Beranda/TERLAHIR KEMBALI/
56
Berpikir mungkin harus menunggu beberapa saat, tetapi kemudian dia terkejut ketika melihat mobil Bentley berwarna hitam telah terparkir di pinggir jalan tak jauh dari parkiran belakang.
Itu adalah mobil Varell!
Jantung Viona berdebar kencang karena senang dan dia bergegas menghampiri mobil itu.
Aldy keluar dari kursi kemudi, membukakan pintu mobil untuk Viona.
"Biasanya berdua sama Ethan." Kata Viona saat masuk ke dalam mobil.
"Ethan ada dalam perjalan bisnis." Jawab Aldy sebelum akhirnya menutup pintu itu.
Viona menoleh sembari tersenyum, menatap Varell yang masih mengenakan kemeja hitamnya, tetapi raut wajahnya menunjukkan bahwa pria muda itu lelah.
Varell melepas dasinya dan menyingkirkannya, membuka kancing kerahnya untuk memperlihatkan sebagian kecil kulitnya yang kuat.
Viona menjilat bibirnya dan mengalihkan pandangan
"Yang lain belum keluar, cuma kamu, Kenapa?." Kata Varell memeriksa jam di tangannya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Viona.
"Kalau aku lebih dulu selesai dari pada yang lain." Viona menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Karena sekarang udah sore, kamu mau makan?."
Mata Viona berbinar mendengar ajakan itu. "Aku mau."
Melihat ekspresi penuh harap dari gadis kecil itu, tatapan mata Varell langsung melembut. Ia berharap gadis kecil itu tidak akan kecewa dengan tempat yang akan mereka tuju.
Mobil melaju melewati separuh kota jakarta dan tiba di sebuah restoran yang elegan. Viona masuk dan menatap restoran yang kosong. "Kamu pesen restoran ini?."
"Hm." Varell mengangguk singkat.
Restoran ini sudah berada di bawah kendalinya. Agar tidak mendapat gangguan dari siapapun itu, Varell memerintahkan agar restoran itu tutup untuk hari ini dan dengan hati-hati menyiapkan makan malam romantis dan musik.
Keduanya duduk saling berhadapan, dan Viona menatap wajah tampan Varell, diam-diam menggosok tangannya, merasa sedikit gugup.
Seorang manajer kemudian menghampiri mereka dan membuka sebotol anggur merah untuk mereka berdua.
Tepat saat manager itu hendak menuangkan anggur untuk Viona, dia mendengar suara Varell dengan nada tenang. "Cewek gue minum jus."
Varell sudah memikirkannya matang-matang dan tahu bahwa Viona sudah mulai dengan kegiatan kampusnya. Jadi dia pikir, Viona tidak minum.
Namun, hati sang manajer luar biasa rumit. Sejak melihat Viona datang ke restoran ini, dia memperhatikan bahwa Viona membawa tas dan tampak muda, seperti seorang pelajar.
Jadi, dia ingin mencoba mengatakan pendapatnya.
"Tuan Varell, anda tenang saja, karena ini ilegal, kadar alkoholnya juga memenuhi persyaratan edar."
Bukannya mendapatkan jawaban seperti apa yang diduganya, Varell justru melayangkan tatapan tajam kearahnya. "Lo mau kehilangan pekerjaan?."
"Maaf, Tuan." Manajer itu diam-diam mundur dan hendak mengambilkan jus untuk Viona.
"Varell, bolehin aku minum ya? Kan dia bilang kadar alkoholnya ngga tinggi, sesuatu standar."
Melihat Viona yang begitu tertarik, Varell menjadi merasa tidak tega untuk menolaknya.
"Ya udah boleh, tapi dikit. Ngga boleh banyak-banyak."
Beberapa saat kemudian.
Dibandingkan terakhir kali di restoran Felix, hidangan kali ini sangat lembut dan lezat.
Viona menyentuh dagunya dan jatuh ke dalam pikirannya.
Menurut novel dan drama TV yang sering Viona tonton, saat ini Varell mungkin telah menyembunyikan hadiah di makanan penutup. Memikirkan hal ini membuat Viona merasa gembira luar biasa.
Tetapi ia harus berhati-hati, kalau-kalau ia tersedak dan kejutannya berubah menjadi ketakutan.
Sembari mengingat hal itu, Viona berdiri dan mengambil puding, lalu memakannya perlahan.
Akan tetapi, bahkan ketika dia menyelesaikannya, dia tidak melihat kejutan apa pun.
'Hadiahnya ngga ada di sini.' Batinnya. Viona segera menghabiskan beberapa makanan penutup.
Namun, dia tidak menemukan apa pun. Untuk sesaat, suasana hatinya menjadi sedikit buruk, dan dia memukul gelas anggurnya sembari mendesah pelan.
'Mungkin ini cuma pikiran gue aja.'
Varell yang memperhatikan bahwa Viona tampak tidak bersemangat dan mata phoenix-nya yang indah berkedip sedikit. Ia bertanya-tanya apakah dirinya harus mengatakan sesuatu untuk menghiburnya dan segera teringat catatan yang telah ia buat sebelumnya.
"Sunshine..."
Mendengar suara berat itu memanggilnya, Viona segera mengangkat pandangannya dan menatap mata indah Varell, yang selalu membuat jantungnya berdebar kencang.
Apakah Varell akan mengungkapkan perasaannya kepada Viona?
"Hari ini, kamu cantik banget." Kata Varell.
Viona kebingungan. Ia menunduk melihat pakaiannya yang hanya terdiri dari celana denim dan kaus putih. Ia tidak memperhatikan saat makan siang dan tidak sengaja menumpahkan sup ke kausnya.
Apakah Varell menyukai pakaian seperti ini?
"Emangnya tadi pagi aku ngga cantik?." Tanya Viona dengan bingung.
"Cantik, kamu selalu cantik."
Setelah ada jeda beberapa detik, Viona merasa ada yang tidak beres. Ia mengira bahwa gadis-gadis biasanya merasa senang ketika menerima pujian, tetapi ternyata tidak demikian.
"Apa menurut kamu... aku keliatan bagus pake baju ini?." Tanya Viona, masih merasa tidak yakin.
Varell pun ikut bingung setelah mendengar pertanyaan itu. Dia tidak tahu aku bagaimana menjawabnya.
Selama beberapa saat, terjadi keheningan yang canggung di antara mereka. Varell mencoba menenangkan diri dan menawarkan sepotong steak daging pada Viona
"Kamu mau coba?."
Viona menatapnya dengan tatapan curiga saat mengambil garpu dari Varell. "Varellino, ada sesuatu yang ganggu pikiran kamu hari ini? Kamu keliatannya agak aneh hari ini."
"Ngga ada, Sunshine." Jawab Varell dengan suara rendahnya.
Pria itu tidak pandai berkata-kata dan tidak tahu bagaimana menghibur Viona. Dia hanya ingin lebih dekat dengan Viona.
Namun, kali ini ia tampaknya telah melakukan kesalahan. Dalam sekejap, perasaan frustrasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya tumbuh di dalam hatinya.
Dia mengangkat kepalanya sedikit dan melihat Viona yang sedang menyesap anggurnya sembari menatap pianis di tengah ruangan dengan tatapan terpesona di matanya.
"Kamu suka?." Tanya Varell.
"Ya, itu 'Dream of Love' karya Franz Liszt. Orang itu jago banget mainin pianonya." Jawab Viona sembari menopang dagunya
Viona pikir orang itu memainkannya dengan lebih baik dan dia menangani beberapa bagian dengan terlalu datar.
Pada saat itu, mata Varell berkedip sedikit lagi, dan dia tiba-tiba berdiri.
Viona tentu saja bingung, tetapi dia melihat Varell berjalan menuju piano, dan pianis itu berdiri dan pergi, memperbolehkan Varell duduk di depan piano.
Apakah Varell akan memainkan piano untuk Viona?
Viona mengencangkan pegangannya pada gelas anggurnya, dan cahaya lembut di atas kepalanya dengan lembut menyinari sosok Varell yang tinggi dan ramping, memperlihatkan profil sampingnya yang tampan, menyebabkan jantungnya berdebar kencang.
Adegan ini mengingatkan Viona saat pertama kali dia bertemu Varell
Gadis itu masih baru berusia enam tahun saat itu. Ketika ibunya sedang mengobrol dengan Edwar Bramasta, sementara Viona berlari tanpa tujuan dan secara tidak sengaja menabrak ruang piano Varell. Viona saat itu langsung tertarik pada anak laki-laki kecil yang luar biasa ini.
Tetapi saat itu sudah ada sedikit sifat dingin dalam diri anak laki-laki itu, bahkan permainan pianonya agak tidak teratur...
Jari telunjuk Varell yang ramping menekan tuts-tuts piano, dan suara piano yang indah dan merdu mengalir dari ujung jarinya.
Pikiran Viona langsung tertuju kembali pada kenyataan. Dia memegang segelas anggur, menyipitkan matanya, dan menatap Varell lekat-lekat.
Viona tidak tahu apakah dirinya terlalu banyak minum atau apakah dirinya melihat Varell yang sangat menawan saat itu. Semakin dia memandang, semakin dia tidak bisa mengalihkan pandangan dari pria muda itu..
Segala yang ada di sekitarnya seolah tidak ada hubungannya dengan dirinya, hati dan matanya hanya tertuju pada Varell
Hingga akhirnya, Varell mengakhiri karyanya dengan sempurna.
"Waw, bagus banget." Viona menatapnya dengan tatapan berbinar, sementara kedua tangannya bertepuk tangan.
Varell tersenyum dan berhak mendekat dan melihat Viona cegukan.
'Viona mabuk?.' Varell kemudian menatap sisa setengah botol anggur itu dengan bingung.
Mungkinkah gadis kecilnya itu mabuk hanya karena minum anggur setengah botol?
"Kamu tadi hebat banget, jauh lebih hebat dari pianis itu!." Mata Viona berbinar dan kedua pipinya tampak memerah. "Kamu juga lebih ganteng daripada dia!."
"Kamu seriusan?." Varell tampak senang saat mendengar pujian itu.
"Tapi sayangnya, cara ku main piano lebih jago dari kamu." Imbuh Viona. "Mau aku tunjukin?."
Setelah mengatakannya, Viona beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan mendekati piano.
Varellino mengernyitkan dahinya saat melihat Viona yang ingin bermain piano.
Sejak pertemuan pertama mereka, ini adalah pertama kalinya Viona mau bermain piano di depannya.
Saat ini, Viona sudah berjalan dan duduk di kursi di depan piano, dia menegakkan tubuhnya dan duduk dengan anggun.
Cahaya lembut di atas kepala Viona menyinari wajahnya, menciptakan lingkaran cahaya yang samar.
Varell memegang gelasnya erat-erat, merasakan detak jantungnya semakin cepat. Ia tak dapat berhenti memikirkan saat pertama kali bertemu Viona.
Hari itu adalah hari ulang tahunnya, tetapi tampaknya tak seorang pun peduli kecuali kakeknya yang pelupa karena usianya yang sudah tua. Ayahnya tidak tertarik merayakan hari istimewanya.
Merasa sedih, Varellino pun pergi ke ruang musik dan mulai memainkan pianonya sendirian. Saat itulah Viona kecil masuk.
Dia adalah seorang gadis kecil yang lembut, dengan pipi merah muda dan dua kepang yang membuatnya tampak seperti boneka porselen. Ketika dia melihat ekspresi Varell yang muram, alih-alih merasa takut seperti yang lain, gadis kecil itu naik ke bangku, berdiri tegak sembari buka suara. "Ya ampun, ngga gitu nadanya, kamu salah!."
Kemudian, yang membuat Varellino terkejut, gadis itu duduk dan dengan ekspresi serius di wajahnya, menekan jari-jarinya yang kecil pada tuts piano. Dia memainkan lagu yang sama dengan yang dimainkan oleh Varell, tetapi versinya jauh lebih damai dan anggun. Setiap nada terdengar mampu menyentuh hati beku Varell.
Ketika Varell menatap wajah tembam gadis kecil itu, hatinya yang tadinya marah menjadi tenang, apa lagi setelah mendengar alunan piano yang di mainkannya.
Sekarang, sembari duduk di kursi, Varell tersadar dari lamunannya setelah mengingat masa laku mereka. Ia menyilangkan kakinya yang panjang dan lurus dengan santai dan menatap Viona di depannya dengan saksama. Kejutan apa yang akan diberikan Viona kepadanya hari ini?
Tepat saat Varell berpikir demikian, tangan Viona berada di atas tuts piano, tetapi langsung berhenti bermain. Saat itu Varell bertanya-tanya mengapa Viona menjadi terlihat ragu-ragu, gadis itu tiba-tiba menundukkan kepalanya, dan wajahnya bertabrakan dengan tuts-tuts piano.
Membuat piano itu mengeluarkan suara keras, dan Varell pun terkejut. Ia meletakkan gelasnya dan segera berjalan ke arah Viona. Ia memegang kedua pundak Viona. "Sunshine, kamu kenapa?." Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (152)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
suka banget sama ceritanya di lanjut dong kak penasaran banget sama endingnya
11d
0cerita yang sangat baik
15/12
0suka banget,tolong dong di lanjutin,nyesek banget pas udh sampe bab terakhir 😭
18/11
0Lihat Semua