Marcell harus merasakan kekecewaan saat Kessa mendorongnya keluar dari ruangan miliknya sendiri. Mau tak mau ia harus turun untuk menuntaskan pekerjaannya dan kembali sesegera mungkin untuk menuntaskan hasratnya terhadap wanitanya. Sepeninggalan Marcell, Kessa berjalan menghampiri sofa kemudian meletakkan tas miliknya, dia berjalan lagi menuju meja billiard yang ada di ruangan itu. “Kenapa mas Marcell selalu meletakkan meja billiard disetiap ruangannya?” Kessa bergumam kemudian memainkan permainan itu seorang diri. Tak berselang lama, pintu ruangan tersebut diketuk dari luar dan masuklah seorang waitress dengan sesuatu di tangannya. “Aku membawakan minuman untukmu,” ucap waitress itu dengan suara yang terdengar kurang ramah di telinga Kessa. Kessa yang berhenti bermain billiard hanya mengangguk seraya tersenyum ramah. “Terima kasih,” balasnya. Waitress itu meletakkan minuman yang dibawanya di meja kemudian berjalan mendekati Kessa yang tengah memperhatikannya. “Kamu bisa bermain billiard juga?” tanya waitress itu, masih dengan suara yang sama. “Iya. Mas Marcell yang mengajariku.” “Aku juga bisa bermain. Mas Marcell juga yang mengajariku,” ucap waitress itu. Kessa merasa ada sesuatu pada orang di hadapannya, tapi dia tetap santai dan berusaha untuk tidak mempedulikannya dalam artian tidak ingin ikut campur. “Mas Marcell memang orang yang baik,” ucap Kessa kemudian membidik bola di atas meja itu satu kali. “Kamu ingin bermain?” Waitress itu menggeleng dengan senyum yang meremehkan. “Jadi kamu Kessa? Wanita yang selama ini membuat mas Marcell menderita?!” Ucapan waitress tersebut berhasil menyinggung perasaannya, apalagi dengan nada bicaranya yang jelas-jelas tidak menyukainya. “Sayangnya begitu. Kenapa?” Kessa bertanya dengan suara santai yang terkesan ramah. “Aku tidak melihatmu seperti tipe wanita kesukaan mas Marcell.” Sebelah alis Kessa terangkat. “Maaf jika membuatmu kecewa. Tapi memang beginilah aku. Jika kamu ingin protes, sebaiknya layangkan langsung pada mas Marcell,” ucap Kessa, dia sendiri tidak tahu kenapa bisa berbicara seperti itu, yang pasti dia tidak ingin terlihat menyedihkan dan lemah di hadapan waitress yang tidak menyukainya itu. Waitress itu berdecih kemudian berbalik berjalan menjauhi meja billiard, sedangkan Kessa kembali melanjutkan permainannya dan berusaha untuk tidak menghiraukan keberadaan orang yang tidak menyukainya itu. Namun, tanpa disadari oleh Kessa, waitress itu berjalan mendekati meja kebesaran milik Marcell. Tangannya terulur dengan cepat mengambil sesuatu yang tergeletak di atas meja kemudian berjalan mendekati sofa. Waitress itu memperhatikan Kessa cukup tajam sebelum memasukan sesuatu yang diambilnya dari atas meja ke dalam tas milik Kessa. “Aku memang kecewa karena wanita yang digilai mas Marcell tidak secantik dan seseksi teman kencan semalamnya. Tapi aku tidak akan melayangkan protes, aku hanya akan melihat perkembangan hubungan kalian saja dari jauh,” ucap waitress itu sebelum akhirnya dia keluar dari ruangan. Waktu terus berjalan, Kessa hampir tertidur di sofa sambil menunggu Marcell kembali ke ruangannya. “Maafkan aku karena terlalu lama, Baby,” Marcell masuk dengan tergesa-gesa, pria itu bergegas menghampiri kekasihnya yang terduduk di sofa dengan mata yang sayu. “Tidak apa-apa, Mas. Mas sudah selesai? Kita akan langsung pulang atau…?” “Aku akan memeriksa keuangan sebentar, Baby. Baru setelah itu kita pulang. Kamu tidurlah lebih dulu, nanti aku bangunkan.” “Baiklah, Mas.” Marcell mendaratkan kecupan di kening Kessa, kemudian menyampirkan jaket kulit miliknya untuk Kessa. Setelahnya dia berjalan menghampiri meja kebesarannya. Baru saja Marcell duduk di kursinya, pria itu terlihat bingung bahkan ada kerutan di dahinya. Marcell membuka laci satu persatu, menyadari kalau sesuatu yang dicarinya belum juga ditemukan, Marcell mengeluarkan ponselnya menghubungi seseorang menggunakan benda pipih tersebut. “Hendra, di mana kau meletakkannya? Aku tidak menemukan apa pun di atas meja.” Marcell bertanya pada seseorang di seberang panggilan, dan tak lama dia memutuskan panggilannya. “Ada apa, Mas?” Kessa bertanya. Wanita itu tidak jadi memejamkan mata setelah mendengar percakapan Marcell dengan orang di seberang panggilan. “Tidak ada apa-apa, Baby. Tidurlah.” Kessa tidak mempercayai Marcell, wanita itu menyingkirkan jaket milik Marcell kemudian menghampiri pria itu. “Ada apa, Mas? Katakan padaku.” “Hanya ada masalah kecil, Baby. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Baru saja Kessa hendak bersuara kembali, pintu ruangannya diketuk dari luar dan tak lama masuklah beberapa bawahan Marcell, salah satunya seorang waitress yang tadi mengantarkan minuman. “Bos,” sapa seorang pria yang merupakan orang terpercaya di club itu. “Di mana kau meletakkannya, Hendra?” tanya Marcell dengan suara santai namun tegas. “Saya meletakkannya di atas meja, Bos.” “Tapi aku tidak melihatnya saat datang kemari.” Pria bernama Hendra dan beberapa orang di sampingnya terlihat terkejut setelah mendengarkan ucapan Marcell. “Lalu ke mana amplop itu? Padahal aku yakin kalau aku menaruhnya di atas meja,” Hendra bergumam. Kessa yang sejak tadi hanya mengamati kemudian bersuara, “Sebenarnya apa yang sedang dicari, Mas?” Marcell mengulas senyum, menarik wanitanya kemudian didudukkannya di atas pangkuannya. “Amplop berisikan uang, Baby,” Marcell terlihat santai untuk ukuran orang yang baru saja kehilangan uang. “Bagaimana bisa menghilang begitu saja, Mas? Mungkinkah di sini ada pencuri?!” “Entahlah, Baby. Mungkin Hendra hanya lupa menaruhnya saja.” “Maaf, Bos. Tapi saya benar-benar ingat kalau saya menaruhnya di atas meja,” Hendra kembali bersuara. “Itu benar, Bos. Sewaktu saya masuk tadi untuk mengantarkan minuman, saya juga masih melihat amplop itu di atas meja,” seorang waitress tiba-tiba saja ikut berbicara, waitress yang sama yang tadi masuk ke dalam ruangan itu. Setelah mendengar ucapan waitress itu Kessa merasa ada sesuatu yang mencurigakan dari wanita yang jelas menunjukkan ketidaksukaan padanya. “Di ruangan ini hanya ada nona Kessa saja, Bos. Mungkin nona Kessa tahu di mana keberadaan amplop itu,” waitress itu masih melanjutkan. Kecurigaan Kessa semakin bertambah setelah mendengar lanjutkan dari ucapan waitress itu. “Kau menuduh kekasihku, Danira?!” Marcell geram. “Bu-bukan seperti itu-“ “Aku tidak melihat apa pun yang ada di atas meja,” ucap Kessa, menyela ucapan waitress itu. Waitress bernama Danira itu menatap Kessa dengan tatapan aneh. “Mungkin saya bisa memeriksa tas milik Anda, Nona. Hanya untuk membuktikan kalau ucapan Anda adalah benar.” Kessa sempat takut serta khawatir entah untuk apa, yang jelas kecurigaannya pada Daniralah yang membuatnya takut dan khawatir. “Silahkan.” “Baby.” “Tidak apa-apa, Mas. Hanya untuk menuntaskan rasa penasarannya,” ucap Kessa. Sekilas Danira menatap tajam pada Kessa sebelum akhirnya wanita itu berbalik kemudian mendekati sofa dan mengambil tas milik Kessa. Danira meletakkan tas itu ke atas meja di hadapan semua orang. Tanpa berbicara, Kessa membuka tas miliknya dan mengeluarkan semua benda yang ada di dalamnya. Hingga sebuah benda terasa asing di tangannya, Kessa bergegas mengeluarkan benda itu, dan semua orang terkejut melihat benda itu, begitupun dengan Kessa. “Ini…tidak mungkin,” gumam Kessa. Ternyata inilah kecurigaan yang dikhawatirkan Kessa. Kessa menatap Danira dan wanita itu membalas tatapan Kessa dengan senyum licik. Di dalam ruangan itu, hanya Marcell satu-satunya orang yang tidak terkejut dengan kejadian di hadapannya. Pria itu malah mengambil amplop yang masih ada di tangan Kessa dengan santai. “Sudah ditemukan. Masalahnya selesai,” ucapnya dengan santai. “Terima kasih sudah menemukannya, Baby,” Marcell malah mendaratkan kecupan di bibir kekasihnya. Semua orang yang semula terkejut kini bisa bernapas lega karena Marcell tidak marah, tapi tidak untuk Danira, wanita itu terlihat kesal karena Marcell tidak bersikap seperti apa yang diharapkannya. “Bos, tapi dia yang mencurinya!” Danira melayangkan protes. Marcell menatap Danira dengan tajam. “Mencuri? Justru dia yang menemukannya.” Danira belum puas, wanita itu menatap tajam pada Kessa. “Bos! Lihatlah baik-baik. Jelas-jelas amplop itu ada di dalam tasnya.” “Sudahlah. Lebih baik kalian keluar sekarang.” “Baik, Bos!” semua orang serempak bersuara kemudian berbalik, tapi tidak dengan Danira. Namun, mau tak mau Danira juga harus keluar dari ruangan itu. “Hendra, kau tetap di sini.” “Baik, Bos.” Sepeninggalan semua orang, Marcell memeluk erat wanitanya yang ada di atas pangkuannya. “Sudahlah, Baby. Jangan dipikirkan, aku tahu bukan kamu yang melakukannya,” ucap Marcell. Kessa yang semula menegang dan diselimuti keterkejutan seketika menghilang begitu Marcell berucap. “Mas, mempercayaiku?” “Tentu saja, Baby. Sudah aku katakan, kalau aku lebih mengenal dirimu daripada dirimu sendiri.” Kessa menghela napas lega, dia sudah bisa tersenyum kembali. “Tapi menurut Mas, siapa yang melakukan itu? Di sini hanya ada Kessa.” “Kamu tidak perlu memikirkan itu,” ucap Marcell dengan jari-jari yang mengusap pelan kerutan di dahi Kessa. “Hendra, kamu urus sisanya,” lanjutnya tanpa menoleh ke arah Hendra. “Baik, Bos,” Hendra beranjak setelah mendapat perintah dari Marcell.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (19)
NaufalRadhytia
keren banget, kayak aku mengejar cinta seseorang dengan penuh effort
keren banget, kayak aku mengejar cinta seseorang dengan penuh effort
27/05/2025
0bagus bgt kakk
18/03/2025
0bagus
07/12/2024
0Lihat Semua