logo text

Bab 87 Tahu apa kamu?!

"Cinta!" Dengan geram aku memanggil nama perempuan hamil itu, tangan menekan bel di pintu dengan tidak sabaran. Tak perlu peduli bila teriakanku ini akan mengganggu tetangga yang lain.
Gedung ini setiap lantainya memiliki dua pintu. Dan saling berhadap-hadapan. Di lantai tiga–tempatku tinggal–ada pemiliknya, tapi belum pernah diisi. Berbeda dengan lantai empat ini, setiap unitnya ada yang menepati.
"Cinta!" Gedoran pun tak luput aku lakukan, tapi pintunya tak kunjung dibuka oleh seseorang di dalam sana. Memang penghuni rumah Ravin lah yang tuli, atau aku yang kurang keras memanggil? Menjengkelkan!
"Cinta!" Aku sudah seperti istri sah yang melabrak selingkuhan suaminya.
"Cin–" panggilku terhenti ketika pegangan pintu turun, kemudian membuka perlahan. Dan perempuan berwajah pucat dengan perut membesar tertangkap indra penglihatan ini.
"Mbak Rara?" Keningnya mengernyit dalam, lalu celingukan memindai setiap sudut di luar. Aku tahu siapa yang dia cari. Giandra.
"Kenapa? Kamu kayak nggak suka banget aku datang!" kataku sambil melipat tangan di dada.
"Bukan begitu, Mbak … Mas Gian nggak ikut, Mbak?" tanyanya masih celingukan. Sepertinya, dia begitu kecewa tanpa hadirnya sang pujaan, hingga berulang ulang dipastikan.
"Nggak! Dia sibuk!" Betapa tak bersahabatnya intonasi suaraku saat ini.
Cinta menundukkan kepala sambil manggut-manggut pelan.
"Aku nggak disuruh masuk?!" Ketus, begitulah caraku bicara.
"Oh, iya. Masuk, Mbak." Dengan wajah dilipat, dia mengulurkan tangannya.
Napas kubuang kasar sembari masuk ke dalam rumah. "Nggak usah dipaksakan kalau nggak pengin aku di sini!" sindirku sambil meliriknya.
"Bukan begitu, Mbak. Mbak Rara kan paling nggak mau ketemu aku, tapi tiba-tiba ke sini. Itu yang bikin aku heran." Peka juga rupanya dia. Peka atau malahan sadar diri, entahlah, beda tipis sih.
"Masa? Kirain, kamu hanya welcome sama Gian!"
"Itu juga sih …." Suaranya mengecil, tapi aku masih mampu mendengarnya meskipun samar.
Kan, nyebelin banget dia tuh.
"Nggak usah basa-basi. Aku nggak suka lihat kamu, dan aku juga tahu kamu pun sama! Jadi, nggak usah sok-sokan saling ramah tamah lah!" Aku harus hati-hati sama wanita ini, dia pandai bersilat lidah. Bisa-bisa aku terpedaya dan menaruh iba. Jangan sampai.
"Untuk apa kamu minta suamiku ke sini?" Langkahku berhenti tepat di ruang tengah. Memutar badan, menghadap perempuaan nggak tahu diri di sampingku.
"Dia juga suamiku, kalau Mbak Rara lupa." Tegasnya dengan wajah datar, bergeming di tempatnya sekarang.
"Aku nggak bakalan lupa hal itu, Cinta! Nggak akan pernah lupa!" Aku tipe orang yang selalu mengingat hal-hal menyakitkan yang terjadi dalam hidupku, termasuk pernikahan kedua suamiku.
"Lalu? Aku nggak salah kan memintanya datang?" Dasar wanita bebal, sulit sekali dikasih tahunya. Dari awal aku udah bilang sampai bibirku berbusa agar jangan pernah ngelunjak, tapi memang telinganya aja yang nggak dipakai sesuai tugasnya.
"Kamu lupa perjanjiannya? Kalau lupa aku bisa mengingatkannya lagi padamu."
Untuk beberapa saat kami hanya diam dengan pandangan tajam yang terpaku satu sama lain. Hingga akhirnya Cinta kalah, netra sipit itu mengerjap lalu menoleh ke arah lain. Memutus tautannya denganku.
"Aku nggak lupa."
"Lalu?"
"Aku hanya ingin bertemu lagi dengannya. Anakku meminta diusap-usap oleh ayahnya," katanya membuatku tertawa. Lawakan macam apa ini?
"Emangnya janin dalam perutmu itu udah bisa ngomong? 'Mama aku mau lihat ayah, aku mau ayah elus-elus aku', begitu?" cibirku dengan suara yang dibuat-buat. "Menggelikan!" Bibirku naik sebelah, tak lupa memberikan tatapan sinis padanya.
"Wanita yang tidak bisa hamil mana paham, Mbak. Inilah yang namanya ngidam. Mbak Rara, nggak tahu kan?" Aoa dia sedang menghinaku? Intonasi bicaranya biasa saja, tapi wajahnya yang menyinggung senyuman itu seolah sedang mengejekku. Betapa sakitnya hati ini mendengar untaian kalimat seperti itu darinya. Perih, dan sesak, pun sampai kehilangan kata-kata.
Aku belum hamil, bukannya tidak bisa hamil. Aku yakin, akan ada waktunya aku merasakan apa yang barusan Cinta katakan. Hanya saja saatnya bukan sekarang, aku harus menunggu dengan sabar.
"Kamu tidak merasa bersalah setelah mengatakan itu padaku?" tanyaku dengan tangan yang menggenggam erat di samping badan.
"Ah … apa kata-kataku terlalu kasar?" Cinta memiringkan kepala, melihatku sambil menyunggingkan senyuman.
"Kamu wanita, seharusnya kamu mengerti apa efek dari kalimat yang terlontar dari mulutmu itu!" Andai wanita ini tidak hamil, rambutnya yang panjang dan tergerai lurus itu pasti sudah berada ditanganku. Menariknya sekuat tenaga.
"Tepat! Mbak Rara juga perempuan, seharusnya Mbak Rara ngerti wnaita hamil itu ingin selalu dekat-dekat dengan suami! Tolong ngertiin, Mbak, jangan maunya dimengerti terus! Aku tahu, Mbak Rara takut Mas Gian akan memihak padaku, taoi nggak begini juga, Mbak!" Rasanya ingin sekali aku menyobek mulut wanita yang yang sedang menyeringai itu.
"Dia bukan anak suamiku! Nggak usah halu, deh!" Telunjukku mengarah ke perut buncit di dihadapan.
"Nggak usah sok tahu, Mbak! Yang tahu janin dalam perutku ini anak Mas Gian atau bukan, itu aku, bukan orang lain!" ucapannya membuatku tersenyum miring.
"Tahu, tapi tetap memaksakan pria lain untuk mempertanggungjawabkan perbuatan yang tidak dilakukannya? Tidakkah itu mengerikan? Kamu gila, Cinta! Kamu tak memiliki belas kasihan! Karena keegoisanmu, banyak hubungan yang dipaksa harus kandas di tengah jalan," ucapku panjang, seraya melotot tajam ke arahnya.
"Kamu nggak berhak mengataiku begitu, Mbak! Tahu apa sih kamu tentang aku? Tentang kehidupan yang keras! Kamu nggak tahu seberapa menderitanya aku, tersiksanya batin dan fisikku sebelum bertemu Mas Gian! Dia segalanya buatku, Mbak!" telunjuknya menudingku tajam, dan aku nggak terima dia perlakuanku tak sopan begitu.
"Dia penyelamat, dia pahlawan …," lirihnya bergetar, membuatku kembali mengatupkan bibir yang sempat membuka rapat-rapat, hendak berucap. Dia membungkamku dengan tatapan menyedihkan yang berkaca-kaca. Sial, aku terkena perangkapnya.
"Sudahlah! Kalian itu apa-apaan sih? Adu mulut mulu kalau ketemu!" Suara dari arah samping membuatku terhenyak, kemudian menoleh ke sumber suara. Terlihat Lusi berdiri di ambang pintu kamar mandi. Sekarang dua saudara ini telah berkumpul, dan bisa dipastikan apa yang bakal terjadi setelahnya. Aku akan diserang oleh dua manusia berlidah cabang.
"Sini, Ra, kita makan malam sama-sama. Kamu belum makan, kan?" Wanita itu melewati dapur sebelum akhirnya sampai di sebelahku.
"Ngapain sih, Kak, ajak dia makan!" Cinta sewot. Apaan sih? Aku diajak juga belum tentu mau kalik! Lebih baik pesan online lalu dimakan berdua sama suami.
"Cinta!" Lusi mendelik ke arah adiknya, membuat wanita hamil itu merengut, dan menghentakkan kaki menuju meja bar dapur.
Apa ini? Wanita yang dulu sering membuliku, kini membela? Mencurigakan.
"Maaf ya, Ra, atas tingkah adikku itu. Sore ini dia sengaja masak makanan kesukaannya Pak Gian, makannya dia sengaja memanggil lagi untuk makan malam bersama." Wanita kurus di hadapanku tersenyum kecut.
"Nggak bisa gitu dong! Perjanjiannya kan sehari sekali, dan tadi pagi udah, harusnya nggak panggil lagi dong walau hanya sekedar makan!" kataku sewot. Semua hal mengenai Cinta sellau membuatku kesal, marah,dan sulit mengendalikan diri.
"Iya, aku tahu. Tadinya, mau aku bungkuskan saja bira bisa diantar, yang penting kan Pak Gian makan, tapi dia malah kukuh mau suaminya. Biasalah ibu hamil banyak maunya." Ucapan wanita itu membuatku nyaris kehilangan akal. Suami katanya? Yang benar saja, bukankah dia tahu bahwa status itu dipandang Gian karean jebakan adiknya. Akan tetapi, tanpa rasa bersalah wanita rubah ini menyebutkan lelakiku 'suami' adiknya?
Kakak beradik ini memang mirip sifatnya, sama-sama nggak punya malu, sama-sama pandai bersilat lidah, dan sama-sama hobi ngelunjak.
"Nggak usah kirim-kirim makan ke rumah bawah, aku bisa mengurus suamiku sendiri!"
"Iya, kau paham. Mumpung di sini, kamu ikutan makna ya." Dia hendak menuntunku, tapi dengan sigap aku mengelak.
"Nggak usah basa-basi, kau tahu kamu nggak suka aku di sini!"
"Aku tahu kamu membenciku, tapi tahanlah sebentar saja. Nanti, ad yang mau aku omongkan." Senyuman yang dia tampilkan benar-benar membuatku muak.
Aku masih menimbang sambil bersedekap. Jujur aku malas di sini, tapi rasa penasaranku yang tinggi soal apa yang bakal Lusi katakan berhasil menahan raga untuk tetap tinggal.
"Janji, hanya sebentar saja," kataku seraya berjalan ke arah cinta duduk.
Lusi terkekeh pelan. "Untuk apa aku menahanmu lama-lama di sini." Langkahnya sejajar denganku.
Aku tinggal adalah sebuah keterpaksaan, bukan inginku dari hati. Makan pun sedikit saja, hanya sebatas menerima ajakan penghuni rumah. Malam ini rasanya ingin sekali memakan nasi goreng buatan Gian. Memikirkannya saja membuat air liurku nyaris menetes.
***
"Aku tahu aku memiliki banyak salah padamu, tapi aku tidak mau meminta maaf." Lusi mendudukan diri di kursi kayu balkon. Aku mengikutinya. Di sini hanya ada kami berdua. Setelah makan, Cinta langsung masuk kamar dengan kemarahan masih bercokol dalam dadanya.
"Entah kenapa aku tak merasa terkejut sedikitpun," kataku memandang mega hitam di atas sana.
"Jangan bicara seolah-olah kamu tahu betul karakterku, Ra." Wanita rambut panjang yang sedikit bergelombang itu terkekeh pelan.
"Aku bukan mengerti dirimu, hanya tebakan saja."
"Semudah itukah membaca dariku?"
Aku tertawa pelan. "Nggak usah basa-basi, duduk berdua denganmu di sini membuatku mual." Netraku meliriknya, wanita dengan kaos putih pas badan itu sedag tertawa tanpa suara.
"Rara … Rara … kamu terlalu blak-blakan." Ucapan wanita itu membuatku tersenyum miring.
"Lebih baik bicara terbuka, apa adanya, daripada berpura-pura baik tapi ujung-ujungnya menikam dari belakang," sindirku smabil menyeringai.
Gelak tawa terdengar dari arah wanita itu. "Inilah aku yang sebenarnya, Ra. Aku tak pernah berpura-pura di hadapanmu." Perempuan berwajah oval itu mengeluarkan sebungkus rokok dan korek api dari dalam kantong celana panjangnya.
Mengambil sebatang nikotin itu, lalu menjapitnya di bibir, tangannya aktif menyalakan bara di ujung batang putih itu dengan korek di tangannya.
"Orang itu memintaku berpura-pura menjadi baik dari ada awalnya, tapi aku menolak." Kepulan asap putih keluar dari mulut tipis itu.
Orang itu? Siapa?
"Aku memilih menjadi antagonis dari awal, daripada berpura-pura protagonis dan menjadi musuh dalam selimut. Itu nggak keren sama sekali, Ra." Wanita itu menghela napas panjang, kemudian menyandarkan punggungnya.
"Orang itu siapa?" tanyaku serong ke arahnya.
"Aku yakin Pak Gian tahu."
Siapa? Tidak bisakah dia mengatakannya saja? Argh! Aku benci harus berpura-pura tak mau tahu dengan apa yang terjadi.
"Apa kamu tahu dari awal kalau aku istri dari seorang Giandra Putra?" Aku sudah menebaknya, tapi aku ingin mendengarnya langsung darinya.
"Tentu saja, justru itu sasarannya. Kalau kamu bukan istri Pak Gian mungkin kita bisa menjadi teman." Ucapan wanita itu membuatku tergelak. Dia terlalu mengada-ada.
Teman? Yang benar saja! Mengingat bulian-bulian yang kerluar dari mulutnya saja sudah membuatku bergidik ngeri. Berteman baik dengannya hanya akan membawa pengaruh buruk, dan aku tak sudi terjerembab ke dalam jurang bersamanya.

Komentar Buku (78)

  • avatar
    Fatkhur Rohman

    bagus juga ini

    28/02

      1
  • avatar
    Justicia May

    sangat bagus cerita nya aku suka baca nya👍👍

    29/01

      0
  • avatar
    Wulan Aprilia

    baguss bgttt

    21/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru