Bab 47 Dua Hati Bersatu

Setelah Sepuluh Tahun Pernikahan 47
Dua Hati Bersatu
Sebuah kamar tipe superior menjadi pilihan Mas Damar untuk kami menikmati indahnya malam. Kamar dengan singlebed berukuran besar yang berada persis di tengah ruangan. Di sisi kiri kasur itu terdapat sebuah kursi besar menghadap dinding kaca yang menampakkan pemandangan kota Surabaya malam ini.
Dari dinding kaca itu dapat kunikmati kilatan cahaya lampu dari berbagai gedung yang menjulang. Cahaya bintang pun tak kalah berkilaunya, membuat mataku enggan beranjak dari sisi dinding ini.
Sebuah kursi besar nan empuk menjadi tempatku meletakkan bobot tubuh untuk menikmati indahnya malam ini. Sungguh aku tak pernah melihat pemandangan segemerlap ini selama hidupku. Juga baru kali ini kuinjakkan kaki dalam sebuah gedung dengan banyak kamar di dalamnya. Bahkan saat dengan Mas Bima pun aku tak pernah diajaknya.
Aku lantas berdiri, memandang lebih dekat dengan dinding kaca di depanku ini. Kuusap dinding kaca itu seolah aku bisa memegang cahaya yang terpancar dari luar. Ah sungguh indah dunia yang Allah ciptakan ini.
Di depan ranjang tidur terdapat sebuah televisi layar datar berukuran besar yang menempel di dinding. Disebelahnya terdapat sebuah meja kayu dan kursi untuk meletakkan barang-barang atau makanan, lebih mirip seperti meja kerja. Sedangkan di depan sofa yang kududuki ada sebuah meja kecil yang diatasnya terdapat sebuah bunga dalam vas keramik.
Kusapukan mataku untuk menikmati seluruh ruangan. Sungguh aku pun tak pernah terpikirkan akan menghabiskan uangku menikmati fasilitas yang seperti ini. Jika bukan Mas Damar yang mengajak, mana aku mampu. Semalam saja harga cek in lebih dari dua ratus ribu.
Hawa dingin dalam kamar ini menusuk hingga tulang sum-sumku. Membuatku memeluk badanku dengan kedua tanganku sendiri sambil terus menikmati pemandangan di luar dinding kaca ini. Seandainya kedua anakku ikut serta pasti mereka akan merasakan hal yang sama denganku. Takjub.
"Kamu suka?" tanya seseorang yang membersamaiku. Tiba-tiba tangannya melingkar di perutku dari belakang. Tanpa aba-aba ia letakkan dagunya di atas pundak sebelah kanan milikku. Deru napasnya terasa hangat, membuat sekujur tubuhku kembali meremang. Kuusap lembut rambutnya, kuhidu aroma shampo yang menguar dari rambutnya yang basah. Wangi tubuhnya membuatku memejamkan mata merasakan betapa wangi ini memabukkanku.
"Suka. Makasih ya?" Senyum simpul terbit dari bibirku yang kemerahan. Bunga-bunga dalam taman hatiku kian bermekaran. Merekah sempurna. Ah indahnya kembali menjadi seorang istri.
"Kapan-kapan kita bisa mengajak Danisa dan Kirani ke sini," ujarnya. Suamiku memang peka terhadap apa yang kurasakan.
"Tak usah lah. Sewanya mahal," sahutku. Masih ada rasa sungkan menjalari hatiku untuk meminta sesuatu yang tak penting seperti ini.
"Sudah kupersiapkan sejak dulu. Kamu tak usah sungkan padaku, mereka juga harus merasakan fasilitas yang pernah kamu nikmati."
Kuurai pelukannya untuk mengubah posisiku menghadap wajahnya yang sempurna. Wajah tampan dengan rahang kokoh bermata cokelat dengan hidung menjulang tinggi. Kulitnya yang putih dan bersih menambah nilai plus dalam dirinya. Kini ganti tanganku yang melingkar di pinggangnya. Kutatap matanya yang bersinar, sinar kebahagiaan.
"Makasih ya?"
Mas Damar menyambut pelukanku dengan turut melingkarkan tangannya ke tubuhku. "Sama-sama," sahutnya.
"Semua ini buat kamu. Apa yang kumiliki adalah milikmu juga jadi jangan sungkan untuk bicara padaku soal keinginanmu," cicitnya lagi.
Perlahan Mas Damar membawa tubuhku menuju peraduan terindah yang pernah kulihat. Kasur yang empuk membuat tubuh ini terasa seperti melayang terbang ke angkasa. Terbang menuju taman surga yang telah Tuhan siapkan untuk kami, pasangan halal.
Bukti cintanya ia tunjukkan dengan memberikan sesuatu yang belum pernah kunikmati. Sentuhan lembut tangannya membuat sekujur tubuhku merasakan sensasi berbeda. Seperti deburan ombak dilautan yang menggulung tinggi dan menampar batu karang. Nikmat.
Nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan?
Sebuah penyatuan dua raga berlawanan jenis yang telah halal menjadi salah satu penyebab bunga-bunga dalam taman hati kembali merekah sempurna. Dua cinta telah menjadi satu. Dua hati yang lama terpisah kini kembali menemukan pemiliknya satu sama lain. Dua hati itu kini tengah mereguk nikmatnya cinta yang telah lama dinanti. Biarkan kedua hati ini membungkam sepi dengan menikmati manisnya cinta yang kini telah sempurna. Semoga Tuhan mengizinkan dua hati ini terus bersatu hingga takdir Tuhan kembali meminta haknya atas diri ini.
Kecupan selamat malam menjadi penutup keindahan malam ini. Kurebahkan kepalaku di atas lengan kekar miliknya. Lengan yang selamanya akan menjadi sandaran hati dan jiwaku. Lengan yang akan turut memikul beban kehidupan yang ada pada diriku.
Kini akhirnya kembali kumiliki pasangan halal yang akan membimbing dan menemaniku menjalani kehidupan. Teman halal yang akan setia menjadi sandaran kepalaku saat rintangan datang menghadang. Bapak bagi kedua putriku yang telah kehilangan sosok ayahnya.
Semua terasa seperti mimpi. Mimpi buruk yang kini telah berakhir dengan kebahagian. Semoga Allah berkenan terus menjadikannya pendamping hidupku hingga ruh tak lagi membersamai raga.
"Pagi Sayang," bisikku lembut di telinganya. Rambut basahku kuusapkan di wajahnya yang kering. Tangan kekar itu bergerak menyisihkan sesuatu yang basah yang menempel di wajahnya. Namun mata itu enggan terbuka. Lantas kucium lembut pipi itu. Ajaib, perlahan mata itu mengerjap dan sebuah lengkungan terbit dari bibir miliknya.
"Pagi juga," jawabnya. Akhirnya ia menyahut. Mata itu kini terbuka. Namun bukannya segera bangun, ia malah merentangkan kedua tangannya untuk memintaku berbaring.
"Mandi dulu, Mas."
"Nggak mau! Masih pengen. Sini!" Ia memintaku untuk merebahkan diri di pelukannya.
"Sudah subuh, yuk salat dulu."
Akhirnya ia pun bangun dari tempat tidurnya. Ia berjalan menuju kamar mandi dengan rasa malas, namun aku malah tersenyum melihatnya. Setelah ini tiap pagi wajah itu akan menjadi pemandangan pertama setelah membuka mata. Menyegarkan.
Dering ponsel di atas nakas membuatku menoleh. Ponsel yang sejak kemarin diam saja seperti tengah mengerti bahwa kami ingin menghabiskan malam tanpa gangguan kini kembali mengusik. Siapa gerangan sepagi ini menghubungi suamiku.
Kudekati ponsel itu, kulihat sebuah nama tertera dalam layar datar tersebut.
"Mama."
Panggilan dari mamanya membuat hatiku mengkerut. Bagaimana tidak, kemarin saat kami melangsungkan akad tanpa kehadiran beliau di sisi kami. Meskipun hanya secara siri, seharusnya kedua orang tua Mas Damar juga turut serta di dalamnya.
Ponsel telah kupegang, namun aku tak berani menyentuh tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut.
"Siapa yang telpon, Dek?" ucapnya sambil berjalan mendekatiku dengan tangan yang masih mengusap rambut basahnya dengan handuk.
"Mama, Mas."
"Kenapa sama Mama? Bilang apa?"
Mataku menatap wajah segar di depanku. Aku terpaku karena pertanyaannya. Bagaimana mungkin ia bertanya bilang apa sementara aku masih sehari menjadi istrinya, mana berani aku asal menerima panggilan di ponselnya tanpa izin darinya.
"Kok diam? Mama bilang apa?" Ia mengulang pertanyaannya lagi.
Mataku mengerjap, kemudian kuletakkan ponsel itu kembali ke atas nakas.
"Aku ngga berani ngangkat, Mas. Mas belum kasih izin untuk menerima panggilan dari ponsel milik Mas." Kepalaku menunduk, takut akan reaksinya setelah mendengar ucapanku.
"Astagaa kamu kayak belum pernah kenal aku aja! Nggak apa-apa Sayang. Terima saja. Nggak akan ada yang kusembunyikan sama kamu," celotehnya. Ia mendekatiku setelah meletakkan dengan asal handuk basah yang telah ia pakai.
Aku tersenyum kecut mendengar reaksinya. Baginya ini hal biasa, tapi bagiku ini bukan hal biasa. Bukan hak istri untuk mengetahui apa yang ada di dalam barang pribadi suaminya.
Mas Damar mendekati wajahku, "Kalau wajahnya begitu malah bikin aku pengen makan."
"Mas lapar?" kagetku. Ini masih jam lima subuh dan suamiku sudah minta makan?
"Iya, lapar. Pengen makan kamu!" bisiknya lalu ia pergi menjauh.
"Mas iihhh!"
"Ngeselin banget sih!" pekikku. Tetapi meskipun begitu wajahku tetap tersenyum.
Mas Damar kembali dengan wajah yang basah oleh air wudhu. Beliau lalu membuka lemari untuk mengambil dua sajadah juga mukena di dalamnya.
"Wudhu dulu, Mas tunggu."
Aku hanya mengangguk lalu pergi menuruti apa yang suamiku itu perintahkan.
Mas Damar sudah berada di depan sajadahku, bersiap menjadi imam dalam salat subuh pertama dengan status baru yang kami sandang.
Suaranya merdu, aku terhanyut karenanya. Juga terharu karena lelaki yang kutahu dulu hanya sebatas islam, kini mampu berdiri di depanku menjadi imam dalam salatku. Meski bacaan surahnya tak sebagus milik Mas Bima, namun aku menghargai. Butuh waktu juga proses untuk menjadi lebih baik. Dan aku percaya itu.
Sebuah doa teruntai indah setelah ia menjadi pemimpin dalam salatku. Doa seorang suami untuk istrinya yang terdapat dalam Al Qur'an.
"Rabbana hablana min azwajiinaa wa dzurriyatinaa qurrata a'yun waja'alna lil muttaqina imama."
Yang artinya: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami, istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al Furqan: 74)
Setelah berdoa kucium takdzim tangan suamiku. Ciuman penuh cinta dan kasih sebagai seorang istri. Berharap aku bisa menjadi istri yang baik untuknya.
Seorang petugas hotel datang membawa sebuah nampan dengan beberapa piring di atasnya. Sarapan gratis yang diberikan kepada setiap pengunjung hotel. Kuterima nampan itu dan kuletakkan di atas meja.
"Makan dulu, Mas."
Mas Damar menoleh sekilas, "Makan di sini saja," ucapnya sambil menunjuk kasur dengan dagunya. Ia masih sibuk dengan ponsel di tangannya. Meski begitu aku sabar menanti. Menunggu hingga ia menyelesaikan keperluan melalui ponsel miliknya.
Dering ponsel kembali membuat mata kami menoleh. Kini ganti lampu ponselku yang menyala. Kuletakkan sendok dan garpu yang kugunakan untuk menikmati sarapan bersama suami tercinta didalam kamar sambil menikmati pemandangan dari atas gedung ini. Segera aku berdiri untuk meraih benda pintar itu untuk melihat siapa yang menghubungiku.
Tertera nama "Mbak Sari" dalam layar datar itu. Segera kuangkat panggilannya agar segera tahu mengapa ia menghubungiku sepagi ini.
"Ada apa, Mbak? Tumben pagi-pagi telepon?" tanyaku setelah menjawab salamnya.
"Mertuamu, Mbak! Mertuamu pingsan!"
"Pingsan kenapa? Ada apa, Mbak?"
"Kamu buruan ke rumah sakit, sudah ada Ibu dan Bapakmu di sana. Anak-anak sama aku."
Bersambung 🥀🥀🥀

Komentar Buku (140)

  • avatar
    Mb Obik

    ceritanya bagus sekali,ada bnyk perasaan yg d aduk sampai terharu ... lanjutkan,semangat💪🏻

    29/06/2022

      0
  • avatar
    MuyadiMr

    ceritanya bagus

    26/07

      0
  • avatar
    PandiMiliswati

    kapan dapay uanf

    16/06

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru