Bab 23 Keributan

Lisa pun langsung menjatuhkan dirinya ke lantai dan melingkupi Sapto. Rian hampir saja akan memukul Lisa, kalau ia tidak keduluan mengerem tinjuan tangannya dan menghentikan usahanya untuk meninju.
"Kenapa sih Bu selalu ikut campur masalah saya?! Dia itu udah mempermalukan kita didepan umum!" tandas Rian.
Lisa tersentak. "A-apa maksud kamu?" tanya Lisa.
"Tanya sendiri!" tandas Rian kesal dan langsung pergi meninggalkannya.
"Ya alloh, tuh anak. Songong banget sih. Apa coba maksudnya?" tanya Lisa heran.
Esok harinya seorang pria berbadan tinggi dan tegap muncul di depan pintu ruang BK lalu mengetuk pintu ruangan tersebut.
"Assalamualaikum Bu, ini ruang BK ya?" tanya pria berkemeja biru dongker itu. Lisa ketika melihatnya sempat tidak percaya, mungkinkah pria tampan yang cukup muda itu ayah Rian?
Lisa segera mengangguk. "Iya, betul. Ini ruang BK. Anda ayah Rian ya?" tanya Lisa.
Pria bernama Indra itu hanya tertawa mendengarnya. "Memang saya terlihat setua itu ya, Bu?" tanya Indra yang kemudian mempermisikan diri masuk dan duduk di kursi depan Lisa.
Lisa canggung dan sedikit malu karena perkiraannya salah, ia hanya ikut tertawa kecil saat itu.
Lalu dia siapa?!
"Perkenalkan, nama saya Indra. Saya kakak tertua Rian." ucap Indra seraya menyodorkan tangannya mengajak bersalaman.
Akan tetapi Lisa mengembalikan salamnya ke dada.
"Oalah, saya kira bapaknya haha. Maaf Pak, maaf. Saya juga heran tadi kok bapaknya masih muda banget, seumuran saya malah." ucap Lisa.
Indra tertawa.
"Iya tidak apa-apa." ujar Indra.
Lisa pun tidak mau berlama-lama lagi. Ia langsung ke intinya.
"Jadi gini Pak Indra. Ini terkait Rian, belakangan Rian sering melakukan hal yang melanggar peraturan sekolah, seperti mengecat rambutnya, memakai anting, baju yang dikeluarkan dan lain sebagainya." ucap Lisa.
Indra terdiam mencoba memahami perkataannya. Lisa kembali melanjutkan.
"Dan saya pun tahu kalau Rian melakukan ini semua karena sebuah alasan. Dan alasannya itu menurut saya sangat mulia. Dia rela membolos di jam kelas untuk membantu ekonomi keluarganya. Tapi sekalipun itu mulia, enggak mesti dijadikan alasan untuk dirinya membolos. Pasti ada cara dan solusi lain yang bisa dia lakukan." ucap Lisa.
"Iya, Bu. Saya sebagai perwakilan dari orang tua Rian setelah ini akan lebih mengarahkan Rian lagi ke depannya, agar tidak melakukan hal yang melanggar peraturan sekolah lagi." ujar Indra.
"Kalau boleh tahu ayahnya Rian bekerja atau tidak ya Pak?" tanya Lisa.
"Beliau dulu bekerja, tapi semenjak sakit stroke jadi tidak lagi." ucap Indra.
"Oh, sudah lama Pak sakitnya?" tanyanya.
"Baru-baru ini." jawabnya.
"Lalu Ibu anda atau anda sendiri bekerja atau tidak?" tanya Lisa.
"Ibu saya tidak bekerja, saya bekerja di sebuah perusahaan yang baru merintis. Jadi gaji saya masih kecil, sejak Rian kelas satu saya maupun ayah saya selalu mengusahakan Rian bayar Spp dan cicilan uang gedung tepat waktu. Tetapi semenjak ayah saya sakit, semua jadi bertumpu ke saya, makanya saya harus membagi gimana caranya supaya biaya uang sekolah, biaya berobat ayah saya dan biaya untuk menghidupi keluarga saya terpenuhi." ucap Indra.
Lisa prihatin dengan itu, ia merasa simpatik hingga muncul keinginan didalam hatinya untuk membantu mereka. Tapi apa yang bisa ia lakukan sebagai gurunya?
Ia terus terdiam memikirkan banyak hal, selagi Indra terus bercerita. Hingga tidak sadar, waktu sudah berlalu setengah jam. Indra pun pamit dari sana.
Rian di ujung sana melihat Indra keluar dari ruangan Lisa. Rian mencoba untuk bersembunyi dibalik dinding pilar saat Indra menoleh ke arahnya, karena menyangka ada yang memperhatikan. Meski pada akhirnya ia mengabaikannya karena tidak melihat siapapun.
Tiba-tiba ada seorang siswi mendekatinya. "Rian, ngapain?" tanya Hana. Rian melengos dan hendak pergi. Hana menahan tangannya. "Tunggu, Rian." ujarnya.
"Apa?" tanya Rian.
"Maafin aku ya karena aku kamu jadi sering berurusan sama Sapto." ujarnya. Rian melihatnya dan menghela nafas.
"Yah emang udah nasib gue kayak gini." ujar Rian.
"Kamu marah ya sama aku, Rian? Padahal aku mau berteman sama kamu. Apa kayak gitu aja enggak boleh?" tanya Hana.
"Bukannya enggak boleh, tapi Sapto selalu panas saat liat lo dekat sama gue. Ah, enggak. Setiap liat gue ngobrol sama lo pun dia gampang berasep. Kayak knalpot." ujar Rian tertawa.
"Udahlah duluan." ucap Rian kembali, ia pergi meninggalkan Hana yang terlihat kecewa.
Di ujung sana tampak Sapto memperhatikan mereka dari kejauhan. Ia terlihat menahan bara disana.
Esok paginya, Rian yang sedang berjalan tiba-tiba dipukul berulang kali oleh Sapto. Ditinju, ditendang, ditinju kembali. Orang-orang yang melihatnya bukannya menghentikan malah justru sibuk mengabadikan momen tersebut di ponsel, entah di video maupun di foto.
Rian babak belur saat itu, ia dibuat berdarah-darah oleh Sapto.
Rian teringat dengan perkataan Lisa kemarin. Sehabis dirinya memukuli Sapto habis-habisan. Dirinya mengatakan.
"Ingat pesan Ibu, kamu tidak boleh memukul Sapto atau siapapun lagi. Sekalipun mereka bersalah, sekalipun kamu kesal, sekalipun kamu benar. Kamu tidak boleh melampiaskan sesuatu dengan cara melukai orang lagi. Kamu paham, Rian?"
"Janji ya sama, Ibu?"
Itulah hal yang mendasari Rian untuk tidak melakukan perlawanan ketika dipukuli seperti ini. Ia sudah berjanji pada guru yang belakangan terus membelanya dan paham betul mengenai dirinya.
Sosok guru yang sangat ia hormati dibanding guru lainnya. Sosok guru yang setidaknya.... Mengerti yang ia rasakan.
Di ujung sana Lisa melihat ramai siswa dan siswi saling mengerubungi seorang siswa yang tak hentinya memukuli lawan saingnya.
Ia melotot saat melihat yang dipukulinya itu adalah Rian.
"HENTIKAN!" pekik Lisa.
Ia berlari menujunya dan beralih melindungi Rian. Bisa dilihat disana Rian sudah babak belur dipukuli olehnya.
"SAPTO APA-APAAN KAMU HAH! KAMU PIKIR INI RING TINJU! MAU JADI JAGOAN KAMU!" tandas Lisa. Sapto segera membalas.
"Dia duluan Bu! Karena dia saya jadi putus sama Hana! Dan kemarin juga saya dipukul sampai babak belur sama dia!" tandas Sapto membela diri.
"Ya sekalipun kamu benar jangan balas pukul lagi! Jadinya enggak kelar-kelar kalo gini! Dan satu hal lagi, bukan karena Rian kamu dan Hana putus. Tapi karena sikap kamu yang kasar sama orang lain, adalah penyebab utamanya! Ibu pun sudah tahu hanya dengan melihat sikap kamu ketika di kelas." ucap Lisa.
Sapto pun mendecih lalu pergi dari sana. Lisa segera membubarkan kumpulan siswa itu.
"Kalian juga bukannya melerai malah bikin konten. Bubar semua!" pekik Lisa. Semua pun pergi, meninggalkan mereka berdua.
Di ruang UKS, Lisa sedang mengobati luka yang bersarang di wajah maupun tangan Rian. Lelaki itu tampak sangat kesakitan karenanya.
"Bu, pelan-pelan dong. Sakit tahu." rintihnya.
"Iya ini udah pelan, kamunya lagian susah banget dibilangin jangan berantem." ucap Lisa.
"Ibu gak liat saya diem aja tadi? Dia mukul saya berkali-kali saya tetap diam, Bu." ujar Rian.
Lisa merasa salah ngomong, padahal ia sendiri pun tahu karena ia melihat semuanya tadi.
Kalau memang Rian tidak melawan sama sekali. Lisa pun diam saja, ia fokus mengobati luka-lukanya.
"Aw! Bu!" keluh Rian. "Kamunya diam dulu. Ini tangannya jangan menghalangi." ucap Lisa seraya menepuk tangannya.
"Tapi sakit Bu! Aw!" ucap Rian bawel, tangannya terus bergerak.
"Rian tangan kamu menghalangi masyaAllah. Mau Ibu iket tangan kamu?" Lisa mulai kesal. Rian pun terdiam.
"Sakit."
"Iya tunggu bentar lagi."
Saat mengobati luka di pipinya dengan obat merah, Lisa tak sengaja bertatapan dengan Rian.
Dia... Mirip dengan kakaknya ternyata. Sama-sama tampan. Lisa langsung cepat-cepat mengalihkan matanya ke arah lain. Mencoba bersikap biasa. Rian tiba-tiba berkata.
"Bu, tadi ngomong apa sama kakak saya?" tanya Rian.
"Oh itu... Enggak cuma ngasih pesan aja tentang masalah sekolah kamu." ucap Lisa.
"Pesan apa Bu?" tanya Rian penasaran.
"Pesan kalau ada solusi lain atas semua permasalahan yang terjadi sama kamu." ucap Lisa.
"Saya penasaran, apa isi pesan yang ibu sampaikan secara keseluruhan kepada kakak saya. Termasuk apa itu solusi yang dimaksud." ucap Rian.
"Kamu bisa tanyakan sama kakak kamu nanti saat dirumah." ujar Lisa. Rian sungguh penasaran, ia pun hanya tersenyum mendengarnya.
Ketika sampai ke rumahnya, Rian tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah tinju yang tepat mendarat ke pipinya. Rian terjatuh ke lantai saat menyadari tinjuan itu dari sang kakak, Indra.
Pria itu tampak kesal dengannya, sama halnya dengan Rian sendiri. "BANGUN LO!" pekiknya.

Komentar Buku (202)

  • avatar
    HerculesLeo

    lanjutkan

    20d

      0
  • avatar
    Indung Barudak

    bagus

    28/11

      0
  • avatar
    Kamalatun

    seru tp sedih cerita nya😭

    16/11

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru