logo text

Bab 2 Berita pembunuhan

"Aku bisa membunuhmu dan menghilangkan jasad kotor ini!"
"Hhh.." dengusnya tersenyum licik.
"Tapi itu tak akan kulakukan. Karena tidak menarik, jika kau mati sia sia."
"Akan aku pakai jasad seorang mantan gubernur, untuk menakuti yang lain."
Dengan nafas tersenggal, pria itu mengalihkan sorot mata. Menatap jari jemari yang menarik sebuah pisau lipat berkarat,
"Jika kau takut. Jangan dilihat, tutup saja matamu."
"Semuanya akan terasa seperti ombak yang menerpa tubuh," bisiknya tersenyum ria.
"S-siapa kau?"
"K-kenapa kau melakukan ini kepadaku?"
 
"Hust.."
"Aku tidak membuka sesi pertanyaan,"
Karena merasa muak mendengar ocehan, sosok keji tersebut memutuskan untuk menyumpal mulut Dendi dengan kain. 
Menarik sebuah tali, entah darimana mendapatkan benda itu. Tanpa ragu melilit kuat pergelangan tangan pria tadi,
"Nah. Sekarang semuanya terasa hening,"
"Asal kau tau, di hutan ini banyak sekali binatang dan burung pemakan bangkai."
"Kasian, jika tidur mereka terganggu karena jeritanmu."
"......" Pisau lipat itu terbuka, dengan sigap mengarah dan menembus permukaan tubuh.
Bagai pemburu yang telah terbiasa membidik, kelima jari yang erat menggenggam begitu lihai menggores menggores kutikula, bahkan muncul senyum bangga serta perasaan puas.
Seakan menikmati setiap tetesan darah yang keluar, beberapa kali memberi luka tusukan juga ditariknya secara acak. Meninggalkan banyak sekali sayatan serta deraian noda merah,
 
"Ng..."
"Ng..."
"Ng..."
Pria itu tak berhenti menggeliat, merasakan sakit di setiap sayatan yang tertoreh. Hingga tak mampu berharap jika dirinya akan selamat,
Tidak dapat menjerit atau meminta tolong, pasrah kedua manik hitam itu membulat sempurna, melepaskan linangan air mata yang tak terbendung.
Disisi lain, sosok misterius tadi begitu menikmati aksinya yang tengah melontarkan puluhan tusukan dan berhasil melumuri tanah dengan linangan darah.
"Bukankah, aku begitu baik?"
"Kau masih ku biarkan bernafas, sampai fajar tiba."
*********
"Berita pagi ini. Terjadi ledakan yang memakan banyak korban jiwa, ditemukan bom yang tertanam di tengah tempat pertemuan salah satu partai politik."
"Tempat kejadian berada di jalan merpati. Total 50 korban, telah dilarikan ke rumah sakit terdekat." jelas seorang presenter muda, di balik layar televisi.
Udara sejuk menyelimuti kamar, sofa empuk sebagai pijakan. Perlahan laki laki dengan piyama hitam tengah menyesap teh hangat yang telah tersaji beberapa menit lalu.
Raut tanpa ekspresi bagai mendung di pagi hari. Apa yang baru saja ia dengar, tidak asing lagi ditelinga Rafan.
Sudah banyak kasus serupa yang telah melanda beberapa kota. Dan tak jarang dia melihat bahkan menyelidiki situasi seperti ini,
Hampir 2 tahun menjabat sebagai komisaris polisi, Rafan hampir selalu mendapat tugas untuk mencari pelaku namun tak kunjung ditemukan.
"Hh, untung ledakannya tidak terjadi disini."
"Jika tidak. Pekerjaanku akan menumpuk dan tidak bisa menghadiri seminar," gumam Rafan, segera mendorong kedua telapak kakinya ke dalam alas lembut.
Dengan sigap berjalan menuju meja kerja yang ada di sudut ruangan. Meraih sebuah buku sembari mencari sebuah pena,
"Berita berikutnya. Ditemukan mayat seorang pria berumur 60 tahun, di tengah hutan bambu."
"Diduga, pria tersebut adalah mantan gubernur jawa timur. Dendi Hasno,"
"Penyebab kematian masih belum dipastikan. Para anggota kepolisian tengah menyelidiki kasus ini,"
Dep..
Seketika tubuhnya membeku, sulit memastikan apakah yang ia dengar adalah kenyataan. Dua berita besar di pagi yang sama,
"Berita ini, begitu menghebohkan sejumlah kalangan politikus."
"Semasa hidupnya, Dendi Hasno dikenal sebagai politikus dermawan yang berhasil membuka kantor Kartini."
"Sebuah perusahaan dengan karyawan yang di dominasi oleh para wanita,"
Perlahan Rafan menoleh, menatap lekat tampilan berita di layar televisi. Arah kamera yang menyorot tempat kejadian,
Sepetak tanah dengan dedaunan kering yang berserakan, serta beberapa bambu hijau dan juga pohon rindang. 
Sebuah mayat dengan penuh sayatan serta linangan darah yang hampir mengering, hanya wajah korban yang masih bersih tanpa luka sedikitpun.
Tubuh terlentang, dengan mulut terbuka lebar. Entah apa yang telah dialami salah satu politikus itu,
"Ada seorang saksi mengatakan, bahwa terdengar teriakan dari arah hutan pada pukul 12 malam."
"Itu benar benar, Pak Dendi Hasno!" gumam Rafan,nyaris membulatkan mata.
Masih enggan mengalihkan pandangan, seluruh perhatiannya terpusat pada luka yang ada di tubuh korban.
Wajah yang sama, sosok pria yang pernah ia temui saat pengangkatan jabatan.
Siapa musuh yang berani membunuh seorang politikus besar,
Drt.. Drt.. Drt..
Dering telepon seketika membuatnya tersentak kaget, dengan sigap menoleh ke arah lain. Meraih benda tipis yang ada  di atas sofa,
Terlihat sebuah notif panggilan telepon dari salah satu kontak.
"Selamat pagi, Pak." lugas Rafan,
"Selamat pagi, Komisaris Rafan. Apa kau sudah mendengar berita pembunuhan mantan gubernur Jawa Timur?"
"Siap. Sudah Pak!" sahut Rafan,sedikit penasaran.
"Kalau begitu. Kemasi barang barangmu,"
"Mulai hari ini. Kau akan menetap di Surabaya dan mengambil alih kasus ini,"
Duar..
Kilatan petir yang berhasil mendepak benak laki laki itu, hatinya merasa kecewa karena harus mendapat tugas yang akan menyita seluruh waktunya.
"Halo. Komisaris Rafan?" tegas suara pria dibalik telepon,berusaha memastikan.
"Hah? i-iya Pak. Siap, sekarang juga saya akan berkemas." sontaknya tersadar dari lamunan.
Panggilan terputus, dengan tatapan kosong menatap ke arah tabung layar. Perlahan dia menempatkan diri ke atas sofa,
"Hh. Padahal 3 hari lalu, aku baru saja selesai menutup kasus penculikan."
"Setidaknya beri aku cuti untuk beristirahat. Memangnya disana tidak ada petugas lain?" gerutu Rafan mengerutkan alis.
Menghela nafas sembari menyandarkan tubuhnya, kedua jari dengan sigap menekan kuat pangkal hidung. Laki laki itu berusaha menahan rasa egoisnya dan mementingkan kewajiban yang harus ia laksanakan,
1 jam kemudian.
Setelah selesai bersiap siap, Rafan menghentakkan kaki keluar ruangan.
Tak..
Tak..
Tak..
Seluruh tempat dipenuhi dengan bising peralatan yang saling bertumbuk. Terlihat beberapa anggota keluarga tengah menempati meja makan, mereka begitu khidmat menikmati makanan di piring masing masing.
Meski hampir memasuki usia ke 30 tahun, Rafan masih tinggal bersama keluarga besarnya. Sebuah keluarga mapan,yang memiliki banyak relasi dengan para pejabat.
"Apa kau, sudah selesai bersiap siap?" celetuk kepala keluarga yang tak lain adalah ayah Rafan.
Laki laki itu tertegun, seketika berhenti menggerakkan tangan yang tengah menyendok sesuap nasi. Mengalihkan sorot mata ke arah lain,
"Aku belum menceritakannya. Bagaimana Ayah tau?" pikir Rafan,merasa bingung.
"Iya. Sudah," angguknya merendahkan suara.
"Bagus, gunakan kesempatan ini untuk naik jabatan."
"Aku bersusah payah meminta Gatan, untuk menyerahkan kasus ini kepadamu." lugas Rendra datar.
Kalimat itu, membuat raut wajahnya berubah. Sekarang Rafan tahu alasan kenapa dia mendapat kasus yang begitu jauh dari tempat bertugasnya,
Terdengar bisikan gelak tawa, serta senyuman puas yang muncul. Mereka begitu senang melihat Rafan akan segera keluar dari rumah dalam waktu yang cukup lama,
Sebenarnya keluarga itu, hanya sebuah pakaian yang bisa rusak kapan saja. Atau lebih tepatnya, Rafan bagai pakaian yang bisa dibuang kapan saja oleh keluarga ini.
Rafan Zhafi, putra sulung keluarga yang memiliki identitas lain. Dia adalah putra yang diadopsi oleh kepala keluarga ini dari panti asuhan,
Meski mendapat pakaian serta kehidupan yang cukup, dibaliknya ada sebuah luka yang selalu Rafan emban.
Setiap detik, setiap suasana, dan setiap kesempatan. Laki laki itu selalu dibanding bandingkan dengan 3 saudara dan 1 saudari yang merupakan anak sah keluarga,
 
Identitas orang luar yang selalu melekat dalam dirinya, membuat Rafan tertekan dan terpaksa menerima semua itu dengan harapan suatu hari keluarga yang begitu ia sayangi dapat memandangnya sebagai putra sejati.
Sejak kecil Rafan dituntut memenuhi semua harapan ayahnya. Dia bahkan menjadi seorang abdi negara, karena perintah sang Ayah.
Meski begitu, sejak masuk dalam kepolisian. Laki laki ini selalu melakukan kewajibannya dengan baik, itulah yang membuat Rafan mencapai jabatan tinggi di usia muda.
 
*******
Pukul 10.00
Bandara Internasional Juanda.
Beberapa menit lalu, kakinya berpijak ke tempat ini untuk pertama kalinya. Dan setelah beberapa langkah,terlihat para anggota kepolisian yang telah sigap berdiri di area penjemputan,
Seragam mencolok yang mencuri perhatian Rafan, setidaknya itu semakin mempermudah bagi Rafan untuk mengenali mereka.
Ada sekitar 3 pria tinggi berbadan kekar dengan seragam dinas kebanggaan, tengah menatap setiap penumpang pria yang keluar dari bandara.
Dap. 
Langkahnya terhenti tepat di depan mereka. Berbeda dari ketiga pria tadi, Rafan hanya memakai celana jeans serta jaket hitam tebal yang membuatnya terlihat seperti pria biasa.
"Selamat pagi, Komisaris Rafan." sontak salah satu pria, menegakkan badan dengan telapak tangan yang terpatung di depan kening.
"Selamat pagi, Komisaris Rafan!" tambah yang lain, secara serentak.
"Hm.." dehemnya, menerima salam penghormatan dengan isyarat mata.
"Turunkan tangan kalian. Dan kedepannya, tidak usah terlalu formal padaku."
"Apalagi, jika kita ada di tempat umum seperti ini." lugas Rafan, menjelaskan.
"Siap Pak!"
"Ya sudah, ayo antarkan aku ke kantor." tambahnya,
Dengan sigap salah satu dari mereka, meraih koper dan juga tas yang dia bawa. 
"Silahkan. Mobil kita ada disana," ujar pria lain, membuka jalan.
Ketiganya berdiri dan berjalan dalam posisi berpencar, seakan melingkari ketiga sisi Rafan. Bahkan mereka berjalan cukup lambat, mengundang beberapa sorot mata yang tengah melangkah di sekitar tempat.
"Cukup!" sontak Rafan, menggertakkan gigi.
"Jalan saja seperti biasa." tegasnya, merasa muak.
Dia tak terbiasa dan tidak akan terbiasa dengan perlakuan yang membuat Rafan menjadi pusat perhatian tanpa alasan yang jelas.
"B-baik, Pak."
"Silahkan ikuti saya,"
***Bersambung.

Komentar Buku (47)

  • avatar
    NayaInna

    Bagus

    29/08

      0
  • avatar
    YogaYoga R

    yyg

    28/08

      0
  • avatar
    AnaRobiana

    good

    02/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru