Mobil Dominique telah sampai di kediaman Hameed. Bella yang sudah menunggu di teras gegas menyambut kedatangan anak dan menantunya itu. "Be careful, Sweetheart," ucap Bella kepada Aubrey. Dengan perlahan dia membantu Aubrey turun dari mobil dan duduk di kursi roda yang telah diambil Dominique. "Mami, jangan perlakukan aku seperti orang sakit parah. I'm ok, Mi!" ujar Aubrey membelai lembut tangan Bella. "Kau anak perempuan satu-satunya Mami. Jadi harus menuruti kata Mami, ya." Bella tersenyum kemudian membelai rambut Aubrey. "Ayo, sekarang masuk!" lanjutnya. "Dominique." Aubrey memberi isyarat. "Welcome to my life," ujar Dominique sambil mengedikkan bahunya. Pada akhirnya, Aubrey pasrah diperlakukan bak layaknya anak kecil yang sedang sakit. Sekali-sekali, dia menjelaskan kepada Bella bahwasanya dia harus berlatih menggerakkan tubuh agar cepat membaik keadaannya. Bukan Bella namanya, jika kalah begitu saja. Dengan berbagai macam pembelaan dan kalimat yang dirasa ada benarnya, dia terus memanjakan Aubrey. Mereka lalu menuju ruang makan untuk menikmati makan siang. Bella juga memperkenalkan Aubrey kepada semua pelayan di kediaman Hameed. "Ini adalah Aubrey. Dia adalah Nyonya Besar setelah aku. Maka, apapun yang dia inginkan aku harap dapat kalian penuhi secepatnya, ya?" Bella berkata panjang lebar. "Selamat siang, Nyonya Aubrey. Senang bertemu dengan anda." Semua pelayan kompak menyambut. Aubrey tersenyum dan membalas sapaan mereka semua. Setelah selesai sesi perkenalan dan makan siang. Dominique membawa Aubrey untuk berkeliling di kediaman Hameed. Satu per satu tempat di mansion Hameed, Dominique jelaskan. Aubrey tampak takjub dengan interior dan tata letak yang disusun rapi di kediaman suaminya itu. "Aku mau lihat kamar kita!" seru Aubrey. "Kamar kita di atas. Tapi karena lukamu belum sembuh, maka mami meminta kita tidur di kamar tamu bawah sampai kau benar-benar pulih." Dominique menjelaskan dan mendorong kursi roda Aubrey menuju kamar tamu yang berseberangan dengan ruang kerja Dominique. "Tara, ini kamar kita. Kalau ada yang ingin kau rubah agar nyaman jangan sungkan minta bantuan pelayan, ya!" Dominique mengecup lembut kening Aubrey. "Terima kasih, Sayang." Aubrey berkeliling di kamar barunya. Dia tidak sabar ingin cepat pulih agar dapat melihat kamar sesungguhnya. Dia berdoa di dalam hati semoga Tuhan membantunya agar cepat pulih dan melalui masa-masa berat ini. Aubrey terlihat lelah. Dia lalu meminta izin kepada Dominique untuk beristirahat. Dominique dengan cepat membantunya berbaring dan menyelimuti tubuh mungil istri tercintanya tersebut. Setelah Aubrey terlelap, Dominique lalu keluar kamar mencari Aaron. Dominique berbincang dengan Aaron di ruang kerjanya. Mereka membicarakan semua masalah perusahaan dan tampuk kekuasaan Calandre. Meskipun, wasiat belum dibacakan oleh pengacara keluarga mereka. Namun, bukan rahasia umum pewaris seluruh kekayaan Calandre adalah Aubrey. "Bagaimana selanjutnya? Apakah perusahaan Calandre akan dipegang istrimu?" tanya Aaron. "Entahlah, Pi, Aubrey begitu menyukai dunia seni. Aku pikir, dia tidak ingin menjadi penerusnya." Dominique menghela napas. "Tapi, aset Calandre begitu banyak. Akan berbahaya bila jatuh ke tangan orang yang tidak tepat!" seru Aaron. "Ya, i know. But, aku juga memiliki perusahaan sendiri yang harus kuurus. Rasanya tidak mungkin, kalau aku harus mengurus keduanya. Lagipula, kita belum tahu bagaimana pendapat Aubrey." "Papi berharap, Aubrey memberikan keputusan yang tepat." "Ya, aku harap begitu. Sekarang, biarkan dia pulih terlebih dahulu. Aku tidak ingin membebaninya dengan hal lain dulu." "Oke, terserah kamu. Papi akan selalu mendukung apapun keputusan kalian." *** Dua minggu telah berlalu dari peristiwa penusukan Aubrey. Dominique, Reno, dan Tony sudah mencari kabar ke seluruh tempat bahkan ke organisasi gelap. Namun, hasilnya masih nihil. Sang pelaku selain belum tertangkap, juga tidak terendus jejaknya. Mereka semakin putus asa karena apapun yang mereka lakukan terlihat sia-sia. "Damn it. Hanya mencari seorang bajingan kecil saja aku tidak mampu. Pria macam apa aku ini!" seru Dominique. "Easy, Man. Bukannya kita tidak mampu, tetapi orang tersebut tampaknya memiliki pelindung yang kuat," ujar Tony. "Ya, ada benarnya ucapan Tuan Tony." Reno menimpali. "Bullshit. Di New Orleans ini, akulah kekuatan itu. Tidak ada satupun yang luput dari pandanganku!" Seru Dominique. "Tapi, kau lihat Man. Kita belum menemukan orang tersebut. Bahkan, bayangannya saja kita tidak melihatnya. "Arrrggghhh." Dominique meremas rambutnya. Dia terlihat sangat kesal dan terus mengumpat. Tony dan Reno yang melihat hal tersebut hanya terdiam, tanpa berkata lagi sedikit pun. Sedangkan di kediaman Hameed. Aubrey tampak menikmati kehidupan barunya. Dia sedang berkebun bersama Bella di taman bunga bagian selatan kediaman Hameed. Sedikit demi sedikit, hatinya telah merelakan kepergian Abraham. "Mami, menurutmu bagaimana dengan Kak Reno? Anda 'kan sangat berpengalaman menilai seseorang. Meskipun, kami tumbuh besar bersama. Namun, setelah dewasa dia sedikit jauh dariku. Aku takut salah menilai seseorang." "Kalau Mami lihat, Reno sangat menyayangimu. Kau bisa mengandalkannya. Memang kau sudah yakin akan menyerah untuk perusahaan? Kau sudah bicarakan dengan Dominique?" "Belum." Aubrey menggeleng. "Aku tidak mengerti bagaimana cara memulainya," lanjut Aubrey. "Baiknya kau bicarakan dulu dengan Dominique. Anak Mami itu agak sedikit over protect. Dia mudah cemburu dan sukar mengungkapkan perasaan hatinya. Kalian harus berkomunikasi dengan baik, ya!" Bella menggenggam tangan Aubrey. Aubrey mengangguk tanda mengerti. Setelah selesai berkebun bersama Bella. Mereka makan siang bersama. Siang itu mereka habiskan untuk berbincang mengenal satu sama lain kehidupan masing-masing. Aubrey tampak bahagia. Pasalnya, dia tidak pernah merasakan kehangatan kasih sayang seorang ibu. Saat ini, kebahagiaan itu terasa hangat menyentuh lubuk hatinya yang begitu dingin. Dia sangat beruntung bisa bertemu Dominique dan menerimanya. Meskipun, pada awalnya dia menerima Dominique hanya untuk merasakan sebuah keluarga yang lengkap. Namun, akhirnya dia dapat merasakan cinta yang berlipat-lipat yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Waktu beranjak sore. Aubrey dan Bella bersama-sama berkutat di dapur untuk menghidangkan makan malam spesial untuk kekasih hatinya masing-masing. Hingga tidak terasa, sejumlah hidangan sudah tersedia begitu banyak di meja. Mereka menertawakan tingkah mereka yang seperti gadis yang baru jatuh cinta. Namun, Bella memberitahu bahwa rasa itu harus selalu ada hingga menua karena perjalanan sang waktu biasanya mengikis rasa di dalam hati masing-masing. Oleh karena itu, setiap saat mereka harus menumbuhkannya dengan cara apapun agar rasa itu selalu tumbuh dan melekat di dalam hati. "Aubrey, Mami mau tanya. Tapi, kamu jangan marah ya?" Bella ragu-ragu. "It's ok, Mi. Tanyakan saja, kini 'kan aku putrimu. Tidak usah sungkan," jawab Aubrey dengan mantap. "Kapan kalian berencana memiliki anak?" Aubrey tersipu malu mendengar penuturan Bella. Wajahnya memerah mendengar pertanyaan tersebut. "Kami …, kami belum pernah melakukannya dari sehabis menikah, Mi." "Apa? Dasar anak itu, masa tidak memiliki inisiatif." "Tampaknya Dominique takut, Mi. Aku 'kan baru sembuh." "Ya, ada benarnya juga sih. Sekarang lekas kamu mandi! Mami punya sesuatu yang istimewa buat kalian."
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
halo semua ikuti aku ya
25/11
0good
11/05/2025
0Keren bangetttt
27/04/2025
0Lihat Semua