Sania tiba di arena balapan pukul 9 malam, arena lebih sepi dari sebelum-sebelumnya, ini membuat Sania menjadi sedikit bingung. Sania langsung menghampiri Radit yang memasang raut wajah lesu, “muka lo kenapa kayak gitu Dit? Terus arena kok sepi banget? Tumben, tapi lo bilang sama gue bakal ada balapan.” “Kayaknya kita gak bisa balapan di sini lagi,” Radit berujar sedih. “Maksud lo gimana Dit? Gue gak ngerti.” Sania menggaruk kepalanya gusar, wajahnya juga menjadi lesu seperti Radit. Jika tidak bisa balapan di sini lagi bagaimana Sania akan memperoleh uang? “Gue denger-denger arena ini mau digusur terus dibangun sesuatu makanya sering banyak polisi di sini terus banyak orang-orang kayak penjaga gitu.” “Makanya yang lainnya pada gak berani lagi ke sini, gak berani balapan lagi, jadinya kayak gini deh tempat ini, jadi sepi.” Radit memperhatikan sekitarnya dengan tatapan sedih. “Sialan,” Sania mengumpat kesal kemudian membuka ponselnya, dia ingin melihat berapa jumlah uang yang dia miliki sekarang. “Tinggal dikit lagi duit gue,” Sania menggaruk kepalanya frustasi, jika terus tidak balapan maka Sania yakin dia tidak akan memiliki sepeserpun uang lagi. “Dit, ayo cari arena balapan baru.” Mereka harus secepatnya menemukan arena balapan baru dan memulai ajang balapan lagi. “Cari ke mana San? Kemaren gue udah cari tapi gak nemu-nemu.” Radit sangat tidak bersemangat sekarang, dia hanya ingin duduk di tempat ini dan mengingat betapa ramainya tempat ini dulu. “Cari ke mana kek, ayo Dit bangun.” Sania menarik tangan Radit agar dia segera bangkit dari duduknya. Radit akhirnya bangkit dari duduknya meskipun dengan rasa malas, “kalo kali ini tetep gak ketemu arenanya gue nyerah deh, capek gue.” Sania hanya menganggukkan kepala sebagai respon atas apa yang dikatakan Radit kemudian keduanya menaiki motor masing-masing. Dengan beriringan depan belakang mereka menyusuri jalan di gelap malam itu, dinginnya malam tidak menyurutkan semangat keduanya untuk menemukan arena balapan. Semuanya berjalan baik-baik saja sebelum Sania mendengar suara benturan keras dari belakangnya, Sania segera menepi dan menghentikan motornya. Sania segera menghampiri tubuh Radit yang terletak di aspal, “Dit, bangun Dit,” Sania mengguncang pelan tubuh Radit namun tak ada respon yang ditunjukkan oleh Radit sedikitpun. Orang yang menabrak Radit keluar dari mobilnya dan segera menghampiri Sania dan Radit, terlihat jelas raut panik di wajahnya. “Ayo bawa dia ke rumah sakit,” orang itu berbicara dengan nafas berat, tangannya juga gemetar. Tanpa banyak bicara dan menunggu waktu lama Sania dan orang itu kemudian mengangkat Radit ke dalam mobil orang itu “Bawa Radit ke rumah sakit Peduli Sehat yang gak jauh dari sini, gue bakal susul kalian secepatnya, gue harus amanin motor Radit dulu.” “Oke,” orang itu menjawab cepat kemudian segera memasuki kursi kemudi dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat itu. Sania segera mengurus motor Radit, dia melakukannya dengan terburu-buru, dia sangat mencemaskan Radit sekarang, berharap teman baiknya itu akan pulih dengan cepat nantinya. ***** Sania memarkirkan motornya di parkiran rumah sakit kemudian segera turun, namun Sania mendadak bingung, bingung harus ke mana pasalnya Sania tidak tahu di ruangan mana Radit sekarang berada. Sania merutuki dirinya, bisa-bisanya dia bingung di keadaan seperti ini, Sania melangkahkan kakinya sebaiknya dia bertanya saja pada resepsionis rumah sakit. Namun baru beberapa kali melangkahkan kaki, mata Sania menangkap sosok penabrak Radit di depan UGD, dengan segera Sania menghampiri orang itu. “Radit gimana?” Sania langsung bertanya dengan nada cemas tentunya. “Dokter masih nanganin dia di dalam,” jawab orang itu dengan wajah lesu. “Awas aja sampe keadaan Radit parah, gue bakal laporin lo ke polisi dan pastiin kalo lo bakal di penjara.” Kemarahan timbul di dalam diri Sania, hari ini benar-benar hari yang buruk. Orang itu hanya terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Sania, ketakutan yang dirasakannya menjadi semakin besar. Sania memutuskan untuk duduk, dia menundukkan dan memegangi kepalanya, dia benar-benar pusing sekarang. “Ini sayang minumannya, kamu minum dulu.” Suara itu membuat Sania yang semula tertunduk kembali mengangkat kepalanya, menatap orang yang memberikan minuman pada penabrak itu. Mona menerima minuman itu kemudian bertanya, “sayang, kamu kenal sama dia?” Mona bertanya dengan nada penasaran pasalnya Bastian terlihat sangat terkejut saat melihat Sania. Bastian menggelengkan kepala sebagai jawaban kemudian mendudukkan dirinya di samping Mona. “Dia bilang bakal penjarain aku kalo keadaan temennya itu parah, aku takut Bas.” Mona berbisik pelan pada Bastian. “Tenang aja semua bakal aman, biar aku yang tanganin semuanya.” Bastian berucap santai seakan kecelakaan itu bukan lah hal yang besar. Bastian melirik sekilas Sania yang sudah menundukkan kepalanya kembali, Bastian tidak menyangka Sania yang dilihatnya secara langsung ini ternyata lebih buruk dibandingkan yang di foto. Rambut Sania diwarnai dengan warna merah muda, menurut Bastian warna itu sangat norak jika dijadikan warna rambut bahkan Bastian sangat yakin Sania tidak menyisir rambutnya dengan baik. Sania menggunakan jaket kulit berwarna coklat yang memiliki beberapa robekan di lengannya dan jangan lupakan celana levis yang menurut Bastian sudah terlihat usang. Bastian hanya bisa menghembuskan nafas kasar, bagaimana bisa dia akan menikahi perempuan seperti itu? Setelah menunggu dengan cemas akhirnya dokter keluar dari UGD, Sania langsung berdiri dan menghampiri dokter tersebut. “Gimana dok keadaan teman saya?” Sania bertanya dengan raut wajah penuh kekhawatiran. “Teman kamu mengalami cedera yang cukup parah di tangan kirinya dan beberapa luka ringan di bagian tubuh lain dan syukurnya tidak ada luka serius di kepalanya.” “Kalau begitu saya permisi,” dokter kemudian berlalu meninggalkan tempat itu. ***** Setelah melewati beberapa proses akhirnya Radit dipindahkan ke ruang rawat biasa, Radit juga sudah sadar dan tentu saja semua biaya rumah sakit Radit dibayar oleh Bastian. “Gue bener-bener minta maaf sama lo, tolong maafin gue.” Mona berucap tulus pada Radit meskipun dia takut Radit tidak memaafkannya dan persoalan ini akan jadi panjang. Sania langsung menanggapi apa yang dikatakan oleh Mona, “maaf lo gak cukup, gara-gara lo temen gue jadi kayak gini, sementara ini dia gak akan bisa ngapa-ngapain, dia gak bisa kerja jadi gue mau lo ganti rugi juga untuk itu.” “Berapa ganti rugi yang kalian mau?” Bastian angkat bicara, tidak ingin lebih lama lagi di tempat ini. “200 juta, oh ya untuk ganti rugi motor 50 juta jadi totalnya 250 juta.” Bastian mengeluarkan ponselnya dari saku, “uangnya di kirim ke mana?” Mendengar pertanyaan itu membuat Sania terkejut, dia juga heran kenapa tidak ada raut wajah terkejut dari mereka saat dia mengatakan jumlah ganti ruginya. Sania segera mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan ponselnya pada Bastian, “kirim ke sini.” Tanpa mengatakan apapun Bastian segera mengirimkan jumlah uang yang diinginkan Sania dan menunjukkan bukti pengirimannya. “Udah gue kirim uangnya jadi masalah ini udah selesai,” Bastian kembali menyimpan ponselnya. Bastian memegang tangan Mona dan keduanya pun berlalu dari sana. “Banyak banget lo minta uangnya, lagian dia kan udah bayarin biaya rumah sakit gue.” Radit berbicara, tentu saja dengan suara yang sangat pelan. “Biarin, lagian lo kan butuh banyak uang buat berobat emak dan sekolah adek lo.” “Udah lo gak usah banyak ngomong dulu, lebih baik istirahat lagi aja biar makin cepat pulih, uang itu bakal gue kirim ke lo.” Radit hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban dan Sania sekarang sedikit menyesal, menyesal karena dia tidak meminta uang dalam jumlah yang lebih banyak.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
seruuu
26/09/2025
0bgussssss
20/08/2025
0mantap
17/08/2025
0Lihat Semua