Beranda/Pujaan Sang Abdi Negara/
Bab 32 Kotak pesan
"Kenapa kau dari tadi diam saja?" lugas Yosep sekilas melirik gadis yang sedari tadi membisu dengan sorot mata termenung menatap rantai jalan.
"Lalu aku harus apa?" gumam Myra datar, enggan menatap pria yang tengah menyetir.
"Lagian kenapa sih, kamu nyetir sendiri?"
"Memangnya--ada masalah jika aku menyetir sendiri?" sahut Yosep sekilas menoleh,
"Ya, tidak. Tapi seharusnya membawa sopir! Lagipula disana kau pasti terbiasa mendapat pelayanan mewah--aku khawatir terjadi sesuatu jika kamu yang menyetir.."
"Apa maksudmu? Apa kau pikir aku tidak bisa melakukan hal mudah semacam ini?" tegasnya merasa kesal karena diremehkan.
Semakin mempercepat laju mobil yang sedang menuju salah satu gedung pemberian ayah mereka.
Sebenarnya percakapan tadi, spontan keluar dari mulut Myra demi melupakan suasana hati yang sedikit tak beraturan.
Tak dapat dipungkiri, jika dia masih mengingat jelas bahkan terngiang setiap percakapan rahasia yang sengaja disembunyikan dari Yosep.
Entah kenapa kalimat penuh perasaan berhasil meruntuhkan gembok hati yang bahkan telah lama Myra biarkan terkunci. Perasaannya kacau, merasa asing dengan emosi serta dilema aneh yang tengah bergejolak.
"Ada apa denganku? Kenapa terus terbayang si polisi bejat tadi!"
"Hh--ini pasti karena hormon. Wanita kan, selalu sensitif setiap kali datang bulan.." benaknya,
Telah berusaha meyakinkan diri bahwa tadi, dia hanya sekilas terbujuk karena siklus menstruasi yang membuat emosi Myra tak terkontrol dan menjadi mudah terbawa perasaan.
"Kenapa kau bersikap sangat dingin padaku..." lugas Yosep menghidupkan mode menyetir, untuk memberinya ruang agar bisa lebih leluasa bercakap ria.
"Huh, aku tidak bersikap dingin. Kau saja yang merasa diacuhkan," sanggah Myra merendahkan suara.
"Kau tau aku merasa diacuhkan. Tapi kau masih berani mengacuhkanku?"
"Aku tidak mengacuhkanmu, kau saja yang berpikiran seperti itu." ujarnya, sekilas mengukir lengkungan bibir dengan raut datar.
Pria itu terdiam berkat tak mampu menyahuti ocehan Myra, bagaimana bisa selalu muncul perdebatan setiap kali berbincang dengan gadis tadi.
Hanya dengan satu pertanyaan, dia mampu melanjutkan topik berisi perselisihan di sepanjang perjalanan. Memang layak diakui bahwa Myra masih memiliki sosok gadis kecil yang pernah ditemui bertahun-tahun lalu,
"Baiklah, aku menyerah. Kau memang pandai bersilat lidah.."
"Ber-ber-apa! Bersilat lidah? Aku tidak suka sebutan itu." tegasnya mengerutkan alis, menolak kata yang terkesan memiliki arti buruk.
"Oke, oke. Lupakan saja! Lebih baik, sekarang ceritakan apa saja yang kau lakukan tanpaku,"
"Tanpamu?"
"Iya, tanpaku. Selama disini kau, melakukan apa saja?" tambah Yosep, berhasil mengalihkan topik demi menyelamatkan diri dari luapan emosi.
Perubahan hormon bukan hanya membuat gadis itu melemah tapi juga semakin mudah membuat Myra marah dan sulit diredakan. Bahkan tak sudi melupakan sesuatu, walau hanya kesalahan kecil.
"Apalagi? Tentu saja setiap hari aku menghabiskan waktuku untuk bersilat lidah," sahutnya ketus,
"Hah?! Gadis ini benar benar tempramental," pikir Yosep menghela nafas.
Tujuh tahun yang dihabiskan Yosep tak membuat pria itu lupa akan kenangan Myra. Namun selama di luar negeri, dia tak pernah mempelajari sikap untuk membujuk hati seorang gadis atau belajar bersikap lembut demi menyenangkan emosi.
Jadi berbeda dengan para pria pada umumnya, Yosep justru memilih diam tak acuh seperti apa yang sering dilakukan pada orang lain.
Dia mengira bahwa amarah Myra akan mereda jika dibiarkan saja, segera mengambil alih setir dan mempercepat kendaraan guna mempersingkat waktu.
Tring...
Di tengah keheningan muncul secuil suara yang membuat pandangan Myra beralih, menyadari bahwa benda di dalam tasnya baru saja menerima sebuah notif. Dengan sigap merogoh ponsel dan mendapati pesan melalui surat elektronik,
"Raf-fan-Hah!" sontaknya lirih, nyaris terbelalak.
"Kok--dia bisa tahu alamat surelku?!"
Entah mengapa jari lentik itu reflek mengusap layar bergegas membaca pesan yang tak terduga, "Aku pindah ke sebuah apartemen di depan swalayan jalan Hararki. Lantai 7 ruang nomor 1 sisi kiri, jam 7 malam! Jika urusanmu sudah selesai, segera temui aku."
"Hh, apa dia gila! Setelah kejadian tadi, dia masih berani mengirim pesan bahkan menyuruhku datang?" gerutunya dalam hati sambil mendengus kesal.
"Eurgh, membaca namanya saja. Sudah membuatku marah!" gertak Myra, tanpa ragu menekan menu yang tersaji demi menghapus sebongkah pesan tak berguna.
Waktu berlalu tanpa ada perbincangan di antara mereka, sampai kendaraan roda empat tersebut memasuki area parkir di sebuah gedung bertingkat yang akan menjadi tempat tinggal untuk beberapa waktu.
Sorot mata yang memandang barisan mobil sebelum sekilas menoleh dan menatap gadis tadi, mendapati raut datar itu tengah sibuk melepas seat belt. "Apa kau masih belum mau cerita?"
"Cerita?" mengangkat alis dengan penuh tanda tanya, telah berhasil melupakan amarah sekaligus percakapan singkat yang terjadi di antara mereka.
Pria itu menghela nafas berusaha tetap sabar menghadapi perubahan suasana hati yang tidak bisa diduga. "7 tahun ini, apa saja yang kau lakukan?"
"Ng---tidak ada. Hanya kehidupan normal seorang wanita," sahut Myra sambil mengangkat bahu.
"Belajar, makan, tidur, berkencan-"
"Apa?!" pekik Yosep dengan raut kesal, merasa terganggu ketika kata berkencan keluar dari mulut gadis tadi.
Padahal dia tak pernah berpikir jika Myra memiliki waktu untuk hal murahan seperti menjalin hubungan kekasih, mengingat betapa sibuk dan kerasnya pelatihan yang Amran beri.
"Kenapa? Kenapa berteriak, kau mengagetkanku!"
"Siapa pria itu."
"Pria mana?" sontaknya menoleh ke luar, belum menyadari jika Yosep tengah mempermasalahkan ucapan tadi.
"Yang ku maksud adalah mereka, yang berkencan denganmu." lugas Yosep menatap sinis.
"Yang mana? Aku berkencan dengan banyak pria, mereka berganti setiap bulannya." sahut Myra dengan santai, sengaja mempermainkan pria yang tengah berapi-api tanpa alasan jelas.
"Hh, aku menahan diri untuk tidak menatap wanita berkulit putih yang selalu mengelilingiku---karena berpikir ada hati gadis kecil yang harus kujaga."
"Tapi disini, kau justru menghabiskan waktu untuk berganti pria setiap bulannya!"
"Memangnya kenapa? Aku kan tidak menyuruhmu untuk menahan diri, ucapanmu barusan--seperti pria yang sedang jatuh cinta kepadaku." tebak Myra menekuk bibir,
"Karena itu memang be-" ucapannya terhenti nyaris mengeluarkan isi hati yang masih terpendam.
"Memang apa?" mengangkat alis, berusaha mengetahui kalimat yang belum sempat didengar.
"Karena itu memang tidak mungkin terjadi. Ini semua ku lakukan karena kau telah membuatku berjanji untuk tidak melirik wanita manapun," sanggah Yosep datar, berusaha mengingat kenangan masa lalu.
"Hah? Benarkah, aku tidak mengingatnya..." geleng Myra tak mengakui.
"Ya, sudah kuduga otak kecilmu tidak mampu menyimpan dan mengingat banyak hal." dengusnya enggan bergelut hanya karena urusan kecil, terlebih lagi itu hanya janji yang dibuat di masa lampau.
Segera Yosep membuang muka demi meraih knop pintu, melangkah keluar tanpa sepatah kata atau ajakan dan membiarkan gadis tadi berkutat dengan segudang rasa penasaran.
Myra terdiam menatap punggung yang perlahan berjalan ke sisi lain. "Hey! Ceritakan janji mana yang kau maksud?!"
7 tahun lalu,
Seperti biasa, setelah memasuki musim hujan tak akan ada lagi sinar terik menyengat tubuh, dan pagi ini suasana begitu cerah sehingga mampu menghiasi hati semua orang.
Hembus angin menerpa, begitu lihai menggoyangkan helai rambut gadis yang dibiarkan terikat tinggi.
Kemeja longgar kuning yang terlihat rapi, dengan celana ketat hitam dibarengi sepatu boots membuat tubuh ramping itu terlihat kokoh,
"Wah! Pagi yang sangat indah," celetuk Myra tersenyum sambil menatap ke sekeliling,
"Tapi dimana Yosep?"
Tanah luas beralas rumput hijau tempat dimana gadis itu berdiri. Area pribadi yang selalu digunakan untuk bermain serta berlatih beberapa bidang seperti memanah ataupun menembak,
Menit berjalan begitu lambat, telah banyak waktu yang dia habiskan hanya demi menunggu seseorang.
Tak henti Myra menggerakkan jari yang begitu lihai memutar sebuah benda melengkung berukuran besar.
Sesekali memandang jalan demi memastikan, "His, mana sih Yosep? Ga biasanya dia datang terlambat."
"Padahal kan, latihan hari ini yang paling seru. Aku juga udah milih boomerang sebagai senjata..." gerutu Myra menekuk bibir, memandang penuh kecewa benda di tangannya.
"Apa aku susulin? Ck--ngerepotin banget," berdecak kesal.
Sebagai pelampiasan amarah, tanpa sadar Myra melempar asal benda di tangannya. Siapa sangka jika lemparan acak tadi, mampu membuat benda itu melayang jauh hingga tersangkut pada dahan pohon.
Kedua manik coklatnya reflek mendongak, menatap tanaman rindang yang begitu tinggi. "Yah, kenapa sih? Sial banget! Pake nyangkut segala,"
Reflek mengangkat kedua tangan demi menggapai benda yang masih bertengger, tapi perbedaan yang cukup jauh membuat Myra terpaksa berjinjit namun tak menghasilkan apapun.
Gadis itu masih belum berhasil mengambil barang miliknya, "His! Jangan menyusahkanku. Ayo cepat turun dari sana,"
Tak mudah berputus asa, Myra mencoba untuk melompat tanpa menurunkan kedua tangan dengan harapan mampu meraih. Hanya saja energi Myra justru terkuras dan terbuang sia-sia,
"Huft, tau deh. Aku ambil nanti aja," ujarnya dengan nafas tersenggal.
"Mending sekarang, aku susulin Yosep dulu. Nanti kan--dia bisa manjat buat ngambilin,"
Setelah meyakinkan diri untuk pergi, gadis itu berbalik menapak setiap jalan hingga memasuki pintu belakang rumah yang tersambung dengan taman di samping lapangan.
Dalam kecepatan normal tanpa perhentian, langkah kakinya melewati dapur serta ruang berisi sofa. Tak henti sorot mata Myra sibuk menoleh ke segala sisi demi memastikan keberadaan Yosep,
"His. Mana sih 'tu bocah.." gerutu Myra mengerutkan alis, mulai berlari menaiki tangga.
Melewati lorong panjang diselingi beberapa ruang pertemuan serta pembatas kamar. Pencariannya nyaris berakhir ketika melihat seorang pelayan tengah berjalan dari arah lain,
"Tunggu! Apa kau melihat Yosep?" sontak Myra menghentikan wanita yang hendak berpapasan.
Perlahan pelayan itu menganggukan kepala sambil menundukkan pandangan, "Saya baru saja mengantar minuman ke ruang kerja, tuan besar. Mereka berdua tengah berbincang,"
"Ruang kerja? Kalo emang mau ketemu ayah, kenapa ga bilang. Kan latihannya bisa diundur besok--terus aku ga perlu nunggu kayak tadi!" gertak Myra dalam hati, membentuk kepalan tangan demi melampiaskan rasa kesal.
"Ya sudah. Kau boleh pergi," tambahnya datar.
"Baik, permisi Nona.." pamit pelayan itu segera melangkah setelah menundukkan kepala sebagai tanda hormat.
"Aku bakal kasih pelajaran sama 'tu kutub es, biar ga ngelunjak. Seenaknya aja bikin aku nunggu lama!" lugas Myra segera melangkah,
Tap...
Tap...
Tap...
Langkah kaki terdengar memenuhi lorong karena sepatu yang dihentakkan cukup keras, sengaja dilakukan oleh gadis yang dikuasai amarah. Andai jika lantai itu berubah menjadi sosok pria yang ingin sekali dipijak,
Perlahan berhenti tepat di depan pintu berukuran besar, menatap pembatas yang tak tertutup rapat.
"Kayaknya belum selesai.." benak Myra berusaha melangkah mendekat tanpa menimbulkan suara, tengah mengendap ke samping pintu.
Berkat celah pembatas yang cukup luas, gadis itu dengan mudah melihat dua pria sedang duduk berhadapan. Berbekal berkas, pulpen di atas meja, juga hidangan ringan.
Salah satu dari mereka baru saja menyesap seteguk minuman, lalu mulai berkata. "Jika sudah selesai, ada hal lain yang ingin aku bicarakan."
"Apa itu?" sahut Yosep mengangkat rendah bolpoin yang telah menorehkan tinta, segera menutup berkas tadi demi mendengarkan hal yang ingin dibicarakan.
Entah apa isi benak Myra, tanpa ragu melakukan hal lancang dengan menempelkan telinga ke samping pembatas guna menguping pembicaraan yang terjadi di antara mereka.
"Kau telah lulus--aku senang kau menyelesaikan sekolah menengah dengan baik. Dan sekarang waktunya kau melaksanakan tugas yang sudah kupikirkan sejak dulu.."
"Kau harus meraih gelar sarjana di Amerika,"
"Amerika?" sontak Yosep sedikit terkejut,
"Iya, aku sudah menyiapkan segala hal. Sekolah serta jurusan yang harus kau ambil, tempat tinggal---semuanya.."
"Amerika?!" sontak Myra dalam hati, nyaris membulatkan mata.
Begitu kaget mendengar keputusan yang tak pernah diduga. Bagaimana bisa pria tua itu tiba-tiba membuat keputusan sepihak tanpa menanyakan apa yang putranya inginkan?
"Jadi apa pendapatmu?" ujar Amran menatap lekat putra tunggalnya,
"Jika Ayah sudah memutuskan, maka akan ku lakukan." sahut Yosep merendahkan suara.
Blar!
Persetujuan tadi seketika mengukir luka dalam hati Myra, merasa kecewa dengan reaksi yang begitu mudah setuju tanpa memikirkan dirinya. Atau mungkin, pendapat Myra tidak begitu penting dalam hal ini?
"Bagus. Akan ada orangku yang akan mengawal dan membantumu selama disana,"
"Ingatlah, kalau tugasmu bukan hanya mengejar gelar! Tapi juga menyebarluaskan pengaruh serta kekuasaanku."
"Hm, aku mengerti." dehemnya mengiyakan,
"Kalau begitu kau boleh pergi. Sepertinya kita telah membuat seseorang menunggu," gumam Amran, tak sengaja memandang ke arah pintu dan mendapati sepatu yang terlihat dari sela pembatas.
Seakan mengerti apa yang dia maksud bahkan tahu kemana mata itu memandang, sigap Yosep melirik tanpa menoleh. Langsung dapat menebak siapa orang dibalik pintu yang telah berani menguping pembicaraan mereka,
Tanpa sepatah kata tubuh itu beranjak pergi, melangkah semakin mendekat dan tak menimbulkan suara, sampai membuat Myra tidak menyadari akan kedatangan seseorang.
"Hh! Aku tidak dengar apapun," sontaknya hendak mengintip ke sela pembatas,
Namun tubuh ramping itu tersentak kaget, dengan manik membulatkan sempurna. Merasa terkejut melihat kehadiran pria yang muncul secara tiba-tiba,
"Kapan dia datang?" batin Myra, menggigit bibir. Perlahan menatap pria yang sedang menutup pembatas dengan rapat,
Merasa menyesal dengan apa yang baru dilakukan, gadis itu memutuskan untuk mengambil kesempatan. Mulai melangkah mundur sebelum pria tadi kembali menatap,
"Mau kemana?" celetuk Yosep berhasil menghentikan langkah,
Meski masih memandang arah lain, bukan berarti tidak menyadari perilaku gadis yang begitu jelas terlihat di pelupuk mata.
Raut datar Yosep sigap beralih posisi dan secara langsung menatap gadis yang sedang siap memberi pembelaan, "Hm, aku baru datang!'
"Dan tidak mendengar apapun!"
***Bersambung.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (47)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
Bagus
29/08
0yyg
28/08
0good
02/07
0Lihat Semua