas Damar menepikan mobilnya. Setelah mobil itu terhenti, Mas Damar meraih tangan Mama dalam genggamannya.
"Ma, kok nangis?"
"Maafkan Mama, Nak. Mama merasa bersalah karena telah merepotkanmu. Maafkan Mama yang dulu lebih banyak abai padamu namun sekarang Mama malah menuntut banyak darimu. Mama malu padamu, juga pada istrimu." Mama terus terisak. Semakin keras saat tangan Mas Damar kian erat menggenggam jemarinya.
"Ma, bagaimana pun sikap Mama dulu, Damar tetap anak Mama. Jangan bersedih. Yang lalu biarlah berlalu. Yang penting sekarang Damar tetap menjadi baik meskipun telah melalui banyak hal yang menyakitkan."
"Sungguh, Nak. Maafkan Mama." Air mata Mama kembali membanjiri pipinya yang masih kencang. Satu tangannya sibuk menyusut air mata yang tak henti mengalir.
"Damar tak apa, Ma. Jangan merasa bersalah. Bagaimana pun Mama dahulu, Mama tetap yang terbaik untuk Damar." Mata Mas Damar perlahan dipenuhi oleh serpihan kaca yang semakin lama menjadi butiran air mata. Entah bagaimana masa lalu Mas Damar hingga Mamanya sesedih ini.
Mama semakin memajukan badannya untuk bisa merngkuh tubuh putranya. Demikian juga Mas Damar, ia pun memutar badannya agar bisa memeluk erat sang mama.
Aku lantas mengusap punggung suamiku pelan. Sedikit memberikan ketenangan dalam dirinya agar tetap tenang. Meskipun aku tak mampu merubah apapun minimal aku bisa memberikan sedikit ketenangan dalam hatinya.
Keduanya lantas mengurai pelukan setelan beberapa saat. Kulihat keadaan Mama sudah lebih baik daripada sebelumnya. Tampak kelegaan tersirat dari sinar matanya.
Setelah sama-sama tenang, Mas Damar kembali mengemudikan mobilnya. Separuh perjalanan telah kami lewati, masih kurang setengahnya lagi. Meskipun begitu lelaki tampan di sebelahku ini tetap mengemudi dengan santainya.
Tak lupa juga kusempatkan waktu untuk membeli oleh-oleh untuk Kirani juga Bapak dan Ibu. Sebenarnya akun hanya ingin membelikan apa yang diminta oleh Kirani, namun Mas Damar dan Mama memaksa untuk membelikan sesuatu sebagai buah tangan untuk kedua orangtuaku.
"Ibuu!" teriak Kirani kegirangan saat melihatku hadir di depan matanya dengan tentengan di tanganku. Ia langsung saja menubruk tubuhku. Memelukku erat seakan takut aku tak akan kembali.
"Rindu Ibu ya?" ujarku sambil merengkuhnya dalam dekapanku. Yang direngkuh hanya menganggukkan kepalanya pasrah.
"Ibu bawa hadiah untuk Adek," bisikku.
"Boneka berbi?" kagetnya. Ia lantas mengurai pelukanku dan segera meraih tentengan yang kubawa. Matanya melotot melihat apa yang ada dalam bungkusan ini. Satu tangannya menutup mulutnya yang menganga akibar tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Ibu, sungguh ini boneka berbi?" tanyanya memastikan.
"Iya, ini buat Adek!"
"Horree!" teriaknya kegirangan. Tak henti bibirnya menyunggingkan senyum dengan membawa boneka itu ditangannya.
Begitu juga dengan Danisa yang sengaja kubelika sebuah boneka seperti boneka kesayangannya. Ini sebagai reward karena keduanya sudah menjadi anak yang baik.
Bapak menerima kedatangan Mama dengan ramah. Keadaan rumah yang seadanya dan suguhan apa adanya tak membuat Mama merasa direndahkan. Keduanya saling menghargai satu sana lain. Hatiku cukup lega menyaksikan semua ini. Kukira Mama akan jijik dengan kondisi rumah orangtuaku yang berada di kampung. Juga kukira Mama akan merasa jijik dengan suguhan yang Ibu sajikan.
Namun nyatanya Mama malah seakan bernostalgia dengan apa yang Ibu berikan. Sebuah makanan yang terbuat dari singkong rebus yang ditumbuk lalu diberi gula merah ditengahnya dan setelahnya dibuat menjadi bulatan kecil kemudian di goreng. Mama sungguh menikmati suasana perkampungan di rumahku.
Tak mau kembali pulang terlalu larut, Mas Damar akhirnya mengajak kami kembali. Kembali menyusuri sepanjang jalan tol yang berada di atas pemukiman warga. Sepanjang jalan yang dipenuhi dengan hamparan sawah luas nan hijau. Betapa Allah sudah berkuasa mengubah sawah yang hijau nan terjal menjadi sebuah jalan raya untuk mempersingkat waktu perjalanan. Hingga kami sampai di rumah tepat setelah dua jam perjalanan.
Saat mobil Mas Damar berbelok ke gang menuju rumahku, tampak sebuah mobil pick up yang berhenti tepat di sebelah rumahku sedang memuat beberapa perabotan rumah tangga. Seperti seseorang yang sedang pindahan rumah.
Mata kami memindai apa yang ada di samping mobil melalui kaca. Tampak beberapa orang sibuk menurunkan barang-barang dari bak mobil.
"Tunggu, sepertinya Mama pernah lihat orang itu, tapi di mana ya?" lirih Mama berucap.
Bersambung🥀🥀🥀Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (140)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
ceritanya bagus sekali,ada bnyk perasaan yg d aduk sampai terharu ... lanjutkan,semangat💪🏻
29/06/2022
0ceritanya bagus
26/07
0kapan dapay uanf
16/06
0Lihat Semua