logo text

Bab 28 saran untuk menyelidiki

Mona memulai penjelasannya, “aku nerima tawaran jadi model untuk salah satu brand kecantikan, awalnya semua baik-baik aja tapi tiba-tiba aku sakit, kamu ingat kan sebelum kamu pulang ke Indonesia aku bilang kalau aku sakit?”
Bastian hanya menjawab pertanyaan Mona dengan anggukan kepala pelan, “lanjutin lagi.” 
“Karena aku sakit aku gak bisa menuhin kontrak yang udah aku tanda tangan sebelumnya, aku udah bilang kalau aku bakal ganti rugi dalam bentuk uang tapi dia gak mau, terus aku tanya dia mau apa dan dia bilang aku harus nemenin dia buat minum-minum sebagai ganti rugi.” 
“Aku langsung nolak permintaan dia tapi dia ancam aku bakal bunuh aku juga orang tua aku, aku takut Bas,” Mona berujar sedih dan sekarang air matanya kembali mengalir.
“Jadi mau gak mau aku harus nurutin apa yang dia mau, aku kira dia cuma minta sekali ditemenin tapi aku salah, aku gak mau lagi pas dia minta lagi dan dia balik ancam aku jadi sekarang aku cuma bisa ngurung diri di apartemen.” 
“Kenapa kamu gak ngasih tahu aku? Bukannya biasanya masalah sekecil apapun kamu bakal kasih tahu aku?” 
“Waktu itu kita lagi berantem dan lagi putus, gak mungkin aku kasih tahu kamu soal itu dan minta bantuan sama kamu, aku malu buat ngelakuin itu Bas.” 
Bastian terdiam sesaat, mencoba memikirkan apa yang harus dia lakukan sekarang ini, apakah dia harus mempercayai apa yang dikatakan Mona atau sebaliknya, menganggap semua yang dikatakan oleh Mona adalah suatu kebohongan.
Bastian tidak ingin gegabah dan terlalu cepat mengambil kesimpulan untuk semuanya, dia butuh waktu untuk membuktikan apakah yang dikatakan Mona itu benar atau hanya suatu kebohongan.
“Aku gak bisa langsung percaya sama apa yang kamu bilang dan aku juga gak bilang kalau kamu bohong sama apa yang kamu bilang, aku butuh waktu buat mikirin masalah itu.”
Mendengar apa yang Bastian katakan tentu saja membuat Mona menjadi was-was, biasanya Bastian akan langsung mempercayai apa yang dikatakan olehnya tapi sekarang kenapa Bastian masih harus memikirkan semuanya? 
“Kamu gak percaya sama apa yang aku bilang Bas?” Mona bertanya dengan nada sedih.
“Susah buat aku untuk percaya lagi sama kamu karena ini bukan pertama kalinya kamu ngelakuin hal yang kayak gitu dan untuk masalah itu, aku akan tetap bantuin kamu.”
“Makasih banyak Bas,” Mona tersenyum tipis, meskipun Bastian mulai meragukannya tapi Mona sangat senang Bastian masih perhatian dengannya.
“Kalau gitu aku pulang dulu,” Bastian kemudian bangkit berdiri.
Mona juga langsung ikut bangkit berdiri, “Bas, kamu mau gak anterin aku beli makan? Aku belum sarapan dan aku juga masih takut keluar sendiri.” 
Bastian mengangguk, menyetujui apa yang diminta oleh Mona dan kini mereka berdua berjalan beriringan menuju parkiran apartemen.
Sania yang melihat mereka berdua tentu saja terkejut bukan main, Sania memang sedari tadi berada di parkiran apartemen, dia mengurungkan niatnya untuk pulang.
Dia sengaja menunggu Bastian di sana, ya meskipun dia sebenarnya tidak ingin menghampiri Bastian
“Kayaknya lo emang bener-bener bodoh Bas, bisa-bisanya lo maafin Mona lagi,” Sania menggeleng pelan, sangat kesal dengan kebodohan Bastian.
Sania ingin sekali memukul kepala Bastian, mungkin dengan itu Bastian akan kehilangan kebodohannya dan sadar dengan semua kelicikan Mona.
Sania memutuskan berlalu dari tempat itu, dia tidak ingin lagi membuntuti Bastian karena jika dia melakukan itu kekesalannya akan semakin bertambah dan emosinya akan semakin memuncak.
Dengan rasa kesal yang menjalari seluruh tubuhnya Sania melajukan motornya, dia tidak ingin pulang ke rumah sekarang jadi dia memutuskan untuk makan di salah satu warung bakso kesukaannya yang tidak jauh dari apartemen itu.
*****
Sania baru saja membuka pintu depan rumah dan Bastian langsung mengarahkan tatapan tajamnya pada Sania, tidak lupa dia menanyakan pertanyaan “dari mana aja lo?” 
“Gak dari mana-mana,” jawab Sania dengan nada malas, “dan ya, lo harus inget, lo harusnya gak nanya pertanyaan itu karena itu bukan urusan lo, terserah gue mau dari mana,” nada suara Sania meninggi menunjukkan kekesalan yang tengah dirasakan olehnya.
“Gue emang gak peduli lo dari mana, cuma gue gak suka lo pergi gitu aja dan ninggalin kerjaan rumah yang gak selesai dan main seenaknya ninggalin peralatan bersih-bersih,” nada suara Bastian juga ikut meninggi, dia juga jadi kesal sekarang.
Sania menatap nyalang Bastian, dia tidak dapat lagi menahan kekesalannya bahkan semangkuk bakso yang tadi dimakan olehnya tidak bisa menghilangkan kekesalannya sedikitpun jadi dia memutuskan untuk memberitahukan dia dari mana pada Bastian.
“Lo mau tahu gue dari mana? Gue baru aja ngikutin lo, gue ikutin lo sampe apartemen Mona,” ucap Sania penuh penekanan seakan dia ingin Bastian mendengar kata demi kata yang diucapkan olehnya tanpa terlewat satu katapun.
“Lo gak nyelesain kerjaan lo tapi bisa-bisanya lo ikutin gue.” 
“Lo ini bodoh atau apa sih Bas? Kok bisa-bisanya lo mau nerima cewek yang udah selingkuhin lo berkali-kali? Otak lo gak bisa dipake buat mikir lagi ya?” Sania bertanya dengan nada mulai merendah seakan sudah lelah harus berbicara dengan nada tinggi terus menerus.
“Mona punya alasan kenapa dia ngelakuin semua itu,” hanya itu yang Bastian katakan, dia tidak tahu bagaimana respon yang harus diberikannya atas sindiran yang sangat tajam yang diberikan oleh Sania.
“Ceritain, ceritain semua alasan yang dia kasih ke lo, biar gue nilai sendiri apa alasan yang dia kasih itu bohongan atau beneran, gue cuma kasian ngeliat lo dikhianati sama dibohongi sama dia.” 
“Bakal gue ceritain,” Bastian kemudian duduk di sofa, diikuti oleh Sania duduk di samping Bastian.
Dan Bastian pun mulai menceritakan semuanya pada Sania, Bastian menceritakannya pelan-pelan karena dia tidak ingin melewatkan sepenggal pun.
Setelah Bastian selesai menceritakan semuanya maka Sania langsung saja membuka suara, “lo harus selidiki masalah itu dulu jangan langsung lo selesain aja masalahnya.” 
“Lo mulai selidiki brand kecantikan itu, selidiki kontrak kerjanya, dan selidiki orang yang ancam si Mona itu, kalau perlu lo selidiki juga keluarganya, mungkin dia doang yang bilang kalau keluarganya diancam bakal dibunuh tapi mungkin keluarganya gak pernah ngerasa keancam sedikitpun.” 
“Lo punya banyak uang Bas jadi gue yakin lo juga punya orang-orang tertentu yang bisa menyelidiki semua ini buat lo, harusnya masalah ini bukan masalah yang susah buat lo kan?” 
“Gue setuju sama saran lo dan gue bakal suruh orang-orang gue buat mulai penyelidikan untuk masalah ini,” Bastian kemudian bangkit berdiri.
“Lo punya banyak duit jadi lo juga harus gaji gue tinggi ya,” Sania kemudian kembali membersihkan rumah.
“Kerja yang bener makanya,” Bastian tersenyum miring kemudian segera berlalu dari situ.

Komentar Buku (25)

  • avatar
    Nurul Huda

    seruuu

    26/09/2025

      0
  • avatar
    Aulia nur syifa

    bgussssss

    20/08/2025

      0
  • avatar
    BrangazSyahrudi

    mantap

    17/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru